Top Social

Showing posts with label Misteri. Show all posts
Showing posts with label Misteri. Show all posts

Kilas Buku: A Hole in the Head

|

Ini adalah buku Annisa Ihsani kedua yang saya baca setelah "Teka-Teki Terakhir". Temanya masih sama-sama remaja yang fokus kepada misteri dan sains. Kalau "Teka-Teki Terakhir" menyoal teori Fermat dalam bidang Matematika, "A Hole in the Head" lebih bermain misteri dengan teori-teori Fisika. Jadi gimana sih cerita tentang "A Hole in the Head" ini?

Ada seorang anak perempuan bernama Ann. Umurnya 13 tahun dan senang melakukan banyak aktivitas. Ibunya, Indira, seorang ilmuwan, dan ayahnya, Gertjan, adalah pengurus penginapan Monchblick di Swiss. Oh itu bukan penginapan milik ayahnya sendiri, melainkan milik istrinya, Nina Vogel. Yup, Indira dan Gertjan telah cukup lama bercerai. Lalu Gertjan dan Nina menikah dan memiliki satu anak bernama Emil.

Pada liburan kali ini Ann dijadwalkan akan berlibur bersama neneknya. Sayang sekali sang nenek harus mengurus cucunya (sepupu Ann) yang baru saja lahir dan merawat anaknya yang baru menjalani persalinan. Sementara Indira harus bepergian ke Asia Tenggara yang sudah pasti tidak bisa mengajak Ann ikut serta. Akhirnya Ann berlibur bersama Gertjan di penginapan Monchblik. Rasa senang tak terkira menggelayuti gadis yang senang berpetualang itu.

Liburan di Swiss tentu saja menyenangkan. Bagi Ann tidak ada yang lebih menyenangkan daripada tempat baru seperti Monchblick. Apalagi kali ini ia bisa bersama dengan ayahnya selama dua minggu penuh. Sayangnya liburan kali itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Ada masalah di penginapan yang ditutupi oleh Gertjan dan Nina, yang pada akhirnya diketahui sendiri oleh Ann. Apa masalahnya?

Akhir-akhir ini penginapan Monchblick sepi pengunjung, dan lebih sering pindah ke penginapan saingan mereka, The Capra Cottage. Menurut gosip dan testimoni dari para tamu, mereka merasakan adanya hantu di kamar 303. Itu adalah hantu Mateo, yang semasa hidupnya merupakan seorang fisikawan namun frustasi hingga menggantung dirinya sendiri di pohon dekat penginapan itu. Demi membantu keluarga ayahnya, Ann dibantu oleh Jo, teman barunya, mencoba menyelidiki hal yang sebenarnya terjadi.
***

Saya senang dengan cerita yang dikarang Annisa. Gaya penulisan dan penceritaan yang disajikan selalu apik, mengingatkan pada cerita-cerita misteri anak yang sering saya baca di waktu kecil. Apalagi cerita misteri yang dikarang Annisa selalu ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan, khususnya Matematika (di novel "Teka-Teki Terakhir") dan Fisika (dalam novel "A Hole in the Head"). Jujur, saya sedikit terobsesi dengan hal-hal yang berbau sains walaupun saya sendiri sama sekali tidak menyukai pelajaran tersebut. Mungkin karena otak saya tidak sanggup untuk menyerap sains khususnya pelajaran hitung-hitungan yah.

Namun saya selalu mengagumi mereka yang mencintai Matematika, dan juga Fisika. Guru-guru saya di sekolah termasuk dalam kategori ini. Salah satunya pak Ridho, guru Fisika saya ketika masih bersekolah di SMA Al-Masthuriyah, Cisaat, Sukabumi. Sebenarnya saya pernah mengulas tentang Pak Ridho di blog personal saya yang jadul, namun karena sudah lama sekali tidak update blog itu, lambat laun saya jadi lupa sendiri dengan password dan linknya.

Lanjut soal Pak Ridho. Seperti yang saya bilang tadi, saya tidak pernah mengerti dengan teori Matematika dan Fisika, walaupun saya punya fisikawan favorite, yakni Heissenberg (karena wajahnya ganteng sih, dan termasuk yang paling muda dalam konferensi Fisika-Kimia jadul yang entah tahun berapa hehe). Pak Ridho mengajar dua mata pelajaran di SMA saya; Matematika dan Fisika, walaupun keahlian beliau adalah pada bidang Fisika. Sayangnya saya tidak pernah mengerti apa yang beliau ajarkan. Otak saya memang mampet soal ini.

Pak Ridho adalah guru yang pintar dan baik hati. Jika menerangkan sesuatu di depan kelas, ia selalu berbicara dengan cepat. Mungkin ia jenis pembelajar yang visual kali ya jadi kalo ngomong cepeeeet banget kayak kereta. Yang paling saya ingat darinya adalah rambutnya yang berwarna putih (ini bukan karena ia meniru Einstein ya, bukan juga karena ia jago Fisika) persis Alm. Adnan Buyung Nasution (BTW, blogger zaman now tahu ndak ya siapa beliau ini), dan kacamatanya yang lensanya selalu copot sebelah. Selain mengajar, Pak Ridho juga senang bercerita tentang pengalaman pribadinya. Cerita-cerita beliau receh banget deh, mulai dari cara pendekatan kepada istrinya (dulu calon istri), dikira om-om kalau jalan bareng istrinya, hingga yang lain-lain. Cerita lengkap beliau yang pribadi itu ndak perlu saya jelaskan ya. Yang jelas saya sangat senang ketika Pak Ridho bercerita, alih-alih menerangkan pelajaran. Seringkali kami (saya dan teman sekelas) memancing beliau untuk bercerita. Karena sekali dipancing beliau suka lupa waktu dan malah bercerita hingga jam pelajaran Fisika selesai! Kami murid yang nakal yah.

Untuk Pak Ridho, dimanapun beliau berada. Jujur saya ndak tahu apakah beliau masih mengajar di SMA saya dulu atau bagaimana. Untuk Pak Ridho, semoga sukses selalu. Jangan pernah letih menjadi pengajar yang baik. Saya percaya, walaupun murid-murid sering nakal dan tidak mau belajar, namun dengan keikhlasan Bapak sebagai seorang guru, sedikit banyak akan memberikan keberkahan bagi mereka. Tetap semangat, Pak!

Untuk teman-teman pembaca, tetap semangat juga!

Untuk Annisa Ihsani, thanks ya sudah menulis cerita ini. Resep pisan teh bacana. :)

Data buku

Judul: A Hole in the Head
Pengarang: Annisa Ihsani
Tebal: 232 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 30 Oktober 2017

Kilas Buku: Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa

|


Hickory Dickory dock, The mouse ran up the clock, The clock struck one. The mouse ran down, Hickory Dickory dock...
Anak saya lagi keranjingan nursery rhymes berbahasa Inggris, salah satunya lagu "Hickory Dickory Dock". Dan kebetulan saya punya beberapa buku karangan Agatha Christie, salah satunya (dengan detektif Poirot) berjudul "Hickory Dickory Dock". Lantas saya langsung tertarik, padahal biasanya saya biasa saja dengan cerita-cerita Mbah AC. Bukan tidak suka, lebih tepatnya bukan penggemar berat. Berkat anak saya dan nursery rhymes yg sering dinyanyikannyalah saya kembali tertarik dengan kisah-kisah AC. Dan yang paling penting adalah saya kembali semangat membaca! Yay!

Jadi kasus kali ini ada hubungannya (meski tidak langsung) dengan adik dari Miss Lemon (sekertaris Hercule Poirot), yakni Mrs. Hubbard. Mrs. Hubbard yang sudah kembali dari Singapura dan menjanda, menerima pekerjaan sebagai seorang Ibu Kos di Pondokan Mahasiswa di Hickory Road nomor 26. Sebagai Ibu Kos yang baik ia cukup bisa mengayomi anak-anak kosnya, dan juga si pemilik kos sendiri, Mrs. Nicoletis. Sayangnya ketenangan hidup mereka di Hickory Road harus terusik karena ada kasus aneh. Barang-barang hilang secara misterius. Anehnya barang-barang yang hilang adalah barang remeh temeh kecuali cincin berlian.

