Top Social

Showing posts with label Klasik. Show all posts
Showing posts with label Klasik. Show all posts

Kilas Buku: Sang Juragan Teh

|

Sebelum saya ulas roman satu ini, saya akan mengingatkan kembali bahwa saya pernah mengulas buku Kisah Para Preanger Planters yang tentu saja sangat berkaitan dengan cerita Hella S. Haasse. Sesungguhnya Sang Juragan Teh adalah sebuah roman, namun bukan fiksi. Segala karakter dan cerita didasarkan pada kumpulan surat dan dokumen mengenai sejarah perkebunan teh di Hindia Belanda (Indonesia). Hal ini disebutkan oleh Hella (penulis) sendiri pada segmen Ucapan Terima Kasih.

Saya cukup bingung bagaimana akan mengulas buku bagus yang satu ini. Karena jujur saja menulis ulasan dari sebuah buku yang punya rating bagus itu sangatlah sulit. Tapi saya bersyukur sudah pernah membaca sejarah Preanger Planters untuk memahami roman yang satu ini.

Roman Sang Juragan Teh mengambil Rudolf E. Kerkhoven sebagai tokoh utama. Sebagai anak lelaki tertua (ia adalah anak kedua setelah Bertha, anak pertama, yang juga kakak perempuannya), ia memiliki sifat ambisius dan serius, namun juga sangat mengayomi adik-adiknya. Selama berkuliah di Delft, Rudolf betul-betul mempersiapkan dirinya untuk membantu (dan menjadi pengelola perkebunan Arjasari) Ayahnya di Bandung. Sayangnya harapan ia pupus. Ayah maupun keluarganya tidak terlalu antusias dengan kedatangan Rudolf ke Hindia Timur (Indonesia). Ia pun malah diminta membuka lahan perkebunan baru di Gambung, Bogor. Justru adiknya August yang malah menjadi pengelola perkebunan Arjasari, yang lagi-lagi menambah kekecewaan Rudolf terhadap keluarganya. Ia merasa sudah menjadi anak sekaligus pemuda yang baik. Ia pekerja keras, suka berhemat, dan berpikiran maju untuk usahanya. Sayang, tidak ada seorang pun yang (terutama ayahnya) mengapresiasi usahanya ini.

Kisah berlanjut mengenai kehidupan Rudolf beserta istri dan anak-anaknya. Yang menjadi pusat cerita tentu saja soal perkebunan teh (khususnya Gambung), dan juga berbagai masalah dan kebijakan yang berputar di sekitarnya. Yang menarik perhatian saya adalah roman ini berisi banyak pandangan dari bangsa kolonial (Belanda), khususnya pihak non pemerintah, tentang orang-orang Indonesia dan budayanya. Seperti yang kita ketahui, sejak tahun 1870, pemerintah Kolonial membuka kesempatan bagi swasta (warga Eropa, khususnya Belanda) untuk mengelola lahan di beberapa daerah di Indonesia. Sejak itulah keluarga besar Van der Hutch (yang terdiri dari keluarga Kerkhoven, Holle, dan Boscha) menjadi salah satu pengusaha lahan.

Jika selama ini pandangan bangsa Indonesia kepada Belanda penuh dengan kebencian (akibat penjajahan 350 tahun), namun ternyata tidak semua orang Belanda begitu jahat terhadap bangsa Indonesia. Secara garis besar bangsa Belanda di Indonesia terdiri atas dua kelompok yakni pemerintah kolonial (kompeni) dan pihak swasta. Orang-orang dari pihak swasta inilah yang kebanyakan menjadi pihak baik bagi masyarakat pribumi. Contohnya adalah Karel Holle, pengelola perkebunan Waspada di Garut. Ia menjadi teman bagi petani, bahkan bisa dijuluki sebagai bapak petani modern di Indonesia. Ia yang awalnya mengajarkan petani lokal mengolah lahan pertanian sebagaimana harusnya. Karel Holle bahkan bersahabat dengan Haji Mohammad Musa, penghulu sekaligus tokoh Islam di Garut. Ia juga yang memberi kesempatan kepada Haji Musa untuk menerbitkan karya-karyanya (dalam bahasa Sunda / Sastra Klasik Sunda) yang saat itu tentu saja sulit bagi pribumi yang kebanyakan masih bodoh dan percetakan masih didominasi oleh kolonial. Ia dan Haji Musa tentu saja layak mendapat gelar Bapak Sastra Sunda.

