Top Social

Showing posts with label Review 2017. Show all posts
Showing posts with label Review 2017. Show all posts

Kilas Buku: One Small Step Can Change Your Life (The Kaizen Way)

|

Tahun baru akan datang dalam hitungan hari. Sudah pasti suasana penyambutan akan sangat meriah. Tidak hanya pesta, tentunya akan ada resolusi yang diharapkan sebagai pemacu untuk hidup lebih baik di tahun berikutnya. Resolusi adalah daftar pencapaian yang dirasa perlu untuk dipenuhi. Salah satunya yang paling populer adalah menurunkan berat badan, atau memiliki karir dan prestasi yang bagus. Sayangnya, banyak orang yang gagal memenuhi resolusi mereka dengan baik. Bahkan daftar tersebut terus saja sama setiap tahun. Kalau kalian bagaimana? Apakah kalian selalu memenuhi resolusi tiap tahun? Jawab dengan jujur lho ya. :D

Lalu kenapa sih pemenuhan terhadap resolusi kita sering gagal? Jawaban utamanya adalah kita cenderung dengan perubahan secara instant dan sedikit berusaha. Padahal segala sesuatu yang instant cenderung tidak berhasil dengan baik. Itulah mengapa buku ini mengusung konsep The Kaizen Way. Apa sih itu?

Masih ingat filsuf Cina yang bernama Lao Tzu? Ada kutipan terkenal yang berasal darinya, yakni:
"A journey from a thousand miles must begin with the first step."

Iya itu sih udah tahu? Lalu apa sih intinya? Ya, intinya, jika kita ingin berubah, jangan lakukan dengan terburu-buru. Misal, kita ingin berat badan kita turun, lalu nge-gym. Hey, berat badan kita belum tentu turun lho, apalagi kalau nge-gym nya ndak rutin. Ndak usah nge-gym, cukup jalan-jalan aja lima menit sehari namun dilakukan dengan rutin. Hal itu tentu saja lebih efektif daripada olahraga dengan durasi lama namun jarang dilakukan.
Great change is made through small steps:
  • Ask small questions
  • Think small thoughts
  • Take small actions
  • Solve small problems
Semua tips yang ada dalam quote di atas harus dilakukan dengan rutin walaupun dengan durasi yang sangat singkat. Kalau kata buku tulis anak sekolahan: "Practices make perfect." :)
Kalian tinggal pilih saja apa perubahan yang kalian inginkan? Lakukan dengan tahap yang sama, yah tentunya dengan tema yang berbeda sesuai masalahnya. Misal, kalian ingin memiliki hubungan baik, tentu saja yang harus dilakukan adalah peerhatian-perhatian kecil dan positif  yang sering dilakukan. Tanpa disadari hal itu akan membentuk relasi yang kuat.

Pada awalnya saya agak bosan dengan buku ini. Namun saya berpikir kalau ndak dibaca ya sayang, karena suami saya membelinya dengan harga sangat mahal untuk buku saku begini. Kisaran 100-200ribu. Hmm. Biasalah yang namanya buku motivasi suka omdo aja.

Syukurlah Robert Maurer, Ph.D punya banyak pengalaman dengan klien yang memiliki beragam masalah. Maka ia membagi pengalamannya itu dan membuat saya mau tak mau menyetujui apa yang ditulisnya. Saya tidak bisa menuliskan pengalaman-pengalaman itu. Namun intinya tetap sama dengan apa yang saya bicarakan di atas.

Buku ini hanya untuk menganalisa dan menguatkan apa yang menjadi impian kita. Sebisa mungkin kita ingin berhasil daripada gagal kan? Ya toh?

So, sudah siap untuk menyongsong kesuksesan di tahun yang baru nanti? Yuk semangat!

Informasi buku

Judul: One Small Step Can Change Your Life (The Kaizen Way)
Penulis: Robert Maurer, Ph.D
Tebal: Paperback, 228 halaman
Penerbit: Workman Publishing Company, 22 April 2014 (pertama kali terbit 2004)

Kilas Buku: The Girl Who Drank the Moon

|

Satu lagi cerita fantasi middle grade yang memenangkan Newbery Medal tahun 2017. Ceritanya tentang seorang bayi perempuan yang dipisahkan dari ibu kandungnya untuk ditinggalkan di hutan berbahaya sebagai persembahan bagi penyihir. Bayi itu bukan satu-satunya anak yang menjadi persembahan, karena setiap tahun selalu ada satu anak yang harus dikorbankan di daerah Protektorat. Petinggi dan pimpinan biarawati di sana, di sana mewajibkan satu bayi untuk dikorbankan.

Sebenarnya, menurut petinggi (tetua) Proktetorat, tidak ada penyihir di hutan. Hal itu hanya untuk menakuti warga supaya patuh pada peraturan. Padahal, agak jauh di seberang hutan berbahaya, tinggal seorang penyihir baik hati bernama Xan, bersama satu monster dan seekor naganya. Setiap tahun Xan mengambil bayi yang dibuah dari Proktetorat dan diserahkan ke daerah Merdeka supaya dapat diadopsi oleh keluarga yang mampu. Bayi-bayi itu kemudian disebut anak-anak Bintang.

Namun bayi yang satu ini berbeda. Bayi perempuan ini malah tak sengaja mereguk sinar bulan banyak-banyak yang sebenarnya juga tak sengaja disuapi oleh Xan. Menyadari hal itu, akhirnya Xan sendirilah yang mengadopsi bayi yang kemudian diberi nama Luna. Seperti Xan dulu, Luna kecil memiliki kekuatan sihir terlalu banyak akibat asupan sinar bulan yang berlebihan. Penyihir tua itu pun mencaritahu bagaimana Luna dapat mengendalikan kekuatannya hingga saat yang tepat tiba. Dan ternyata hal itu tidaklah mudah. Bahu membahu bersama si monster dan si naga, Xan berusaha mengajarkan sekaligus melindungi Luna dari sihirnya sendiri.

Sementara itu ibu kandung Luna sudah berhenti bersedih. Anehnya, hal ini membuat pimpinan biarawati tidak senang. Satu hal lagi, sang keponakan laki-laki tetua yang tadinya juga calon tetua Proktetorat akan segera memiliki seorang bayi. Bayinya itu akan segera dikorbankan tahun ini. Mencegah hal itu si keponakan tetua membuat rencana matang untuk membunuh penyihir yang akan mengambil bayinya. Istrinya tidak tahu menahu soal rencana itu, namun seperti ibu kandung Luna, ia merasa curiga dengan para tetua dan pimpinan biarawati yang tidak senang para penduduknya move on. Pertanyaannya sekarang: apakah ada pergerakan yang akan dimulai dari sana? Dan apa pengaruhnya terhadap Luna dan anak-anak Bintang di daerah Merdeka?

Awal membaca buku ini kesan yang terbentuk adalah cerita fantasi yang fun layaknya cerita anak-anak biasa. Sayangnya saya salah. Kelly Barnhill telah membentuk cerita fantasi anak yang sedikit dark dan absurd walau masih bisa dibaca oleh remaja usia SMP. Barnhill seolah ingin memberitahu kepada pembaca bahwa sihir ada dalam tubuh dan darah manusia. Cinta dan kasih sayang dapat menjelma menjadi sihir yang baik, sementara iri hati dan kedengkian hanya akan membuahkan sihir jahat yang haus akan penderitaan orang lain.

Saya suka buku ini. Bintang 4.