Selang kasus pencurian mereda, ada lagi kasus pembunuhan yang menimpa salah satu penghuni kos, dan pemiliknya. Hercule Poirot curiga jika pembunuhan ini ada kaitannya dengan kasus pencurian sebelumnya. Atau malah ada kasus kejahatan yang lebih besar lagi?
***

Saya sangat menyukai cerita AC yang satu ini. Ah, baru kali ini saya menikmati penceritaan misteri dari AC. Apa iya karena kurang lebih ada sugesti dari anak saya, hehe. Tapi yang jelas, saya sangat menyukai serial AC yang satu ini. Dalam cerita kali ini AC menyajikan si pelaku pencurian sekaligus korban pembunuhan dengan pendekatan psikologis. Dia adalah orang biasa saja yang tidak disangka mampu merancang pendekatan cinta dengan kasus pura-pura yang dibuatnya sendiri. Justru hal inilah yang menjadikan Poirot curiga dan mencaritahu siapa dan ada berapa jumlah dalang yang sebenarnya.

AC juga sedikit banyak menyisipkan soal paham komunis yang ketika novel ini dibuat Uni Soviet dan paham komunisnya masih menjadi saingan Amerika Serikat. Namun ternyata kasus ini tidak ada hubungannya dengan paham tersebut.

4 bintang untuk buku ini.

Hickory dickory dock... :)

Data buku

Judul: Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa
Judul asli: Hickory Dickory Dock
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Julanda Tantani
Tebal: 320 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 2013 (pertama kali terbit 1955)

Murder on the Orient Express 2017 (Buku dan Film)

|
MotOE sampul film (GPU)

Baru-baru ini karya fiksi berjudul Murder on the Orient Express karangan Agatha Christie (AC) difilmkan. Sebenarnya sudah lama dan sudah banyak karya-karya AC yang dibuatkan filmnya. Hanya saja setiap kali bentuk filmnya muncul, mesti selalu dinanti oleh para penggemar AC yang tidak terhitung banyaknya. Karena karya-karya misteri/triler AC memang tidak pernah lekang oleh waktu.

Sementara saya sendiri bukan salah satu penggemar AC, meskipun menyukai karya-karyanya. Untuk Murder on the Orient Express (MotOE) sendiri saya malah menonton filmnya terlebih dahulu. Film yang mana? Tentu saja film keluaran terbaru (2017) hasil besutan Kenneth Branagh yang menjadi sutradara sekaligus pemeran utama. Lantas setelah nonton jadi malas baca, gitu? Yang terjadi pada saya justru sebaliknya. Saya malah bersemangat membaca ceritanya dan sedikit membandingkan cerita dalam buku dan film yang sekarang ini.
***
Alkisah seorang Hercule Poirot baru saja memulai perjalanannya kembali dari Aleppo, Syiria menuju Turki dengan Taurus Express. Di Turki, Poirot malah mendapat telegram yang memintanya untuk kembali pulang ke London dan memecahkan sebuah kasus. Akhirnya Poirot pun menumpang Simplon-Orient Express malam itu juga yang sayangnya sudah penuh sehingga detektif Belgia itu tidak bisa mendapatkan kamar kelas satu. Beruntung Monsieur Bouc, teman Poirot yang juga direktur the Wagon Lit Train Service, berhasil mendapatkan kamar untuknya.

Malam itu Orient Express memang penuh dengan penumpang dari beragam bangsa dan latar belakang. Hal ini menarik perhatian M. Bouc dan juga Poirot sendiri. Yang paling menarik perhatian adalah seorang Amerika bernama Rachett. Ia digambarkan sebagai lelaki kelas atas yang ramah dan punya pesona namun bengis hatinya.

Suatu malam menjelang pagi, Rachett tewas dengan luka tusukan belasan kali. Ketika itu kereta tengah berhenti karena badai salju. Dapat dipastikan si pembunuh tidak dapat kabur dari kereta karena badai. Lantas Poirot dibantu M. Bouc dan Dr. Constantine, seorang dokter Yunani harus memecahkan kasus itu dan menemukan pembunuhnya.
***

Setidaknya itulah ringkasan yang saya tangkap dari cerita aslinya (novel). Kemudian saya sedikit membandingkannya dengan filmnya (2017). Beberapa karakter tampak berbeda dari yang saya bayangkan. Hercule Poirot misalnya yang dalam film kali ini diperankan oleh Kenneth Branagh, tidak berambut hitam, melainkan abu-abu dengan kumis yang sangat besar dan lucu. Kemudian M. Bouc yang berkarakter sebagai laki-laki yang cenderung lebih muda dari imajinasi saya dan tampan. Begitu juga dengan sosok Rachett yang diperankan oleh Johnny Depp. Bayangan saya tentang Rachett adalah sosok lelaki tua (tidak terlalu tua sih) yang memiliki air muka sarat pengalaman dan licik. Rachett yang diperankan Depp memang berhasil memperlihatkan kelicikan bagai musang, namun ia belum terlalu tua untuk seorang Rachett.

Ada juga karakter yang sepertinya tidak ada dalam film, cmiiw. Sepertinya Dr. Constantine tidak dimunculkan sama sekali. Jadi memang Poirot di film lebih banyak bekerja sendiri baik ketika mewawancara para saksi dan menganalisa kasus. Saya tidak memiliki kecenderungan pro dan kontra yang mana, yang jelas peran Poirot dalam cerita aslinya ataupun film sama-sama dominan layaknya sosok detektif yang seharusnya.

Ada lagi tokoh yang berganti karakter dan nama. Seperti tokoh Pilar Estravados yang diperankan oleh Penelope Cruz. Awalnya saya bertanya-tanya siapa Pilar Estravados ini. Setelah mengulik kembali novelnya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Greta Ohlsson, perempuan Swedia dalam novel telah digantikan oleh Pilar Extravados (barangkali diambil dari karakter lain dari novel AC lainnya). Begitu juga tokoh Antonio Foscarelli yang berganti nama menjadi Biniamio Marquez dalam film.

Saya pribadi tidak masalah dengan sedikit perubahan pada film. Toh itu tidak mengurangi alur cerita secara keseluruhan. Malah jadi tambah seru dibandingkan cerita aslinya (novel). Bagi yang belum membaca ataupun menonton film MotOE sama sekali, jangan bingung memilih. Membaca novelnya dulu ataupun menonton filmnya dulu sama saja. Keduanya sama-sama asyik. Saran saya cuma satu, jadilah pembaca dan penonton yang open-minded, tidak saklek dengan asumsi pribadi. Yah mungkin banyak juga pengalaman mengecewakan karena menonton film berbasis novel. Tapi tetap tidak ada salahnya menonton film yang satu ini. :)

Data buku

Judul: Murder on the Orient Express
Pengarang: Agatha Christie
Jumlah Halaman: 252
Tanggal Terbit: Oct 2, 2017
ISBN: 9789792229806
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kilas Buku: Hantu Dalam Bus (Suddenly Supernatural #4)

|

Kat dan Jac kembali berdamai setelah pertengkaran kecil mereka sewaktu mengunjungi konferensi musisi muda beberapa waktu lalu. Kegiatan mereka berjalan seperti biasa walau dengan adanya gangguan seorang cewek populer yang bikin mereka keki. Suatu saat Kat menyadari jika ia mulai jatuh cinta kepada salah seorang cowok di sekolahnya. Cowok itu bernama Ben, dan ia sebenarnya cowok rata-rata saja, sampai Kat menyadari ada hal yang berbeda yang membuatnya senang kepada Ben.

Tahun ini kelas Bahasa Prancis mengadakan studi tur ke Kanada. Mereka menyewa sebuah bis yang cukup bagus untuk sebuah perjalanan jauh. Entah harus bersyukur atau tidak, Ibu Kat dan Ibu Jac turut serta sebagai orang tua pengawas siswa. Mungkin Kat merasa biasa saja, namun tidak dengan Jac. Ia terlalu benci dengan ibunya sendiri sehingga selalu saja mengabaikannya.

Perjalanan menuju Kanada tidak selalu berlangsung mulus. Kat melihat beberapa arwah yang bahkan mencoba berbicara dengannya. Terkadang arwah itu malah memarahinya dan mengaturnya untuk melakukan ini-itu. Arwah itu kebanyakan merasa kalau mereka masih hidup dan terikat dengan dunia manusia. Payahnya, arwah-arwah selalu muncul ketika Kat dan Ben berdekatan. Kat yang takut dijauhi oleh Ben ragu-ragu jika ia harus bicara jujur kepadanya, kalau dirinya bukan cewek biasa. Karena Kat masih mampu melihat dan berbicara dengan hantu. Lantas kalau Ben tahu, apakah ia mau mengerti?