Jika merasa tidak familiar dengan Karel Holle, kalian tentu kenal dengan K.A.R. Boscha. Ia merupakan Raja Teh di Priangan, dan juga Bapak Astronomi Indonesia dan merupakan pendiri Obsrvatorium Boscha.  Maka, Boscha dan Holle adalah orang-orang Belanda yang punya kepedulian tinggi terhadap masyarakat pribumi. Mereka sudah melakukan aksi nyata dalam membantu warga lokal, meskipun tidak mampu berbuat banyak mengintervensi kebijakan pemerintah kolonial. Dalam pernyataannya Holle mengungkapkan betapa ia prihatin terhadap masyarakat Sunda:
Dengar Rudolf.... sejak aku tiba di sini selagi masih anak-anak, melihat betapa bertolakbelakangnya kesuburan negeri yang indah ini dan kemiskinan rakyatnya, sungguh sangat menyakitkan bagiku. Tanah Sunda adalah tanah yang terabaikan, didominasi oleh para raja dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka kehilangan kebudayaan mereka sendiri. Sungguh suatu keajaiban mereka masih memiliki bahasanya sendiri. (hlm. 107)
Namun tentu saja sebaik-baiknya sebagian orang Belanda terhadap masyarakat kita, tetap kita tidak setuju dengan monopoli dan dikuasainya negeri ini oleh bangsa asing.

Roman ini memang penuh dengan kejutan. Salah satunya adalah mengenai betapa polos dan lugunya orang-orang pribumi. Dan juga betapa "tidak sopannya" pakaian mereka. Kata Rudolf Kerkhoven ketika pertama kali mengunjungi Batavia:
Kini mereka melaju di sepanjang tepi kanal yang penuh dengan orang-orang yang sedang mandi dan mencuci pakaian. Para wanita yang berdiri dalam air sepinggang, tanpa malu-malu memperlihatkan bahu mereka yang telanjang, dan lebih banyak lagi bagian tubuh yang lain jika sedang mencuci rambut. Rudolf sudah mendengar perkataan orang-orang di kapal yang menggambarkan pemandangan harian kehidupan kaum pribumi di Jawa semacam ini sebagai sesuatu yang memalukan di mata orang-orang Eropa... (hlm. 78)
Saya tertawa membacanya. Dewasa ini banyak orang Indonesia menganggap pakaian ala barat tidak sopan, ternyata pada masa lalu justru orang Indonesia yang "berpakaian terbuka ala barat". Menurut saya itu karena mereka menyesuaikan pakaian dengan iklim tropis yang memang ada di Indonesia. Sementara di Eropa, orang-orang cenderung mengenakan gaun atau jas karena iklim di sana yang cenderung lebih dingin. Jika sekarang ini orang Eropa senang berpakaian terbuka, mungkin karena mereka sudah menganut paham yang lebih bebas. Sementara orang-orang Indonesia kini sudah jauh lebih terpelajar sehingga tidak lagi mandi dan berpakaian terbuka sembarangan di depan orang banyak.

Saya juga sedikit surprised kalau orang Indonesia pada zaman dahulu justru peminum teh hijau, seperti yang biasa diminum orang-orang Jepang. Jadi bangsa kita juga punya budaya menyeruput ocha dengan nikmat di masa lalu. Seperti kata Karel Holle;
Penduduk di sini lebih menyukai teh hijau untuk mereka sendiri, sama seperti di Tiongkok dan Jepang. (hlm. 105)
Sayangnya, seperti kata Eduard Kerkhoven, pasar Eropa tidak tertarik pada Teh Hijau. Sehingga sepertinya karena itulah budaya minum teh hijau tidak berlanjut di kalangan masyarakat pribumi.

