Top Social

Showing posts with label Review 2016. Show all posts
Showing posts with label Review 2016. Show all posts

Kilas Buku: Bumi Manusia (Tetralogi Buru #1)

|

Judul: Bumi Manusia (Tetralogi Buru #1)
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Genre: Fiksi Sejarah
Tebal: 535 halaman
Penerbit: Lentera Dipantara, 2005 (pertama kali terbit 1975)

Sinopsis:
Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

"Kita kalah, Ma," bisikku.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." (goodreads)

----

Pada awalnya saya ogah-ogahan mulai membaca buku ini. Saya berpikir buku ini akan seperti roman jadul semacam pujangga lama yang kadang membosankan dibaca. Namun ternyata tidak. Dimulai dari kalimat pertama, saya merasa seperti ada yang menarik-narik untuk terus mengikuti cerita Minke. Sihir! Ya, bisa jadi. Kata-kata yang disusun dengan baik, berdasarkan pengalaman menulis dan sejarah yang baik tentu akan menjadi sihir tersendiri bagi para pembaca.

Buku ini tak ubahnya macam sejarah Indonesia pada masa kolonial di awal abad 20. Ketika itu, para pribumi memang masih banyak yang bodoh, namun setidaknya sudah banyak yang bersekolah walau terbatas pada kalangan priyayi saja. Minke termasuk kalangan priyayi, sehingga ia dapat bersekolah hingga jenjang HBS.

Dari Bumi Manusia saya mendapatkan beberapa kategori karakter yang hidup pada masa itu, yakni;

  • pribumi miskin yang bodoh dan tidak punya kekuatan untuk melawan, 
  • pribumi priyayi (pejabat) yang menjilat orang kulit putih,
  • pribumi terpelajar dan sadar akan perjuangan demi keadilan dan persamaan derajat manusia, 
  • orang kulit putih yang merasa superior pada setiap kesempatan, 
  • dan orang kulit putih yang mengerti akan persamaan hak dan senang memberi kesempatan kepada pribumi untuk menjadi pribadi yang lebih maju.
Maka dari sana saya dapat mengambil kesimpulan, bisa jadi perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonial berlangsung begitu lama karena kesadaran akan kebersamaan dan hak belum sepenuhnya merata pada bangsa kita. Di satu sisi ada kalangan yang masih merasa superior, dan di sisi lain ada kalangan yang sadar bahwa perjuangan melawan kolonial harus dilakukan bersama-sama, tidak memandang tinggi rendahnya kedudukan. Dan kalangan yang kedua ini tidaklah sebanyak kalangan yang pertama sehingga memungkinkan lambatnya kemerdekaan.

Sementara mengenai Nyai Ontosoroh dan puterinya, Annelies Melema, mereka berdua adalah karakter yang berbeda. Nyai Ontosoroh, berbekal pengalaman makan asam-garam dan pahit-manis kehidupan, bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan disegani. Sementara Annelies, tumbuh menjadi karakter yang kekanak-kanakan di bawah bayang-bayang ibunya. Yah, meski sebenarnya Annelies termasuk anak yang cekatan, pintar, dan bertanggung jawab.

Perjuangan Nyai Ontosoroh dan Minke melawan keluarga suaminya sendiri merupakan pengadilan yang tidak berimbang. Namun yang patut diambil dari kondisi mereka adalah, sikap yang tidak mau berdiam diri dan tidak patah semangat. Mereka tetap berjuang meskipun hukum tidak pernah memihak kaum pribumi. Hukum adalah untuk orang-orang kulit putih. Hukum sangat tajam ke bawah dan tumpul ke atas. *sigh*

Buku ini saya rekomendasikan untuk para pembaca yang ingin mendapat gambaran tentang masa kolonial awal abad 20. Meski hanya fiksi, namun Pram (sang penulis) menuliskannya berdasarkan sejarah yang ada. Hal ini dapat terlihat betapa dalam pengetahuan dan risetnya terhadap alur cerita.

5 bintang.

Kilas Buku: Touché: Alchemist (Touché #2)

|

Judul: Touché: Alchemist (Touché #2)
Pengarang: Windhy Puspitadewi
Genre: Remaja, Fantasi, Misteri
Tebal: 224 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2014

Sinopsis:
Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.

Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi. (goodreads)

-----

Ternyata ada buku lanjutan Touché #1! Wow, menarik juga. Buku kedua ini mendapatkan rating yang tidak kalah bagus dengan buku yang pertama. Hmm, mungkin karena Windhy, sang penulis, memiliki topik yang tidak biasa dari buku lainnya. Selain itu kandungan romansa di dalamnya tidak menyek-menyek yang dapat mengaburkan tujuan utama dari alur cerita.

Baik, langsung mulai saja. Awalnya saya pikir buku ini merupakan lanjutan dari petualangan Indra, Dani, dan Riska yang di mana pada buku pertama mereka menemukan teman-teman yang juga memiliki kemampuan istimewa sama seperti mereka. Namun ternyata saya salah, dalam buku kedua ini justru orang lain dan di tempat lain pula yang menjadi fokus utama alur cerita. Bagus juga sih, berarti penulis memang tidak mau terbatas pada tokoh dan cerita yang sudah ada yang bisa jadi membuatnya menjadi monoton. Artinya, pengembangan cerita yang bervariatif akan menjadi lebih seru. Satu-satunya yang menjadi penghubung antara buku pertama dan kedua adalah: Yunus King.

Tokoh remaja yang memiliki kemampuan istimewa dalam buku kedua ini hanya ada satu, yakni Hiro Morrison. Sedikit berbeda dengan buku yang pertama, kasus dalam buku kedua ini ada lebih dari satu, well yah cukup variatif. Karena menurut sinopsis, si tokoh utama menjadi konsultan untuk kepolisian New York, maka saya merasa seperti membaca cerita-cerita detektif ala SMA (baca: ala Conan) atau seperti yang ada di serial TV Amerika. Bahkan saya melihat hubungan antara Hiro dan Karen (temannya) seperti antara detektif Monk dan asistennya.

Sekali lagi, tersangka kasus dalam buku ini cukup mudah ditebak, jika memang para pembaca sedikit mencermati. Well, terlepas dari itu, buku kedua ini juga termasuk fast-paced, dapat dibaca dengan sekali duduk saja. Buku ini juga ringan dan memang cocok untuk bacaan remaja.

