Top Social

Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

Kilas Buku: [Review and Giveaway] Ya, Aku Lari!

|

Mat Kid keluar dari penjara setelah 9 tahun lamanya mendekam di sana. Ia sudah bertekad untuk meninggalkan dunia hitam yang dulu pernah ia lakoni. Pertama yang ingin dilakukannya adalah menemui Alta, anak gadisnya yang sudah dewasa. Lalu ia ingin membuka usaha kafe dengan bekal kemampuan meracik kopi yang ia dapat dari penjara. Sayangnya, niat baiknya tak bisa berjalan mulus. Tidak semudah itu meninggalkan kejahatan yang telah membesarkanmu.

Seorang teman lama yang dianggap Mat Kid sebagai sahabat telah menyediakan berbagai fasilitas untuknya mulai dari papan, hingga mata pencarian. Samon rela melakukan itu semua agar Mat Kid mau kembali bekerja dalam dunia yang sama dengannya. Bagi Samon laki-laki Itu adalah aset agar bisnisnya berjalan lancar.

Bisnis kotor tetap saja kotor. Main di ruang ber-AC atau di comberan sama saja kotornya." (hlm. 132)

Lantas apakah Samon mampu memaksa Mat Kid yang sudah sangat ingin bertobat? Dan apakah Kid sendiri mudah tergoda?
Novel pertama Hasan Aspahani ini dibuat dari skenario film yang juga dikarang oleh dirinya. Ia adalah maestro puisi yang baru kali ini menelurkan novel. Itulah yang membuat Saya Tertarik.

Novelnya tidak lebih dari 200 halaman. Namun jalan ceritanya penuh liku, rumit seperti labirin. Cerita Mat Kid, meskipun menjadi kisah utama, ia menjadi pembuka kisah lainnya, yang saling terkait.

Ada beberapa points yang ditekankan penulis: politik, bisnis illegal, pencucian uang, agama, teroris, dan tobat. Saya menangkap penulis menganggap politik adalah wilayah abu-abu, seperti bisnis lama yang dijalani Mat Kid dan Samon. Mat Kid bilang bahwa hal putih dalam urusan mereka pun bisa menjadi abu-abu.

Kebaikan seringkali disalahgunakan untuk tujuan yang tidak benar. Atau Kadang tujuan dan niat yang baik harus melalui proses yang salah. Hal beginilah yang menjadikan kebaikan sebagai hal abu-abu, tidak jelas apakah ia benar kebaikan atau malah terjerumus pada kejahatan.

Agama. Setiap agama memiliki golongan tersendiri, setidaknya konservatif dan liberal, bahkan radikal. Dalam cerita, Hasan menyisipkan kisah bagaimana Indonesia sedang dalam kondisi darurat radikalisme sejak tragedi bom yang dilakukan oleh sekelompok orang yang identik dengan jubah, jenggot panjang nan tebal, dan bercadar. Ada sedikit usaha dari Hasan untuk menitip pesan bahwa tidak semua orang berjubah dan bercadar menganut paham radikal. Banyak dari mereka yang mendukung pemerintah dan senang berbaur dengan masyarakat yang heterogen.

Ya, Aku Lari! memiliki masa lalu yang saling terkait dari para tokohnya. Setiap tokoh punya karakter yang berbeda, begitu juga dengan masalah yang mereka punya.



Data buku:

Judul: Ya, Aku Lari
Pengarang: Hasan Aspahani

Penyunting: Addin Negara

Sampul: Sukutangan

Cetakan: 1, Desember 2018

Penerbit: DIVA Press

GIVEAWAY  TIME ⌚!! 

Tersedia satu novel "Ya, Aku Lari" karya Hasan Aspahani di blog Baca Biar Beken sebagai bloghost pembuka dalam rangkaian blogtour bersama Penerbit DIVA Press bulan Desember ini. Berikut ini cara ikutan kuisnya:

1. Wajib follow IG fiksi.divapress. Jika tidak ada IG, boleh follow akun Twitter DIVA_Fiction atau like Fanpage Penerbit DIVA Press.

2. Wajib share/membagikan postingan kuis ini di media sosial kamu.

3. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar. Cukup satu kali saja. 

Kenapa kamu pingin banget baca buku ini?

4. Format jawaban:
Nama:
Media sosial/email kamu:
Link share:
Jawaban:

5. Kuis berlangsung sampai 16 Desember 2018. Akan dipilih satu pemenang untuk mendapatkan satu novel "Ya, Aku Lari" karya Hasan Aspahani gratis. 

6. Giveaway ini hanya berlaku untuk calon pembaca yang memiliki alamat kirim di wilayah Republik Indonesia.

Semoga beruntung yaa

UPDATE: PEMENANG GIVEAWAY INI ADALAH @MUFTIH. SELAMAT YA. DAN MOHON INFOKAN DATA DIRI YA. 

Kilas Buku: Big Breasts and Wide Hips

|

Buku ini adalah hasil haul dari booth BBI di IRF tahun 2013. Jadi mungkin sudah sekitar 4 tahun masih dalam kondisi tersegel, yang akhirnya resmi saya buka dan baca tahun ini. Padahal lho ya saya punya 2 buku Mo Yan (Sorgum Merah & Di Bawah Bendera Merah) yang sudah saya lepas segelnya, tetapi belum terbaca. Yak, betul karena malas hehe.

Ngomongin karangan Mo Yan, bagi yang sudah tahu tentang beliau, pastinya sudah mengerti kalau sejarah adalah tema utama dalam setiap ceritanya. Serius, ngeri, sedih, mencekam, itu pasti. Ajaibnya Mo Yan selalu mampu menghadirkan sisi sarkas dan humor dalam ceritanya. Itu yang saya rasakan setelah membaca novel yang akan saya ulas sekarang ini.

Big Breasts dan Wide Hips, jika dilihat dari sampulnya, menampilkan gambar perempuan cantik. Sayang, ceritanya, karena didominasi unsur sejarah, tentu saja tidak melulu menyajikan keindahan dan kebahagiaan. Tokoh utama (dan sentral) dalam novel ini adalah Shangguan Lu (Xuan'er). Cerita mengambil masa pasukan Jepang mulai menduduki daratan Cina, yang ketika itu Shangguan Lu tengah melahirkan anak ketujuh dan kedelapan (kembar) nya. Melewati perjuangan panjang, Yunu (bayi perempuan, anak ketujuh), dan Jintong (bayi laki-laki, anak kedelapan) berhasil lahir dengan selamat. Sayangnya kelahiran anak kembar itu harus disambut dengan kematian ayah dan kakeknya (karena dibunuh oleh pasukan Jepang), dan juga kegilaan neneknya (karena melihat suami dan anak kandungnya terbunuh).

Shangguan Lu sebenarnya sudah menderita sejak lahir. Tanpa ayah dan ibu, ia dirawat oleh paman dan bibinya. Pada umur 17 tahun ia menikah dengan seorang laki-laki mandul dan takut pada ibunya. Sejak itu penderitaan Lu semakin berat. Ia terus menerus menerima caci maki dari ibu mertuanya, dan juga pukulan-pukulan dari suaminya. Anak-anak yang dilahirkan merupakan benih dari banyak lelaki (termasuk pamannya sendiri), yang sayangnya berjenis kelamin perempuan. Hal ini yang membuat sang ibu mertua mengeluh sambil tak lupa melakukan kekejaman kepada Lu.

Suatu ketika, Lu jatuh cinta kepada pastor Swedia yang bermata biru. Darinyalah dia mendapat anak kembar perempuan dan laki-laki. Senang luar biasa itu pasti. Anak laki-lakinya pun menjadi anak kesayangannya. Sayang ia tumbuh menjadi lelaki yang lemah dan sangat kecanduan menyusu.

Novel dengan ketebalan hampir 800 halaman ini menggambarkan situasi politik yang silih berganti yang pernah terjadi di Cina. Mo Yan menjadikan keluarga besar Shangguan Lu sebagai latar belakangnya. Dapat dikatakan berbagai haluan politik berkumpul di sana, mulai dari pasukan Cina yang pro-Jepang, pasukan Cina yang anti-Jepang, hingga pasukan Cina yang komunis (haluan politik Cina sekarang).

Yang saya pelajari adalah setiap revolusi memakan korban. Dan para pemimpin itu kadang tidak peduli berapapun korban yang jatuh. Mereka menyerukan kebaikan haluan politik yang mereka anut. Namun ketika dihadapkan dengan penderitaan rakyatnya, mereka berkata bahwa itulah harga untuk kebaikan negara dan rakyat di masa depan. Entahlah, apakah mereka benar mementingkan rakyat atau malah dirinya sendiri.

Saya mengagumi karakter Shangguan Lu yang tangguh. Memang ia masih bersifat dan berpikir kuno karena lahir pada zaman kekaisaran berkuasa. Ia masih memegang teguh bahwa anak laki-laki lebih baik daripada anak perempuan, walaupun pada akhirnya anak laki-lakinya agak mengecewakannya. Namun Lu adalah sosok yang tidak pernah mengeluh dan selalu siap menghadapi situasi yang paling sulit sekalipun.

Lalu kemana sebenarnya kaisar Cina? Cerita dalam novel ini terjadi kira-kira pada masa kaisar Cina terakhir berkuasa. Pada saat itupun ia hanya menjadi kaisar boneka, sementara situasi politik dan pemerintahan dipegang penuh oleh banyak kubu  secara bergantian, yang pada akhirnya kubu Komunislah yang berkuasa hingga saat ini.

So, Bagi yang menyukai sejarah, saya sangat merekomendasikan novel ini untuk dibaca.

Data buku

Judul: Big Breasts and Wide Hips
Pengarang: Mo Yan
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi, Cetakan II, Mei 2011
Tebal: 751 halaman

Kilas Buku: Sang Juragan Teh

|

Sebelum saya ulas roman satu ini, saya akan mengingatkan kembali bahwa saya pernah mengulas buku Kisah Para Preanger Planters yang tentu saja sangat berkaitan dengan cerita Hella S. Haasse. Sesungguhnya Sang Juragan Teh adalah sebuah roman, namun bukan fiksi. Segala karakter dan cerita didasarkan pada kumpulan surat dan dokumen mengenai sejarah perkebunan teh di Hindia Belanda (Indonesia). Hal ini disebutkan oleh Hella (penulis) sendiri pada segmen Ucapan Terima Kasih.

Saya cukup bingung bagaimana akan mengulas buku bagus yang satu ini. Karena jujur saja menulis ulasan dari sebuah buku yang punya rating bagus itu sangatlah sulit. Tapi saya bersyukur sudah pernah membaca sejarah Preanger Planters untuk memahami roman yang satu ini.