Well, saya pikir itulah beberapa kejutan diantara banyak kejutan dalam roman ini. Bagi yang memang menyukai sejarah, pasti akan bersemangat membacanya, seperti saya. Buku ini sangatlah berharga untuk dibaca dan dikoleksi. Karena ini bukan fiksi, dan bukan sekedar roman. Ini sejarah! Yang sangat berkaitan erat dengan masa lalu bangsa kita.

Bintang lima!


Data buku

Judul: Sang Juragan Teh
Judul asli: Heren van de Thee
Pengarang: Hella S. Haasse
Penerjemah: Indira Ismail
Paperback, 440 pages
Published December 3rd 2015 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1992)

Kilas Buku: Belenggu

|


Sukartono, seorang dokter lulusan Geneeskundige Hooge School Betawi, sekolah dokter terkemuka di Betawi, sedang gundah. Ia tiada habis pikir tentang istrinya, Sumartini, akhir-akhir ini. Perempuan cantik itu selalu saja kusut air mukanya ketika melihat Tono.
Tini seolah-olah hendak menimbulkan marahnya saja. Adakah disengaja, pura-pura lalai? Sandalnya harus tetap didekat kerosi ini, kalau dia baru pulang, kalau di bloc-note tidak ada tertulis nama dan alamat orang, dia hendak terus saja duduk senang-senang,... (hal. 17)
Dalam beberapa minggu ini isterinya sudah biasa pergi, tidak meninggalkan pesan apa-apa. Kalau dia baru pulang, air mukanya, sikapnya seolah-olah menantang, menanti dokter Sukartono bertanya, dia kemana tadi, tetapi dokter Sukartono diam saja. (hal. 17)
Kegalauan Tono membawanya kepada seorang perempuan bernama Nyonya Eni (kemudian hari diketahui ia bernama asli Rohayah dan juga penyanyi dengan nama panggung Siti Hayati) yang pura-pura sakit dan hanya ingin merayu si dokter ke dalam buaiannya. Awalnya Tono kuat iman. Ia tetap berlaku sebagai dokter terhadap pasiennya. Namun kegundahan Tono terhadap Tini justru membawanya kembali kepada Rohayah, si bunga raya itu.
Dokter Sukartono senyum. Dia tahu rupanya aku akan datang kembali. "Dia.... mengharapkan aku datang," melintas lambat-lambat dalam hatinya.
Perempuan, sebenarnya perempuan. (hal. 32)
Pernikahan Tono dan Tini di ujung tanduk. Tono semakin terbuai oleh kemesraan Rohayah, sementara Tini menyibukkan diri dengan banyak kegiatan organisasinya. Kasak-kusuk tidak sedap tentang pernikahan mereka terdengar santer. Tono tiada mengerti karena asyik dengan bunga raya. Sementara Tini berusaha kuat dan maklum mengandung resiko kalau ia yang akan disalahkan sebagai penyebab retaknya rumah tangga mereka berdua.
"Saya yang akan disalahkan orang. Biarlah!" Kata Tini menyambung kalimat. (hal. 54)
Cerita mencapai klimaks ketika Tini menghampiri madu suaminya. Tini dan Yah beradu pandangan di sana. Banyak perkataan Yah yang membuat Tini merenung.
"Kalau engkau pelihara dia baik-baik, kauturut kemauannya, begitu juga kesukaannya yang kecil-kecil, tapi sangat dihargakannya, dia tiada akan datang kepadaku," (hal. 133)
Sementara itu Tono berdiskusi dengan paman Tini, Mangunkusumo, yang sudah mengetahui riak-riak rumah tangga mereka. Tono sempat setuju dengan usulan Mangunkusumo untuk berbaikan dengan Tini.
"Benarlah, Tono, siapa tahu nanti baik juga."
"Moga-moga demikianlah, paman."
"Besok kunasihati lagi Tini." (hal. 128)
Lalu apakah Tono akan kembali lagi kepada Tini, atau tetap berpaling menuju Rohayah? Apakah Tini juga tetap berkeinginan mempertahankan perkawinan mereka berdua? Dan bagaimana dengan Rohayah, apakah ia punya pilihan? Masing-masing karakter memiliki kebebasan untuk memilih jalannya.
Pintu kemakah itu! (hal. 150)