4 bintang.


Kilas Buku: Touché (Touché #1)

|

Judul: Touché (Touché #1)
Pengarang: Windhy Puspitadewi
Genre: Fantasi, Remaja, Misteri
Tebal: 208 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Sinopsis:
Selain kemampuan aneh yang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain lewat sentuhan, Riska memiliki kehidupan normal layaknya siswi SMA biasa. Tapi semua berubah sejak kedatangan Pak Yunus, guru pengganti, dan perkenalannya dengan Indra yang dingin dan Dani si juara kelas.

Riska kemudian diberitahu bahwa dirinya adalah touché alias orang yang memiliki kemampuan melalui sentuhan, seperti halnya Indra, Dani, dan Pak Yunus sendiri. Seakan itu belum cukup mengejutkan, Pak Yunus diculik! Sebuah puisi kuno diduga merupakan kunci untuk menemukan keberadaan Pak Yunus.

Dengan segala kemampuan mereka, Riska, Dani, dan Indra pun berusaha memecahkan kode dalam puisi kuno tersebut dan menyelamatkan guru mereka. (goodreads)

-----

Setahun belakangan saya jarang membaca teenlit, khususnya karya penulis Indonesia. Namun entah, saya penasaran dengan buku ini karena banyak teman yang memberi komen dan rating bagus. Baiklah, akhirnya saya baca dan hasilnya, not bad. :)

Buku ini bertema fantasi dengan karakter anak-anak SMA yakni Riska, Indra, dan Dani. Dengan alur maju, penulis menggambarkan bagaimana tiga anak yang memiliki kemampuan tidak biasa ini bertemu dan akhirnya berkumpul dengan seorang guru baru bernama Yunus King. Riska digambarkan sebagai orang yang perasa, mungkin memang cocok untuk Riska karena ia adalah perempuan. Sementara Indra digambarkan sebagai orang yang kelewat dingin, dan Dani yang murah senyum digambarkan sebagai si jenius. Sementara mengenai karakter Yunus King sendiri, tidak terlalu jelas seperti apa bagi saya. Yah mungkin memang itu yang menjadi clue untuk masalah utama cerita ini.

Kasus pada buku Touché #1 ini tidak terlalu rumit, hanya ada satu pokok masalah dengan lintingan twist yang tidak terlalu rumit. Para pembaca sebenarnya juga dapat menebak dengan mudah karena penulis sendiri, menurut saya, membeberkan hidden clue di sepanjang cerita. Contoh kecil, ketika Riska berpapasan dengan seorang tetangga yang buru-buru ingin berangkat ke Solo karena istrinya melahirkan. Dan pada cerita selanjutnya ternyata ada twist yang berhubungan dengan Solo. Entah penulis sengaja atau tidak memberi sedikit clue itu, atau yah mungkin ini dilakukannya tanpa ia sadari.

Buku ini termasuk fast-paced reading, semua orang bisa membacanya dalam sekali duduk. Karena itu tadi, kasusnya yang sederhana dan tidak bertele-tele. Mungkin karena itulah buku ini masuk ke dalam kategori teenlit. Saya acungkan jempol untuk penjabaran dan penyelesaian kasus dalam cerita ini. Cukup jelas dan memuaskan.

3.5 bintang.

Kilas Buku: The Darkest Minds (The Darkest Minds #1)

|

Judul: Pikiran Terkelam
Judul asli: The Darkest Minds
Pengarang: Alexandra Braken
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Genre: Fantasi, Distopia, Young Adult
Tebal: 584 halaman
Penerbit: Fantasious, September 2014 (pertama kali terbit 2012)

Sinopsis:
Ketika Ruby terbangun pada ulang tahunnya yang kesepuluh, sesuatu tentang dirinya telah berubah. Sesuatu yang cukup mengkhawatirkan untuk membuat orangtuanya mengunci dirinya di garasi dan menelepon polisi. Sesuatu yang membuat dirinya dikirim ke Thurmond, 'kamp rehabilitasi' milik pemerintah yang kejam. 

Dia mungkin telah selamat dari penyakit misterius yang membunuh sebagian besar anak-anak Amerika, tapi dia dan anak-anak lainnya harus berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih buruk: kemampuan menakutkan yang tidak dapat mereka kendalikan. Sekarang, saat berumur enam belas tahun, Ruby termasuk salah satu anak yang memiliki kemampuan paling berbahaya.Dan ketika kebenaran terungkap, Ruby pun berusaha mati-matian untuk meloloskan diri dari Thurmond.

Tapi, ada pihak lain yang bekerja, orang-orang yang tidak akan berhenti untuk menggunakan Ruby dalam perjuangan mereka melawan pemerintah. Ruby akan menghadapi pilihan demi pilihan yang buruk, yang mungkin akan berarti menyerahkan satu-satunya kesempatannya untuk hidup.

----

Tokoh:
Kita akan bertemu dengan Ruby, si cewek yang jadi tokoh utama di cerita ini. Kemudian Liam, cowok ganteng yang tampak dewasa dan bertanggung jawab. Chubs, yang sangat jago dengan urusan akademik, dan Zu, gadis kecil yang imut.

Yah, tokoh-tokohnya tipikal fantasi banget hehe. Yang tokoh utama cowok selalu digambarkan dengan ganteng, dan jago, Sementara yang cewek, meski mereka kadang digambarkan sebagai itik buruk rupa, tapi nyata-nyatanya banyak cowok ganteng yang suka sama si cewek. Kadang saya pingin banget menemukan satu saja novel luar yang menggambarkan si tokoh utama cowok tanpa mengandalkan fisik semata.

Alur:
Alur yang disajikan maju mundur. Pertama-tama para pembaca akan bertemu dengan Ruby ketika ia masih kanak-kanak. Kemudian cerita akan melompat pada bagian Ruby berada di kamp bersama anak-anak lainnya. Memang di awal agak sedikit membingungkan, mengapa anak-anak harus ditahan di dalam kamp. Kategori anak berdasarkan kemampuannya pun tidak diutarakan secara jelas; apa itu biru, hijau, kuning, merah, dan oranye. Rupanya Braken menjelaskan kemampuan anak-anak ini sambil jalan alias tidak secara khusus menerangkannya dalam satu bab atau paragraf. Namun tetap saja buat saya, kurang jelas. Hehe..