Roman Sang Juragan Teh mengambil Rudolf E. Kerkhoven sebagai tokoh utama. Sebagai anak lelaki tertua (ia adalah anak kedua setelah Bertha, anak pertama, yang juga kakak perempuannya), ia memiliki sifat ambisius dan serius, namun juga sangat mengayomi adik-adiknya. Selama berkuliah di Delft, Rudolf betul-betul mempersiapkan dirinya untuk membantu (dan menjadi pengelola perkebunan Arjasari) Ayahnya di Bandung. Sayangnya harapan ia pupus. Ayah maupun keluarganya tidak terlalu antusias dengan kedatangan Rudolf ke Hindia Timur (Indonesia). Ia pun malah diminta membuka lahan perkebunan baru di Gambung, Bogor. Justru adiknya August yang malah menjadi pengelola perkebunan Arjasari, yang lagi-lagi menambah kekecewaan Rudolf terhadap keluarganya. Ia merasa sudah menjadi anak sekaligus pemuda yang baik. Ia pekerja keras, suka berhemat, dan berpikiran maju untuk usahanya. Sayang, tidak ada seorang pun yang (terutama ayahnya) mengapresiasi usahanya ini.

Kisah berlanjut mengenai kehidupan Rudolf beserta istri dan anak-anaknya. Yang menjadi pusat cerita tentu saja soal perkebunan teh (khususnya Gambung), dan juga berbagai masalah dan kebijakan yang berputar di sekitarnya. Yang menarik perhatian saya adalah roman ini berisi banyak pandangan dari bangsa kolonial (Belanda), khususnya pihak non pemerintah, tentang orang-orang Indonesia dan budayanya. Seperti yang kita ketahui, sejak tahun 1870, pemerintah Kolonial membuka kesempatan bagi swasta (warga Eropa, khususnya Belanda) untuk mengelola lahan di beberapa daerah di Indonesia. Sejak itulah keluarga besar Van der Hutch (yang terdiri dari keluarga Kerkhoven, Holle, dan Boscha) menjadi salah satu pengusaha lahan.

Jika selama ini pandangan bangsa Indonesia kepada Belanda penuh dengan kebencian (akibat penjajahan 350 tahun), namun ternyata tidak semua orang Belanda begitu jahat terhadap bangsa Indonesia. Secara garis besar bangsa Belanda di Indonesia terdiri atas dua kelompok yakni pemerintah kolonial (kompeni) dan pihak swasta. Orang-orang dari pihak swasta inilah yang kebanyakan menjadi pihak baik bagi masyarakat pribumi. Contohnya adalah Karel Holle, pengelola perkebunan Waspada di Garut. Ia menjadi teman bagi petani, bahkan bisa dijuluki sebagai bapak petani modern di Indonesia. Ia yang awalnya mengajarkan petani lokal mengolah lahan pertanian sebagaimana harusnya. Karel Holle bahkan bersahabat dengan Haji Mohammad Musa, penghulu sekaligus tokoh Islam di Garut. Ia juga yang memberi kesempatan kepada Haji Musa untuk menerbitkan karya-karyanya (dalam bahasa Sunda / Sastra Klasik Sunda) yang saat itu tentu saja sulit bagi pribumi yang kebanyakan masih bodoh dan percetakan masih didominasi oleh kolonial. Ia dan Haji Musa tentu saja layak mendapat gelar Bapak Sastra Sunda.

Jika merasa tidak familiar dengan Karel Holle, kalian tentu kenal dengan K.A.R. Boscha. Ia merupakan Raja Teh di Priangan, dan juga Bapak Astronomi Indonesia dan merupakan pendiri Obsrvatorium Boscha.  Maka, Boscha dan Holle adalah orang-orang Belanda yang punya kepedulian tinggi terhadap masyarakat pribumi. Mereka sudah melakukan aksi nyata dalam membantu warga lokal, meskipun tidak mampu berbuat banyak mengintervensi kebijakan pemerintah kolonial. Dalam pernyataannya Holle mengungkapkan betapa ia prihatin terhadap masyarakat Sunda:
Dengar Rudolf.... sejak aku tiba di sini selagi masih anak-anak, melihat betapa bertolakbelakangnya kesuburan negeri yang indah ini dan kemiskinan rakyatnya, sungguh sangat menyakitkan bagiku. Tanah Sunda adalah tanah yang terabaikan, didominasi oleh para raja dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka kehilangan kebudayaan mereka sendiri. Sungguh suatu keajaiban mereka masih memiliki bahasanya sendiri. (hlm. 107)
Namun tentu saja sebaik-baiknya sebagian orang Belanda terhadap masyarakat kita, tetap kita tidak setuju dengan monopoli dan dikuasainya negeri ini oleh bangsa asing.

Roman ini memang penuh dengan kejutan. Salah satunya adalah mengenai betapa polos dan lugunya orang-orang pribumi. Dan juga betapa "tidak sopannya" pakaian mereka. Kata Rudolf Kerkhoven ketika pertama kali mengunjungi Batavia:
Kini mereka melaju di sepanjang tepi kanal yang penuh dengan orang-orang yang sedang mandi dan mencuci pakaian. Para wanita yang berdiri dalam air sepinggang, tanpa malu-malu memperlihatkan bahu mereka yang telanjang, dan lebih banyak lagi bagian tubuh yang lain jika sedang mencuci rambut. Rudolf sudah mendengar perkataan orang-orang di kapal yang menggambarkan pemandangan harian kehidupan kaum pribumi di Jawa semacam ini sebagai sesuatu yang memalukan di mata orang-orang Eropa... (hlm. 78)
Saya tertawa membacanya. Dewasa ini banyak orang Indonesia menganggap pakaian ala barat tidak sopan, ternyata pada masa lalu justru orang Indonesia yang "berpakaian terbuka ala barat". Menurut saya itu karena mereka menyesuaikan pakaian dengan iklim tropis yang memang ada di Indonesia. Sementara di Eropa, orang-orang cenderung mengenakan gaun atau jas karena iklim di sana yang cenderung lebih dingin. Jika sekarang ini orang Eropa senang berpakaian terbuka, mungkin karena mereka sudah menganut paham yang lebih bebas. Sementara orang-orang Indonesia kini sudah jauh lebih terpelajar sehingga tidak lagi mandi dan berpakaian terbuka sembarangan di depan orang banyak.

Saya juga sedikit surprised kalau orang Indonesia pada zaman dahulu justru peminum teh hijau, seperti yang biasa diminum orang-orang Jepang. Jadi bangsa kita juga punya budaya menyeruput ocha dengan nikmat di masa lalu. Seperti kata Karel Holle;
Penduduk di sini lebih menyukai teh hijau untuk mereka sendiri, sama seperti di Tiongkok dan Jepang. (hlm. 105)
Sayangnya, seperti kata Eduard Kerkhoven, pasar Eropa tidak tertarik pada Teh Hijau. Sehingga sepertinya karena itulah budaya minum teh hijau tidak berlanjut di kalangan masyarakat pribumi.

Well, saya pikir itulah beberapa kejutan diantara banyak kejutan dalam roman ini. Bagi yang memang menyukai sejarah, pasti akan bersemangat membacanya, seperti saya. Buku ini sangatlah berharga untuk dibaca dan dikoleksi. Karena ini bukan fiksi, dan bukan sekedar roman. Ini sejarah! Yang sangat berkaitan erat dengan masa lalu bangsa kita.

Bintang lima!


Data buku

Judul: Sang Juragan Teh
Judul asli: Heren van de Thee
Pengarang: Hella S. Haasse
Penerjemah: Indira Ismail
Paperback, 440 pages
Published December 3rd 2015 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1992)

Murder on the Orient Express 2017 (Buku dan Film)

|
MotOE sampul film (GPU)

Baru-baru ini karya fiksi berjudul Murder on the Orient Express karangan Agatha Christie (AC) difilmkan. Sebenarnya sudah lama dan sudah banyak karya-karya AC yang dibuatkan filmnya. Hanya saja setiap kali bentuk filmnya muncul, mesti selalu dinanti oleh para penggemar AC yang tidak terhitung banyaknya. Karena karya-karya misteri/triler AC memang tidak pernah lekang oleh waktu.

Sementara saya sendiri bukan salah satu penggemar AC, meskipun menyukai karya-karyanya. Untuk Murder on the Orient Express (MotOE) sendiri saya malah menonton filmnya terlebih dahulu. Film yang mana? Tentu saja film keluaran terbaru (2017) hasil besutan Kenneth Branagh yang menjadi sutradara sekaligus pemeran utama. Lantas setelah nonton jadi malas baca, gitu? Yang terjadi pada saya justru sebaliknya. Saya malah bersemangat membaca ceritanya dan sedikit membandingkan cerita dalam buku dan film yang sekarang ini.
***
Alkisah seorang Hercule Poirot baru saja memulai perjalanannya kembali dari Aleppo, Syiria menuju Turki dengan Taurus Express. Di Turki, Poirot malah mendapat telegram yang memintanya untuk kembali pulang ke London dan memecahkan sebuah kasus. Akhirnya Poirot pun menumpang Simplon-Orient Express malam itu juga yang sayangnya sudah penuh sehingga detektif Belgia itu tidak bisa mendapatkan kamar kelas satu. Beruntung Monsieur Bouc, teman Poirot yang juga direktur the Wagon Lit Train Service, berhasil mendapatkan kamar untuknya.

Malam itu Orient Express memang penuh dengan penumpang dari beragam bangsa dan latar belakang. Hal ini menarik perhatian M. Bouc dan juga Poirot sendiri. Yang paling menarik perhatian adalah seorang Amerika bernama Rachett. Ia digambarkan sebagai lelaki kelas atas yang ramah dan punya pesona namun bengis hatinya.

Suatu malam menjelang pagi, Rachett tewas dengan luka tusukan belasan kali. Ketika itu kereta tengah berhenti karena badai salju. Dapat dipastikan si pembunuh tidak dapat kabur dari kereta karena badai. Lantas Poirot dibantu M. Bouc dan Dr. Constantine, seorang dokter Yunani harus memecahkan kasus itu dan menemukan pembunuhnya.
***

Setidaknya itulah ringkasan yang saya tangkap dari cerita aslinya (novel). Kemudian saya sedikit membandingkannya dengan filmnya (2017). Beberapa karakter tampak berbeda dari yang saya bayangkan. Hercule Poirot misalnya yang dalam film kali ini diperankan oleh Kenneth Branagh, tidak berambut hitam, melainkan abu-abu dengan kumis yang sangat besar dan lucu. Kemudian M. Bouc yang berkarakter sebagai laki-laki yang cenderung lebih muda dari imajinasi saya dan tampan. Begitu juga dengan sosok Rachett yang diperankan oleh Johnny Depp. Bayangan saya tentang Rachett adalah sosok lelaki tua (tidak terlalu tua sih) yang memiliki air muka sarat pengalaman dan licik. Rachett yang diperankan Depp memang berhasil memperlihatkan kelicikan bagai musang, namun ia belum terlalu tua untuk seorang Rachett.