Data buku

Judul: The Girl Who Drank the Moon
Pengarang: Kelly Barnhill
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP), 11 September 2017 (terbit pertama kali 2016)
Tebal: 420 halaman

Kilas Buku: Jalinan Cinta Terpendam (The Fitzroy Legacy #2)

|

Jelas saja Kit dan Sophie akhirnya bersama. Namun masing-masing dari mereka menyembunyikan rasa takut satu sama lain. Bukan rasa takut pada pasangannya, namun pada kondisi mereka dan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Kit yang baru pulang dari tugasnya membawa luka fisik akibat pecahan bom. Beruntung ia tidak terluka parah seperti anak buahnya yang sempat koma. Namun kondisi anak buahnya membuatnya terluka dalam secara psikologis. Ia merasa sangat bersalah. Belum lagi ketegangannya saat bertemu dengan ibu kandungnya, yang juga membawa berita-berita baru yang mengejutkan. Kit tidak berani menyampaikan hal ini kepada Sophie. Ia ingin memiliki Sophie sekaligus melepaskannya.

Sementara Sophie sendiri merasakan perbedaan yang terjadi pada Kit. Kit dan dirinya tidak pernah berbicara secara intim tentang hubungan mereka, kecuali hubungan seksual yang sering mereka lakukan. Padahal Sophie ingin berbagi mengenai kondisi terbarunya dan rencana masa depan yang ingin dirancangnya bersama Kit. Namun Kit selalu menghindar darinya, dari ketakutan yang seperti nyata di hadapannya.

Akhirnya satu-satunya pelarian Sophie adalah ibu tunggalnya yang selalu ia panggil dengan nama "Rainbow". Dulu ia sempat membenci Rainbow yang tidak seperti ibu normal lainnya. Namun kini ia kembali kepadanya dan bercerita banyak hal. Sepertinya apapun yang terjadi ibu akan selalu menjadi tempat kita bernaung ya.

Lantas bagaimana kelanjutan hubungan Kit dan Sophie? Well, kalau mereka memang niat serius membina rumah tangga sejak awal tentu saja akan terjadi pernikahan kan?

Data buku
Judul: Jalinan Cinta Terpendam
Judul asli: In Bed wit an Stranger (The Fitzroy Legacy #2)
Pengarang: India Grey
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 28 Agustus 2017 (terbit pertama kali 2011)
Tebal: 248 halaman

Kilas Buku: Jalinan Hasrat Terlarang (The Fitzroy Legacy #1)

|

Sophie Greenham adalah seorang artis yang tidak terkenal. Ia senang mendapat peran kecil di setiap filmnya. Baginya itu tidak masalah, karena ia memang tidak ingin menjadi seorang artis besar dan terkenal. Suatu ketika ia harus bepergian menuju sebuah kota kecil tempat kastil keluarga Fitzroy berada. Sahabatnya, Jasper Fitzroy, meminta Sophie untuk berakting sebagai kekasihnya pada ulang tahun ayahnya, Lord Fitzroy.

Tak diduga dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang laki-laki tampan yang cukup mengesankan. Siapa sangka jika ia adalah Kit Fitzroy, kakak tiri Jasper. Awal pertemuan ini menimbulkan percikan asmara di antara keduanya, yang pada akhirnya menjadi sebuah masalah rumit tentang cinta dan prasangka.

Masalah menjadi semakin besar ketika Lord Fitzroy meninggal setelah tak sadarkan diri dalam perayaan ulang tahunnya. Istrinya (Ibu Jasper) hanya bisa diam tanpa melakukan apapun, begitu juga Jasper. Ia merasa sangat bersalah dengan rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat dari keluarganya. Sementara Kit yang saling tidak menyukai ayah dan ibu tirinya menyimpan rasa kecewa yang sangat besar, terutama tentang warisan keluarganya. Sebenarnya rasa kecewa itu berasal dari masa lalu Kit terkait dengan ibu kandungnya.

Lalu bagaimana dengan Sophie? Gadis itu merasa terjebak dalam situasi yang aneh. Kedatangannya untuk membantu Jasper malah membuatnya terlibat cinta lokasi dengan Kit dan harus mengurus Jasper yang menderita shock berhari-hari. Akhirnya ia pun memilih untuk pergi dan sibuk dengan urusannya sendiri.

Sophie pun juga punya masalah sendiri. Ia merupakan anak yang dibesarkan oleh seorang Ibu hippy dalam camp hippies. Meski ia sempat sekolah di institusi pendidikan elite, hal ini tidak cukup membantunya. Akhirnya Sophie tumbuh menjadi seorang wanita yang tahan banting. Ia mudah dekat dengan orang-orang seperti Jasper, namun tidak dengan Kit yang selalu sinis.

Novel ini tentu saja menceritakan hubungan asmara antara Sophie dan Kit. Ketika prasangka antara mereka terbuka satu persatu, maka cinta mereka akan berkelanjutan. Nah bagaimana kelanjutannya? Seru juga mantengin kisah cinta Sophie yang terkesan riang dan sedikit urakan dengan Kit yang sangat kaku dan sinis. Saya cukup senang dengan cerita ini. Cukup menghibur.

Data buku

Judul: Jalinan Hasrat Terlarang
Judul asli: Craving the Forbiddeng (The Fitzroy Legacy #1)
Pengarang: India Grey
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 21 Agustus 2017 (terbit pertama kali 2011)
Tebal: 256 halaman

Kilas Buku: Sang Juragan Teh

|

Sebelum saya ulas roman satu ini, saya akan mengingatkan kembali bahwa saya pernah mengulas buku Kisah Para Preanger Planters yang tentu saja sangat berkaitan dengan cerita Hella S. Haasse. Sesungguhnya Sang Juragan Teh adalah sebuah roman, namun bukan fiksi. Segala karakter dan cerita didasarkan pada kumpulan surat dan dokumen mengenai sejarah perkebunan teh di Hindia Belanda (Indonesia). Hal ini disebutkan oleh Hella (penulis) sendiri pada segmen Ucapan Terima Kasih.

Saya cukup bingung bagaimana akan mengulas buku bagus yang satu ini. Karena jujur saja menulis ulasan dari sebuah buku yang punya rating bagus itu sangatlah sulit. Tapi saya bersyukur sudah pernah membaca sejarah Preanger Planters untuk memahami roman yang satu ini.

Roman Sang Juragan Teh mengambil Rudolf E. Kerkhoven sebagai tokoh utama. Sebagai anak lelaki tertua (ia adalah anak kedua setelah Bertha, anak pertama, yang juga kakak perempuannya), ia memiliki sifat ambisius dan serius, namun juga sangat mengayomi adik-adiknya. Selama berkuliah di Delft, Rudolf betul-betul mempersiapkan dirinya untuk membantu (dan menjadi pengelola perkebunan Arjasari) Ayahnya di Bandung. Sayangnya harapan ia pupus. Ayah maupun keluarganya tidak terlalu antusias dengan kedatangan Rudolf ke Hindia Timur (Indonesia). Ia pun malah diminta membuka lahan perkebunan baru di Gambung, Bogor. Justru adiknya August yang malah menjadi pengelola perkebunan Arjasari, yang lagi-lagi menambah kekecewaan Rudolf terhadap keluarganya. Ia merasa sudah menjadi anak sekaligus pemuda yang baik. Ia pekerja keras, suka berhemat, dan berpikiran maju untuk usahanya. Sayang, tidak ada seorang pun yang (terutama ayahnya) mengapresiasi usahanya ini.