Psikoanalisis

Pada awalnya novel ini berjudul "Pintu Kemana?", seperti yang dikatakan Arjmin Pane dalam kata pengantar untuk cetakan keempat. Namun ketika akan diterbitkan oleh penerbit Pudjangga Baru tahun 1940, diubahlah judulnya menjadi "Belenggu".

Banyak pengamat sastra yang mengatakan novel Belenggu ini merupakan novel psikologis, dimana tokoh-tokoh utamanya memiliki karakter yang menarik untuk dibahas. Masing-masing dari mereka punya latar belakangnya dapat diteliti dengan teori psikoanalisa Sigmund Freud. Arjmin Pane sendiri memang senang bereksperimen dengan mempermainkan perasaan para tokoh. Dibiarkannya para pembaca ikut andil, larut dalam cerita. Dan pada akhirnya, tidak ada solusi yang diberikan. Arjmin Pane menyerahkan semua keputusan kepada para pembaca.
Pintu kemanakah itu! (hal. 150)
Ya, pintu kemanakah itu yang akan mereka tuju. Boleh jadi Rohayah dan Tini akan berubah pikiran untuk tetap mempertahankan Tono. Lalu mereka akan berkelahi dan membiarkan Tono memilih. Boleh jadi juga Tono dan Tini bersedia memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk akur kembali dan melepaskan Yah pergi jauh ke negeri seberang. Boleh jadi juga Tini akan kembali kepada kekasih lamanya, Tono akan kembali juga kepada Rohayah, dan kemudian mereka berbahagia dengan pasangan baru masing-masing.

Semua itu tergantung imajinasi pembaca. Si pengarang sudah memberi asupan berupa latar belakang masalah dan karakter para tokoh. Dan ia membiarkan para pembacanya membuka pintu pilihannya masing-masing. Memang nasib orang tiada yang akan tahu, karena orang tersebut yang menentukannya sendiri. Begitulah kira-kira pesan Arjmin Pane yang saya tangkap.

Bahasa Indonesia peralihan

Membaca Belenggu berarti harus siap dengan tata bahasa peralihan. Jangan harap akan menemukan tata bahasa seperti yang biasa kita temukan dalam naskah terjemahan atau malah alay ala remaja masa kini . Novel "Belenggu" ini dibuat pada tahun 1930-an, sekitar lima belas tahun sebelum Indonesia merdeka. Ketika itu bahasa Indonesia belum seperti sekarang yang sudah punya berjilid-jilid KBBI. Bahasa Indonesia jaman itu masih dipengaruhi bahasa Belanda, dan juga bahasa daerah secara kental.

Arjmin Pane, dalam kata pengantarnya, berkata bahwa buku ini (Belenggu) baik bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Maka, daftar kata bahasa asing (maksudnya bahasa Belanda) yang semula hendak dihilangkan, tetap dibiarkan begitu saja. Supaya para pembaca dari angkatan milenia seperti kita ini dapat menelusuri permulaan bahasa Indonesia digunakan ketika itu.

Paus Sastra Indonesia, H.B, Jassin, juga mengatakan hal yang sama, bahwa "Belenggu" bukan untuk ditiru, melainkan untuk diperlihatkan kepada generasi masa depan bangsa Indonesia, betapa besar perjuangan yang ditempuh nenek moyangnya untuk mencapai kemajuan zaman.