Ada juga karakter yang sepertinya tidak ada dalam film, cmiiw. Sepertinya Dr. Constantine tidak dimunculkan sama sekali. Jadi memang Poirot di film lebih banyak bekerja sendiri baik ketika mewawancara para saksi dan menganalisa kasus. Saya tidak memiliki kecenderungan pro dan kontra yang mana, yang jelas peran Poirot dalam cerita aslinya ataupun film sama-sama dominan layaknya sosok detektif yang seharusnya.

Ada lagi tokoh yang berganti karakter dan nama. Seperti tokoh Pilar Estravados yang diperankan oleh Penelope Cruz. Awalnya saya bertanya-tanya siapa Pilar Estravados ini. Setelah mengulik kembali novelnya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Greta Ohlsson, perempuan Swedia dalam novel telah digantikan oleh Pilar Extravados (barangkali diambil dari karakter lain dari novel AC lainnya). Begitu juga tokoh Antonio Foscarelli yang berganti nama menjadi Biniamio Marquez dalam film.

Saya pribadi tidak masalah dengan sedikit perubahan pada film. Toh itu tidak mengurangi alur cerita secara keseluruhan. Malah jadi tambah seru dibandingkan cerita aslinya (novel). Bagi yang belum membaca ataupun menonton film MotOE sama sekali, jangan bingung memilih. Membaca novelnya dulu ataupun menonton filmnya dulu sama saja. Keduanya sama-sama asyik. Saran saya cuma satu, jadilah pembaca dan penonton yang open-minded, tidak saklek dengan asumsi pribadi. Yah mungkin banyak juga pengalaman mengecewakan karena menonton film berbasis novel. Tapi tetap tidak ada salahnya menonton film yang satu ini. :)

Data buku

Judul: Murder on the Orient Express
Pengarang: Agatha Christie
Jumlah Halaman: 252
Tanggal Terbit: Oct 2, 2017
ISBN: 9789792229806
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kilas Buku: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta

|

Satu lagi cerita bagus yang harus dibaca! Seorang Pak Tua bernama Antonio José Bolívar Proaño sudah lama hidup dalam hutan wilayah Amazon, bersama orang-orang pedalaman (Shuar). Awalnya Antonio seperti para pemukim lainnya, tidak tahu menahu seluk beluk hutan pedalaman dan bagaimana hidup di dalamnya. Pemukim lain banyak yang mati, termasuk istri tercintanya Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo, beruntung Antonio dapat bertahan meski sempat sekarat karena racun ular boa. Berkat perawatan dari tabib orang Shuar, ia pun sehat seperti sedia kala. Sejak itulah ia tinggal bersama orang-orang Shuar dan belajar banyak dari mereka. Hingga suatu hari Antonio harus pergi dari sana dan kembali ke El Idiolio, daerah yang dihuni banyak pemukim.

Alam vs Manusia

Alam (dalam hal ini adalah hutan belantara dan penghuninya) sudah ada sejak bumi ini terbentuk. Manusia-manusia pertama yang lahir di muka bumi barangkali sudah terbiasa bagaimana menghadapi alam liar. Sayangnya lambat laun kemampuan manusia dalam mempelajari alam terkikis. Pengetahuan membuat mereka membangun peradaban yang maju dengan segala teknologi yang memudahkan. Manusia-manusia yang lahir belakangan akan terbiasa hidup dengan teknologi sehingga mereka akan kesulitan ketika harus masuk dan tinggal di dalam hutan. Kesulitan inilah yang mungkin saja membuat mereka kalap dan membabat apa saja yang mengancam nyawanya. Atau bahkan mereka ingin menjarah dengan rakus apa yang disimpan oleh hutan; hasil tambang, kayu, dan binatang.

Orang-orang Shuar mewakili manusia yang lahir dalam lingkup keliaran hutan. Mereka terbiasa menghadapi keganasan alam. Sementara Antonio lahir dari peradaban yang cukup mumpuni, namun memilih untuk bergabung bersama orang-orang Shuar. Karena lelaki tua itu sadar kalau ia hidup berdampingan dengan alam dan merasa harus belajar cara menghadapinya. Rubicundo Loachamín adalah perwakilan dari kaum pembenci pemerintah. Ia memang manusia peradaban modern yang terpelajar, namun lebih senang jika berpihak kepada kaum proletar.

Kalau si Walikota "Siput Lendir" merupakan manusia yang lahir dan terbiasa dengan segala kemudahan masa kini. Ia terpaksa tinggal bersisian dengan hutan dan sayangnya selalu berlaku seperti ia tinggal di kota saja. Dan yang terakhir adalah Harimau Betina, tokoh antagonis yang menjadi musuh bersama dalam cerita ini. Ia tidak bersalah, karena memang lahir dan hidup dalam hutan. Lantas salahkah ia jika ia hanya ingin membalas dendam akan kematian suami dan anak-anaknya? Salahkah ia jika ia bertarung untuk mempertahankan haknya tinggal dalam hutan?

Jadi ini adalah pertarungan antara manusia yang cenderung rakus mengambil hasil hutan dengan harimau betina yang hanya ingin keadilan.


Kisah Picisan 

Lalu mengapa harus ada kisah cinta? Antonio José Bolívar Proaño hanyalah manusia biasa yang merindukan cinta pertamanya yang sudah lama mati. Ketika ia berkenalan dengan novel-novel romansa, ia langsung meminta tolong Rubicundo si dokter gigi untuk membawakannya novel cinta sepulang ia dari kota.

Manusia selalu punya dua sisi; sisi baik dan sisi jahat, sisi garang dan sisi melankolis. Anggap saja kisah picisan ini sebagai pengejewantahan dari sisi melankolis si Pak Tua. Dan sisi garangnya? Tentu saja ketika ia harus berhadapan dengan si Harimau Betina. Jadi, siapakah yang akan menang, Pak Tua atau Harimau?

Bersahabatlah dengan alam

Maka, jadilah bijak. Jika kau termasuk manusia yang biasa dengan kemudahan, jadilah bijak dengan hidup yang baik. Lakukan hal-hal kecil yang membuat alam tetap terjaga pada tempatnya. Bukan apa-apa, hanya sekedar menyeimbangkan dunia ini saja. :)

Well, 4 bintang untuk cerita ini. Buku yang bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk dibaca!

Data

Judul: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Judul asli: Un viejo que leía novelas de amor
Pengarang: Luis Sepúlveda
Penerjemah: Ronny Agustinus
Paperback, 133 pages
Published December 2005 by Marjin Kiri (first published 1989)

Kilas Buku: Memoirs of a Woman Doctor

|

Buku ini adalah novel pertama dari Nawal El Saadawi, salah satu sastrawan terkemuka asal Mesir. Awalnya novel ini berbentuk cerita bersambung yang dimuat dalam salah satu majalah di Mesir, sayangnya ada beberapa bagian yang tidak dipublikasikan. Pada akhirnya Nawal mencari cara untuk menerbitkannya secara utuh sehingga bisa sampai kepada para pembacanya di seluruh dunia hingga sekarang.

"Memoirs of a Woman Doctor" merupakan cerita yang didasari atas dasar pengalaman Nawal yang memang seorang dokter, dan pemikiran dirinya tentang ketidakadilan yang diterima kaum perempuan di masyarakat. Tokoh utama yang menyebut dirinya sebgai "aku" adalah anak kedua dari orang tua yang berpikiran maju tentang pendidikan, namun masih kolot tentang status gender. Kakak dari "aku" adalah seorang laki-laki. Dari awal "aku" selalu dibatasi dan diatur dengan ketat dalam berbagai hal, mulai dari makan, minum, tata cara berbicara, berpakaian, hingga bermain. Hal ini semakin parah ketika "aku" mengalami menstruasi pertamanya. Perubahan-perubahan pada tubuhnya membuat "aku" mudah terekspos khususnya oleh banyak lelaki baik tua ataupun muda. Kalau sudah begitu ia merasa takut sekaligus benci dengan kodratnya sebagai perempuan. Yang ia inginkan hanyalah kebebasan melakukan apapun tanpa diganggu.

Satu-satunya yang membuat "aku" bangga adalah kecerdasan otaknya. Suatu ketika ia bercita-cita menjadi seorang dokter, selain memang karena ingin, ada dorongan lain yang membuatnya bersikeras menempuh jalan menjadi paramedic. Yakni, seluruh anggota keluarganya, mulai dari kakak, ibu, hingga ayahnya sangatlah takut menghadapi dokter. "Aku" berpikir jika ia menjadi dokter suatu hari nanti, maka ia akan mendapatkan respek dari keluarganya yang kolot.

Sayangnya, meski "aku" sudah menjadi dokter yang sukses, ia tetaplah seorang perempuan, yang dalam masyarakat berhak dinikahi, diberi nafkah oleh suami, dan tentunya harus mematuhi apapun perintah suami. "Aku" sadar, sekeras apapun usahanya, impiannya agar kaum perempuan dihormati dan mendapat persamaan hak tetaplah sulit. Mengubah masyarakat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan lambat laun ia menyadari jika keluarganya hanyalah bagian dari masyarakat. Sekonyong-konyong ia menjadi rindu ibunya. Lantas apakah "aku" akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang ia inginkan?

Novel ini sangatlah feminis! Nawal menyuarakan persamaan hak yang adil untuk kaum perempuan. Di dunia nyata sudah banyak aksi yang ia lakukan untuk kaum perempuan, sampai pernah dipenjara pada masa Presiden Anwar Sadat.

Tiga bintang untuk novel ini. Saya sangat menyukainya dan merekomendasikan agar dibaca oleh mereka, khususnya yang memang peduli terhadap hak kaum perempuan.

Data buku

Judul: Memoirs od a Woman Doctor
Pengarang: Nawal El Saadawi
Penerjemah: Catherine Cobham
Paperback, 128 pages (edisi Bahasa Inggris)
Published January 1st 2001 by City Lights Publishers (first published 1958)

Kilas Buku: The Sun is Also A Star (Blogtour)

|

Pertama: Tentang takdir
Ketika kau tidak percaya akan takdir, namun seseorang yang lain percaya tentangnya. Ketika kau sangat mengagumi sains sampai-sampai kau ingin menyembahnya, sementara yang lain percaya segala sesuatu sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Lalu kau merasa kau sudah bertemu dengan pemuja sains yang mungkin saja berpotensi menjadi atheis. Itu barangkali yang dipikirkan seorang Daniel tentang Natasha.