Kesan:
Saya semestinya sadar, bahwa saya kurang suka dengan genre dystopia, baik itu  adult atau young adult. Alasannya sederhana, saya tidak suka berandai-andai tentang dunia yang hancur atau keadaan umat manusia pasca kehancuran dunia, baik akibat perang ataupun wabah. Bagi saya hal itu menyeramkan. Melihat berita peperangan di televisi saja saya sudah muak, apalagi "dipaksa" membayangkan. Dan entahnya, saya selalu membaca genre sejenis ini ketika saya bosan dengan buku bergenre lain. Ya, mungkin saya juga butuh bacaan seperti ini untuk mengingatkan bahwa kehidupan tidaklah selalu berakhir bahagia. *sigh*

3 bintang.

Kilas Buku: Misteri Kastel Es (Sherlock, Lupin, dan Aku #5)

|

Judul: Misteri Kastel Es (Sherlock, Lupin, dan Aku #5)
Judul asli: Sherlock, Lupin, & Io: Castello Ghiaccio
Pengarang: Irene Adler
Tebal: 258 halaman
Penerbit: BIP, 2015 (pertama kali terbit 2013)

Ini adalah kisah tentang tiga orang remaja detektif yang bernama Sherlock Holmes, Arsene Lupin, dan Irene Adler. Mereka bertiga bersahabat walaupun tinggal di tempat yang berbeda. Tokoh utama dalam serial ini adalah Irene Adler yang dalam nomor ini sudah mengetahui siapa ibu kandungnya. Ketika ia bertemu wanita yang melahirkannya itu untuk pertama kalinya, ia terpaksa harus berpisah lagi dengannya. Namun ia tidak kesepian karena ada Holmes dan Lupin, kedua sahabatnya yang sengaja berkunjung. Kedatangan Holmes dan Lupin juga suatu kebetulan karena ada kasus aneh yang mereka temukan di sekitar hotel tempat Irene menginap. Mereka bertiga menyebutnya dengan misteri kastel es.

Tokoh-tokoh detektif terkenal selalu memiliki kisah lain yang tidak dikarang sendiri oleh pengarang aslinya. Salah satunya adalah buku anak-anak yang sudah saya baca ini. Dan jujur, baru kali ini saya menemukan tokoh Sherlock, Lupin, dan Irene disandingkan, sebagai sahabat kental pula. Tapi syukurlah, ceritanya ringan dan mudah dicerna, khas anak-anak.

Sherlock Holmes digambarkan sebagai remaja yang jenius dan agak serius. Ia merupakan sosok yang senang menganalisa dan berpikir panjang. Sementara Lupin yang juga anak jenius agak berbeda. Ia cenderung lebih humoris dan santai. Dan Irene, si tokoh utama kita, digambarkan seperti cewek remaja biasanya, sedikit rapuh namun tangguh.

Saya senang dengan buku ini. Cocok untuk dibaca anak-anak yang beranjak remaja, meski tak dipungkiri juga cocok dibaca oleh orang dewasa yang senang dengan bacaan ringan dan menghibur.

4 bintang untuk buku ini.

KIlas Buku: White Fang

|

Judul: White Fang
Pengarang: Jack London
Genre: Klasik
Tebal: 330 halaman
Penerbit: Gagasmedia, 2014 (pertama kali terbit 1906)

Sinopsis:
White Fang adalah seekor anjing separuh srigala. Dia lahir dan dibesarkan di dalam hutan liar yang banyak memberinya pelajaran hidup yang keras. Hingga pada suatu saat ia bertemu dengan manusia di dalam hutan yang kemudian membawanya ke luar dari alam yang ganas dan liar itu.
White Fang menjadi binatang peliharaan, diajari menjadi seekor anjing yang baik. Meskipun kemudian ia harus berganti tuan, yang menyiksa dan memaksanya menjadi anjing petarung demi memuaskan keserakahan sang tuan.
Namun akhirnya, ia dipertemukan dengan sosok tuan lain yang penyayang, yang memperlakukannya dengan kasih sayang. (goodreads)

-----

Cerita fabel atau tentang binatang selalu menjadi perhatian saya. Entah, saya mudah tersentuh dengan berbagai hal yang berhubungan dengan binatang. Kali ini cerita yang saya baca adalah kisah klasik karya Jack London yang diterbitkan pada tahun 1906. Ceritanya mengenai seekor serigala-anjing. Si White Fang, begitu ia dinamakan, memang bukan murni seekor serigala. Ia berdarah seperempat serigala dan separuh lebih anjing. Ia dibesarkan dalam kehidupan liar yang memaksanya harus berburu dan membunuh untuk bertahan hidup. Karena itulah ia menjadi berbeda dari anjing biasanya.

Melalui White Fang dan ibunya, saya dapat merasakan bagaimana insting dan sudut pandang seekor binatang, khususnya serigala dan anjing. Ternyata betina dalam kelompok serigala itu cukup berkuasa, bahkan melebihi pemimpin kelompok sendiri. Ia dihormati, dihargai, dan bahkan diperebutkan. Sang betina senang dengan seluruh hal itu. Ia menganggap dirinya piala yang memang pantas untuk didapatkan dengan cara yang tidak mudah.

Saya pun dengan mudah dapat merasakan kebingungan White Fang. Wajar ia begitu bingung, karena pada awalnya lahir dan tumbuh menjadi binatang liar, tiba-tiba harus dipaksa menjadi babu dan mengikuti perintah majikan. Perasaan bingung semakin menjadi ketika White Fang harus berpindah majikan dan diperintah hanya untuk bertarung dan dikurung. Sang anjing-serigala ini pun memendam perasaan benci kepada setiap manusia yang ditemuinya, kecuali majikan pertamanya dulu.

Hingga pada akhirnya ada seorang penyayang yang berhasil mengubah insting liarnya menjadi lembut. Walau begitu, yang namanya serigala tetaplah serigala, walau ia separuh anjing.