Kisah berlanjut mengenai kehidupan Rudolf beserta istri dan anak-anaknya. Yang menjadi pusat cerita tentu saja soal perkebunan teh (khususnya Gambung), dan juga berbagai masalah dan kebijakan yang berputar di sekitarnya. Yang menarik perhatian saya adalah roman ini berisi banyak pandangan dari bangsa kolonial (Belanda), khususnya pihak non pemerintah, tentang orang-orang Indonesia dan budayanya. Seperti yang kita ketahui, sejak tahun 1870, pemerintah Kolonial membuka kesempatan bagi swasta (warga Eropa, khususnya Belanda) untuk mengelola lahan di beberapa daerah di Indonesia. Sejak itulah keluarga besar Van der Hutch (yang terdiri dari keluarga Kerkhoven, Holle, dan Boscha) menjadi salah satu pengusaha lahan.

Jika selama ini pandangan bangsa Indonesia kepada Belanda penuh dengan kebencian (akibat penjajahan 350 tahun), namun ternyata tidak semua orang Belanda begitu jahat terhadap bangsa Indonesia. Secara garis besar bangsa Belanda di Indonesia terdiri atas dua kelompok yakni pemerintah kolonial (kompeni) dan pihak swasta. Orang-orang dari pihak swasta inilah yang kebanyakan menjadi pihak baik bagi masyarakat pribumi. Contohnya adalah Karel Holle, pengelola perkebunan Waspada di Garut. Ia menjadi teman bagi petani, bahkan bisa dijuluki sebagai bapak petani modern di Indonesia. Ia yang awalnya mengajarkan petani lokal mengolah lahan pertanian sebagaimana harusnya. Karel Holle bahkan bersahabat dengan Haji Mohammad Musa, penghulu sekaligus tokoh Islam di Garut. Ia juga yang memberi kesempatan kepada Haji Musa untuk menerbitkan karya-karyanya (dalam bahasa Sunda / Sastra Klasik Sunda) yang saat itu tentu saja sulit bagi pribumi yang kebanyakan masih bodoh dan percetakan masih didominasi oleh kolonial. Ia dan Haji Musa tentu saja layak mendapat gelar Bapak Sastra Sunda.

Jika merasa tidak familiar dengan Karel Holle, kalian tentu kenal dengan K.A.R. Boscha. Ia merupakan Raja Teh di Priangan, dan juga Bapak Astronomi Indonesia dan merupakan pendiri Obsrvatorium Boscha.  Maka, Boscha dan Holle adalah orang-orang Belanda yang punya kepedulian tinggi terhadap masyarakat pribumi. Mereka sudah melakukan aksi nyata dalam membantu warga lokal, meskipun tidak mampu berbuat banyak mengintervensi kebijakan pemerintah kolonial. Dalam pernyataannya Holle mengungkapkan betapa ia prihatin terhadap masyarakat Sunda:
Dengar Rudolf.... sejak aku tiba di sini selagi masih anak-anak, melihat betapa bertolakbelakangnya kesuburan negeri yang indah ini dan kemiskinan rakyatnya, sungguh sangat menyakitkan bagiku. Tanah Sunda adalah tanah yang terabaikan, didominasi oleh para raja dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka kehilangan kebudayaan mereka sendiri. Sungguh suatu keajaiban mereka masih memiliki bahasanya sendiri. (hlm. 107)
Namun tentu saja sebaik-baiknya sebagian orang Belanda terhadap masyarakat kita, tetap kita tidak setuju dengan monopoli dan dikuasainya negeri ini oleh bangsa asing.

Roman ini memang penuh dengan kejutan. Salah satunya adalah mengenai betapa polos dan lugunya orang-orang pribumi. Dan juga betapa "tidak sopannya" pakaian mereka. Kata Rudolf Kerkhoven ketika pertama kali mengunjungi Batavia:
Kini mereka melaju di sepanjang tepi kanal yang penuh dengan orang-orang yang sedang mandi dan mencuci pakaian. Para wanita yang berdiri dalam air sepinggang, tanpa malu-malu memperlihatkan bahu mereka yang telanjang, dan lebih banyak lagi bagian tubuh yang lain jika sedang mencuci rambut. Rudolf sudah mendengar perkataan orang-orang di kapal yang menggambarkan pemandangan harian kehidupan kaum pribumi di Jawa semacam ini sebagai sesuatu yang memalukan di mata orang-orang Eropa... (hlm. 78)
Saya tertawa membacanya. Dewasa ini banyak orang Indonesia menganggap pakaian ala barat tidak sopan, ternyata pada masa lalu justru orang Indonesia yang "berpakaian terbuka ala barat". Menurut saya itu karena mereka menyesuaikan pakaian dengan iklim tropis yang memang ada di Indonesia. Sementara di Eropa, orang-orang cenderung mengenakan gaun atau jas karena iklim di sana yang cenderung lebih dingin. Jika sekarang ini orang Eropa senang berpakaian terbuka, mungkin karena mereka sudah menganut paham yang lebih bebas. Sementara orang-orang Indonesia kini sudah jauh lebih terpelajar sehingga tidak lagi mandi dan berpakaian terbuka sembarangan di depan orang banyak.

Saya juga sedikit surprised kalau orang Indonesia pada zaman dahulu justru peminum teh hijau, seperti yang biasa diminum orang-orang Jepang. Jadi bangsa kita juga punya budaya menyeruput ocha dengan nikmat di masa lalu. Seperti kata Karel Holle;
Penduduk di sini lebih menyukai teh hijau untuk mereka sendiri, sama seperti di Tiongkok dan Jepang. (hlm. 105)
Sayangnya, seperti kata Eduard Kerkhoven, pasar Eropa tidak tertarik pada Teh Hijau. Sehingga sepertinya karena itulah budaya minum teh hijau tidak berlanjut di kalangan masyarakat pribumi.

Well, saya pikir itulah beberapa kejutan diantara banyak kejutan dalam roman ini. Bagi yang memang menyukai sejarah, pasti akan bersemangat membacanya, seperti saya. Buku ini sangatlah berharga untuk dibaca dan dikoleksi. Karena ini bukan fiksi, dan bukan sekedar roman. Ini sejarah! Yang sangat berkaitan erat dengan masa lalu bangsa kita.

Bintang lima!


Data buku

Judul: Sang Juragan Teh
Judul asli: Heren van de Thee
Pengarang: Hella S. Haasse
Penerjemah: Indira Ismail
Paperback, 440 pages
Published December 3rd 2015 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1992)

Kilas Buku: Born to Cook Vol 4

|


Orang tua memang tidak bisa memaksakan kehendak kepada anaknya. Takdir manusia berbeda meski mereka satu keluarga. Orang dewasa hanya bisa mengarahkan anaknya, selebihnya serahkan keputusan kepada mereka.

Itulah pesan yang ingin disampaikan penulis lewat karakter Youta dan Yoichi. Kini, Youta sudah akan lulus SMP dan ingin sekali masuk ke SMA Ajiou meskipun si "pemantau" menjadi kepala sekolahnya. Diam-diam, Youta mengeksplor SMA Ajiou supaya mendapat gambaran sebelum melanjutkan pendidikan di sekolah itu.

Awalnya Youta menganggap SMA Ajiou biasa saja, ternyata ada tugas praktek yang "memaksa" siswanya untuk belajar mandiri sebagai koki atau pemilik restoran. Pelajaran moral kali ini kita akan dapatkan melalui karakter Andou, si jenius yang sangat serius dan ambisius. Andou memang pintar mengolah masakan dengan bahan bagus. Sayangnya sebagai anak pemilik retoran terkenal sepertinya ia belum mengerti konsep promosi dengan baik. Silakan teman-teman baca sendiri untuk kelanjutan cerita Andou dan produknya ini.

Lanjut lagi ke Youta. Kira-kira bagaimana ya? Apakah Youta akan tetap teguh pada niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Ajiou?

Sama seperti BTC vol 3, saya senang dengan Vol 4 ini, karena ceritanya semakin menarik dan menyenangkan. :)

4 bintang.