Buku terakhir dari serial Suddenly Supernatural ini sama seperti buku-buku sebelumnya, sama-sama ringan dan cukup bikin penasaran. Bagi orang yang sudah biasa membaca buku misteri, mungkin buku ini akan terlalu ringan dan malah cenderung membosankan. Tapi tidak bagi mereka para pembaca pemula. Jadi saya cukup mengapresiasi usaha dari sang penulis untuk menujukan buku ini kepada para remaja yang masih perlu motivasi dan semangat membaca.

Data buku
Judul: Hantu Dalam Bus (Suddenly Supernatural #4)
Judul asli: Crossing Over
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziati
Tebal: 198 halaman
Penerbit: Atria, 2012 (terbit pertama kali 2010)

Kilas Buku: Kat si Medium Penakut (Suddenly Supernatural #2)

|

Ketakutan Kat menjadi cenayang masih berlanjut. Ia tetap berangan untuk memiliki kehidupan normal (kalau memang bisa). Di sekolah ia sudah "dikenal" sebagai cenayang, baik oleh beberapa teman sekelasnya, ataupun oleh si entitas hitam yang berada di perpustakaan. Entitas ini sangat kuat dan sepertinya mampu menguras energi Kat.

Syukurlah liburan tiba dan Kat bisa kembali tenang tanpa harus bertemu dengan genk populer yang usil, dan entitas hitam. Sayangnya saat liburan Kat tetap bertemu dengan hantu-hantu. Hal ini memang tidak dapat terelakkan, karena kemampuan itu sudah mengalir dalam darah Kat.

Suatu hari Kat tertarik dengan rumah kosong yang berada di sebelah rumahnya. Awalnya Kat hanya ingin menjadikan rumah kosong itu sebagai bahan tugas komunikasi dalam pelajaran Bahasa Inggris. Namun Kat mendadak ingin membantu sesosok arwah di rumah kosong itu. Arwah itu sosok anak laki-laki yang tampak nelangsa. Sayangnya ada beberapa hal yang menghalangi Kat untuk membantunya. Salah satunya, arwah kakek tua yang jahat. Lantas, apakah Kat mampu menolong arwah bocah laki-laki itu?

Ini adalah buku kedua dari serial Suddenly Supernatural. Menurut saya ceritanya cukup menarik dan memang dibuat ringan, karena memang ditujukan untuk remaja tanggung. Sayangnya saya yang mengharapkan kelanjutan dari cerita tentang entitas hitam yang berada di perpustakaan, tidak kesampaian. Padahal entitas hitam itu digambarkan sangat mengancam kehidupan Kat saat di sekolah. Sayang sepertinya jika sosok yang sudah diperkenalkan sejak buku pertama itu tidak dibahas sama sekali.

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca muda dan anak-anak yang memang menyukai genre horror namun ringan dan tidak terlalu menegangkan.

Data buku:
Judul: Kat si Medium Penakut (Suddenly Supernatural #2)
Judul asli: Scaredy Kat
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziati
Tebal: 168 halaman
Pnerbit: Atria, 2011 (terbit pertama kali 2009)

Kilas Buku: The Creeping Shadow - Bayangan Mengendap (Lockwood & Co. #4)

|

Setelah apa yang terjadi pada buku tiga kemarin, akhirnya Lucy Carlyle memutuskan memulai petualangannya sendiri. Ia mulai menawarkan jasanya sebagai agen lepas dan bekerja untuk banyak agen, termasuk agen besar seperti Fittes dan Rowell. Sebenarnya Lucy tidak sendirian, ada rekan (yang sekaligus bukan rekan) tak kasat mata yang selalu menemani gadis itu dalam setiap aksinya. Siapa lagi kalau bukan Si Tengkorak. Seperti biasa komentar jahil tengkorak dapat menyegarkan suasana tegang.

Suatu ketika, Lucy sadar jika Si Tengkorak hilang. Toples tempat Tengkorak bersemayam (tentu saja) beserta dirinya dicuri dari apartemen kecil Lucy. Ia pun mulai menyelidiki kasus pencurian ini sendirian. Sayangnya hal ini malah membuat salah satu penjaga peleburan barang berhantu mati dan menghantuinya. Tidak cukup sampai di situ, Lucy sendiri pun dikejar-kejar beberapa lelaki bayaran yang sangat mengancam nyawanya. Pelarian gadis itu pun berakhir di depan rumah Anthony Lockwood, mantan rekannya. Sekarang bukan saatnya untuk gengsi, siapapun akan kau mintakan pertolongan jika itu menyangkut keselamatanmu.

Ternyata Lockwood cukup baik untuk membantu Lucy menyelidiki pencurian si Tengkorak. Lucy pun membantu Lockwood menangani kasus "Bayangan Mengendap" yang terjadi di sebuah desa pelosok yang tidak menarik sama sekali. Satu hal yang menjadi petunjuk, sepertinya hilangnya si Tengkorak secara tidak langsung ada hubungannya dengan kasus "Bayangan Mengendap". Lantas apa yang terjadi sesungguhnya?

Seperti biasa serial Lockwood tidak pernah membosankan. Ketegangan demi ketegangan gara-gara berburu hantu rasanya membuat takut pergi ke kamar mandi di malam hari. Belum lagi hal ngegemesin kayak hubungan antara Lucy dan Lockwood yang gak maju-maju. Hehe.

Ini, err, rasanya saya bingung mau nambah komentar apa. Yang jelas saya ga sabar untuk membaca lanjutannya (buku 5), tapi kayaknya mau nunggu terjemahannya saja. Hehe.

OK, 4 bintang dari saya. Recommended banget pokoknya!

Data buku

Judul: Bayangan Mengendap
Judul asli: The Creeping Shadow (Lockwood & Co. #4)
Pengarang: Jonathan Stroud
Paperback, 496 pages
Published September 4th 2017 by Gramedia Pustaka Utama

Kilas Buku: Arwah di Sekolah (Suddenly Supernatural #1)

|

Kehidupan Kat Roberts tidak pernah seperti kehidupan remaja lainnya. Memiliki seorang Ibu yang berprofesi sebagai cenayang tentu bukan topik yang asyik dapat dibicarakan, apalagi dibanggakan. Sayangnya kemampuan cenayang Ibu Kat dapat menurun kepada Kat sendiri. Dan benar saja, pada usianya menginjak 13 tahun, Kat mampu melihat arwah-arwah orang mati, dan bahkan dapat mendengarnya. Hal ini membuat Kat semakin tertekan karena ia hanya ingin hidup normal.

Kehidupan Kat di sekolah juga tidak kalah menyedihkan. Sebagai murid yang baru pindah tentu saja akan sulit memiliki banyak teman dalam waktu singkat. Kecuali jika kau terlahir sebagai anak yang cantik dan mudah dicintai, tentu saja hal itu akan sangat mudah membuatmu populer. Tapi Kat tidak pernah akan jadi seperti itu. Kat sudah lebih dulu merasa insecure dengan identitas keluarganya, apalagi ia memiliki masalah suram yang membuatnya harus bertahan hidup.

Suatu ketika ada seorang siswa baru lagi di sekolah Kat. Jac, nama siswa baru itu, punya segudang hal yang bisa saja membuatnya populer dan lekas memiliki banyak teman atau segera bergabung dengan geng cewek populer lainnya. Sayang, Jac lebih memilih menyembunyikan itu semua sampai ia bertemu Kat dan mereka berdua menjadi sahabat baik selamanya.

Sepertinya pengalaman menakjubkan Kat tidak akan berhenti pada satu hal saja. Setelah ia mendapatkan penglihatan dunia lain dan berteman dengan Jac, Kat mendapatkan pengalaman berkomunikasi dengan arwah pertamanya. Hal ini terjadi di perpustakaan sekolah ketika ia dan Jac akan mengerjakan proyek Biologi. Sosok gadis dari dunia lain muncul dan mencoba berbicara dengan Kat. Kat ketakutan, bukan pada arwah melainkan pada apa yang akan terjadi dengan persahabatannya dengan Jac. Ia sangat takut jika Jac tahu dirinya adalah cenayang, apakah Jac akan tetap mau berteman dengannya?