Ketika kau merasa takjub bertemu seseorang yang mengatakan bahwa dirimulah sebab ia menemukan jalan menuju ilahi. Sementara dirimu sendiri punya segudang pemikiran skeptis. Sebagai seorang yang bersifat pragmatis dan praktis, Natasha hanya ingin cepat menyelesaikan urusannya, ingin tetap tinggal di New York, tanpa harus bertemu lagi dengan Daniel, cowok berambut gondrong yang terus-terusan menggangapnya sebagai messiah atau nabi atau tanda dari Tuhan untuknya.

Well, kalian mungkin ndak akan paham dengan cerita Natasha dan Daniel jika hanya melihat kedua paragraf di atas. Secara keseluruhan, novel ini menggambarkan tentang American Dreams. Seperti yang kita ketahui, Amerika Serikat menjadi negara terbesar impian seluruh orang dari seluruh dunia, terutama mereka yang berasal dari negara konflik atau mereka yang ingin mengadu nasib menjadi orang dengan uang dan kedudukan yang lebih baik.

American Dream

Natasha Kingsley dan keluarganya adalah imigran gelap dari Jamaika. Kemiskinan yang justru masih ia derita di Amerika, tidak mengubah pendiriannya untuk pergi dari negara adidaya itu. Natasha sudah kerasan dan bertekad untuk mengubah nasibnya lebih baik. Ia mencintai sains, dan bercita-cita untuk menjadi seorang ilmuwan suatu hari nanti. Namun musibah menerpa keluarganya. Tiba-tiba saja mereka harus dideportasi ke Jamaika. Natasha tahu jika ini akan sulit, tetapi ia akan berusaha untuk tetap tinggal di negara ini, apapun caranya.

Daniel Jae Ho Bae adalah cowok Korea yang lahir di Amerika. Kedua orang tuanya termasuk pendatang yang miskin sehingga bekerja keras mati-matian hingga mereka cukup kaya untuk menyekolahkan mereka sampai perguruan tinggi. Karena kehidupan ortunya yang keras, maka Daniel dan kakaknya Charlie, juga harus menjalani hidup dengan keras seperti mereka. Sayangnya niat baik dibalik pendidikan yang keras itu tidak sertamerta membuat Daniel dan Charlie menjadi seperti yang mereka inginkan. Yang ada malah tumbuhnya benih-benih pemberontakan dalam diri kedua cowok itu. Pertanyaannya sekarang: apakah Daniel sanggup mandiri, baik secara pemikiran dan finansial? Yang jelas ia hanya ingin hidup bebas, mengejar impian (menulis puisi), cita-cita, bahkan cintanya sendiri.

Amerika Serikat adalah kuali besar yang berisi macam-macam manusia dan budaya. Permasalahan bukan hanya pada keinginan untuk menjadi kaya (Ekonomi), namun juga pengakuan (Eksistensi), dan juga gegar budaya. Banyak warga yang kemudian menganut pemikiran bebas dengan asas kesamaan hak dan kewajiban pada seluruh manusia tanpa memandang ras. Dalam hal ini berarti mereka menerima percampuran budaya, bahkan darah dan keyakinan. Di sisi lain, banyak juga yang meski sudah lama tinggal di Amerika, namun tetap ingin mempertahankan kebudayaan, keyakinan, bahkan kemurnian garis leluhur.

Lalu: Bagaimana cinta dan takdir bekerjasama?

Natasha dan Daniel adalah bagian dari Amerika dan permasalahannya. Apalagi mereka tinggal di New York, salah satu kota yang besar dan padat di dunia. Sekarang, dapatkah mereka berdua berharap, setidaknya dengan kepintaran Natasha di bidang sains dan kemahiran Daniel menulis puisi, supaya takdir berpihak kepada mereka berdua?

Ah, apapun impianmu, apapun hasilnya nanti, tetaplah teguh. Seperti kutipan di bawah ini:
Tidak ada yang salah dengan memiliki mimpi. (hlm. 220)

Data buku

Judul: The Sun is Also a Star
Penulis: Nicola Yoon
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Tebal: 384 halaman
Penerbit: Spring, 2017
ISBN: 978-602-60443-6-5

***

Giveaway!

Akan ada sebuah novel The Sun is Also A Star yang akan diadakan di fanpage FB Penerbit Spring. Caranya gampang, seperti yang sudah dijelaskan kedua blogger sebelumnya, Yessie & NonInge, cukup kumpulkan kepingan puzzle yang tersebar di para host blogtour novel ini ya.

Namun sebelumnya saya boleh ya minta kemurahan hati teman-teman untuk bantu promosi blogtour ini. Termasuk share link ini ke media sosial. Sebelumnya makasih ya :)

OK, berikut kepingan puzzle yang harus kalian kumpulkan:



Untuk kepingan selanjutnya silakan mampir ke blog selanjutnya ya. Berikut jadwalnya:



OK terima kasih ya. Semoga sukses. :)

Grand Story: A Magazine for Urban People

|




Suatu siang Pak Pos membawa bingkisan, berisi sebuah majalah dengan sampul depan dan isi yang juga menarik. Sudah lama sekali saya tidak membaca majalah, maka saya merasa mendapat bahan segar yang untuk dibaca.

Liberating Literacy
Pembebasan literasi adalah tema yang diusung Grand Story pada edisi nomor 14. Payung besar yang menjadi topik utama adalah masalah minat baca masyarakat Indonesia yang berada di peringkat paling rendah dalam berbagai penelitian tentang literasi. Seolah-olah bangsa kita yang besar ini sangat terpuruk dalam hal pengetahuan dan keilmuan, wong baca aja malas.

Maka dalam sub Figure Story, beberapa wawancara dengan penulis papan atas Indonesia ditampilkan, yakni, Aan Mansyur, Agustinus Wibowo, dan Dewi Lestari. Mereka punya pendapat yang beragam terkait payung besar tadi. Aan menganggap pemerintah Indonesia kurang mendorong budaya literasi untuk diterapkan di masyarakat. Seringkali masyarakat tenggelam dalam permasalahan politik yang terus menerus digetok-tularkan melalui media. Agustinus berpendapat bahwa kualitas produk buku di Indonesia kurang berkualitas, kebanyakan buku yang beredar adalah yang berjenis fiksi ringan dan tidak multitafsir. Masyarakat justru malas diajak untuk membaca buku non-fiksi yang bertemakan politik dan sejarah, juga filsafat, padahal dengan bacaan tersebut kualitas pengetahuan masyarakat bisa menjadi unggul. Sementara itu, Dewi menyoroti kebijakan industri perbukuan. Masyarakat masih menganggap buku adalah barang mahal yang tidak harus dibeli. Mahalnya harga buku disebabkan banyak faktor, mulai dari harga produksi, distribusi, hingga pajak.

Dihadapkan dengan fenomena jebloknya minat baca masyarakat kita, ketiga penulis tersebut sama-sama kurang setuju. Karena pada dasarnya masyarakat Indonesia bukan malas membaca, hanya saja banyak indikasi yang masih harus dianalisa, mulai dari akses buku yang masih sulit ke daerah pelosok, harga buku yang masih mahal bagi sebagian besar masyarakat, teknologi perbukuan (membaca secara online) yang masih asing di telinga masyarakat desa, dll.

Perpustakaan Independen
Satu lagi profil yang masuk ke dalam Figure Story, yakni, Kathlen Azali, pendiri C2O Library & Collabtive. Jika anda pernah mengunjungi dan bahkan menjadi anggota perpustakaan institusi British Council, atau berbagai pojok bacaan yang dikelola institusi swasta, kurang lebih C2O Library sama seperti itu. Hanya saja C2O dimiliki dan dikelola secara personal (mandiri).



Koleksi buku yang dimiliki C2O cukup beragam, terutama desain grafis, sejarah, politik, dan sains popular. Genre yang disebut tadi biasanya kurang populer di masyarakat, namun paling banyak dicari di setiap perpustakaan, termasuk di C2O. Adanya perpustakaan yang dikelola secara mandiri seperti ini sangatlah membantu masyarakat yang bergelut di dunia akademis, apalagi jika koleksi buku yang ada dalam daftar merupakan buku langka yang jarang ditemui di toko buku, ataupun secara daring.

Beragam Tema
Ulasan saya barusan membuat Grand Story seolah-olah adalah majalah sastra yang hanya fokus pada dunia literasi. Padahal seperti yang saya bilang di awal, majalah ini selalu memiliki tema yang unik. Di lain kesempatan, Grand Story menerbitkan berbagai isi dengan payung besar media, mulai dari awal mulanya hingga keberadaannya saat ini.

Maka, saya rasa, Grand Story dapat menjadi salah satu pilihan bacaan berkala yang bermutu bagi kaum urban. Termasuk kita salah satunya ya.


Kilas Buku: Mantra Penjinak Ular

|


Satu lagi sastra perjuangan dari Kuntowijoyo yang layak dibaca. Kali ini berjudul "Mantra Penjinak Ular", dengan tokoh utamanya Abu Kasan Sapari (AKS). AKS ini adalah keturunan Ronggowarsito yang menjadi Dalang. Ia menjadi simbol bagi perjuangan rakyat kelas bawah. Sebagai Dalang, ia mempunyai misi untuk tidak menyampur urusan seni dengan politik praktis.
"Dalang itu seperti halnya ulama, sastrawan seniman, dan ilmuwan tidak boleh menggunakan profesinya untuk kepentingan suatu parpol. Dalang itu bagian dari masyarakatnya dalam arti terikat dengan unggah-ungguh, hukum, dan perundang-undangan persis seperti orang lain, tapi tidak boleh berpolitik melalui parpol. Politik dalam arti pencerahan politik, pendidikan politik, dan kesdaran sebagai warga negara itu sehat untuk kesenian, sebab itulah salah satu fungsi sosial dari dalang. Fungsi lain ialah pencerahan moral, etika, kesadaran hukum, kesadaran lingkungan, kesadaran bermasyarakat, dan sebagainya." (hlm. 154-155)
Suatu ketika ia didatangi seorang kakek berjubah putih yang tiba-tiba saja menurunkan mantera penjinak ular kepadanya. Dengan begitu, ia menjadi teman sekaligus pawang ular dadakan. Ular ini sesungguhnya menjadi pembawa pesan dari Kuntowijoyo tentang pentingnya kesadaran lingkungan.
"Ular hanya lambang."
"Saya sudah tahu lambang apa."
"Tahu? Apa, coba!"
"Lingkungan." (hlm. 136)
Sebagai Dalang, berkali-kali AKS mengadakan pertunjukan wayang yang berisi pesan tentang lingkungan dan nasihat politik untuk para pejabat. Ki Abu Kasan Sapari memang tidak berpolitik, tapi ia sering membantu rakyat melalui wayang. Dalam novel ini seringkali menyajikan skenario wayangan yang ditulis oleh AKS. Salah satunya adalah skenario berjudul "Bambang Indra Gentolet Takon Bapa" pada halaman 65-81.
Seni adalah lambang. Cerita di bawah ini (Bambang Indra Gentolet) mengisahkan partisipasi rakyat dalam pemerintahan. Itulah esensi demokrasi, kedaulatan rakyat, menurut dalang Ki Abu Kasan Sapari. Abu sadar betul bahwa wayang harus menghibur, jauh dari semboyan-semboyan politik, wayang harus tampak tanpa beban apa pun. (hlm. 65-66)
FYI, Kuntowijoyo memiliki darah seniman sekaligus ulama dalam tubuhnya. Dalam buku "Kuntowijoyo dan Karyanya" karya Wan Anwar, dikatakan bahwa Ayahnya adalah seorang dalang dan pembaca macapat, sedangkan Eyang Buyutnya seorang khathath (penulis mushaf Al-Qur'an). Maka, tidak heran jika dalam setiap karyanya, Kuntowijyo selalu menyisipkan pesan tentang sastra dan budaya Jawa, sekaligus dakwah agama Islam.