Kesan

Karena saya lahir jauh setelah tahun 1940an, maka saya tidak akan memberi kritik tentang "Belenggu". Saya hidup dewasa pada zaman lubernya informasi. Sebagian besar penduduk Indonesia sudah mafhum dengan adanya keterbukaan informasi, bahkan tentang isu retaknya rumah tangga orang sekalipun. Maka saya tidak akan menganggap "Belenggu" sebagai novel tabu karena membuka perasaan para tokohnya tentang tema perselingkuhan, atau sebagai novel porno karena memakai  bunga raya (sekarang disebut dengan pelacur) sebagai tokoh utama.

Bagi saya "Belenggu" adalah sastra yang berani pada zamannya. Sehingga banyak kritik yang dituai ketika itu. Malah penerbit sekelas Balai Pustaka tidak mau menerbitkannya sebagai buku. Pada akhirnya, buku ini malah dianggap sebagai novel romansa modern pertama di Indonesia.

Buku ini memang menjadi rekomendasi wajib bagi para pembaca yang ingin mengenal sejarah sastra Indonesia. Masih banyak celah yang dapat dibahas bersama. Akhir kata, selamat menyelami dunia romansa ala klasik modern pra kemerdekaan Indonesia.

Data buku

Judul: Belenggu
Penulis: Arjmin Pane
Cover: Damang C. Sarumpaet
ISBN: 979-523-046-8
Format: Paperback
Cetakan ke-: duapuluh dua, 2010
Tebal: 159 halaman
Penerbit: Dian Rakyat

Kilas Buku: Rashomon (Kumpulan Cerita)

|

Rashomon

Seorang pria nongkrong di pintu gerbang sebuah kota yang sudah hancur. Gerbang itu disebut Rashomon. Gerbang dan kota hancur itu bukan ide yang baik bagi manusia untuk menetap. Karena di sana tempat bagi mayat-mayat bergelimpangan yang membusuk. Mayat-mayat itu kebanyakan tidak dikenal, mati karena wabah, atau karena tidak ada orang hidup yang mau mengurusnya. Kota itu juga tempat bagi gagak-gagak yang berpestapora memakan bangkai manusia.

Si pria berjalan dalam gelap dan bersembunyi di suatu bangunan. Lapar. Juga takut dibunuh. Hingga ia bertemu seorang nenek yang sedang mencabuti rambut seorang mayat perempuan. Ia marah dan benci kepada nenek itu, namun apa yang harus ia perbuat di dunia yang sedang kacau ini?

Lainnya (terutama Kappa dan Shiro atau Kuro)

Rashomon hanyalah salah satu dari kumpulan cerpen dan kispan (novelet) yang ada di buku ini. Rata-rata, isi ceritanya memiliki kesimpulan yang sama, yakni tentang dunia dan kelakuan manusia yang terbalik, tidak seharusnya, dan mungkin amoral. Ketika keadilan berarti harus menjatuhkan yang orang lain, atau ketika penyelamatan berarti harus membunuh sebagian besar yang hidup.

Yang paling mendapat perhatian dari saya adalah kispan (kisah panjang) yang berjudul Kappa. Saya rasa, kappa adalah hewan khayalan daripada Akutagawa.
Orang masih setengah percaya mengenai keberadaan hewan ini. Hal ini tak perlu diragukan lagi sekarang, karena aku sendiri hidup di tengah-tengah mereka. Mereka berambut pendek, tangan dan kakinya memiliki selaput di antara jari-jari kaki .... (hal. 39)
Dan melalui kappa, Akutagawa menyalurkan uneg-unegnya tentang manusia. Maka ia membuat banyak kappa. Kappa si hakim, kappa si penyair, kappa si pemilik pabrik kaca yang kapitalis, dsb. Dari kappa ia juga menghayalkan tentang belajar agama, adanya Tuhan.
"Pokoknya kami harus percaya pada kekuatan lain, selain kappa."
Kata-kata Mag inilah yang mengingatkanku pada agama. Karena aku materialis, tentu saja sebelumnya aku memang tak pernah sungguh-sungguh berpikir tentang agama. (hal. 79)
Dikatakan, para kappa juga memeluk berbagai macam agama seperti manusia.
Para kappa ada yang memeluk agama Kristen, Buddha, Islam, Zoroaster, juga agama lain. Tapi yang paling berpengaruh adalah Modernisme atau disebut jua sebagai Seikatsukyo, yakni pemujaan terhadap kehidupan. (hal. 79)
Hmm, sepertinya Akutagawa senang menyentil.