Sayangnya pertemuan dengan arwah gadis di perpustakaan itu berulang terus di hari-hari berikutnya. Malah ada entitas gaib yang lebih kuat daripada gadis hantu itu. Kira-kira bagaimana ya keputusan Kat? Akan tetap berpura-pura hidup sebagai remaja yang normal, atau melanjutkan yang sudah menjadi keharusannya, membantu sang arwah menyelesaikan masalahnya?

Aku suka banget buku ini. Meskipun topiknya lumayan menyeramkan, dan mungkin kadang ada yang merasa ini berat, si pengarang berhasil menuliskannya dengan ringan khas anak remaja. Mungkin karena tokohnya adalah ABG, sehingga dunia yang harus dituliskannya haruslah juga seputar dunia remaja. Alih-alih seram (yah kadang seram juga sih, sedikit), kalian akan menemukan cerita hantu yang asyik penuh misteri.

Sayangnya saya menemukan beberapa typo yang mengganggu, seperti nama Jac, yang terkadang tertulis menjadi Jack. Tapi secara keseluruhan terjemahannya menarik dan enak dibaca.

Data buku

Judul: Arwah di Sekolah (Suddenly Supernatural #1)
Judul asli: School Spirit (Suddenly Supernatural #1)
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Alih bahasa: Barokah Ruziati
Tebal: paperback, 217 halaman
Penerbit: Atria, 5 Februari 2011 (pertama kali terbit 2008)


Kilas Buku: Big Little Lies

|


Pirriwee Public School mungkin sebenarnya adalah sekolah biasa saja. Anak-anak yang bersekolah di sana pun dari kalangan yang beragam. Namun seperti biasa, para ibu punya kubu sendiri untuk bersosialisasi. Seorang ibu muda bernama Jane Chapman, yang juga berperan sebagai orang tua tunggal, merupakan orang baru di kota kecil itu. Ia menyekolahkan anak sematawayangnya, Ziggy, di Pirriwee. Pada hari orientasi, ia sudah berteman dengan Madeline Mackenzie, seorang ibu yang selalu bersemangat, dan Celeste White, seorang ibu yang cantik dan kaya namun selalu gelisah.

Jane, Madeline, dan Celeste kemudian membentuk kelompok sendiri (sebenarnya Madeline yang memutuskan jika mereka harus membentuk kelompok baru), terutama sejak konflik antara Jane dan Renata, seorang wanita karir yang juga ibu-ibu penunggu TK. Konflik itu disebabkan oleh tertuduhnya Ziggy sebagai pelaku bullying terhadap Amabell (puteri Renata). Hal ini tidak terungkap dengan jelas, Ziggy tetap tidak mengaku kalau dirinya salah, dan Amabell tetap saja menuduh Ziggy sebagai pelakunya. Sehingga mudah ditebak jika konflik ini berkepanjangan dan berpengaruh kepada hal lain yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Ditambah (yah kau tahu sendiri bagaimana sikap ibu-ibu penunggu TK) gosip yang mudah menyebar dengan cepat dan belum tentu benar adanya.

Sementara itu Jane dan Celeste punya rahasia mereka sendiri. Tidak ada yang tahu bagaimana mereka mampu menyimpan rahasia dengan rapi, sementara sebenarnya mereka sendiri sudah sangat gatal untuk mengatakan yang sebenarnya. Suatu ketika ada pesta kecil untuk seluruh orang tua murid Pirriwee Public School. Hampir semua orang tua memenuhi undangan termasuk Jane, Celeste, dan Madeline. Namun ketika ada sisi bahagia yang muncul, ada juga hal yang mengejutkan sampai-sampai menyebabkan pertengkaran dan kematian seseorang. Anehnya tidak ada seorangpun yang mengaku tahu perihal kematian itu.

BOSAN atau ....

Awalnya saya bersemangat membaca cerita ini (karena kau tahulah, sinopsis dan reviewnya menarik). Sayangnya hal itu tidak diamini oleh bab pertama novel ini. Saya sempat ketiduran karena merasa bosan. Untunglah saya paksakan sampai ke bab berikutnya dan menemukan cerita semakin menunjukkan kekuatannya.

Misteri, Thriller, atau, ....

Liane Moriarty, si pengarang, sangat pintar meramu cerita sehingga membuat novelnya ini terasa seperti cerita thriller-misteri ala detektif. Padahal sesungguhnya cerita ini hanyalah seputar masalah keluarga (KDRT, broken home, etc) dan persahabatan. Saya pikir rahasianya ada pada alurnya yang maju mundur dan cerdiknya pengarang mengemukakan gosip dan komentar saksi mata di awal dan di sela-sela cerita. Hingga bab akhir, para pembaca tidak akan mengetahui siapa yang menjadi korban, siapa yang menjadi pelaku, atau apa sebenarnya yang terjadi di TKP. Yang pembaca ketahui adalah awal dan asal muasal cerita, juga gosip dari ibu-ibu penunggu TK, dan tentunya kapasitas mereka (yang lemah) sebagai saksi mata.

 4 bintang!

Entah kenapa dari mulai bosan pada awalnya, kemudian berakhir puas. Mungkin ini karena gaya bercerita dari Liane Moriarty yang cukup unik bagi saya dan tentu saja penuh kejutan. Tidak heran jika review di Goodreads mencapai 4.2 dari maksimal 5 bintang, dengan pembaca hampir 385 ribu orang.

So, saya rasa saya bisa dengan yakin untuk merekomendasikan novel ini kepada mereka yang menyukai kisah drama keluarga dan misteri/thriller sekaligus.

Data buku

Judul: Dusta-Dusta Kecil
Judul asli: Big Little Lies
Pengarang: Liane Moriarty
Tebal: 512 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 28 November 2016 (Terbit pertama kali 25 Desember 2014)

Kilas Buku: Scheduled Suicide Day

|

Ruri adalah seorang anak tunggal sekaligus pewaris dari pemilik restoran dan jasa kuliner, Watanabe Sanao. Meskipun seharusnya berbahagia karena berlimpah harta dan nama yang tenar, Ruri sangatlah kesepian. Ayahnya, Sanao, belum lama ini meninggal dunia. Sementara itu, ibunya, Nanami, sudah jauh lebih lama mendahului ayahnya.

Rasa kesepian dan kehilangan Ruri membuatnya semakin membenci ibu tirinya, Reiko. Ia menganggap Reiko-San telah membunuh ayahnya, untuk mengambil kerajaan kuliner keluarga mereka yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Hal ini diikuti kesuksesan Reiko-San sepeninggal Sanao-San. Tiba-tiba, Ruri menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ia meyakini ada barang bukti yang menunjukkan kalau Reiko telah membunuh ayahnya. Yang gadis itu harus lakukan hanyalah menemukan bukti-bukti kuat yang akan memenjarakan Reiko.

Sayangnya, Reiko sepertinya sangat licin dan rapi menyembunyikan jejak pembunuhan suaminya. Ruri mulai pasrah. Usaha terakhir yang ia lakukan adalah meninggalkan surat wasiat agar polisi menangkap Reiko, sementara ia sendiri pergi ke suatu desa terpencil untuk bunuh diri.

Di tengah usaha Ruri untuk bunuh diri, ia bertemu dengan hantu pemuda yang katanya juga mati karena bunuh diri di desa yang sama. Berkat pertemanan dengan hantu itu, Ruri mulai menyelidiki kebenaran tentang pembunuhan ayahnya yang dilakukan oleh ibu tirinya sendiri. Lantas, ia pun mulai mendapatkan kenyataan yang barangkali ia sendiri tidak mau dengar. Kenyataan itu sungguh pahit, namun hal inilah yang baik untuk Ruri. Dan apakah hal ini mampu menghentikan keinginan Ruri untuk bunuh diri?