Data Buku

Judul: Born to Cook
Pengarang: Daisuke Terasawa
Tebal: 228 halaman
Penerbit: M&C, 2009

Murder on the Orient Express 2017 (Buku dan Film)

|
MotOE sampul film (GPU)

Baru-baru ini karya fiksi berjudul Murder on the Orient Express karangan Agatha Christie (AC) difilmkan. Sebenarnya sudah lama dan sudah banyak karya-karya AC yang dibuatkan filmnya. Hanya saja setiap kali bentuk filmnya muncul, mesti selalu dinanti oleh para penggemar AC yang tidak terhitung banyaknya. Karena karya-karya misteri/triler AC memang tidak pernah lekang oleh waktu.

Sementara saya sendiri bukan salah satu penggemar AC, meskipun menyukai karya-karyanya. Untuk Murder on the Orient Express (MotOE) sendiri saya malah menonton filmnya terlebih dahulu. Film yang mana? Tentu saja film keluaran terbaru (2017) hasil besutan Kenneth Branagh yang menjadi sutradara sekaligus pemeran utama. Lantas setelah nonton jadi malas baca, gitu? Yang terjadi pada saya justru sebaliknya. Saya malah bersemangat membaca ceritanya dan sedikit membandingkan cerita dalam buku dan film yang sekarang ini.
***
Alkisah seorang Hercule Poirot baru saja memulai perjalanannya kembali dari Aleppo, Syiria menuju Turki dengan Taurus Express. Di Turki, Poirot malah mendapat telegram yang memintanya untuk kembali pulang ke London dan memecahkan sebuah kasus. Akhirnya Poirot pun menumpang Simplon-Orient Express malam itu juga yang sayangnya sudah penuh sehingga detektif Belgia itu tidak bisa mendapatkan kamar kelas satu. Beruntung Monsieur Bouc, teman Poirot yang juga direktur the Wagon Lit Train Service, berhasil mendapatkan kamar untuknya.

Malam itu Orient Express memang penuh dengan penumpang dari beragam bangsa dan latar belakang. Hal ini menarik perhatian M. Bouc dan juga Poirot sendiri. Yang paling menarik perhatian adalah seorang Amerika bernama Rachett. Ia digambarkan sebagai lelaki kelas atas yang ramah dan punya pesona namun bengis hatinya.

Suatu malam menjelang pagi, Rachett tewas dengan luka tusukan belasan kali. Ketika itu kereta tengah berhenti karena badai salju. Dapat dipastikan si pembunuh tidak dapat kabur dari kereta karena badai. Lantas Poirot dibantu M. Bouc dan Dr. Constantine, seorang dokter Yunani harus memecahkan kasus itu dan menemukan pembunuhnya.
***

Setidaknya itulah ringkasan yang saya tangkap dari cerita aslinya (novel). Kemudian saya sedikit membandingkannya dengan filmnya (2017). Beberapa karakter tampak berbeda dari yang saya bayangkan. Hercule Poirot misalnya yang dalam film kali ini diperankan oleh Kenneth Branagh, tidak berambut hitam, melainkan abu-abu dengan kumis yang sangat besar dan lucu. Kemudian M. Bouc yang berkarakter sebagai laki-laki yang cenderung lebih muda dari imajinasi saya dan tampan. Begitu juga dengan sosok Rachett yang diperankan oleh Johnny Depp. Bayangan saya tentang Rachett adalah sosok lelaki tua (tidak terlalu tua sih) yang memiliki air muka sarat pengalaman dan licik. Rachett yang diperankan Depp memang berhasil memperlihatkan kelicikan bagai musang, namun ia belum terlalu tua untuk seorang Rachett.

Ada juga karakter yang sepertinya tidak ada dalam film, cmiiw. Sepertinya Dr. Constantine tidak dimunculkan sama sekali. Jadi memang Poirot di film lebih banyak bekerja sendiri baik ketika mewawancara para saksi dan menganalisa kasus. Saya tidak memiliki kecenderungan pro dan kontra yang mana, yang jelas peran Poirot dalam cerita aslinya ataupun film sama-sama dominan layaknya sosok detektif yang seharusnya.

Ada lagi tokoh yang berganti karakter dan nama. Seperti tokoh Pilar Estravados yang diperankan oleh Penelope Cruz. Awalnya saya bertanya-tanya siapa Pilar Estravados ini. Setelah mengulik kembali novelnya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Greta Ohlsson, perempuan Swedia dalam novel telah digantikan oleh Pilar Extravados (barangkali diambil dari karakter lain dari novel AC lainnya). Begitu juga tokoh Antonio Foscarelli yang berganti nama menjadi Biniamio Marquez dalam film.

Saya pribadi tidak masalah dengan sedikit perubahan pada film. Toh itu tidak mengurangi alur cerita secara keseluruhan. Malah jadi tambah seru dibandingkan cerita aslinya (novel). Bagi yang belum membaca ataupun menonton film MotOE sama sekali, jangan bingung memilih. Membaca novelnya dulu ataupun menonton filmnya dulu sama saja. Keduanya sama-sama asyik. Saran saya cuma satu, jadilah pembaca dan penonton yang open-minded, tidak saklek dengan asumsi pribadi. Yah mungkin banyak juga pengalaman mengecewakan karena menonton film berbasis novel. Tapi tetap tidak ada salahnya menonton film yang satu ini. :)

Data buku

Judul: Murder on the Orient Express
Pengarang: Agatha Christie
Jumlah Halaman: 252
Tanggal Terbit: Oct 2, 2017
ISBN: 9789792229806
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kilas Buku: Born to Cook Vol 3

|

Born to Cook vol 3 punya beberapa episode yang mengejutkan, salah duanya adalah pengungkapan rahasia "kematian" Direktur lawas Ajiou, dan siapa sebenarnya Direktur baru Ajiou. Daripada dua komik sebelumnya, saya lebih menyukai vol 3 ini. Karena alurnya lebih mengalir bebas sebagaimana harusnya cerita.

Kalau dua seri pertama itu kan segala sesuatu "dihubungkan" dengan kompetisi. Sepertinya si penulis memang senang ya memaksa para tokohnya untuk bertanding ehehe.

Belakangan ini saya baru menyadari kalau si penulis punya banyak titipan pesan buat pembaca, selain teknik dan wawasan masakan tentunya. Dalam komik sering digambarkan bahwa yang namanya koki sejati pantang untuk menggunakan bumbu instan, apalagi penyedap rasa kimiawi (yang tentu saja banyak merek ternama dari Jepang ya) heheh. Penelitian dan pengolahan rasa akan menjadi pengalaman yang sangat dihargai. Yang namanya koki yang baik itu harus memasak dengan bahan berkualitas (organik) dan sekali lagi no-vetsin. Kalau mau jadi koki ternama dengan serius, buang jauh-jauh pikiranmu untuk pake penyedap rasa. Lha emangnya kita kalo masak pake micin sebungkus 😆.

Tapi satu hal, penulis juga ingin menyampaikan bahwa boleh-boleh saja menggunakan bahan-bahan supermarket (yang instan dan penuh dengan bahan pengawet) dan juga penyedap rasa kimia, asal digunakan dengan batas minimum yang wajar. Hal ini terdapat pada halaman 219 ketika calon Ajiou baru bertanding dengan juara bertahan GP Ajiou. Nah untuk lebih jelasnya silakan baca sendiri ya. :D

Lagi-lagi, BTC memang bacaan selingan yang seru dan tidak membosankan. 4 bintang kali ini. :)

Data buku:

Judul: Born to Cook
Pengarang: Daisuke Terasawa
Tebal: 228 halaman
Penerbit: M&C, 2009

Kilas Buku: Born to Cook Vol 2

|

Yoichi Ajiyoshi memang telah kembali. Youta pun semakin menempel pada Ayahnya itu untuk belajar memasak. Remaja itu memang sangat senang dengan memasak. Lagipula buah memang tidak pernah jatuh dari pohonnya. Namun kali ini masalah bertambah banyak. World Ramen terancam bangkrut karena Sano san pindah ke Asosiasi Ajiou. Ada juga pertarungan antara Direktur Departemen Masakan Italia di Asosiasi Ajiou dengan Yoichi. Yang terakhir ini seru sekali karena Yoichi sendiri yang adu masak hehe.