Selain kappa, ada satu cerpen yang menjadi favorit saya: Shiro. Dalam bahasa Jepang, Shiro berarti putih. Dikisahkan tentang seekor anjing berwarna putih susu yang bernama Shiro. Suatu ketika, Shiro melihat anjing lain berwarna hitam bernama Kuro. Kuro tertangkap oleh seorang pemburu anjing dan ia pun diperlakukan tidak baik, Seharusnya Shiro bisa menolong atau mencari bantuan untuk Kuro. Sayang, ia tidak melakukan itu. Ketika kembali ke rumah majikannya, Shiro menjelma menjadi Kuro. Warna kulitnya hitam legam, selegam arang. Tubuh Kuro, namun dalam dirinya tetap Shiro. Anjing putih susu itu tercekat antara perasaan bersalah dan menyesal. Ia harus mencari cara untuk kembali sebagai dirinya sendiri.

Tragis

Kebanyakan cerita bikinan Akutagawa berakhir tragis. Saya tidak tahu apakah ia memiliki misi tersendiri ketika menuliskannya. Misal, untuk menyentil manusia kalau perilaku mereka banyak yang tidak sesuai dengan kemanusiaan. Ataukah Akutagawa hanya ingin menulisnya, seperti apa adanya di dunia yang ia tinggali ini. Tapi menurut saya, Akutagawa hanya terlalu cemas. Dan kecemasannya inilah yang membawanya ke cerita-cerita menarik.

Ah, sayangnya, kecemasan lainnya, akan takut menjadi gila seperti ibunya, membawanya kepada takdir yang tragis. Nyawa Akutagawa berakhir di tangan obat tidur yang berlebihan. :(

Cerita-cerita Akutagawa layak diberi predikat klasik dan sastrawi. Silakan baca dan selami dunia kappa. :)

Informasi buku

Judul: Rashomon (kumpulan cerita)
Pengarang: Akutagawa Ryunosuke
Alih bahasa: Bambang Wibawarta
Tebal: Paperback, 175 halaman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2008 (pertama kali terbit 1915)

Kilas Buku: The Canterville Ghost

|


The Americans family, named Otis, moved to an English mansion which haunted by ghost. The Otis doesn't believe with the ghost although they're already warned by Lord Canterville.
I will take the furniture and the ghost at a valuation. I have come from a modern country, where we have everything that money can buy; and with all our spry young fellows painting the Old World red, and carrying off your best actors and prima-donnas, I reckon that if there were such a thing as a ghost in Europe, we'd have it at home in a very short time in one of our public museums, or on the road as a show.
Then the ghost really does appear. Sir Simon, the ghost's name, tries to scare the whole members of Otis family. He does many tricks includes blood stain in the library. Unfortunately, he falls into despair. The family turns back him; they are family Mr. and Mrs. Otis, Washington, and also the little Virginia. The latter is mad at him because of his action in stealing her paints. In the other hand, the girl helps him to "go back home".

First time I heard about Oscar Wilde was from my teacher, Ms. Crissy. She is really a big fan of him. At that time, she testified that Wilde is such a smart and funny author. Well, I was not interested with him, but the name of Wilde always in my mind. Ten years later (2017) I tried to read one of his books (it's The Canterville Ghost! ), and I found it good, full of humor, and criticism. One quote I like is:
“We have really everything in common with America nowadays, except, of course, language.”
If you want to read something fun but full of thought, you can try this ghost, I mean this novella. Sir Simon will open your eyes to different view about ghost story.