***
Pada ulang tahun saya kali ini saya akan membahas salah satu buku kesukaan saya.

Karya Akiyoshi Rikako sangatlah ditunggu-tunggu oleh penggemar cerita misteri yang menegangkan. Terkadang karyanya terasa menyeramkan, terkadang juga karyanya terasa ringan dan menyenangkan. The Dead Returns adalah salah satu karyanya yang menyenangkan, begitu juga Schedule Suicide Day yang sekarang sedang kalian baca reviewnya. Buat saya menyenangkan sih karena memang ada sentuhan romansa ala remaja. :D

Selain itu, saya juga senang dengan sisipan pesan yang disampaikan Rikako lewat peran si Hantu pemuda. Nampaknya pendekatan si Hantu lebih menyentuh hati seorang Ruri yang selalu merasa kesepian ya. Saat itu bagi Ruri bunuh diri adalah satu-satunya solusi, namun si Hantu berkata begini:
Berpikir untuk bunuh diri itu benar-benar egois, lemah, dan hanya bsa menghindar dari masalah. Banyak orang yang mencela demikian. (h. 113)
Walaupun masalah bunuh diri adalah masalah yang sensitif dan merupakan hak masing-masing untuk memiliki beragam pendapat dan keputusan tentangnya, namun sebagai manusia kita juga punya kewajiban untuk sebisa mungkin mencegah kejadian bunuh diri. Yang dapat dilakukan adalah memberi perhatian, dan mencoba untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh mereka yang diduga akan melakukan bunuh diri.

Lewat Schedule Suicide Day ini, aku berharap dapat memberi pendekatan soal masalah yang cukup krusial ini kepada remaja-remaja yang mungkin tengah memiliki masalah. At least ada kesadaran awal dalam diri mereka untuk mencari bantuan lebih lanjut dalam menyelesaikan masalah pribadinya.

Karena aku suka banget sama novel Rikako yang satu ini, maka aku beri 5 bintang. :)

Data buku:
Judul: Schedule Suicide Day
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Tebal: Paperback, 280 halaman
Penerbit: Haru, 8 Mei 2017 (terbit pertama kali 2016)

Kilas Buku: The Breakdown

|

I just read the first BA Paris' novel, Behind Closed Doors, a couple days ago. Afterward, I was looking forward to reading her latest book. And I found myself put my face in front of it as long as I can stay. Then here is the story about:
A woman named Cassie Anderson was in a rush getting home from a friend's party. That night was dark and full of rain with thunderstorm. She promised to Mathew, her husband, to not go through a shortcut rural road. In other hand, Cassie got through it because she needed to get home ASAP.

Once Cassie was in the road, she passed a car with a woman inside, the woman who got killed later and apparently she's new acquaintance of Cassie. Unfortunately the woman murder had so much affection to Cassie. She became guilty for not stopping and giving her help. Later on she become worse than that, it's kind of paralyses. She started forget many things and had many silent calls from anonymous. When Cassie decided to see doctor, she thought she had been safe. But she knew she weren't safe, not yet. It really something outside that want to break her down.

The book still aims the same thing like the previous one: readers' mind. At 80 per cent first, Paris throws me to Cassie's mind. It's all about her guilty feeling to the killed woman. Frankly, I almost fall asleep. I have no that patience to read the chronological thing. So that I skim the most part of the story. I think I get enough of Cassie's case and am eager to figure out root of the problem.

Yay, then the story becomes fast-pace at 20 per cent last. Finally Cassie found a cue to find out what really happened to her. Back to her guilt, would she be able to eliminate it as well? Read it out by
yourself then.

I give 3 out of 5 stars. Well, IMHO, it's little bit boring in the middle but you'll be thrilled in the end. :)

Book information

Title: The Breakdown
Author: B.A Paris
Kindle Edition, 336 pages
Published July 18th 2017 by St. Martin's Press

Kilas Buku: Behind Closed Doors

|

What do you say if you meet a perfect couple and flawless, with a handsome-successful lawyer as the husband, and a beautiful-smart-multitasking woman as the wife? Would you be awed like Diane? Or be suspicious like Esther? I might do like Diane does because I am such a fan of romantic and perfect relationship.

Let's go to the point. Jack and Grace Angel are undoubtedly a perfect couple in public sight. Started with a dinner party, the story sets this couple having good time with Diane and Adam (Jack's old friends) together with Esther and Rufus (the couple's new neighbor). Grace is little bit nervous since this is kind of their first open-house event. She and Jack prepares the dinner perfectly so that make their guests comfortable. The result is (as they expect) the guests feel really amazed, except Esther.

In the next chapter we'll find some answers that Esther and some readers might wonder. Bit by bit Jack's real personality is peeled. It turns out Jack is Jackass who keeps his wife locked in a room for days even without food. That's the answer of why: Grace always has good appetite and eat much but her body stays slim; Grace produces her own clothes; Grace doesn't even bother having a mobile phone and email; and so many other inconceivable things.

Jack admits he is a psychopath. He feels happy to have someone jailed under his watching, in this case is Grace and sooner Milly, Grace's sister with down syndrome. The more afraid of the captive, the happier Jack is.

Grace is powerless. She doesn't have choices except play the game Jack made for her and Millie. Some of you might think Grace is real a damsel in distress, but she's not. She's trying for help, hope, and chances whenever and wherever she can get them. Finally her only hope is Jack's death. If Jack is really dead whatever the cause is (Grace might want to murder him slowly), what will she say to the police then? Murdering a monster is not that easy. You need to find smooth way to do it.

This is a thriller story that hard to stop reading it in the middle. Meaning, it is kind of page-turner. Written in so many "Present" and "Past" chapters make me eager to keep the story up. Thus I found my self scared of the terror Jack made. I feel Grace anyway. I can feel how silence can be so creepy in this story. Jack is a real devil-angel with sweet face and dreadful heart. I even almost cry "HELP" loudly while reading it.

Well, thanks B.A. Paris! Your story make me almost turn into jelly. And I will recommend it to everyone who loves such a thriller story. Guys, you will enjoy it though.

Book Information

Title: Behind Closed Doors
Author: B.A. Paris
Kindle Edition, 336 pages
Published August 9th 2016 by St. Martin's Press (first published February 11th 2016)

Kilas Buku: Bingkai Magenta [Blogtour + Giveaway] - Closed

|

Jika kamu menjadi seorang seperti Serena Heaven, barangkali kamu akan memiliki cerita yang sama dengan ceritanya. Siapa sih yang tidak ingin menjadi sepertinya? Terkenal di dunia maya dan kerap kali mendapat permintaan untuk menjadi  endorser sebuah produk. Tentunya produk yang diulas akan menjadi hak milik pribadi, ditambah sejumlah uang saku yang lumayan untuk jajan.

Serena Heaven menghabiskan hari-harinya dengan menonton film komedi yang sama di kedai tua miliknya yang menyewakan buku dan vinyl lawas. Beruntung saja gadis itu tidak pernah merasa bosan melakukan rutinitas yang sama setiap harinya. Barangkali salah satunya karena interaksinya dengan dunia maya belakangan ini. Serena memiliki akun instagram bernama @SeventHeaven yang ia isi dengan gambar apa saja, termasuk foto-foto pribadi dengan latar kedai tuanya. Tanpa disadari sejak itulah dirinya mulai populer menjadi @SeventHeaven yang sekarang ini

Tidak banyak pengunjung kedai tuanya menyadari kalau Serena adalah @SeventhHeaven. Mungkin Maru adalah mereka yang sedikit itu. Juga, Eru. Seseorang yang mengaku penggemar rahasia gadis itu. Suatu ketika Eru menawarkan sebuah petualangan yang bahkan tidak pernah diimpikan oleh Serena sendiri.

Sementara itu, kamu mungkin ingin juga menjadi seperti Aria. Cewek mungil yang sedang kursus bahasa di Jepang ini adalah sosok yang mandiri. Selain bersekolah di negeri orang, ia juga berniaga lewat online shop-nya di instagram, @HankachiShop. Aria juga punya kegemaran memantau dunia maya. Salah satunya, ia senang melihat hasil jepretan akun @BingkaiMagenta. Ia juga mengikuti akun kekasih Genta, @SeventHeaven.

Suatu ketika, teman satu flatnya, Gesang, membawa pulang seorang asing yang terluka. Seseorang itu tampak mirip dengan pemilik akun @SeventHeaven yang memang sudah biasa dilihat Aria lewat instagram. Sayangnya perempuan yang mengaku bernama Serena itu tidak mau bercerita apapun. Hingga suatu saat semuanya harus terungkap ketika hampir saja terlambat.

**

Ini pertama kalinya saya membaca karya Ghyna Amanda. Awalnya saya tidak mengharapkan apapun selain kisah cinta menyek-menyek ala anak muda. Ternyata yang saya dapatkan lebih dari itu. Ghyna membeberkan cerita yang biasa dialami anak muda di masa kekinian, masanya semua orang gemar bermediasoasial. Zaman sekarang ini, hampir semua orang memiliki akun instagram, dan berlomba-lomba "memamerkan" gambar terbaik agar banyak menuai "like" dan komentar yang bagus.