Seperti vol pertama, komiknya memang terdiri atas bab-bab yang berisi pertandingan masak. Yang menjadi perhatian saya, semua tokoh utamanya (yang jago masak ini) laki-laki dan berambut hitam jigrik kayak dragon ball hehehehe.

Satu lagi yang menarik perhatian saya dari vol kedua ini: Youta lebih memilih belajar masak di Asosiasi Ajiou, mengabaikan larangan ayahnya sendiri. Kenapa ya? Padahal di rumahnya ia juga belajar masak dari ayahnya lho. :D Tapi bagusnya Youta jadi punya banyak teman baru dan unik.

Komik ini lagi-lagi memang lumayan untuk bacaan selingan. Jenis bacaan yang cepat dan ringan. Nilai plusnya adalah para pembaca dapat tahu teknik-teknik masakan lewat gambar-gambar manga. Menyenangkan ya. :)

Tiga bintang.

Data buku:

Judul: Born to Cook
Pengarang: Daisuke Terasawa
Tebal: 223 halaman
Penerbit: M&C, 2009

Kilas Buku: Born to Cook Vol 1

|

Youta Ajiyoshi adalah remaja berusia 14 tahun. Ia adalah anak dari Yoichi Ajiyoshi. Youta tinggal di kedai (dengan menu makanan set) keluarga bersama Ibu dan Neneknya. Karena Ayahnya, Yoichi, yang juga Master Ajikko pergi meninggalkan rumah tanpa alasan jelas.

Kedai tempat keluarga Ajiyoshi tinggal sangatlah ramai dengan pengunjung. Hal ini sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya (yang juga banyak toko) yang sepi. Suatu ketika pemilik Ramen World datang ke kedai untuk membeli kepemilikannya. Ia akan menggusur kedai Ajiyoshi dan menjadikannya lahan bagi Ramen World. Namun keluarga itu menolak, ditambah si kecil Youta menantang akan membuat ramen terlezat sedunia bagi pemilik Ramen World agar tempat tinggalnya tidak digusur.

Keputusan ini mengagetkan Ibu dan Neneknya. Lantas apakah remaja itu berhasil?

Wah, satu lagi bacaan selingan yang lumayan buat saya. Ceritanya tentu saja sesuai judulnya, tentang dunia masak, beserta teknik, dan kompetisinya. Saya melihat komik ini tidak ubahnya seperti komik silat atau kung fu yang sebentar-sebentar menyajikan pertarungan bela diri. Kalau di BTC Vol 1 ini tentu saja bukan adu kung fu, tapi adu masak. Makanya dalam satu komik ini dibagi beberapa bab, sesuai dengan pertandingan yang dilakukan dengan para tokohnya.

Komik yang cukup seru dan dapat dibaca oleh kalangan dari berbagai usia.

Tiga bintang.

Data buku:

Judul: Born to Cook
Pengarang: Daisuke Terasawa
Tebal: 223 halaman
Penerbit: M&C 2008


Kilas Buku: Table for Two Vol 2

|

Setelah Wakaba tinggal bersama lagi dengan ibunya, tidak ada yang pernah sama lagi. Memang, Ibunya sudah jauh lebih tenang, dan Wakaba dapat kembali hidup bahagia dengannya. Namun bagaimana dengan Kazuomoto? Wakaba ada hati kepada lelaki dewasa itu, sehingga tidak sanggup melupakannya. Sayang usia mereka berdua terpaut sangat jauh. Lagipula ia tak tahu apakah Kazuomoto juga ingin menikahinya saat cewek itu dewasa nanti.

Seperti yang saya katakan pada ulasan volume pertama, komik ini bukan untuk anak-anak. Pada vol kedua ini, penulis mengedepankan isu percintaan antara Wakaba yang masih SMA dan Kazuomoto yang sudah berumur 30an. Kesamaan nasib membuat mereka saling jatuh cinta. Pernikahan dini juga sempat disinggung sedikit. Wah, yah kalau memang Wakaba mau menikah sebelum berusia 18 tahun mungkin pernikahan dini namanya hehe. :D

Buat saya komik ini cukup menarik lah ya. Tapi saya tidak terlalu menyukainya karena kisah romansanya kurang menyentuh. Saya malah lebih menyukai vol pertama dimana muncul ketegangan dan kesedihan ketika konflik antara orang tua dan anak disajikan.

Well, 2-3 bintang lah ya untuk komik ini. Lumayan buat bacaan selingan.

Data buku

Judul: Table for Two VOL 2
Judul asli: Futari no Table
Pengarang: Rumi Ichinohe
Penerjemah: Dian Indrinuswati
Editor: Anjar Dewanti
Tebal: paperback, 168 halaman
Penerbit: M&C, 2013 (pertama kali terbit 2012)

Kilas Buku: Table for Two Vol 1

|
source: ECC Bintaro Bukalapak

Wakaba adalah siswi kelas 6 SD yang ditinggal pergi begitu saja oleh ibunya. Dalam kebingungan ia diajak untuk tinggal bersama seorang lelaki dewasa bernama Kazuotomo yang masih saudara jauh. Awalnya Wakaba berontak, takut tinggal bersama orang asing. Namun entah kenapa ia bersikeras untuk selalu memasak setiap jadwal makan tiba, padahal ia masih kecil. Wakaba juga selalu marah dan tidak ramah kepada Kazuomoto, yang syukurlah selalu ditanggapi dengan lembut oleh lelaki itu.

Selama tinggal di rumah saudaranya itu, Wakaba selalu saja teringat akan ibunya. Yang paling ia kenang adalah saat-saat ibu memasak untuknya, kemudian makan bersama. Sayang, tidak hanya kenangan manis yang ia ingat, namun juga kenangan pahit. Hal itulah yang membuat Wakaba menjadi anak pemurung.

Ternyata, tidak hanya Wakaba yang mempunyai masa lalu pahit. Akankah Kazuomoto  akan memberitahu kisah sebenarnya?

Komik ini sebenarnya bukan komik untuk anak, walau menjadikan anak kelas 6 SD sebagai tokoh utamanya. Penulis membawa isu hubungan antar orang tua dan anak dalam ceritanya. Wakaba, si tokoh utama, menjadi pemurung karena alasan kuat. Ia mendapat perlakuan buruk setiap kali ingin membantu ibunya memasak. Karena itulah ia menjadi anak yang pemarah sekaligus penakut ketika berhadapan dengan Kazuotomo dan orang-orang dewasa lainnya. Ia takut dimarahi dan dipukul. Bagi Wakaba, orang dewasa punya sifat dan sikap yang sama.

Saya sendiri punya pengalaman yang kurang lebih sama dengan Wakaba. Berniat membantu orang tua, yang ada malah dimarahi. Berniat melakukan inovasi, yang ada malah dijatuhkan. Itulah yang menyebabkan banyak anak tumbuh dengan sifat tidak percaya diri dan mudah marah. Orang tua, tanpa mereka sadari, sudah membentuk anak mereka menjadi generasi rapuh seperti itu.