Soal benturan mistis dan Islam juga menjadi bagian dari cerita, terdapat pada halaman 256-259. Diceritakan AKS ingin membuang mantra penjinak ular karena kekasihnya tidak menyukai keberadaan ular sebagai klangenan. Eyang buyutnya mendatangi AKS dan merestuinya untuk meninggalkan mantra itu, sementara Kakek jubah putih yang menurunkan mantra itu memperingatkannya supaya jangan asal membuang mantra itu kalau tidak mau susah mati. Beruntung ada Haji Syamsuddin yang meneguhkan AKS untuk tetap menjadi orang beriman.
Eyang buyut:"Buang saja mantra itu, yang kau perlukan ialah ilmu, teknologi, dan doa, bukan mantra."
Kakek jubah putih:"Begini. Kau terikat dengan perjanjian. Mantra penjinak ular itu harus langgeng, diturunkan dari generasi ke generasi. Jadi kau tidak bisa membuang begitu saja. Saya dulu juga mencari orang yang cocok dengan ilmu itu sampai tua. Kau tidak akan mati-mati sebelum menurunkan ilmu itu. Mengerti?"
Haji Syamsuddin:"Jangan percaya! Itu gombal, itu sampah. Kau orang beriman. Karenanya malahan kau wajib memutuskan mata rantai sirik itu. Sekarang zaman modern, bukan zamannya mantra lagi." (hlm. 258-259)
Tokoh AKS sekilas mirip dengan Wasripin (dalam novel "Wasripin dan Satinah") yang serba bisa dan menjadi pengayom masyarakat. Bedanya Wasripin kurang pendidikan, terlalu polos, dan menerima takdirnya yang tragis. Sementara AKS berpendidikan, pantang menyerah, dan syukurlah nasibnya lebih baik.

Seperti dalam "Wasripin dan Satinah", Partai Randu (mungkin maksudnya partai pemerintah zaman orba, partai lambang beringin) juga menjadi bagian utama dalam alur novel ini. Yang menjadi sedikit berbeda, jika dalam "Wasripin dan Satinah", nama Presiden Sadarto dijadikan alias untuk presiden orba, dalam novel ini, nama tersebut ditulis dengan gamblang, Presiden Soeharto.

Kuntowijoyo selalu menampilkan banyak kejutan dalam karya-karya. Dan inilah yang juga terdapat dalam "Mantra Penjinak Ular". Meskipun tidak selucu "Pasar", novel yang satu ini tetap menyajikan hal-hal yang menarik untuk direnungkan. Mari, lur-sedulur, bacalah, renungkanlah. :)

Catatan untuk editor dan penerbit: Meskipun dalam kata pengantar dikatakan sudah ada pengoreksian untuk redaksi, saya tetap menemukan banyak kesalahan yang tidak perlu. Ya, tidak perlu ada kesalahan lagi mengingat cetakan yang saya pegang saat ini adalah edisi cetak ulang dalam rangka peringatan ulang tahun penulis yang lahir pada 18 September 1943.

4 bintang.

Data buku

Judul: Mantra Penjinak Ular
Pengarang: Kuntowijoyo
Tebal: 274 halaman
Penerbit: Kompas; Cet. kedua, 2013 (Cet. pertama tahun 2003)

Pasar

|

Akhirnya, selesai juga dengan novel Kuntowijoyo yang satu ini. Bayangkan saya harus tidak tidur demi menghabiskannya. Sebenarnya lebih dikarenakan ajimumpung anak sedang tidur pulas sih, kalau tidak wah bisa kacau konsentrasi saya membaca buku sebagus ini.

OK, langsung saja ya, PASAR adalah novel yang jempolan. Kuntowijoyo selalu membahas sifat dan karakter khas manusia seperti karya-karya lainnya. Yang menjadikannya berbeda adalah PASAR disampaikan dengan segar dan kocak. Kalian akan bertemu dengan empat tokoh utama yang wataknya saling bersilangan seperti Pak Mantri Pasar, Kasan Ngali, Siti Zaitun, dan Paijo.

Pak Mantri Pasar adalah orang Jawa yang terpelajar. Ia menjadi panutan karena pengetahuannya dan sifatnya yang lembut dan santun. Ia juga menganut paham feodal dimana priyayi sepertinya harus dihormati. Sementara Kasan Ngali adalah orang Jawa yang menjadi pemilik modal. Ia menganut paham kapitalis yang selalu menilai segala hal dengan uang. Ada lagi Siti Zaitun, sosok perempuan muda yang menjadi pegawai bank. Ia mewakili manusia modern yang berpikiran logis dan praktis. Yang terakhir adalah Paijo, si tukang karcis yang menggambarkan orang bawahan yang harus manut kepada atasan. Dan oh, jangan lupakan Camat dan pegawainya, serta Pak polisi dan anak buahnya. Meski hanya sisipan belaka, mereka memegang peranan penting sebagai perwakilan birokrasi. Dan mereka semua pun orang Jawa belaka.

Lewat pasar yang menjadi latar belakang, dan juga para tokohnya ini, kita akan mendapatkan banyak pesan penting. Saya katakan banyak karena pesannya memang ndak cuma satu. Dan inilah yang menjadi kelebihan Kuntowijoyo. Ia meramu pesan-pesan itu dengan mengalir dan tidak tumpang tindih. Pesan-pesan itu diutarakan lewat kelakuan para tokohnya yang terkadang bikin pembaca terkekeh.

Diantara pesan yang banyak itu, hanya satu yang sepertinya sangat ditonjolkan yakni sastra dan budaya Jawa. Hal ini banyak digambarkannya lewat sifat, karakter, dan pemikiran Pak Mantri Pasar. Sepertinya Kuntowijoyo ingin mengutarakan keresahannya tentang perubahan sosial di tahun 70an, dimana masyarakat zaman itu mulai melupakan budaya asalnya sendiri dan menyenangi segala hal yang modern.

Pada akhirnya, buku ini memang sangat layak dibaca. Tidak hanya untuk kalangan sastrawan, namun juga kalangan awam seperti kita. Percayalah, novel ini, meskipun topiknya tidak ringan, namun ia enteng dibaca dan menggelitik.

5 bintang untuk novel ini! I love this book so much! :)


Data buku

Judul: Pasar
Pengarang: Kuntowijoyo
Cetakan: I, Februari 2017 (terbit pertama kali 1994 oleh Bentang Budaya)
Tebal: 378 halaman
Penerbit: Diva Press dan Mata Angin (atas kerjasama)
ISBN: 978-602-391-373-2

Kilas Buku: Khotbah di atas Bukit

|


Baru kemarin saya menulis ulasan "Khotbah di atas Bukit" untuk dikirimkan ke salah satu media daring. Entah kali ini akan dimuat ataukah tidak. Yang jelas, kali ini saya kembali menulis ulasan tentang buku yang sama dengan bahasa yang lebih ringan. [update] Ternyata resensi saya dimuat di situs basabasi.co, boleh dibaca yuk di sini.

Bagi saya, karya-karya Kuntowijoyo adalah sastra yang sederhana dan mudah dicerna tanpa mengurangi keindahan maknanya. Namun "Khotbah di atas Bukit" sepertinya sedikit berbeda dari karangan Kuntowijoyo lainnya. Ia dipenuhi simbol kehidupan yang harus dimaknai sendiri oleh para pembaca. Sehingga orang awam seperti saya sedikit kesulitan memahami maksud dan jalan cerita yang berusaha ditampilkan penulis.

"Khotbah di atas Bukit" bercerita tentang seorang lelaki tua bernama Barman yang ingin menghabiskan masa tuanya dengan tenang. Maka ia pun tinggal di sebuah rumah di gunung bersama seorang perempuan muda bernama Popi. Barman sangat bahagia karena ia dapat menghabiskan sisa waktunya hanya dengan leyeh-leyeh dan mereguk segala isi dunia; kenyamanan dari rumah, kehangatan bersama Popi, dan keindahan dari bukit dan bunga-bunga.

Suatu ketika ia bertemu Humam yang mengajaknya untuk memandang hidup dengan sudut pandang yang berbeda. Humam berkata ia telah meninggalkan semua yang ia miliki. Dan ia berpendapat kematian adalah sesuatu yang tidak menyakitkan. Ia malah membebaskan jiwa dan raga. Barman terkesan dengan kata-kata Humam. Ia pun berubah, ingin mengikuti kata Humam. Popi, dan semua keindahan berani ia tinggalkan.

Seperti karya Kuntowijoyo lainnya, "Khutbah di atas Bukit" memiliki tema yang serupa. Ia mengusung dua hal yakni kehidupan dan kematian. Sebelum bertemu dengan Humam, Barman adalah manusia yang suka bersenang-senang. Ternyata kesenangan itu semu semata. Pada akhirnya manusia akan kembali sendirian dan kesepian. Itulah yang diputuskan oleh Barman pada akhirnya.

Saya sejujurnya tidak terlalu suka dengan jalan penceritaan yang dipilih kali ini oleh Kuntowijoyo. Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, mungkin karena ia menggunakan banyak simbol yang tidak dimengerti oleh orang awam. Saya mengerti isi cerita yang disampaikan, sayangnya hal itu tidak dibarengi dengan kemudahan alur cerita. Padahal kalau dibuat lebih mudah, akan ada banyak pembaca yang menerima pesan yang tersirat, seperti orang-orang pasar yang mengikuti Barman dalam cerita.

Tiga bintang untuk buku ini.