Yah, media sosial tentunya tidak hanya punya sisi baik, ia juga punya sisi jelek. Bisa saja kamu berkenalan dengan seseorang yang akan menjadi pacarmu atau bahkan musuhmu lewat hal itu. Lalu mana yang paling penting buatmu: dunia maya atau dunia nyata? Atau tiba-tiba kamu akan bilang:
"Aku nggak tertarik dengan sosial media lagi." (hal. 264)
Apapun yang kamu pilih, jangan lupakan cerita tentang @SeventhHeaven ini. Kan kita lagi bahas novelnya Ghyna. Hehe.

**


Judul: Bingkai Magenta
Penulis: Ghyna Amanda
Penyunting: Avifah Ve
Tebal: 272 halaman
Penerbit: Laksana, cetakan pertama 2017


Nah, setelah blogtour di blog mbak Tiwi, ada sebuah buku Bingkai Magenta yang akan saya bagikan di buku.dibaca.in kali ini. Ikutan yuk. Berikut syarat dan ketentuannya:
  1. Peserta berdomisili di Indonesia.
  2. Follow akun Twitter @laksana_fiction atau like FB Penerbit DIVA Press, juga follow @kilasbuku.
  3. Bagikan tautan giveaway ini di medsos. Silakan mensyen saya dan atau penerbitnya.
  4. Buat Kamu yang punya IG, silakan follow @penerbitdivapress..
  5. Tulis nama, akun Twitter, dan alamat surelmu di kolom komentar, diikuti jawaban pertanyaan ini:
mana yang paling penting buatmu: dunia maya atau dunia nyata?
Blogtour Bingkai Magenta di blogku ini akan berlangsung selama 7-13 Agustus 2017. Dan pengumuman pemenang selambatnya akan dilakukan pada 14 Agustus 2017. Berikutnya, blogtour akan berlanjut di blog Agatha. So, tunggu apa lagi? 😁

[updated] Pemenang untuk GA kali ini adalah Dessi Ambarwati (@dessiamw). Selamat Dessi, kamu berhak mendapatkan novel Bingkai Magenta. Silakan kirim data diri, alamat, dan nomor telepon ke email kukilasbuku[at]gmail.com. Jika tidak ada konfirmasi dalam 2x24 jam, maka akan saya pilih pemenang lain.

Kilas Buku: The Lady in Red

|


Jika kalian membaca resensi lain tentang buku ini, tentu saja rata-rata mengatakan hal yang sama, yakni tentang kisah cinta Betty Liu dan Robert Wotton, dan juga cicitnya Rhonda Roth dan Gregory Drew. Tentu saya juga akan mengulas hal yang sama, seperti yang baru saja saya tulis dalam satu-dua kalimat pembuka ini.

Ternyata kisah cinta dua pasang buyut dan cicit itu bukanlah masalah utama yang menjadi kerangka cerita ini. Ada rasa benci dan dendam yang kemudian menyokong masalah besar yang muncul belakangan.

Jika diperhatikan, pada setiap bagian cerita, yakni awal-tengah-akhir, ada interlude yang merupakan dongeng si tudung merah dan serigala yang sudah digubah. Sepertinya penulis ingin membuat cerita cinta modern berdasarkan dongeng karangan Grimm bersaudara itu. Saya cukup puas dengan konsepnya, karena menghasilkan cerita yang rapi dan cukup kuat. Sayangnya ada beberapa hal yang membuat saya tidak memberi bintang lebih dari tiga.

1. Tokoh-tokoh yang kurang mendapat peran
Beberapa pembaca menyayangkan tentang rentang waktu yang cukup lama antara Betty Liu dan Rhonda Roth. Saya pribadi sebenarnya tidak masalah, karena beberapa kasus dalam dunia nyata bisa jadi ada hal yang seperti itu. Saya hanya kecewa ada beberapa tokoh yang seharusnya mendapat peran lebih seperti yang sudah seharusnya.

Betty Liu merupakan nenek buyut dari Rhonda. Penulis sudah menjelaskan mengapa Rhonda harus lebih dekat kepada nenek buyutnya daripada ayah, dan juga kakek dan neneknya sendiri. Saya menyayangkan kurang peran yang diamanahkan penulis kepada Kakek Thomas dan Nenek Lily. Salah satunya jelas terdapat pada halaman 283. Ketika itu Greg menemukan ada sesuatu yang salah dengan Henry. Di antara semua orang yang berkumpul, kenapa yang menelepon 911 harus Kakek Thomas? Kenapa yang memeriksa denyut jantung dengan sungguh-sungguh harus sang ayah? Mengapa Kakek Thomas dan Nenek Lily tidak mendapat peran untuk mengusahakan Henry sadar kembali sebelum mobil ambulans tiba? Bukankah Kakek Thomas dan Nenek Lily adalah dokter yang sudah berpengalaman? Biarkan orang lain yang menelepon 911 (kan ada Anita) dan biarkan Thomas dan juga Lily menolong cucunya sendiri.

2. Ada beberapa typo yang sepele, namun cukup mengganggu saya. Contohnya ada pada halaman 336. Di sana tertulis: "Ms. Drew, Ms. Roth, kalian, dan ....".  Well, sepengetahuan saya Gregory Drew adalah laki-laki yang seharusnya bergelar Mr. dan bukan Ms. :)

Yah, sudah sih sebegitu saja hal-hal yang ingin saya sampaikan dalam resensi kali ini. Saya menulis ini bukan karena ingin menjatuhkan cerita. Sejujurnya saya sangat menyukai novel ini. Mbak Arleen seperti biasa mampu membuat cerita romantis versi modern berdasarkan kisah klasik anak-anak. Yang saya sampaikan adalah pendapat supaya ada kemajuan yang berarti pada cerita-cerita Mbak Arleen selanjutnya. :)

Data buku

Judul: The Lady in Red
Pengarang: Arleen A.
Penyunting: Dini Novita Sari
Tebal: Paperback, 357 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 11 April 2016

Kilas Buku: Holy Mother

|


Honami adalah seorang perempuan yang rapuh namun juga kuat. Bertahun-tahun lamanya ia mengharapkan seorang anak, dan selama itu pula ia menderita demi mendapatkan seorang anak. Segala cara medis ia tempuh. Segala perasaan nyeri dan perih ia alami, bahkan hampir kehilangan nyawa sendiri. Hasilnya juga tidak terlalu baik. Beberapa kali ia mengalami keguguran, dan bahkan kehilangan bayinya yang sudah siap dilahirkan.

Dan akhirnya, seorang anak lahir dari rahimnya sendiri, setelah bertahun-tahun menderita lahir dan batin. Anak itu ia anggap kumpulan nyawa dari beberapa janin yang gagal berkembang sebelumnya. Dan ia bertekad untuk memberinya perlindungan sebaik mungkin, apapun caranya.

Suatu ketika, seorang anak laki-laki tewas mengenaskan. Ia tidak sekedar tewas karena dibunuh. Ia juga dimutilasi. Salah satu organ pentingnya ada yang hilang. Hal ini membuat Honami tidak senang. Ia benci orang-orang jahat ada di dunia ini yang mungkin saja dapat mengancam nyawa anaknya. Maka, ketika polisi sepertinya tidak dapat diandalkan, ia sudah tahu harus melakukan apa.

Good twist

Akiyoshi Rikako adalah salah satu penulis yang jago memelintir cerita dengan apik. Jika biasanya saya mampu menebak-nebak riddle yang ditawarkan dari dua novel Rikako sebelumnya, tapi tidak pada yang ini. Solusi ceritanya bikin saya terkejut. Wow rasanya. Namun memang, ada beberapa hal yang tidak ia bocorkan supaya pembaca bisa berpikir sendiri.

Saran dari saya, supaya di akhir cerita tidak bingung-bingung amat, adalah membaca kesuluruhan cerita dengan seksama. Perhatikan karakter dan kegiatan dan juga JADWAL setiap tokohnya. Lalu ada beberapa kunci yang tersisip samar pada halaman 100. Coba baca dan cermati baik-baik yah pada halaman itu. ;)

Buku ini cocok dibaca penggemar thriller dan misteri. Riddlenya mengecoh dan mencemooh. :D

Informasi buku

Judul: Holy Mother
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Tebal: Paperback, 284 halaman
Penerbit: Haru, 20 Oktober 2016

Kilas Buku: The Dead Returns

|


Seorang cowok SMA terbangun dari tidurnya dengan kondisi bingung. Rumah sakit yang serba bersih, dan orang-orang asing yang mengelilinginya membuat si cowok linglung. Yang terakhir ia ingat adalah tebing, jatuh, dan malam hari. Satu-satunya hal yang membuatnya lega adalah ia berhasil selamat. Tetapi, dimana ibunya? Kenapa hanya ada orang asing yang kerap kali memanggil dirinya dengan nama orang lain.