Kisah yang menarik untuk dibaca orang-orang dewasa yang masih suka baca komik. Dan saya rasa anak remaja bisa juga membacanya asal ada bimbingan dari orang yang lebih tua.

Tiga bintang.

Data buku

Judul: Table for Two
Judul asli: Futari no Table
Pengarang: Rumi Ichinohe
Penerjemah: Dian Indrinuswati
Editor: Anjar Dewanti
Tebal: paperback, 168 halaman
Penerbit: M&C, 2013 (pertama kali terbit 2012)

Kilas Buku: Winter (The Lunar Chronicles #4)

|

Akhirnya sampai juga saya ke buku terakhir dari serial The Lunar Chronicles. Pada buku 1-3 kita disuguhkan kisah perjuangan Cinder yang terkaget-kaget karena ia harus diburu oleh Ratu Levana dari Luna, karena Cinder yang seorang cyborg ini adalah pewaris sah tahta Kerajaan Bulan. Cinder lantas bertemu dengan tiga gadis lainnya yang sama-sama punya jiwa pemberontak, seperti Scarlet gadis pertanian yang pemberani, Cress si damsel in distress yang jago IT, dan Winter (bertemu di buku 4) anak tiri dari Ratu Levana.

Bersama dengan ketiga gadis yang menjadi teman barunya itu, juga termasuk cowok-cowok keren yang kemudian menjadi pacar mereka, Cinder dan Kai berjuang melawan Ratu Levana yang tiran. Tentu saja perjuangan ini tidaklah mudah. Mereka harus berkorban banyak hal. Lantas ada hal baru yang harus dipikirkan, yakni bagaimana rencana selanjutnya jikalau Cinder berhasil menumbangkan Levana dan menjadi Ratu Bulan. Bagi Cinder yang terbiasa menjadi budak dan tidak mengerti seluk beluk pemerintahan tentu akan menjadi hal yang sangat sulit. Maka, silakan saja baca detilnya dalam buku pamungkas ini.

Well, ceritanya sangatlah menarik. Eksekusinya juga bagus. Hanya saja, bagi saya yang tidak suka berlama-lama dalam proses cerita, rasa bosan akan mudah menerjang. Jujur saja, saya lebih sering menggunakan metode skimming dan lompat kepada kesimpulan atau bagian cerita yang menurut saya krusial. Tidak ada yang salah untuk itu buat saya, asal si pembaca tetap dapat mengerti jalan cerita dengan baik.

Tokoh favorit saya dalam buku 4 ini adalah Cress dan Thorne (tentu saja Cinder tetap menjadi tokoh paling favorit saya). Cress, meskipun memiliki karakter yang lemah, ia tetap berusaha untuk berubah, memberanikan dirinya sendiri untuk menyumbangkan tenaga dan pikirannya demi revolusi di planet bulan. Hal yang paling lucu dan menggemaskan tentu saja kisah cinta antara ia dan Thorne, si cowok paling bengal yang dianggapnya pahlawan. Cress sepertinya sangat terpengaruh dengan kisah-kisah percintaan yang ditontonnya, sementara Thorne mencoba menjadi cowok paling cool yang pernah ada. Hehe.

Ada hal penting yang dapat dijadikan pelajaran, yakni tentang bagaimana perlakuan buruk dari orang lain dapat membentuk kepribadian seseorang. Rasa benci dan dendam yang bertumpuk dan tidak tersalurkan akan membuatnya lebih kejam daripada monster yang paling buas sekalipun. Yah sebenarnya hanyalah cinta kasih dan keterbukaan yang mampun menghapus dendam. Mungkin itulah yang terjadi pada diri Levana, ia menjadi makhluk paling menyedihkan yang pernah ada. Maka kekejaman menjadi satu pelampiasan dari hatinya yang kelam.

OK, bintang 3 untuk buku pamungkas ini. :)

Data buku

Judul: Winter (The Lunar Chronicles #4)
Pengarang: Marissa Meyer
Hardcover, 1st, 827 pages
Published November 10th 2015 by Feiwel & Friends

Kilas Buku: Cress (The Lunar Chronicles #3)

|

Setelah Cinderella dan Si Tudung Merah, kini kisah berlanjut ke Rapunzel. Yah, namanya tidak benar-benar Rapunzel. Kisahnya juga bukan kisah Rapunzel. Seperti biasa kisahnya merupakan hasil modifikasi dari kisah klasik si Rapunzel yang berambut panjang. Sayangnya Rapunzel dalam kisah fantasi-modern ini, si gadis tidak mendapatkan kesaktian apapun dari rambut panjangnya. Marissa Meyer menggambarkan kalau ia ini adalah "damsel in distress", terlihat dari bagaimana Cres (nama tokoh "Rapunzel" di buku ini) benar-benar menganggap dirinya adalah gadis yang mendambakan sosok pahlawan menyelamatkannya.
Because if there was one thing Cress knew about heroes, it was that they could not resist a damsel in distress. And she was nothing if not in distress.
"But you're a prisoner," said Thorne. "I prefer damsel in distress," she murmured.
Cress adalah seorang shell yang menjadi tawanan khusus dari Sybill Mira, penyihir kepercayaan Ratu Levana. Sejak kecil ia ditempatkan di sebuah satelit di antara Bulan dan Bumi. Tugasnya adalah untuk mengawasi segala hal tentang Bumi, termasuk celah untuk menyerang planet itu. Sayangnya Cress bukanlah sosok yang tangguh dalam menjalankan tugasnya. Ia cenderung melankolis dan lebih senang menonton drama daripada memata-matai Bumi. Ketika ia bertatap muka dengan buronan Thorne, ia langsung jatuh cinta dan merasa bahwa si penjahat itu adalah pahlawannya. Akankah mereka benar-benar menjadi pasangan yang serasi? Si Melankolis dan si Buronan.

Sementara itu, Cinder tetap berkutat dengan usahanya mencegah pernikahan Ratu Levana dan Kaisar Kaito. Sudah lama sekali ya sejak buku satu kita tidak melihat kisah antara Kai dan Cinder. Selama ini mereka sudah terpisah cukup lama. Nah, mungkin saja ya Cinder akan bertemu dengan Kai dalam buku tiga ini. Dan kita akan melihat sisi lemah Cinder. Hal ini cukup saya sukai, karena betapapun kuatnya Cinder, ia masih mau mengakui betapa ia takut menjadi seorang pemimpin harapan rakyat.
And even if I succeed, I have no idea how to be a queen. There are so many people relying on me, and now they're dying, all because of some ridiculous fantasy that I can help them, that I can save them, but what if I can't?
Well, pada akhirnya saya mengakui kisah fantasi hasil modifikasi ini cukup berhasil. Meyer tidak hanya mengandalkan romance semata dalam menarik para pembacanya. Ia juga berhasil membuat alur cerita yang cukup logis.

Tiga bintang.

Data

Judul: Cress (The Lunar Chronicles #3)
Pengarang: Marissa Meyer
Hardcover, 552 pages
Published February 4th 2014 by Feiwel & Friends

Kilas Buku: Soegija 100% Indonesia

|

Siapa yang tidak kenal dengan Soegijapranata? Ia adalah pahlawan nasional bagi bangsa Indonesia. Ia juga seorang tokoh penting bagi umat Katolik, khususnya di Indonesia. Ia adalah seorang Jawa bernama Albertus Soegijapranata yang kemudian menjadi uskup Katolik di Indonesia.

Soegija lahir dari orang tua yang bersahaja. Ayahnya adalah abdi dalem kraton Surakarta, dan pernah belajar dari Sastrawan Jawa terkenal, yakni Raden Ngabehi Ronggowarsito. Tentu saja mereka adalah muslim, namun bagi mereka semua agama adalah baik jika dijalankan dengan kesungguhan.