Jack London sungguh merupakan penulis yang baik. Ia mampu menggambarkan perasaan seekor binatang yang (mungkin) hampir tanpa cela. Kalaupun yang ia gambarkan adalah salah, berarti ia telah berhasil meyakinkan para pembaca tentang "begitulah kehidupan dari sudut pandang binatang" lewat redaksinya yang sederhana namun memikat.

4 bintang untuk buku ini.

Kilas Buku: Rahasia Bocah dari Masa Lalu

|
22887096

Judul: Rahasia Bocah dari Masa Lalu
Judul Asli: A Good and Happy Child
Pengarang: Justin Evans
Penerjemah: Gita Yulini K.
Genre: Misteri, Horror, Thriller
Tebal: 432 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Juni 2012 (pertama kali terbit 2007)

Sinopsis:
George Davies baru menjadi ayah, namun tak sanggup menyentuh putranya sendiri. Ketakutan itu membuatnya terpaksa berkonsultasi pada psikoanalis, demi menyelamatkan pernikahannya dan memperbaiki diri. Ada yang salah dengan dirinya, tapi apa?

George menggali kembali kenangan masa kecilnya. Berbagai peristiwa aneh muncul kembali ke permukaan, memaksanya mengingat bahwa ibunya berkencan hanya beberapa bulan setelah ayahnya meninggal. Bahwa ada bocah lusuh muncul di kamarnya pada malam hari, dan menceritakan rahasia yang tak seorang pun ketahui. Bahwa orang-orang di sekitarnya tak dapat melihat bocah itu dan tak percaya bahwa dialah biang keladi semua peristiwa mengerikan yang terjadi.

Nyatakah itu semua? Di tengah kebingungannya, kenangan George membawanya ke satu peristiwa yang telah lama terlupakan––peristiwa yang menentukan segalanya...

----

Kurang lebih sama seperti Monster Call dan Lisey's Story, buku ini bercerita tentang seorang yang tertekan. Dalam cerita ini yang dimaksud adalah George Davis. Sejak ayahnya meninggal ketika ia masih kanak-kanak, George melihat seorang anak yang sebaya dengannya. Si anak mirip dengan Huckleberry Finn, berbaju lusuh dan bersifat liar. "Hukleberry" akhirnya menjadi sahabat bayangan George dan kerap kali memberitahu banyak rahasia. Sayangnya rahasia itu salah dan kebanyakan darinya hanyalah dugaan buruk seorang anak yang memendam perasaan sedih tak terkira. Kesedihan dan kegilaan yang dialami George akhirnya membuat ia tanpa sadar menyakiti dan bahkan menghilangkan nyawa orang terdekatnya.

Saya tak pernah membayangkan betapa kepedihan dapat melumpuhkan jiwa dan bahkan akal sehat. Banyak kasus yang terjadi karena orang-orang yang terpuruk menjadi rapuh dan tak sanggup menanggung bebannya sendiri. Kalau sudah begini batas antara kenyataan dan khayalan tidak dapat dibedakan lagi.

Saya berusaha bertahan membaca buku ini, yang anehnya tetap merasa asyik membaca walau saya benci dengan situasi yang dialami George. Saya tidak tahan dengan apa yang terjadi padanya, khususnya ketidakwarasan yang berakibat fatal bahkan hingga ia dewasa. Syukurlah, George memiliki buah hati yang menjadikannya tekad untuk sembuh dan bertahan. Terkadang memang ada hal ajaib di sekitar kita yang menjadi obat mujarab. Dalam kasus George, anak, menjadi satu-satunya jalan untuk sembuh, walau tak dapat dipungkiri niat dan tekad adalah nomor wahid yang harus dimiliki.

3 bintang.

Kilas Buku: The Ghost Writer

|
8064185

Judul: The Ghost Writer
Pengarang: Robert Harris
Penerjemah: Siska Yuanita
Genre: Misteri, Politik
Penghargaan: ITW Thriller Award for Best Novel (2008)
Tebal: 320 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2010 (pertama kali terbit 2007)

Sinopsis:
"Begitu aku mendengar bagaimana McAra mati, seharusnya aku pergi saat itu juga..."

Narator dalam novel terbaru Robert Harris yang menegangkan ini berprofesi sebagai "hantu", alias penulis bayangan---sinis, materialistis, dengan selera humor yang sengak. Dia biasa menulis memoar bintang rock yang sudah memudar dan selebriti nomor dua. Jadi, ketika ditawari berkolaborasi dalam penulisan autobiografi mantan perdana menteri Inggris, dia langsung menyambarnya, terutama karena dengan demikian dia akan diterbangkan ke Amerika untuk mengerjakan proyek itu dalam suasana terpencil di rumah peristirahatan mewah di Martha's Vineyard.

Di tengah upaya tersebut, Adam Lang, sang mantan PM, dituduh melakukan kejahatan perang, dan menjadi subjek penyelidikan Mahkamah Internasional. Alih-alih kembali ke negaranya, Lang malah mencari dukungan dari AS.

Tak butuh waktu lama bagi sang penulis bayangan untuk menyadari dia telah mengambil keputusan keliru. Pendahulunya dalam proyek tersebut meninggal dalam kondisi mencurigakan, dan lama-kelamaan dia pun mendapati bahwa Adam Lang bukanlah seperti persona yang ditampilkannya selama ini. Ada kekuatan badan intelijen besar yang bergerak secara rahasia, dan mengancam keselamatan jiwanya. (goodreads)

----

Yang namanya konspirasi selalu mengundang fitnah, spekulasi, dugaan, prasangka yang tiada pernah habis. Begitu juga apa yang ada dalam buku ini. Mantan PM Adam Lang, yang dituduh melakukan kejahatan perang, mencoba memperbaiki citranya dengan menyewa seorang penulis bayangan. Sayangnya si penulis bayangan ini terlalu ingin tahu apa yang terjadi dengan Lang. Berawal sekedar mencari riset, sang "hantu" malah merubah dirinya menjadi seorang detektif. Dan inilah yang mengancam jiwanya.