Sebuah cermin di hadapannya segera membuat si cowok sadar, kalau rohnya berada di dalam tubuh orang lain. Jangan-jangan sebenarnya ia sudah mati dan rohnya tersesat di dalam tubuh cowok ini. Seketika ia merasa kasihan dengannya, orang yang seharusnya hidup malah terjebak di dalam tubuhnya yang mati. Atau malah rohnya gentayangan tidak tahu jalan pulang. Seketika pula ia merasa senang mendapat kesempatan hidup yang lebih baik. Sayangnya ada harga yang harus ia bayar, bahwa ia harus menjadi orang lain. Bahwa ia harus menjadi seorang cowok bernama Takahashi Shinji.

Atau bukankah lebih baik ia mencari pembunuh dirinya? Pembunuh Koyama Nobuo, si cowok pemalu yang tidak pernah dianggap oleh siapapun. Dengan tekad kuat, iapun memanfaatkan tubuh Shinji untuk menjadi seorang detektif dadakan. Namun ada hal yang tidak ia perhitungkan, bahwa kehidupan Shinji sendirilah yang akan menjadi hambatan utamanya. Berhasilkah cowok ini mengungkap misteri aneh yang menimpa dirinya?

Aw-aw-aw! Aku suka banget sama cerita ini, berliku tapi ringan dibaca. Sebelumnya, aku sudah pernah membaca karangan Rikako yang lain (The Girl in the Dark) yang sama-sama menarik. Sayangnya aku lebih suka sama The Dead Returns.

Awalnya...
Sinopsis yang tertera pada sampul belakang akan meyakinkan kita kalau buku ini tentang hantu yang seram dan suram. Si cowok yang kayaknya adalah hantu gentayangan sepertinya mencoba mengambil alih tubuh orang lain. Tapi ah, kok hantunya baik sih. Si cowok gentayangan ini berbaik hati ingin mencari dalang yang telah membunuhnya dan berusaha mencelakakan Shinji, si cowok yang satunya.

Terus....
Kebingungan. Yup, aku kebingungan, kemana si pengarang mau membawa kita semua sebagai pembaca. Ada orang-orang misterius yang mau menghalangi pekerjaan si hantu cowok ini sebagai detektif dadakan. Jangan-jangan ada hantu lain, atau hantu-hantu lain? Jadi sebenarnya masalah utamanya apa? Kasihan juga si Nobuo dan Shinji jadi korban.

Akhirnya...
Wow! Aku nggak pernah mikir kalau akhirnya bisa sampai di situ. Dan aku nggak ngasih mau sop iler. :D

Informasi Buku

Judul: The Dead Returns
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Tebal: Paperback, 252 halaman
Penerbit: Haru, Agustus 2015

Kilas Buku: Affair Next Door

|


Amelia Butterworth adalah seorang perempuan lajang dari kalangan atas. Dengan pendidikan tinggi dan sifat ingin tahu yang dimilikinya, ia menceburkan dirinya ke dalam kasus yang menimpa tetangga sebelah rumahnya. Keingintahuannya berawal pada malam hari, ketika itu ia melihat sepasang muda mudi memasuki rumah tetangganya yang tengah kosong karena ditinggal bepergian oleh penghuninya. Si lelaki keluar dengan terburu-buru tanpa si perempuan. Bahkan hingga keesokan harinya si perempuan pun belum keluar dari rumah yang terkunci itu. Hal ini menimbulkan perasaan curiga dari Ms. Butterworth. Dengan tekad kuatnya, ia menjadi detektif 'dadakan' dan bahkan membawanya ke Ebenezer Gryce, seorang detektif kepolisian New York yang terkenal.

Ternyata benar, ada sosok perempuan mati di rumah tetangganya itu. Kondisinya yang tertimpa kabinet membuat si mayat tidak dapat dikenali pada awalnya, kecuali pada bagian tangan, kaki, dan juga pakaiannya. Berdasarkan itu, akhirnya diketahuilah bahwa korban adalah Louise Van Burnam, istri dari Howard Van Burnam. Hal ini membuat beberapa anggota keluarga Van Burnam, keluarga pemilik rumah, tertuduh sebagai tersangka.

Howard Van Burnam, suami dari Louise Van Burnam, adalah tersangka utama. Ia dengan sadar mengantar ke dan meninggalkan Louise di dalam rumahnya. Ia juga terlihat mondar mandir di luar rumah pada rentang waktu yang diduga pembunuhan sedang terjadi dalam keadaan cemas dan gelisah.

Franklin Van Burnam, kakak dari Howard Van Burnam, adalah salah satu dari sekian banyak saksi yang terlibat dalam kasus ini (termasuk juga Amelia Butterworth). Di kemudian hari, ia akan tertuduh menjadi tersangka karena hubungan istimewanya dengan Louise Van Burnam.

Detektif terkenal Gryce sudah dengan nyatanya menahan kedua Van Burnam bersaudara. Sementara Amelia Butterworth, dengan perasaan perempuannya, kurang merasa yakin mereka berdua bersalah. Namun seluruh mata masyarakat New York kala itu sudah tertuju kepada kedua putra Van Burnam, disebabkan bukti-bukti kuat yang memang mengarah kepada mereka. Nona Butterworth merasa harus mencari bukti lain secara mandiri untuk melawan keputusan detektif Gryce.

Dan siapa yang sebenarnya berbuat jahat? Tidak ada yang tahu. Tidak pula Amelia maupun Gryce. Hingga seorang gadis mau mengungkapkan fakta yang sebenarnya.

Ah, cerita detektif yang satu ini berhasil membuat saya gemas bukan kepalang. Bersama Amelia dan Gryce saya berusaha mengira-ngira siapa sebenarnya yang jahat. Beberapa nama sempat mampir ke kepala saya, dan yah salah satu nama memang benar, namun saya tidak mengerti bagaimana jalan pembunuhannya.

Ada beberapa hal yang membuat saya terkejut, salah satunya adalah tokoh Amelia Butterwoth yang lajang, feminin, kuat, dan berpendirian. Di masa cerita ini dibuat, sosok perempuan yang tidak menikah adalah sesuatu yang kurang baik. Sementara Ms. Green, pengarang buku ini, bertekad untuk menjadikan Butterworth menjadi tokoh utamanya. Dan ia pun berhasil. Saya adalah salah satu pembaca yang kagum dengan sosok Butterworth. Oh ya, satu hal lagi, Butterworth merupakan inspirasi Agatha Cristie untuk memunculkan Ms. Marple dalam serial detektifnya.

Bagi para pembaca yang menyukai serial detektif, silakan baca buku karangan Ms. Green. Tak dinanya, akan terkesima dengan cara ia melemparkan masalah dan mengolah alur cerita menjadi hal yang asik dan menarik dibaca.

Informasi Buku
Judul: Affair Next Door
Pengarang: Anna Katharine Green
Penerjemah: Diana A. Santoso
Penyunting: Fitria Pratiwi
Penerbit: Visimedia, Cetakan Pertama, 408 halaman, Juni 2013

Blogtour dan Giveaway: Seaside

|


Judul: Seaside
Pengarang: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penyunting: Misni Parjiati
Tebal: 236 Cetakan: 1, Oktober 2016
Penerbit: Senja

Apa yang akan kamu lakukan jika orang tuamu adalah orang yang bekerja di dunia hukum, dunia yang begitu dekat dengan pejabat dan juga penjahat. Orang tuamu pun bukanlah orang yang mudah mengenal kompromi sehingga menjadikannya sasaran empuk bagi mereka yang haus uang haram. Nah, begitulah yang dirasakan gadis ini. Dia bukanlah gadis istimewa sebelum kejadian ini. Ia hanya anak kuliahan yang masih haus perhatian dari orang tuanya. Sampai sang ayah harus mendekam di penjara, ia memendam perasaannya pelan-pelan. Dan perasaan itupun berubah menjadi dendam.