Data buku

Judul: Khotbah di atas Bukit
Pengarang: Kuntowijoyo
Cetakan: I, Mei 2017 (terbit pertama kali 1976)
Tebal: 223 halaman
Penerbit: Diva Press
ISBN: 978-602-391-403-6

Kilas Buku: Wasripin & Satinah

|


Wasripin tidak punya siapa-siapa kecuali Emak Angkatnya. Oleh Emak ia dirawat dan diberi pendidikan sekadarnya hingga ia tumbuh dewasa. Dari Emak pula ia tahu bagaimana rasanya puas berhubungan dengan perempuan. Suatu ketika Wasripin tidak ingin tinggal bersama Emak Angkat lagi. Ia ingin mandiri sekaligus mencari kampung asal orang tuanya. Maka pergilah ia ke suatu Kampung Nelayan di pesisir utara Pulau Jawa. Di sanalah ia akan hidup sebagai orang yang disegani sekaligus dianggap musuh.

Satinah memiliki nama asli Satiyem. Malah sebenarnya ia diberi nama Waliyem ketika lahir. Namun karena nama Waliyem dirasa begitu berat, Satinah kecil sering sakit. Akhirnya nama Satiyem muncul setelah konsultasi dengan orang pintar. Nama Satinah adalah pemberian dari Ketua Partai Randu ketika ia bernyanyi di Kampung Nelayan. Sejak sambutan yang hangat itu, ia dan pamannya mulai menetap di sana.

Pak Modin hanyalah Imam Surau kampung nelayan yang bijaksana. Bagi para warga, ia adalah pemimpin mereka meskipun tidak resmi menjabat sebagai lurah atau kades. Pak Modin memang terpilih sebagai kades resmi, namun kemenangan dan pelantikannya dibatalkan.
Pak Modin meraih kemenangan. Tetapi, Danramil masih minta Pak Modin bersaing dengan kotak kosong.
Dalam rapat Muspika, Danramil menunjukkan surat dari Kodim yang ditandatangani Wadandim supaya tidak ada pelantikan Kades. (hlmn. 83)
Pak Modin disegani warga karena kearifannya. Namun ia juga dimusuhi partai, dan kalangan atas karena ia Golput.

Lagi-lagi, saya agak kesulitan membuat resensi untuk karya pak Kuntowijoyo yang satu ini. Karena "Wasripin & Satinah" bukan sekedar novel yang penuh sindiran. Ia gambaran sang penulis akan mental Bangsa Indonesia dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan bawah kota Jakarta yang miskin dan harus puas tinggal berhimpitan di tepi kali. Hingga pejabat militer yang tugasnya menangkap orang yang belum tentu bersalah.

Intinya, Kuntowijoyo menggambarkan Orde Baru, yang dalam buku ini disebut dengan "Orde Konstruksi" (hlmn. 150). Tiga partai yang ada di zaman Orde Konstruksi disebut sebagai Partai Randu, Partai Langit, dan Partai yang bergambar binatang. Presiden Soeharto dari jalan Cendana disebutnya sebagai Presiden Sadarto dari Jalan Cempaka. Dan saya rasa MUI (yang sejarah pembentukkannya memang dianggap sebagai tangan Soeharto untuk mengkondisikan umat Islam) dinamakan sebagai Badan Pengawas Agama dalam novel ini.

Pemerintah digambarkan sama tidak rasionalnya dengan rakyat kalangan bawah yang kurang pendidikan. Jika rakyat selalu mengandalkan klenik dan kepercayaan lainnya dalam menjalani hidup, pemerintah mengandalkan pencarian kambing hitam untuk segala penyelesaian masalah.

Masalah di dunia "Wasripin & Satinah" sebenarnya nihil alias tidak ada yang besar. Masyarakat hanya ingin hidup aman dan tentram di bawah pemimpin yang mereka percayai. Namun pemerintah Orde Kontruksi seperti ketakutan kepada hantu dan musuh yang tidak nyata. Ia takut pada golput, maka haruslah dihabisi si Modin dan Wasripin yang menyebabkan warga golput. Maka, yang saya simpulkan, pemerintah justru menjadikan masyarakat sebagai musuhnya sendiri. Ia takut akan kekuatan masyarakat yang mungkin sewaktu-waktu mengancam kedudukan mereka.

Hmm, kenapa harus takut? Takut berarti ada apa-apa. Takut berarti mereka punya dosa besar. Jika memang niatnya membuat negeri ini menjadi negeri yang aman dan nyaman dengan bangsa yang besar, maka yang harus dilakukan adalah mencari solusi yang baik, bukan membungkam kambing hitam yang lugu. Atau mencuci otak para kambing hitam seolah mereka merasa sebagai "the real" pembuat makar.
Sebuah jip hijau berhenti. Tiga orang tentara turun. Mereka memapah seseorang berpiyama yang lusuh, lalu menaruh orang tua itu di tepi jalan.
Seseorang lewat dengan sepeda motor. Orang itu berhenti.
"Pak Modin! Pak Modin!"
Orang tua itu diam saja, menatap dengan kosong. Orang tua itu mengulurkan tangan.
"Kenalkan saya Mister Mudin, Presiden NII."
"Bukan. Tapi Pak Modin, iman surau TPI."
"Saya berani sumpah. Pengangkatan sudah saya tanda tangani. Disaksikan dua kopral, bersenjata lengkap."
"Tidak Pak."
"Lha, siapa saya?"
"Pak Modin! Pak Modin!"
Mereka membentuk ekor panjang. Para lelaki sesenggukan dan para perempuan menangis. (hlmn. 246 - 247)


Data buku

Judul: Wasripin & Satinah
Penulis: Kuntowijoyo
Paperback, cetakan ke-2, 250 halaman
Penerbit: Kompas, 2013
ISBN: 9789797097448

Kilas Buku: Dilarang Mencintai Bunga-Bunga

|

Teh tawar panas dan sebuah buku alm. pak Kuntowijoyo terletak di hadapan. Seketika saya terkenang momen pertama kali membaca karya beliau, kumcer "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga" sebelas tahun silam. Rasanya tak menyangka dapat memiliki (baca: membeli) kumcer berjudul sama meski dengan sampul dan terbitan yang berbeda. Ketika membaca ulang karya tsb, saya memiliki gairah dan ketakjuban yang sama. Saya pun berpendapat bahwa sebuah karya yang bagus tidak pernah akan membosankan meski berulang kali dibaca.

Siapa yang tidak mengenal alm. Kuntowijoyo? Ah ya, mungkin memang ada beberapa pembaca yang belum mengenal beliau, seperti saya yang juga belum banyak tahu tentang dunia sastra Indonesia. Kuntowijoyo adalah salah seorang sastrawan, sejarawan, sekaligus akademisi yang mumpuni di Indonesia. Ia telah menghasilkan banyak karya sastra dalam bentuk esai, prosa, puisi, cerpen, novel dan drama. Karya beliau yang akan saya ulas di sini adalah kumcer yang judulnya telah saya singgung di atas.
Buku cetakan lama, diterbitkan pertama kali tahun 1992.
Buku inilah yang menjadi perkenalan pertama saya dengan Kuntowijoyo.

Buku ini adalah kumpulan cerita yang terdiri atas sepuluh cerpen. Cerpen yang pertama dan utama disajikan adalah "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga". Cerpen itu pernah memenangkan juara pertama dalam sayembara majalah Sastra pada tahun 1968. Bercerita tentang seorang anak laki-laki yang bersahabat dengan tetangganya, si kakek penikmat tanaman bunga. Banyak yang diajarkan kakek kepada si cucu baru. Bunga digambarkan sebagai perasaan yang halus dan jati diri yang sesungguhnya. Sementara keributan dalam kerja digambarkan sebagai nafsu dunia yang membuat manusia menjadi tamak. Kuntowijoyo menyimpulkan bahwa manusia haruslah mampu menggabungkan kekuatan hati, akal, dan tenaganya untuk mencari kebahagiaan sejati. Terlalu berat pada satu sisi bisa jadi akan memiliki akibat yang kurang baik. Namun pada akhirnya manusialah yang memilih sendiri jalan mana yang akan mereka tempuh.
Malam hari aku pergi tidur dengan kenangan-kenangan di kepala. Kakek ketenangan jiwa-kebun bunga, Ayah kerja-bengkel, Ibu mengaji-masjid. Terasa aku harus memutuskan sesuatu. Sampai jauh malam aku baru akan tertidur. (Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, hlm. 28)
Ada beberapa cerpen yang saya sukai selain satu cerpen di atas, yakni, "Anjing", "Samurai", dan "Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah". Pada cerpen "Anjing", dan "Samurai", Kuntowijoyo menggambarkan kehidupan rumah tangga, khususnya lika-liku pasangan yang baru menikah. Ada campuran perasaan marah, sedih, sebal, kasihan, dan lucu dalam cerita ini, yah laiknya hubungan yang baru bersemi. Saya bertanya dalam hati kalau-kalau proses pengerjaan cerita terjadi ketika si pengarang sendiri belum lama menikah dengan pasangannya. Ya wajar saja jika inspirasi tema keluarga muda menjadi tema utama pada dua cerpen tsb.

Sementara pada cerpen "Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah", memiliki tema yang sama dengan "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga", yakni menceritakan tentang hubungan persahabatan tidak langsung antara seorang kakek dan anak kecil. Gerobak yang dibawa kakek untuk bekerja adalah titik persoalan, namun justru itulah yang mendekatkan ia dengan tetangga barunya (seorang ayah muda) dan anaknya yang kemudian dianggap cucu. Tokoh kakek dan gerobaknya mewakili urusan kerja sekaligus ibadah. Tokoh bapak muda yang juga guru sekolah, mewakili urusan keilmuan. Sementara tokoh balita mewakili kertas putih polos yang siap menerima apapun sebagai asupan hidupnya.

Saya masih ingat, "Gerobak Berhenti di Muka Rumah" juga pernah diadaptasi sebagai film televisi di TVRI dengan Chaerul Umam sebagai sutradaranya. Tokoh-tokohnya diperankan oleh Jerio Jeffry, Berliana Febryanti, dan HIM Damsyik. Rasanya senang sekali sewaktu tahu cerita sebagus ini diadaptasi menjadi tontonan layar kaca.