Membaca buku ini saya membayangkan, ada berapa puluh ribu konspirasi yang sebenarnya terjadi di muka bumi ini. Banyak juga di antara kasus konspirasi itu yang dilakukan untuk kepentingan banyak umat manusia, katanya. Banyak juga yang berdalih kerusakan dan pembunuhan massal akibat konspirasi hanyalah untuk mencegah bencana yang lebih besar, katanya. Oh my.. Lalu sebenarnya apa yang baik itu? Mana dunia yang baik itu? Haruskah membentuk dunia yang lebih baik dengan konspirasi?

Dan pada akhirnya konspirasi tidak akan pernah terungkap. Ia akan tetap menjadi prasangka "buruk" yang tak pernah habis. Ia akan tetap menjadi topik debat yang tak kan pernah selesai dan keluar dalam bentuk demo yang entah apa tujuannya.

Dan yah seperti konspirasi itu sendiri, buku ini tidak "pernah" rampung. Harris membiarkan para pembacanya menebak-nebak sendiri, atau malah ia mengharapkan para pembacanya untuk maklum karena sesuatu yang berbau konspirasi akan tetap menjadi rahasia kelas atas yang tak pernah tersentuh.

3 bintang.

Kilas Buku: A Thousand Splendid Suns

|

Judul: A Thousand Splendid Suns
Pengarang: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Tebal: 512 halaman
Penerbit: Qanita, 2010 (pertama kali terbit 2007)
Penghargaan: Book Sense Book of the Year Award for Adult Fiction (2008), Exclusive Books Boeke Prize Nominee (2007), California Book Award Silver Medal for Fiction (2007), Abraham Lincoln Award Nominee (2011) 

Sinopsis:
Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam.

Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu.

Hanya akulah yang kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi.

Tak akan ada siapa pun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti!

Kalimat itu sering kali diucapkan ibunya setiap kali Mariam bersikeras ingin berjumpa dengan Jalil, ayah yang tak pernah secara sah mengakuinya sebagai anak. Dan kenekatan Mariam harus dibayarnya dengan sangat mahal. Sepulang menemui Jalil secara diam-diam, Mariam menemukan ibunya tewas gantung diri. Sontak kehidupan Mariam pun berubah. Sendiri kini dia menapaki hidup. Mengais-ngais cinta di tengah kepahitan sebagai anak haram. Pasrah akan pernikahan yang dipaksakan, menanggung perihnya luka yang disayatkan sang suami. Namun dalam kehampaan dan pudarnya asa, seribu mentari surga muncul di hadapannya. (goodreads)

-----

Mariam:
Hidup sebagai Haremi di sebuah kultur yang masih "kolot" sangatlah menyakitkan. Apalagi ia hanyalah anak dari seorang ibu yang berstatus pembantu bagi sang ayah yang berstatus majikan. Tinggal jauh dari kota dan keluarga ayahnya, membuat Mariam tidak mengerti akan nasehat yang selalu ibunya berikan. Ia selalu bermimpi akan menjadi anak bagi ayahnya dan hidup bahagia bersamanya. Sayangnya pilihan hidupnya yang ia jalani dengan penuh tekad malah membuat jalannya semakin curam. Tak pernah ada mimpi kebahagiaan itu. Tak pernah jadi nyata. Ia malah menjadi bulan-bulanan bagi laki-laki yang menikahinya. Sepertinya memang hidup nan bahagia tidak pernah berpihak padanya.

Laila:
Ia memang bukan haremi. Laila hidup dalam keluarga yang cukup kasih sayang. Ayahnya memberikan pendidikan yang cukup untuknya. Ibunya pun sangat mengasihinya. Sayang, saat ia mulai beranjak dewasa, perang semakin menjadi-jadi di Afghanistan. Ia harus kehilangan ibu, ayah, dan dua saudaranya yang telah lebih dulu meninggalkannya. Di tengah hidupnya yang sebatang kara, ia tinggal bersama Mariam dan suaminya. Pada awalnya ia pikir ia akan aman untuk sementara, ternyata tidak. Sambil mengandung benih yang disebut "haremi" ia nekad untuk menempuh hidup baru bersama Mariam dan suaminya.

Setiap kali membaca kisah tentang perang, khususnya di Timur Tengah, saya selalu tidak habis pikir. Rasa-rasanya mereka (kebanyakan mereka) masih hidup dengan setengah pemikiran "jahiliyah". Bahwa anak perempuan tidaklah akan berguna, bahwa istri yang akan selalu disalahkan dengan lahirnya seorang bayi berjenis kelamin tertentu. Padahal kalau dilihat secara sains, penentu jenis kelamin bayi justru laki-laki. Perempuan akan selalu menjadi "pembawa XX", sementara laki-laki bisa menjadi "pembawa XX" atau "pembawa XY".

Perempuan juga selalu "dirumahkan". Ya mungkin maksudnya baik, namun dengan "dirumahkan"nya perempuan, seharusnya ada kompensasi lebih. Semisal, perempuan tetap di rumah, namun dapat belajar secara privat. Tapi yah, entah deh, saya merasa para penguasa Islam yang agak keras kok ya sangat amat kolot. Mereka menjunjung tinggi agamanya, namun mereka juga kejam dan tidak bisa berlaku adil dengan yang namanya perempuan. Apakah ini yang mereka sebut Islam? Tidakkah mereka mengambil simpati orang lain, musuh negara mereka dengan cara yang lebih santun?

Islam mengajarkan kedamaian bagi umatnya, dan seharusnya mereka dapat mengaplikasikan hal tersebut.

4 bintang untuk buku ini.

Kilas Buku: A Man Called Ove

|


Judul: A Man Called Ove
Pengarang: Fredrick Backman
Penerjemah: Inggrid Nimpoeno
Tebal: Paperback, 448 halaman
Penerbit: Noura Books, Pebruari 2016 (pertama kali terbit 27 Agustus 2012)
🌟🌟🌟🌟🌟

Apa yang manusia butuhkan dalam hidup mereka? Banyak hal. Salah satunya adalah prinsip. Dan bagi seorang lelaki tua bernama Ove, prinsip adalah hal yang tidak bisa diubah oleh apapun, walau oleh pihak berwenang sekalipun.