Sang gadis bertekad mencari jalan untuk menghabisi siapa saja yang membuat ayahnya menderita. Tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyeburkan dirinya sendiri ke dunia hitam yang benar-benar asing. Berawal dari teman ayahnya yang ia kontak langsung, ia pun bertemu dengan orang-orang yang akan membantunya nanti. Semua nama berawalan dengan huruf A: Anon, Alisha, Alri. Ah, apalah arti sebuah nama jika memang mereka adalah orang yang berkompeten untuk membantumu.

Kilas Buku: Touché: Alchemist (Touché #2)

|

Judul: Touché: Alchemist (Touché #2)
Pengarang: Windhy Puspitadewi
Genre: Remaja, Fantasi, Misteri
Tebal: 224 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2014

Sinopsis:
Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.

Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi. (goodreads)

-----

Ternyata ada buku lanjutan Touché #1! Wow, menarik juga. Buku kedua ini mendapatkan rating yang tidak kalah bagus dengan buku yang pertama. Hmm, mungkin karena Windhy, sang penulis, memiliki topik yang tidak biasa dari buku lainnya. Selain itu kandungan romansa di dalamnya tidak menyek-menyek yang dapat mengaburkan tujuan utama dari alur cerita.

Baik, langsung mulai saja. Awalnya saya pikir buku ini merupakan lanjutan dari petualangan Indra, Dani, dan Riska yang di mana pada buku pertama mereka menemukan teman-teman yang juga memiliki kemampuan istimewa sama seperti mereka. Namun ternyata saya salah, dalam buku kedua ini justru orang lain dan di tempat lain pula yang menjadi fokus utama alur cerita. Bagus juga sih, berarti penulis memang tidak mau terbatas pada tokoh dan cerita yang sudah ada yang bisa jadi membuatnya menjadi monoton. Artinya, pengembangan cerita yang bervariatif akan menjadi lebih seru. Satu-satunya yang menjadi penghubung antara buku pertama dan kedua adalah: Yunus King.

Tokoh remaja yang memiliki kemampuan istimewa dalam buku kedua ini hanya ada satu, yakni Hiro Morrison. Sedikit berbeda dengan buku yang pertama, kasus dalam buku kedua ini ada lebih dari satu, well yah cukup variatif. Karena menurut sinopsis, si tokoh utama menjadi konsultan untuk kepolisian New York, maka saya merasa seperti membaca cerita-cerita detektif ala SMA (baca: ala Conan) atau seperti yang ada di serial TV Amerika. Bahkan saya melihat hubungan antara Hiro dan Karen (temannya) seperti antara detektif Monk dan asistennya.

Sekali lagi, tersangka kasus dalam buku ini cukup mudah ditebak, jika memang para pembaca sedikit mencermati. Well, terlepas dari itu, buku kedua ini juga termasuk fast-paced, dapat dibaca dengan sekali duduk saja. Buku ini juga ringan dan memang cocok untuk bacaan remaja.

4 bintang.


Kilas Buku: Touché (Touché #1)

|

Judul: Touché (Touché #1)
Pengarang: Windhy Puspitadewi
Genre: Fantasi, Remaja, Misteri
Tebal: 208 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Sinopsis:
Selain kemampuan aneh yang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain lewat sentuhan, Riska memiliki kehidupan normal layaknya siswi SMA biasa. Tapi semua berubah sejak kedatangan Pak Yunus, guru pengganti, dan perkenalannya dengan Indra yang dingin dan Dani si juara kelas.

Riska kemudian diberitahu bahwa dirinya adalah touché alias orang yang memiliki kemampuan melalui sentuhan, seperti halnya Indra, Dani, dan Pak Yunus sendiri. Seakan itu belum cukup mengejutkan, Pak Yunus diculik! Sebuah puisi kuno diduga merupakan kunci untuk menemukan keberadaan Pak Yunus.

Dengan segala kemampuan mereka, Riska, Dani, dan Indra pun berusaha memecahkan kode dalam puisi kuno tersebut dan menyelamatkan guru mereka. (goodreads)

-----

Setahun belakangan saya jarang membaca teenlit, khususnya karya penulis Indonesia. Namun entah, saya penasaran dengan buku ini karena banyak teman yang memberi komen dan rating bagus. Baiklah, akhirnya saya baca dan hasilnya, not bad. :)

Buku ini bertema fantasi dengan karakter anak-anak SMA yakni Riska, Indra, dan Dani. Dengan alur maju, penulis menggambarkan bagaimana tiga anak yang memiliki kemampuan tidak biasa ini bertemu dan akhirnya berkumpul dengan seorang guru baru bernama Yunus King. Riska digambarkan sebagai orang yang perasa, mungkin memang cocok untuk Riska karena ia adalah perempuan. Sementara Indra digambarkan sebagai orang yang kelewat dingin, dan Dani yang murah senyum digambarkan sebagai si jenius. Sementara mengenai karakter Yunus King sendiri, tidak terlalu jelas seperti apa bagi saya. Yah mungkin memang itu yang menjadi clue untuk masalah utama cerita ini.

Kasus pada buku Touché #1 ini tidak terlalu rumit, hanya ada satu pokok masalah dengan lintingan twist yang tidak terlalu rumit. Para pembaca sebenarnya juga dapat menebak dengan mudah karena penulis sendiri, menurut saya, membeberkan hidden clue di sepanjang cerita. Contoh kecil, ketika Riska berpapasan dengan seorang tetangga yang buru-buru ingin berangkat ke Solo karena istrinya melahirkan. Dan pada cerita selanjutnya ternyata ada twist yang berhubungan dengan Solo. Entah penulis sengaja atau tidak memberi sedikit clue itu, atau yah mungkin ini dilakukannya tanpa ia sadari.

Buku ini termasuk fast-paced reading, semua orang bisa membacanya dalam sekali duduk. Karena itu tadi, kasusnya yang sederhana dan tidak bertele-tele. Mungkin karena itulah buku ini masuk ke dalam kategori teenlit. Saya acungkan jempol untuk penjabaran dan penyelesaian kasus dalam cerita ini. Cukup jelas dan memuaskan.

3.5 bintang.

Kilas Buku: Misteri Kastel Es (Sherlock, Lupin, dan Aku #5)

|

Judul: Misteri Kastel Es (Sherlock, Lupin, dan Aku #5)
Judul asli: Sherlock, Lupin, & Io: Castello Ghiaccio
Pengarang: Irene Adler
Tebal: 258 halaman
Penerbit: BIP, 2015 (pertama kali terbit 2013)

Ini adalah kisah tentang tiga orang remaja detektif yang bernama Sherlock Holmes, Arsene Lupin, dan Irene Adler. Mereka bertiga bersahabat walaupun tinggal di tempat yang berbeda. Tokoh utama dalam serial ini adalah Irene Adler yang dalam nomor ini sudah mengetahui siapa ibu kandungnya. Ketika ia bertemu wanita yang melahirkannya itu untuk pertama kalinya, ia terpaksa harus berpisah lagi dengannya. Namun ia tidak kesepian karena ada Holmes dan Lupin, kedua sahabatnya yang sengaja berkunjung. Kedatangan Holmes dan Lupin juga suatu kebetulan karena ada kasus aneh yang mereka temukan di sekitar hotel tempat Irene menginap. Mereka bertiga menyebutnya dengan misteri kastel es.

Tokoh-tokoh detektif terkenal selalu memiliki kisah lain yang tidak dikarang sendiri oleh pengarang aslinya. Salah satunya adalah buku anak-anak yang sudah saya baca ini. Dan jujur, baru kali ini saya menemukan tokoh Sherlock, Lupin, dan Irene disandingkan, sebagai sahabat kental pula. Tapi syukurlah, ceritanya ringan dan mudah dicerna, khas anak-anak.

Sherlock Holmes digambarkan sebagai remaja yang jenius dan agak serius. Ia merupakan sosok yang senang menganalisa dan berpikir panjang. Sementara Lupin yang juga anak jenius agak berbeda. Ia cenderung lebih humoris dan santai. Dan Irene, si tokoh utama kita, digambarkan seperti cewek remaja biasanya, sedikit rapuh namun tangguh.

Saya senang dengan buku ini. Cocok untuk dibaca anak-anak yang beranjak remaja, meski tak dipungkiri juga cocok dibaca oleh orang dewasa yang senang dengan bacaan ringan dan menghibur.

4 bintang untuk buku ini.

Custom Post Signature