Secara umum Kuntowijoyo memang selalu memakai tokoh kakek dan anak laki-laki sebagai karakter utamanya. Namun bukan berarti ia tak suka menjadikan perempuan sebagai salah satu karakternya. Malah seringkali perempuan digambarkan sebagai istri yang cerdik dan banyak akal, juga ibu yang pengasih kepada anaknya. Yah walaupun, perempuan juga sering digambarkan sebagai orang yang cerewet setengah mati dan gampang berubah perasaannya. Ah ini yang bikin saya senyum-senyum sendiri, mungkin karena memang begitu adanya ya. 😊

Pada akhirnya, kumcer Kuntowijoyo selalu menggunakan pendekatan sastra profetik untuk menyampaikan pesan. Menurut Wan Anwar (Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, hlm. 8-9), sastra profetik adalah sastra yang mengusung humanisasi (amar ma'ruf), liberasi (nahyi munkar), dan transendensi (tu'minu billah). Itulah yang menjadikan karya-karya Kuntowijoyo selalu enak dibaca. Dan para penggemar sastra Indonesia tentunya tidak akan melewatkan karya yang satu ini begitu saja. Seperti kata Aan Mansyur, ini adalah salah satu kumpulan cerita pendek Indonesia yang harus dibaca setidaknya sekali seumur hidup.

Data buku

Judul: Dilarang Mencintai Bunga-Bunga
Pengarang: Kuntowijoyo
Tebal: 292 halaman
Cetakan: Paperback, Cetakan I, Juni 2016 (Pernah diterbitkan oleh Pustaka Firdaus 1992)
Penerbit: Noura Books
ISBN: 978-602-385-024-2

Kilas Buku: Belenggu

|


Sukartono, seorang dokter lulusan Geneeskundige Hooge School Betawi, sekolah dokter terkemuka di Betawi, sedang gundah. Ia tiada habis pikir tentang istrinya, Sumartini, akhir-akhir ini. Perempuan cantik itu selalu saja kusut air mukanya ketika melihat Tono.
Tini seolah-olah hendak menimbulkan marahnya saja. Adakah disengaja, pura-pura lalai? Sandalnya harus tetap didekat kerosi ini, kalau dia baru pulang, kalau di bloc-note tidak ada tertulis nama dan alamat orang, dia hendak terus saja duduk senang-senang,... (hal. 17)
Dalam beberapa minggu ini isterinya sudah biasa pergi, tidak meninggalkan pesan apa-apa. Kalau dia baru pulang, air mukanya, sikapnya seolah-olah menantang, menanti dokter Sukartono bertanya, dia kemana tadi, tetapi dokter Sukartono diam saja. (hal. 17)
Kegalauan Tono membawanya kepada seorang perempuan bernama Nyonya Eni (kemudian hari diketahui ia bernama asli Rohayah dan juga penyanyi dengan nama panggung Siti Hayati) yang pura-pura sakit dan hanya ingin merayu si dokter ke dalam buaiannya. Awalnya Tono kuat iman. Ia tetap berlaku sebagai dokter terhadap pasiennya. Namun kegundahan Tono terhadap Tini justru membawanya kembali kepada Rohayah, si bunga raya itu.
Dokter Sukartono senyum. Dia tahu rupanya aku akan datang kembali. "Dia.... mengharapkan aku datang," melintas lambat-lambat dalam hatinya.
Perempuan, sebenarnya perempuan. (hal. 32)
Pernikahan Tono dan Tini di ujung tanduk. Tono semakin terbuai oleh kemesraan Rohayah, sementara Tini menyibukkan diri dengan banyak kegiatan organisasinya. Kasak-kusuk tidak sedap tentang pernikahan mereka terdengar santer. Tono tiada mengerti karena asyik dengan bunga raya. Sementara Tini berusaha kuat dan maklum mengandung resiko kalau ia yang akan disalahkan sebagai penyebab retaknya rumah tangga mereka berdua.
"Saya yang akan disalahkan orang. Biarlah!" Kata Tini menyambung kalimat. (hal. 54)
Cerita mencapai klimaks ketika Tini menghampiri madu suaminya. Tini dan Yah beradu pandangan di sana. Banyak perkataan Yah yang membuat Tini merenung.
"Kalau engkau pelihara dia baik-baik, kauturut kemauannya, begitu juga kesukaannya yang kecil-kecil, tapi sangat dihargakannya, dia tiada akan datang kepadaku," (hal. 133)
Sementara itu Tono berdiskusi dengan paman Tini, Mangunkusumo, yang sudah mengetahui riak-riak rumah tangga mereka. Tono sempat setuju dengan usulan Mangunkusumo untuk berbaikan dengan Tini.
"Benarlah, Tono, siapa tahu nanti baik juga."
"Moga-moga demikianlah, paman."
"Besok kunasihati lagi Tini." (hal. 128)
Lalu apakah Tono akan kembali lagi kepada Tini, atau tetap berpaling menuju Rohayah? Apakah Tini juga tetap berkeinginan mempertahankan perkawinan mereka berdua? Dan bagaimana dengan Rohayah, apakah ia punya pilihan? Masing-masing karakter memiliki kebebasan untuk memilih jalannya.
Pintu kemakah itu! (hal. 150)

Psikoanalisis

Pada awalnya novel ini berjudul "Pintu Kemana?", seperti yang dikatakan Arjmin Pane dalam kata pengantar untuk cetakan keempat. Namun ketika akan diterbitkan oleh penerbit Pudjangga Baru tahun 1940, diubahlah judulnya menjadi "Belenggu".

Banyak pengamat sastra yang mengatakan novel Belenggu ini merupakan novel psikologis, dimana tokoh-tokoh utamanya memiliki karakter yang menarik untuk dibahas. Masing-masing dari mereka punya latar belakangnya dapat diteliti dengan teori psikoanalisa Sigmund Freud. Arjmin Pane sendiri memang senang bereksperimen dengan mempermainkan perasaan para tokoh. Dibiarkannya para pembaca ikut andil, larut dalam cerita. Dan pada akhirnya, tidak ada solusi yang diberikan. Arjmin Pane menyerahkan semua keputusan kepada para pembaca.
Pintu kemanakah itu! (hal. 150)
Ya, pintu kemanakah itu yang akan mereka tuju. Boleh jadi Rohayah dan Tini akan berubah pikiran untuk tetap mempertahankan Tono. Lalu mereka akan berkelahi dan membiarkan Tono memilih. Boleh jadi juga Tono dan Tini bersedia memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk akur kembali dan melepaskan Yah pergi jauh ke negeri seberang. Boleh jadi juga Tini akan kembali kepada kekasih lamanya, Tono akan kembali juga kepada Rohayah, dan kemudian mereka berbahagia dengan pasangan baru masing-masing.

Semua itu tergantung imajinasi pembaca. Si pengarang sudah memberi asupan berupa latar belakang masalah dan karakter para tokoh. Dan ia membiarkan para pembacanya membuka pintu pilihannya masing-masing. Memang nasib orang tiada yang akan tahu, karena orang tersebut yang menentukannya sendiri. Begitulah kira-kira pesan Arjmin Pane yang saya tangkap.

Bahasa Indonesia peralihan

Membaca Belenggu berarti harus siap dengan tata bahasa peralihan. Jangan harap akan menemukan tata bahasa seperti yang biasa kita temukan dalam naskah terjemahan atau malah alay ala remaja masa kini . Novel "Belenggu" ini dibuat pada tahun 1930-an, sekitar lima belas tahun sebelum Indonesia merdeka. Ketika itu bahasa Indonesia belum seperti sekarang yang sudah punya berjilid-jilid KBBI. Bahasa Indonesia jaman itu masih dipengaruhi bahasa Belanda, dan juga bahasa daerah secara kental.

Arjmin Pane, dalam kata pengantarnya, berkata bahwa buku ini (Belenggu) baik bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Maka, daftar kata bahasa asing (maksudnya bahasa Belanda) yang semula hendak dihilangkan, tetap dibiarkan begitu saja. Supaya para pembaca dari angkatan milenia seperti kita ini dapat menelusuri permulaan bahasa Indonesia digunakan ketika itu.

Paus Sastra Indonesia, H.B, Jassin, juga mengatakan hal yang sama, bahwa "Belenggu" bukan untuk ditiru, melainkan untuk diperlihatkan kepada generasi masa depan bangsa Indonesia, betapa besar perjuangan yang ditempuh nenek moyangnya untuk mencapai kemajuan zaman.

Kesan

Karena saya lahir jauh setelah tahun 1940an, maka saya tidak akan memberi kritik tentang "Belenggu". Saya hidup dewasa pada zaman lubernya informasi. Sebagian besar penduduk Indonesia sudah mafhum dengan adanya keterbukaan informasi, bahkan tentang isu retaknya rumah tangga orang sekalipun. Maka saya tidak akan menganggap "Belenggu" sebagai novel tabu karena membuka perasaan para tokohnya tentang tema perselingkuhan, atau sebagai novel porno karena memakai  bunga raya (sekarang disebut dengan pelacur) sebagai tokoh utama.

Bagi saya "Belenggu" adalah sastra yang berani pada zamannya. Sehingga banyak kritik yang dituai ketika itu. Malah penerbit sekelas Balai Pustaka tidak mau menerbitkannya sebagai buku. Pada akhirnya, buku ini malah dianggap sebagai novel romansa modern pertama di Indonesia.

Buku ini memang menjadi rekomendasi wajib bagi para pembaca yang ingin mengenal sejarah sastra Indonesia. Masih banyak celah yang dapat dibahas bersama. Akhir kata, selamat menyelami dunia romansa ala klasik modern pra kemerdekaan Indonesia.

Data buku

Judul: Belenggu
Penulis: Arjmin Pane
Cover: Damang C. Sarumpaet
ISBN: 979-523-046-8
Format: Paperback
Cetakan ke-: duapuluh dua, 2010
Tebal: 159 halaman
Penerbit: Dian Rakyat

Kilas Buku: Rashomon (Kumpulan Cerita)

|

Rashomon

Seorang pria nongkrong di pintu gerbang sebuah kota yang sudah hancur. Gerbang itu disebut Rashomon. Gerbang dan kota hancur itu bukan ide yang baik bagi manusia untuk menetap. Karena di sana tempat bagi mayat-mayat bergelimpangan yang membusuk. Mayat-mayat itu kebanyakan tidak dikenal, mati karena wabah, atau karena tidak ada orang hidup yang mau mengurusnya. Kota itu juga tempat bagi gagak-gagak yang berpestapora memakan bangkai manusia.

Si pria berjalan dalam gelap dan bersembunyi di suatu bangunan. Lapar. Juga takut dibunuh. Hingga ia bertemu seorang nenek yang sedang mencabuti rambut seorang mayat perempuan. Ia marah dan benci kepada nenek itu, namun apa yang harus ia perbuat di dunia yang sedang kacau ini?

Lainnya (terutama Kappa dan Shiro atau Kuro)

Rashomon hanyalah salah satu dari kumpulan cerpen dan kispan (novelet) yang ada di buku ini. Rata-rata, isi ceritanya memiliki kesimpulan yang sama, yakni tentang dunia dan kelakuan manusia yang terbalik, tidak seharusnya, dan mungkin amoral. Ketika keadilan berarti harus menjatuhkan yang orang lain, atau ketika penyelamatan berarti harus membunuh sebagian besar yang hidup.