Book Information
Title: The Canterville Ghost
Author: Oscar Wilde
First Published: May 29th 1887

KIlas Buku: White Fang

|

Judul: White Fang
Pengarang: Jack London
Genre: Klasik
Tebal: 330 halaman
Penerbit: Gagasmedia, 2014 (pertama kali terbit 1906)

Sinopsis:
White Fang adalah seekor anjing separuh srigala. Dia lahir dan dibesarkan di dalam hutan liar yang banyak memberinya pelajaran hidup yang keras. Hingga pada suatu saat ia bertemu dengan manusia di dalam hutan yang kemudian membawanya ke luar dari alam yang ganas dan liar itu.
White Fang menjadi binatang peliharaan, diajari menjadi seekor anjing yang baik. Meskipun kemudian ia harus berganti tuan, yang menyiksa dan memaksanya menjadi anjing petarung demi memuaskan keserakahan sang tuan.
Namun akhirnya, ia dipertemukan dengan sosok tuan lain yang penyayang, yang memperlakukannya dengan kasih sayang. (goodreads)

-----

Cerita fabel atau tentang binatang selalu menjadi perhatian saya. Entah, saya mudah tersentuh dengan berbagai hal yang berhubungan dengan binatang. Kali ini cerita yang saya baca adalah kisah klasik karya Jack London yang diterbitkan pada tahun 1906. Ceritanya mengenai seekor serigala-anjing. Si White Fang, begitu ia dinamakan, memang bukan murni seekor serigala. Ia berdarah seperempat serigala dan separuh lebih anjing. Ia dibesarkan dalam kehidupan liar yang memaksanya harus berburu dan membunuh untuk bertahan hidup. Karena itulah ia menjadi berbeda dari anjing biasanya.

Melalui White Fang dan ibunya, saya dapat merasakan bagaimana insting dan sudut pandang seekor binatang, khususnya serigala dan anjing. Ternyata betina dalam kelompok serigala itu cukup berkuasa, bahkan melebihi pemimpin kelompok sendiri. Ia dihormati, dihargai, dan bahkan diperebutkan. Sang betina senang dengan seluruh hal itu. Ia menganggap dirinya piala yang memang pantas untuk didapatkan dengan cara yang tidak mudah.

Saya pun dengan mudah dapat merasakan kebingungan White Fang. Wajar ia begitu bingung, karena pada awalnya lahir dan tumbuh menjadi binatang liar, tiba-tiba harus dipaksa menjadi babu dan mengikuti perintah majikan. Perasaan bingung semakin menjadi ketika White Fang harus berpindah majikan dan diperintah hanya untuk bertarung dan dikurung. Sang anjing-serigala ini pun memendam perasaan benci kepada setiap manusia yang ditemuinya, kecuali majikan pertamanya dulu.

Hingga pada akhirnya ada seorang penyayang yang berhasil mengubah insting liarnya menjadi lembut. Walau begitu, yang namanya serigala tetaplah serigala, walau ia separuh anjing.

Jack London sungguh merupakan penulis yang baik. Ia mampu menggambarkan perasaan seekor binatang yang (mungkin) hampir tanpa cela. Kalaupun yang ia gambarkan adalah salah, berarti ia telah berhasil meyakinkan para pembaca tentang "begitulah kehidupan dari sudut pandang binatang" lewat redaksinya yang sederhana namun memikat.

4 bintang untuk buku ini.

Kilas Buku: Rebecca of Sunnybrook Farm

|
Judul: Rebecca of Sunnybrook Farm
Pengarang: Kate Douglas Wiggin
Penerjemah: Hani Iskadarwati
Genres: Classic, Realistic Fiction, Children, Middle-Grade
Penerbit: Orange Books, 2011 (pertama kali terbit 1903)
Tebal: 310 halaman

Keadaan memaksa Rebecca meninggalkan Sunnybrook Farm, tempatnya dibesarkan bersama keenam putra-putri keluarga Randall yang lain. Ia mengerahkan keberanian untuk tinggal dengan keluarga Sawyer, bukan saja karena yang diminta pergi ke Riverboro adalah Hannah, sang kakak, tetapi juga ketidaksukaan keluarga Sawyer kepada almarhum ayahnya.