Ove terlahir sebagai anak yang pendiam, dengan ayah yang juga tidak banyak bicara dan ibu yang cukup menyenangkan. Karena sang ibulah Ove dan ayahnya tetap pergi ke gereja meski wanita itu telah meninggal. Ove pun tumbuh sebagai lelaki yang pendiam dan jujur, benar-benar hasil tempaan sang ayah. Namun, berbagai pengalaman hidup selepas kepergian ayahnya juga ikut menempanya sebagaimana ia dikenal seperti sekarang ini: si lelaki hitam putih.

Ove bukan tipe siapapun yang menginginkan romantisme. Ove hanya lelaki yang lebih senang bertindak daripada berbicara. Baginya, banyak bicara tanpa bertindak hanyalah omong kosong. Sampai akhirnya ia bertemu seorang wanita yang penuh warna, Sonja. Maka si lelaki hitam putih pun akhirnya mendapat pendamping: si perempuan warna warni.

Dan dengan Sonja, Ove menjadi "hidup". Baginya, hanya tiga hal yang dicintainya: kebenaran, mobil Saab, dan tentu saja Sonja.

Pada awalnya, saya agak enggan membaca cerita Ove. Berdasarkan pengalaman membaca buku karya penulis asal Swedia, tokoh dan alur ceritanya sangatlah unik, bahkan cenderung absurd. Begitu juga dengan Ove tentunya. Ove juga manusia yang absurd, karena terlalu "benar". Dan bagaimana sih perasaan kalian jika bertemu dengan orang yang saklek? Membosankan pastinya. Lalu bagaimana perasaan kalian jika bertemu dengan lelaki yang selalu berceramah hanya karena terlalu taat peraturan? Menyebalkan! Tapi celakanya, saya jatuh cinta dengan si lelaki yang bermobil Saab itu.

Apa sih Saab? Ketika membaca cerita ini, saya selalu melihat Saab seringkali disebut. Penasaran, saya pun mencarinya pada mesin pencarian. Dan hasilnya:



Ternyata, Saab adalah perusahaan mobil asal Swedia, dan mobil di atas adalah mobil Saab edisi 9-3 yang pernah dimiliki Ove. Saya juga sempat mencari mobil Saab 92 dan 93, yang ternyata agak mirik dengan minicooper. Begitu takjubnya saya dengan Ove, karena ia adalah lelaki yang sangat nasionalis, bahkan untuk urusan mobil.

Lalu bagaimana cerita Ove berjalan? Maju mundur. Penuh dengan kejujuran, hal yang satir dan ironi, juga kepahitan. Syukurlah hal-hal itu dibungkus dengan humor yang entah mengapa memaksa saya tertawa. Misal saja, ketika Ove yang sudah tua itu, berulangkali membunuh dirinya sendiri, selalu ada orang lain yang mengganggunya. Bahkan gara-gara itu ada orang yang menganggap dirinya sebagai pahlawan hingga akhirnya ia diburu wartawati yang "ngebet" mewawancarainya. Ya, humor pada kisah Ove datang dari orang-orang yang hidup di sekitarnya. Ove menganggap mereka sangat idiot, kampungan, dan juga tidak benar-benar idiot. Dan syukurlah orang-orang itu tetap menganggap Ove ada, apapun yang lelaki tua itu katakan.

Cerita Ove ditulis dengan penuh kesan. Anda yang tidak yakin akan mencintai Ove, tentu akan mengikuti jejak saya. Fredrik Backman membuat seluruh karakter, tidak hanya Ove, mengambil peran pentingnya masing-masing. Mereka mendukung Ove dengan warnanya masing-masing. Bahkan bagi seorang gadis berumur tiga tahun, Ove bukanlah lelaki hitam putih, namun penuh warna warni dan bahkan lebih menyenangkan daripada badut ulang tahun.

Dan pada akhirnya, selalu akan ada akhir. Pembaca pasti akan menilai si karakter utama, termasuk Ove. Lalu saya akan memberikan lima bintang untuk bukunya hanya karena Ove seorang. Well, Ove, kau adalah lelaki tua pemarah yang patut dicintai.

Lima bintang untuk Ove dan buku ini.👴💗
🌟🌟🌟🌟🌟

Kilas Buku: Titipan Kilat Penyihir

|

Judul: Titipan Kilat Penyihir
Judul asli: Kiki's Delivery Service (魔女の宅急便)
Pengarang: Eiko Kadono
Genre: Child Literature, Fantasy
Tebal: 232 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2006 (pertama kali terbit 1985)

Sinopsis:
Karena dia penyihir, pada usia tiga belas tahun Kiki harus pindah ke kota lain. Dia harus meninggalkan Ibu, Ayah, serta kota kelahirannya. Kiki hanya akan ditemani Jiji si kucing hitam. 

Ibu sudah melarangnya tinggal di kota besar, tapi Kiki kepalang suka pada kota Koriko, karena menara jamnya sangat tinggi dan letaknya dekat laut. Tapi astaga... warga kota Koriko tidak menyambut Kiki dengan hangat. Apakah Kiki bakal bisa bertahan di kota ini, padahal dia cuma bisa satu sihir: terbang dengan sapu? (goodreads)

-----

Satu lagi kisah anak-anak yang menarik: Kiki dan Jiji! Seperti sinopsis yang saya lampirkan di atas, novel ini menceritakan tentang penyihir cilik yang bernama Kiki. Ia mengikuti kata hatinya untuk menetap di kota Koriko yang ramai. Sementara Jiji, si kucing hitam, mengingatkan Kiki akan pesan ibunya untuk mencari desa sebagai tempat tinggal.

Pada awalnya, Kiki memang tidak bisa diterima oleh warga Koriko. Bukan karena kemampuan Kiki yang sangat terbatas, namun karena warga Koriko sudah tidak percaya lagi pada keberadaan penyihir. Setelah menimbang potensi yang ada di kota Koriko, akhirnya Kiki memutuskan untuk membuka jasa pengiriman kilat dengan menggunakan ruangan yang disewakan oleh ibu pemilik toko roti.

Apakah usaha Kiki akan berjalan lancar?