Yang paling mendapat perhatian dari saya adalah kispan (kisah panjang) yang berjudul Kappa. Saya rasa, kappa adalah hewan khayalan daripada Akutagawa.
Orang masih setengah percaya mengenai keberadaan hewan ini. Hal ini tak perlu diragukan lagi sekarang, karena aku sendiri hidup di tengah-tengah mereka. Mereka berambut pendek, tangan dan kakinya memiliki selaput di antara jari-jari kaki .... (hal. 39)
Dan melalui kappa, Akutagawa menyalurkan uneg-unegnya tentang manusia. Maka ia membuat banyak kappa. Kappa si hakim, kappa si penyair, kappa si pemilik pabrik kaca yang kapitalis, dsb. Dari kappa ia juga menghayalkan tentang belajar agama, adanya Tuhan.
"Pokoknya kami harus percaya pada kekuatan lain, selain kappa."
Kata-kata Mag inilah yang mengingatkanku pada agama. Karena aku materialis, tentu saja sebelumnya aku memang tak pernah sungguh-sungguh berpikir tentang agama. (hal. 79)
Dikatakan, para kappa juga memeluk berbagai macam agama seperti manusia.
Para kappa ada yang memeluk agama Kristen, Buddha, Islam, Zoroaster, juga agama lain. Tapi yang paling berpengaruh adalah Modernisme atau disebut jua sebagai Seikatsukyo, yakni pemujaan terhadap kehidupan. (hal. 79)
Hmm, sepertinya Akutagawa senang menyentil.

Selain kappa, ada satu cerpen yang menjadi favorit saya: Shiro. Dalam bahasa Jepang, Shiro berarti putih. Dikisahkan tentang seekor anjing berwarna putih susu yang bernama Shiro. Suatu ketika, Shiro melihat anjing lain berwarna hitam bernama Kuro. Kuro tertangkap oleh seorang pemburu anjing dan ia pun diperlakukan tidak baik, Seharusnya Shiro bisa menolong atau mencari bantuan untuk Kuro. Sayang, ia tidak melakukan itu. Ketika kembali ke rumah majikannya, Shiro menjelma menjadi Kuro. Warna kulitnya hitam legam, selegam arang. Tubuh Kuro, namun dalam dirinya tetap Shiro. Anjing putih susu itu tercekat antara perasaan bersalah dan menyesal. Ia harus mencari cara untuk kembali sebagai dirinya sendiri.

Tragis

Kebanyakan cerita bikinan Akutagawa berakhir tragis. Saya tidak tahu apakah ia memiliki misi tersendiri ketika menuliskannya. Misal, untuk menyentil manusia kalau perilaku mereka banyak yang tidak sesuai dengan kemanusiaan. Ataukah Akutagawa hanya ingin menulisnya, seperti apa adanya di dunia yang ia tinggali ini. Tapi menurut saya, Akutagawa hanya terlalu cemas. Dan kecemasannya inilah yang membawanya ke cerita-cerita menarik.

Ah, sayangnya, kecemasan lainnya, akan takut menjadi gila seperti ibunya, membawanya kepada takdir yang tragis. Nyawa Akutagawa berakhir di tangan obat tidur yang berlebihan. :(

Cerita-cerita Akutagawa layak diberi predikat klasik dan sastrawi. Silakan baca dan selami dunia kappa. :)

Informasi buku

Judul: Rashomon (kumpulan cerita)
Pengarang: Akutagawa Ryunosuke
Alih bahasa: Bambang Wibawarta
Tebal: Paperback, 175 halaman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2008 (pertama kali terbit 1915)

Kilas Buku: Drupadi

|

Drupadi adalah seorang dewi yang kecantikannya tiada tara, bahkan banyak yang bilang melebihi kecantikan bidadari. Ia adalah anak dari Prabu Drupada dari kerajaan Pancala. Semenjak kecil Drupadi selalu hidup dalam lingkungan istana. Dipingit! Namun keadaan berubah ketika ayahnya mengadakan sayembara untuk mencari pemenang yang nanti akan menjadi suaminya.

Drupadi agak berkecil hati dengan sayembara itu. Hatinya mulai ingin memberontak. Ah, pikirnya mengapa ia tak bisa memilih suaminya sendiri. Kalaupun bisa ia hanya ingin memilih Kresna yang hanya datang dalam mimpinya. Syukurlah ia mampu meminta Karna mundur dari sayembara. Hingga akhirnya Arjuna datang dan memenangkan sayembara itu bersama tiga saudaranya.

Sejak itulah Drupadi mulai tinggal bersama Pandawa dan menikahi kelimanya sekaligus atas permintaan Dewi Kunti, ibu mereka. Ia tidak hanya merasakan sedikit kesenangan, namun juga banyak penderitaan. Salah satunya adalah ketika Yudhistira kalah di meja judi sehingga Drupadi yang saat itu menjadi taruhan, harus menjadi korban kebiadaban para kurawa.

Sejujurnya, saya pribadi tidak paham tentang kisah pewayangan. Saya hanya mengetahuinya segelintir dari sinetron India, Mahabharata, yang kala itu tayang di salah satu kanal tv swasta. Selebihnya saya malah membaca ulasan dari wikipedia dan blog di dunia maya. Begitulah latar belakang saya mengetahui kisah Drupadi, si perempuan poliandris.

Drupadi tidak menyukai suratan. Kehidupan manusia tidak ada artinya tanpa perjuangan. Jika segalanya telah menjadi suratan, apakah yang masih menarik dalam hidup yang berkepanjangan? (h.100)

Tulisan Seno Gumira Ajidarma, yang lebih senang saya sebut seagai SGA, membuat saya terus mengangguk sepanjang cerita. Tampaknya kata-kata mengalir begitu saja, santai namun meninggalkan jejak. Malah pada beberapa bagian saya ikut terpengaruh pada tokoh Drupadi yang oleh SGA sangat ditonjolkan sisi feminisnya. Sekilas ia mengingatkan saya pada tokoh para pejuang wanita yang saya kenal.

Drupadi, selain mempertanyakan soal suratan, juga digambarkan sebagai perempuan yang berani protes kepada Kresna.

Kresna, engkau sungguh pandai bicara. Tapi engkau belum pernah menjadi korban. Itu masalahmu, Kresna, engkau mengerti segalanya, namun engkau tidak pernah merasakannya. (h. 108)
Sementara Kresna menanggapi Drupadi masih dengan kewibawaannya. Ia menyuruh Drupadi tidak memikirkan dirinya sendiri, karena bukan hanya dirinya yang menderita.

Ingatlah Drupadi, bukan hanya dikau seorang yang menderita. Pandawa juga kehilangan saudaranya, seratus Kurawa dan Resi Bhisma tercinta. Utari yang hamil tua bahkan juga kehilangan suaminya. Tak ada yang menang dalam peperangan. Tak akan pernah ada... (h. 121)

Yah, pada akhirnya, segala dendam hanya akan menimbulkan kesengsaraan.

Buku ini recommended buat mereka yang ingin merasakan sensasi kisah Drupadi di tangan seorang maestro seperti SGA. Sungguh tulisan yang santai, berbunga, namun berjejak.

Informasi buku

Judul: Drupadi
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Tebal: paperback, 152 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 9 Januari 2017

Kilas Buku: Olenka

|


Olenka
Oleh. Budi Darma
264 halaman
Balai Pustaka, 2009 , Cet. 9
Award: SEA Write Award
 

Olenka, novel ini tentu saja memiliki fokus utama terhadap wanita yang bernama Olenka. Tentang pekerjaannya dan kehidupan pribadinya. Digambarkan oleh seorang pria bernama Fanton Drummond, Olenka menjadi tokoh yang agak misterius, tahu kapan ia dibutuhkan dan tahu kapan ia dibuntuti.

Err.. banyak kata-kata dalam otak saya yang tidak mampu saya ungkapkan dalam ulasan kali ini. Terlalu banyak keunikan bahasa dan cerita yang ditawarkan pak Budi Darma. Apa sajakah itu?

1. Dialog Tokoh

Olenka, Fanton dan Wayne dan juga karakter lain dalam buku ini adalah murni orang bule (Amerika). Sudah terpatri secara tak langsung dalam benak kita jikalau para tokoh bule menggunakan dialog berbahasa asing, pun jika menggunakan kata-kata bahasa Indonesia, maka dialog yang mereka punya akan tertulis secara EYD. Lihat buku-buku terjemahan.

Lalu bagaimana dengan dialog para tokoh bule dalam Olenka ini? Para pembaca akan disuguhkan dialog bahasa Indonesia campur Suroboyoan (duh, ini bener gak sih istilahnya haha). Semisal begini:

Maka menghardiklah Albirkin, "Perempuan buduk, kamu mau membunuh saya, ya?" Setelah meludah, Olenka menjawab, "Membunuh sampean, polisi gendeng? Tentu saja tidak. Bukannya saya takut masuk penjara, tetapi saya merasa sayang untuk membuang peluru kalau tidak menimbulkan kepuasan. Saya hanya ingin menakut-nakuti kuda sampean. Kalau saya ingin membunuh sampean, lebih baik saya memasang jebakan di antara dua batu karang besar disana itu. Itu lihat, di sebelah sana. Setelah sampean, terebak, barulah saya melubangi gundul sampean. Bukankan setiap perbuatan harus mendatangkan kepuasan? .." ~ Darma, Olenka, h. 15

Bagaimana? Unik kan?

2. Bukan Hanya Soal Olenka

Yup, buku ini tidak hanya berbicara melulu soal Olenka, namun juga berbagai analisa cerpen, puisi, novel, aliran sastra, dan sejarah. Seperti misal, sebentar buku ini membahas soal Puritan yang ada dalam cerpen berjudul Young Goodman Brown, karya Nathaniel Hawthorne (Penulis novel klasik dan cerpen terkemuka asal Amerika). Lalu sebentar kemudian melalui para tokohnya Budi membicarakan lukisan-lukisan. So, novel ini bukan cuma bercerita kisah percintaan-perselingkuhan seperti novel-novel biasanya.

3. Kliping Foto dan Koran

Novel ini kadang terlihat seperti hasil penelitian dan makalah. Mengapa? Sebab penulisnya menyertakan berbagai kliping berita dan foto yang menjadi inspirasinya dalam menulis Olenka. Dalam kliping tersebut disematkan juga catatan kaki sebagai tambahan informasi.

Kesimpulan saya, Olenka adalah novel yang layak baca, sangat layak baca untuk para penikmat sastra Indonesia.

-------
Mengenai Pengarang (Tulisan dan gambar diambil dari goodreads.com)

Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.

Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).

Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).

Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu.

Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”


Custom Post Signature