Soegija tertarik masuk sekolah di Kolese Xaverius Muntilan yang didirikan oleh Pastur Van Lith. Ia tergoda bersekolah di sana atas surat gurunya yang menceritakan pengalamannya tentang mengajar di Kolese Muntilan. Gurunya bilang kalau sekolah tersebut bermutu bagus.

Akhirnya Soegija mendaftar ke sekolah itu. Ia tidak memiliki niatan untuk belajar Katolik, sejak awal ia sudah menekankan itu kepada para pastur. Seiring berjalannya waktu ia tertarik menekuni Katolik, sementara para pastur menyarankannya agar ia meminta izin dari orang tua. Soegija tidak mau dan tetap bertekad untuk dibaptis tanpa persetujuan keluarga. Sejak itulah jalan menjadi Imam Katolik dimulai. Ia disekolahkan bertahun-tahun lamanya di Belanda, bahkan pernah juga ke Vatikan dan bertemu Paus.

Sepulangnya ke Indonesia, Soegija semakin dihormati atas kewibawaan dan keteguhannya menjalankan Katolik sekaligus tetap menjadi seorang Jawa sejati. Itulah yang ia propagandakan, meskipun ia beragama Katolik, ia tetap seorang Jawa belaka. Maka ia mulai menggunakan bahasa Jawa dalam beberapa segmen ibadat.

Soegija hidup pada zaman sulit, yakni pendudukan Belanda, Jepang, dan transisi kemerdekaan awal. Sesulit-sulitnya hidup di masa itu, ia tetap berusaha mendampingi umatnya. Malah ia mempromosikan 100% Katolik, 100% Patriot. Kata-kata "patriot" dulu sangat garang dan kuat untuk menunjukkan kalau bangsa Indonesia sangatlah pro-kemerdekaan. Mungkin zaman sekarang ini lebih cocok digunakan 100% Indonesia untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme kita.

Bangsa Indonesia memiliki beragam suku, budaya, bahasa, dan tentu juga agama. Maka perbedaan itu jangan sampai menjadikan kita terpecah belah. Setelah kematiannya di tahun 1963, Soegija diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno. Pengangkatannya sebagai pahlawan tentu saja keputusan yang tepat mengingat kontribusinya selama ia hidup untuk bangsa dan negara ini.

Informasi buku

Judul: Soegija 100% Indonesia
Penulis: Ayu Utami
Tebal: Paperback, 155 halaman
Penerbit: KPG, May 2012

Kilas Buku: Scarlet (The Lunar Chronicles #2)

|

Setelah kisah cinta Linh Cinder yang terinspirasi dari Usagi Sailor Moon dan (pastinya) Cinderella sudah dibahas dalam buku pertama, kini Dongeng Bulan berlanjut ke buku kedua. Tidak jauh-jauh dari kisah dongeng klasik, buku kedua bercerita tentang Scarlet, seorang gadis yang baru saja kehilangan neneknya. Tidak, neneknya Michele Benoit, belum meninggal. Ia hanya hilang tanpa jejak, kecuali kartu identitasnya yang sudah dicongkel dari tangannya. Scarlet yang senang memakai hoodie dan bekerja di pertanian milik keluarganya, berusaha menemukan neneknya yang (menurut dugaan Scarlet) diculik sekelompok orang jahat.

Beruntung ada pemuda dengan tato mencurigakan yang membantu gadis bertudung itu. Pemuda ini adalah orang baru di tempat Scarlet tinggal. Ia petarung jalanan yang memiliki nama panggilan Wolf. Anehnya ia juga memiliki taring dan penciuman tajam seperti serigala pada umumnya. Scarlet agak curiga pada awalnya, namun ia bertekad untuk menemukan neneknya dengan selamat apapun jalan yang ditempuhnya.

Saya cukup terpukau dengan imajinasi Marissa Meyer ini. Ia mampu menceritakan ulang dongeng versi dirinya sendiri. Fantasi yang digunakan memang agak tidak masuk akal. Tapi, ya kan namanya juga fantasi. Namun jalan cerita dan alur yang saling berhubung terasa cukup nyambung satu sama lain. Itu yang sebenarnya membuat saya bisa bertepuk tangan dengan keberhasilan Meyer.

Tokoh Wolf dan Scarlet sepertinya bakal menjadi idola baru ya, sejajar dengan Cinder dan Kai. Kisah cinta mereka bahkan lebih 'panas' daripada si Upik Abu dan si Pangeran. Hehe. Yang paling saya kagumi sebenarnya adalak Iko, android milik Cinder. Karena ia robot, menjadikannya sebagai karakter paling easy going sepanjang cerita. Tanpa beban gitu! Hehe. Mungkin buat selingan ya diantara tokoh dan masalah yang rumit dan bercampur baur. :D

Well, bintang tiga! :)

Data buku

Judul: Scarlet (The Lunar Chronicles #2)
Pengarang: Marissa Meyer
Kindle Edition, 464 pages
Published February 5th 2013 by Feiwel & Friends

Kilas Buku: Cinder (The Lunar Chronicles #1)

|

Cinder adalah seorang cyborg, manusia yang beberapa bagian tubuhnya sudah disambungkan dengan mesin. Seperti kebanyakan cyborg, Cinder dipandang sebelah mata oleh orang-orang normal. Ditambah lagi ia tidak punya orang tua sehingga harus bergantung kepada perwalian ibu tirinya yang terus menerus meratap tentang nasibnya yang miskin harta. Ia menyesali mengapa suaminya harus lebih peduli kepada Cinder daripada kedua anak kandungnya sendiri.

Cinder harus bekerja sebagai mekanik untuk memenuhi kebutuhan seluruh keluarganya. Tidak satupun dari ibu tiri atau kedua saudara tirinya yang bekerja. Berkat usahanya yang keras, Cinder berhasil menjadi mekanik perempuan profesional yang paling terkenal di New Beijing. Suatu ketika pangeran Kaito, calon pewaris tahta kekaisaran Persemakmuran Timur, datang kepada gadis mekanik itu dengan androidnya yang rusak. Ia berharap androidnya dibetulkan segera.

Di sisi lain, kerajaan Luna menunggu waktu yang tepat untuk menjajah Bumi. Ratu Levana yang memerintah Bulan, sangat ingin menikahi Pangeran Kai supaya dapat menguasai Bumi dengan mudah. Ia melakukan segala cara mulai dari manipulasi, hingga iming-iming vaksin dari wabah letumosis yang sedang merebak di seluruh negeri Bumi.

Yang jelas, keberadaan Cinder dalam cerita ini punya andil dalam melawan Ratu Levana dan kroninya. Tapi entahlah seorang cyborg sebatang kara dapat melawan ratu yang sangat berkuasa.

Sebenarnya cerita ini adalah campuran inspirasi dari berbagai kisah dongeng dan fantasi. Mungkin semacam fiksi penggemar dari cerita Cinderella, Sailor Moon (mengingat penulisnya merupakan penggemar Sailor Moon), dan juga Star Wars. Yang saya sukai dari fantasi yang satu ini, meskipun tokohnya perempuan, ia tidaklah berkarakter lemah. Cinder bukanlah damsel in distress. Ia berkepribadian kuat dan sudah lama menjadi kuat dengan bertahan hidup dalam kesulitan. Dan satu lagi, ia tidak pernah bermimpi mendapatkan pertolongan orang lain (bahkan mengharapkan pangeran datang), kecuali dirinya sendiri.