Cerita Kiki dan Jiji yang berjuang di kota asing tanpa ayah dan ibunya sangatlah menarik. Pilihan kata yang disajikan sungguh sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Apalagi Kiki digambarkan sebagai penyihir yang sangat manis dan baik hati, tidak seperti stereotip penyihir dengan hidung bengkok dan gigi ompong. Melalui Kiki, anak-anak dapat mengambil pelajaran bahwa setiap usaha butuh perjuangan, dan anak-anak yang suka membantu orang lain akan disenangi banyak orang dan mendapat banyak kebaikan.

3,5 bintang! :)

Kilas Buku: Taqy's Busy Book

|

Ransel Busy Book. Busy Book nya ada di dalam☺

Hallo semua... Sudah lama sekali ya sepertinya saya tidak mengulas apapun di blog ini. Adapun ulasan saya yang biasa terbit sebulan sekali, adalah hasil dari auto-scheduled dari beberapa postingan yang sudah saya tulis 6 bulan yang lalu.

Nah, sekarang ini saya ingin mengulas busy book yang baru saja saya beli dari Ilokids untuk anak kami, Taqy. Busy book adalah buku yang merangsang kreativitas dan imajinasi balita. Maka buku ini tentu saja cocok untuk anak berusia 2 - 4 tahun. Tapi Taqy kan baru berusia 5 bulan... hehe memang dasar emaknya aja yang kepingin buku ini. Ngidam mungkin ya hehe. Ya setidaknya bisa saya simpan sampai Taqy berusia 2 tahunan hehe. *kecup Taqy.


Lalu apa saja sih isi busy book ini? Oke.. Untuk sampul, terdapat gambar yang menarik dengan tulisan 'Busy Book' dan 'Ilokids'. Dan yang paling spesial adalah nama Taqy juga tertera pada sampul frpan.. yay! 😎

Pada halaman pertama terdapat abjad latin lengkap dari A-Z. 🔠


Pada halaman kedua, terdapat pola bundar warna warni yang juga berfungsi sebagai perekat bagi kancing-kancing warna warni yang ada di sebelahnya. Intinya, kancing-kancing itu bisa lepas tempel. 😁

Pada halaman ketiga juga terdapat kain dan kancing yang dapat lepas-tempel. Pada halaman ini yang dijodohkan adalah lawan (opposite) dari dua kelompok yang berbeda. 💘


Pada halaman keempat terdapat gambar dua dua sepatu, yang salah satunya memiliki tali. Fungsinya agar anak dapat belajar mengikat tali sepatu. 😘

Sementara pada halaman kelima terdapat telepon yang gagangnya dapat diangkat. Tidak lupa juga tombol nomornya. 📠


Pada halaman keenam dan ketujuh, terdapat kotak angka 1-10 dengan amplop kecil yang berisi wortel dengan angka_angka juga. 🐰


Pada halaman kedelapan, terdapat matahari, awan, dan pesawat terbang yang menempel pada tali. Gambar-gambar itu dapat digeser dua arah, baik ke kanan ataupun ke kiri. ✈🌞☁

Pada halaman kesembilan terdapat perahu layar yang masing-masing pola pembentuknya dapat di lepas-tempel. ⛵


Pada halaman kesepuluh, terdapat gambar wajah monyet yang pada bagian mulutnya dikunci dengan resleting. Ketika mulutnya dibuka, ada beberapa pisang yang tersemat di dalamnya. Dengan begini, anak-anak dapat belajar memberi makan pisang kepada monyet. Tentu menyenangkan. 🍌🐒

Halaman selanjutnya terdapat pola warna warni yang juga lepas-tempel. 🔺◼🔶🔴


Pada halaman kesebelas terdapat awan-awan yang tengah menurunkan air hujan. Hujannya terbuat dari tasbih-tasbih yang dapat dihitung. Anak-anak dapat belajar bermain sambil belajar menghitung tasbih. 🌁🌈


Nah, halaman selanjutnya nih, terdapat peta atau denah dengan gambar rumah, rel kereta api, pantai, gedung-gedung, dsb. Tidak lupa juga terdapat beberapa kertas ikon yang dapat dilipat dan dimainkan. 🚂🚃


Sampul terakhir! Pada bagian ini terdapat nama Taqy dan juga kutipan dari ilmuwan terkenal, Albert Einstein. ☃

So, itulah ulasan saya tentang busy book yang dibuat oleh Olokids. Sebetulnya bisa kok kalau mau buat busy book swndiri. Jika kalian memang punya waktu luang dan imajinasi yang bagis, buat busy book sendiri untuk anak-anak, kenapa enggak. 😍

Oh iya, Ilokids bisa dihubungi melalui instagramnya dengan akun @ilokids 💻


Kilas Buku: Lisey's Story

|

Judul: Kisah Lisey
Judul asli: Lisey's Story
Pengarang: Stephen King
Genre: Misteri, Horror, Fantasi
Tebal: 704 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011 (pertama kali terbit 2006)

Sinopsis:
Lisey Debusher Landon kehilangan suaminya, Scott, dua tahun yang lalu, setelah dua puluh lima tahun menikah. Scott adalah pengarang terkenal yang berkepribadian sangat rumit. Setelah beberapa lama mengenal Scott, Lisey baru mengerti bahwa Scott mempunyai kemampuan untuk masuk ke dunia lain––sebuah tempat yang menakutkan, namun sekaligus menyembuhkan dan memberinya ide-ide yang dia butuhkan untuk bisa bertahan dari kegilaan yang menggerogotinya. Sekarang, setelah Scott tiada, giliran Lisey yang harus menghadapi hantu-hantu masa lalu suaminya

----

*menghela napas dulu*
Entah saya mau mulai dari mana. Ini adalah pertama kalinya saya membaca buku karangan Stephen King, meski saya sudah 'menimbun' beberapa bukunya. Yah, entah takdir atau bukan, pada akhirnya takdir memutuskan saya membaca buku ini.

Dari awal, dari sinopsis pada sampul belakang tepatnya, Kisah Lisey sudah membuat saya masuk ke dalam kegelapan yang aneh. Buku ini bergenre horror, tapi saya rasa tidak horror-horror amat. Malah cenderung aneh. Sama seperti Neil Gaiman dan Terry Pratchett dengan dark fantasy mereka yang aneh, terkadang tidak dapat dimengerti, namun begitu indah dibaca.

Setelah suaminya meninggal Lisey menghadapi banyak masalah, baik dari masa sekarang maupun masa lalu suaminya. Banyak para penggemar Scott Landon yang menuntut kepada Lisey agar mencari naskah Scott yang belum sempat terbit agar diterbitkan. Yah, begitulah resiko penulis terkenal yang memiliki fanbase yang besar. Lisey sebenarnya tidak terlalu peduli dengan permintaan penggemar Scott yang ia sebut Inchunk. Ia malah sibuk dengan kakak pertamanya yang menderita penyakit kejiwaan dan harus menjalani terapi.

Ketika seorang inchunk meneror dan menyerangnya, Lisey malah terlempar ke masa lalu suaminya secara sadar dan tidak. Ia mendapati dirinya berkomunikasi dengan Scott yang sudah mati, dan bahkan mampu menghilang menuju dimensi lain! Namun melalui dimensi lain itulah ia mampu menenangkan suaminya, menyelamatkan kakaknya, dan mengalahkan si inchunk menyebalkan.

Saya cuma bisa memberi 2,5 bintang, bukan karena tidak merasa takjub dengan ceritanya. Namun, yah, cerita ini memang kurang cocok dengan saya. Entah dengan cerita King yang lain.

Kilas Buku: A Monster Calls

|

Judul: A Monster Calls
Pengarang: Patrick Ness
215 pages
Published September 27th 2011 by Walker Books (first published 2011)
Literary Awards: 
Kate Greenaway Medal (2012), Galaxy British Book Awards for Children's Book of the Year (2011), Los Angeles Times Book Prize Nominee for Young Adult Literature (2011), Red House Children's Book Award (2012), Deutscher Jugendliteraturpreis for Preis der Jugendjury (2012) The Inky Awards Nominee for Silver Inky (2012), Gouden Lijst for vertaald boek (2014), Abraham Lincoln Award Nominee (2015), Galaxy National Book Award for Children’s Book of the Year (2011), Kirkus Reviews Best Teen Books of the Year (2011), Grampian Children’s Book Award Nominee (2013), The Kitschies for Red Tentacle (Novel) (2011), NCBLA - Notable Children's Books in the English Language Arts (2012), Goodreads Choice Award Nominee for Middle Grade & Children's (2011), Carnegie Medal (2012), The Inky Awards Shortlist for Silver Inky (2012)

Synopsis:
The monster showed up after midnight. As they do.

But it isn't the monster Conor's been expecting. He's been expecting the one from his nightmare, the one he's had nearly every night since his mother started her treatments, the one with the darkness and the wind and the screaming...

This monster is something different, though. Something ancient, something wild. And it wants the most dangerous thing of all from Conor.

It wants the truth. (Goodreads)

-----

Dari awal, katakanlah, dari sampul bukunya, sudah ada aroma gloomy. Kesan suram begitu menyeruak sampai saya agak merinding. Sayangnya ilustrasi sampulnya tidak berhasil menarik saya untuk menjadikan buku ini sebagai prioritas yang akan dibaca. Yang membuat saya tertarik (salah satunya) adalah nama Siobhan Dowd yang katanya adalah si pemilik ide cerita yang juga didaulat sebagai penulis buku ini pada awalnya. Belum sampai ditulis, kelahiran cerita ini terpaksa harus ditunda dulu, karena Dowd meninggal akibat kanker payudara.

Beberapa tahun kemudian, Patrick Ness diberi kehormatan untuk menulis keseluruhan cerita dari ide awal Dowd yang sudah brilian. Karya Ness ini diganjar banyak penghargaan seperti yang saya sampaikan pada informasi buku di atas.

A Monster Calls bercerita tentang seorang anak yang bernama Conor. Setiap malam ia merasa 'dihantui' oleh seorang monster pohon yew yang menyeramkan. Awalnya memang terasa menyeramkan sampai pada akhirnya Conor memutuskan untuk tidak takut padanya. Sama sekali. Si monster pohon berjanji akan menceritakan tiga kisah pada dirinya. Sebenarnya, kata si mosnter, tiga kisah itu akan lengkap dengan keberadaan kisah keempat. Dan monster membuat Conor berjanji bahwa ia akan menyelesaikan kisah keempat tersebut. Ya, Conor sendiri lah yang harus bercerita tentang kisah keempat.

Monster pohon yew selalu datang pada pukul 12:07 malam, meskipun tidak rutin. Setiap kali sang monster selesai bertandang dan bercerita pasti selalu saja ada sampah daun dan ranting yang berserakan. Cerita yang disampaikan agak 'tricky' menurut Conor, namun sang monster selalu memberi jawaban yang logis, bahwa kehidupan tidaklah selalu mulus adanya, dan orang-orang tidak selalu berada pada fase baik ataupun jahat, mereka akan selalu berada diantara keduanya. Sayangnya Conor tidak mengerti, Atau tidak mau mengerti (?).

Waktu berjalan terus dan kondisi Conor semakin menyedihkan, sementara ia semakin bergantung kepada monster yew yang ia yakini akan menyembuhkan ibunya yang sakit kanker. Ia semakin menarik diri dari lingkungannya dan tenggelam dengan pikirannya sendiri dan membuat dirinya 'tidak terlihat. Sehingga semakin banyak saja prasangka terhadap orang lain yang seharusnya tidak perlu ada.

Novel ini pada dasarnya bercerita tentang psikis seorang remaja yang sedang tertekan. Ya, Conor tertekan dengan kondisi yang ia tengah hadapi. Seolah-olah tiada habis masalah menimpanya; orang tuanya berpisah, ibunya sakit, dan kini ia diharuskan tinggal dengan nenek yang tidak pernah disukainya. Namun Conor tidak pernah mengakui jika ia muak dengan semua itu. Yang menjadi pelampiasan adalah sosok monster khayalan yang menjadi teman berceritanya ketika malam tiba. Dan syukurlah sang monster justru 'memaksa' Conor untuk jujur terhadap perasaannya dan mengeluarkan seluruh perasaan tertekannya agar ia kembali tenang.

The monster wants the truth. It really wants the truth.

4 bintang untuk novel ini. Saya memang suka, namun tidak dapat menjadikannya salah satu bacaan favorit karena terlalu gloomy untuk saya. :(

Custom Post Signature