Saya cukup suka dengan alur ceritanya. Maka dari itu sepertinya 3 bintang cukup. :)

Data

Judul: Cinder (The Lunar Chronicles #1)
Pengarang: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Paperback, 384 pages
Published January 1st 2016 by Penerbit Spring (first published January 3rd 2012)

Kilas Buku: Hantu Dalam Bus (Suddenly Supernatural #4)

|

Kat dan Jac kembali berdamai setelah pertengkaran kecil mereka sewaktu mengunjungi konferensi musisi muda beberapa waktu lalu. Kegiatan mereka berjalan seperti biasa walau dengan adanya gangguan seorang cewek populer yang bikin mereka keki. Suatu saat Kat menyadari jika ia mulai jatuh cinta kepada salah seorang cowok di sekolahnya. Cowok itu bernama Ben, dan ia sebenarnya cowok rata-rata saja, sampai Kat menyadari ada hal yang berbeda yang membuatnya senang kepada Ben.

Tahun ini kelas Bahasa Prancis mengadakan studi tur ke Kanada. Mereka menyewa sebuah bis yang cukup bagus untuk sebuah perjalanan jauh. Entah harus bersyukur atau tidak, Ibu Kat dan Ibu Jac turut serta sebagai orang tua pengawas siswa. Mungkin Kat merasa biasa saja, namun tidak dengan Jac. Ia terlalu benci dengan ibunya sendiri sehingga selalu saja mengabaikannya.

Perjalanan menuju Kanada tidak selalu berlangsung mulus. Kat melihat beberapa arwah yang bahkan mencoba berbicara dengannya. Terkadang arwah itu malah memarahinya dan mengaturnya untuk melakukan ini-itu. Arwah itu kebanyakan merasa kalau mereka masih hidup dan terikat dengan dunia manusia. Payahnya, arwah-arwah selalu muncul ketika Kat dan Ben berdekatan. Kat yang takut dijauhi oleh Ben ragu-ragu jika ia harus bicara jujur kepadanya, kalau dirinya bukan cewek biasa. Karena Kat masih mampu melihat dan berbicara dengan hantu. Lantas kalau Ben tahu, apakah ia mau mengerti?

Buku terakhir dari serial Suddenly Supernatural ini sama seperti buku-buku sebelumnya, sama-sama ringan dan cukup bikin penasaran. Bagi orang yang sudah biasa membaca buku misteri, mungkin buku ini akan terlalu ringan dan malah cenderung membosankan. Tapi tidak bagi mereka para pembaca pemula. Jadi saya cukup mengapresiasi usaha dari sang penulis untuk menujukan buku ini kepada para remaja yang masih perlu motivasi dan semangat membaca.

Data buku
Judul: Hantu Dalam Bus (Suddenly Supernatural #4)
Judul asli: Crossing Over
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziati
Tebal: 198 halaman
Penerbit: Atria, 2012 (terbit pertama kali 2010)

Kilas Buku: Medium yang Tidak Bahagia (Suddenly Supernatural #3)

|



Temui Kat, gadis yang dapat melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Well, sebenarnya tidak hanya hantu, ia juga dapat merasakan entitas gelap yang negatif (jika kau tidak mau menyebutnya dengan iblis). Dan temui juga Jac, sahabat Kat yang jago bermain cello. Jac sangat antusias dengan segala hal yang berbau hantu. Ia dan Kat sangat kompak menghadapi masalah-masalah yang seperti ini.

Suatu saat Kat menemani Jac dan ibunya menginap di Whispering Pines Mountain House, sebuah hotel yang sudah berdiri sejak zaman Victoria. Jac harus mengikuti Konferensi Musisi Timur Laut Muda atas saran ibunya. Sementara bagi Kat, ini adalah kesempatan besar untuk berlibur di hotel mewah dengan pemandangan yang menakjubkan.

Sayangnya hotel yang telah dibangun dengan waktu yang cukup lama itu sudah pasti berhantu. Sebelum Kat masuk ke dalam hotel ia sudah bertemu dengan hantu medium. Hantu yang tidak sadar kalau ia sudah mati itu tinggal di kamar tempatnya menginap. Tidak masalah sih kalau cuma satu hantu, apalagi hantu medium yang bernama Madame Serena itu cukup menyenangkan. Ada hantu yang lebih dari sekedar hantu, entitas negatif yang berada di seberang kamar Kat.

Kalau awalnya Jac masih berniat menemani Kat menghadapi hantu dan entitas negatif, mungkin Kat tidak akan terlalu ketakutan. Sayangnya Jac lebih peduli dengan cowok ganteng yang kayaknya naksir dia. Apakah Kat akan berhasil melawan awan gelap itu? Apakah Jac akan berhasil jadian dengan si cowok ganteng? Dan yang paling penting adalah apakah Kat dan Jac masih tetap akan bersahabat?

Rasanya seneng banget ya baca cerita fantasy khas anak-anak  yang menyenangkan ini. Soalnya sudah lama saya tidak membaca genre yang sama. Ceritanya ringan, khas middle grade, meskipun tema yang diangkat horor dan sedikit menegangkan.

Saya merekomendasikan buku ini untuk para anak yang menyukai cerita fantasy seperti saya. :)

4 bintang.


Data buku

Judul: Medium yang Tidak Bahagia
Judul asli: Unhappy Medium
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziaty
Tebal: paperback, 217 halaman
Penerbit: Atria, Desember 2011 (pertama kali terbit 2009)

Kilas Buku: Kat si Medium Penakut (Suddenly Supernatural #2)

|

Ketakutan Kat menjadi cenayang masih berlanjut. Ia tetap berangan untuk memiliki kehidupan normal (kalau memang bisa). Di sekolah ia sudah "dikenal" sebagai cenayang, baik oleh beberapa teman sekelasnya, ataupun oleh si entitas hitam yang berada di perpustakaan. Entitas ini sangat kuat dan sepertinya mampu menguras energi Kat.

Syukurlah liburan tiba dan Kat bisa kembali tenang tanpa harus bertemu dengan genk populer yang usil, dan entitas hitam. Sayangnya saat liburan Kat tetap bertemu dengan hantu-hantu. Hal ini memang tidak dapat terelakkan, karena kemampuan itu sudah mengalir dalam darah Kat.

Suatu hari Kat tertarik dengan rumah kosong yang berada di sebelah rumahnya. Awalnya Kat hanya ingin menjadikan rumah kosong itu sebagai bahan tugas komunikasi dalam pelajaran Bahasa Inggris. Namun Kat mendadak ingin membantu sesosok arwah di rumah kosong itu. Arwah itu sosok anak laki-laki yang tampak nelangsa. Sayangnya ada beberapa hal yang menghalangi Kat untuk membantunya. Salah satunya, arwah kakek tua yang jahat. Lantas, apakah Kat mampu menolong arwah bocah laki-laki itu?

Ini adalah buku kedua dari serial Suddenly Supernatural. Menurut saya ceritanya cukup menarik dan memang dibuat ringan, karena memang ditujukan untuk remaja tanggung. Sayangnya saya yang mengharapkan kelanjutan dari cerita tentang entitas hitam yang berada di perpustakaan, tidak kesampaian. Padahal entitas hitam itu digambarkan sangat mengancam kehidupan Kat saat di sekolah. Sayang sepertinya jika sosok yang sudah diperkenalkan sejak buku pertama itu tidak dibahas sama sekali.

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca muda dan anak-anak yang memang menyukai genre horror namun ringan dan tidak terlalu menegangkan.

Data buku:
Judul: Kat si Medium Penakut (Suddenly Supernatural #2)
Judul asli: Scaredy Kat
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziati
Tebal: 168 halaman
Pnerbit: Atria, 2011 (terbit pertama kali 2009)

Custom Post Signature