Rebecca harus beradaptasi dengan cara didik kedua bibinya yang keras, sekaligus harus membuat seluruh keluarga bangga akan prestasi dan perilakunya sehari-hari. Bagaimana Rebecca mengatasi rindu rumah? Apakah ia dapat bertahan di Riverboro dan menerapkan cara didik kedua bibinya? Dan siapakah Mr. Aladdin yang telah "mencuri" hati Rebecca?

Kisah perjuangan seorang gadis cilik dalam terpaan persoalan hidup yang mengundang kontemplasi, rasa haru, dan tawa riang. Mengingatkan kita pada kisah Anne of Green Gables, A Little Princess, atau Pollyanna, meski sebenarnya Rebecca of Sunnybrook Farm terbit lebih dulu dari ketiga novel tersebut (goodreads).
***
Benar-benar mirip Anne! Kalau dengan Pollyanna bagaimana? Hmm, saya tidak tahu karena saya belum membaca bukunya, ditimbuuun terus yaa hahaha. Saya senang dengan karakter Rebecca, jauh lebih senang kepadanya daripada si rambut merah, Anne. Rebecca yang berambut hitam, bermata gelap dan berkulit agak gelap rasanya khas sekali dengan sifatnya yang senang bergaul dan cerdas. Well, saya sebenarnya penasaran apakah Rebecca menjadi salah satu inspirasi bagi lahirnya Anne dan Pollyanna? Tapi penasaran tinggal penasaran yah. Maaf pembaca saya lagi malas mencari tahu jawaban saya sendiri, jadi jika kalian memang penasaran dengan pertanyaan yang saya ajukan, please help yourself. :D

Rebecca yang tampak nakal, ternyata jauh lebih dewasa dan pengertian daripada saudarinya yang selalu dibanggakan. Ia tampak berpikiran maju sehingga seorang laki-laki dermawan yang jauh lebih tua darinya merasa cocok dan menyukainya. Yeah, mungkin itu karena sifat Rebecca tadi.

Saya mungkin menyenangi karakter Rebecca. Saya juga mungkin menyenangi karakter Tuan Aladin. Namun saya tidak suka dengan gaya penulisan dan pendeskripsian novel-novel klasik yang bertele-tele. Ah! Ini saja saya membaca versi abridged-nya lho dan saya sudah agak bosam sehingga merasa harus membaca cepat beberapa hal yang menurut saya membosankan. Apalagi jika saya membaca versi unabridged-nya ya. 0-o!

Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 5 oleh Bzee dan New Author dan What's in a Name RC oleh Ren.

Kilas Buku: The Mill on the Floss

|
Judul: The Mill on the Floss
Pengarang: George Eliot
Tebal: 552 halaman
Penerbit: Peacock Books, 2008

Kisah ini dibuka dengan perbicangan antara pasangan Tulliver. Mereka tengah membicarakan anak tertua mereka, Tom Tulliver, soal pendidikan dan masa depannya. Sebagai anak pertama dan laki-laki (penting: laki-laki), kebutuhan masa depan haruslah benar-benar diperhatikan khususnya pendidikan. Apalagi Mr. Tulliver hanyalah orang desa yang memiliki penggilingan dekat sungai.
Mengenai perhatiannya pada pendidikan ini saya akan menyertakan kutipan dialog yang menunjukan hal itu yang tertulis pada awal-awal bab.
"A good education, let me tell you, Tulliver - a good education is cheap at the money." (p. 27)
Cerita ini memang tentang Tulliver's Chronicle, khususnya putra-putri mereka Tom dan Maggie Tulliver. Buku ini terdiri atas beberapa bagian cerita, mulai masa kanak-kanak hingga masa dewasa mereka. Sebenarnya The Mill on the Floss sendiri tidak langsung terbit sekaligus dalam satu buku. Sehingga terbayang betapa tebal dan kronisnya kisah keluarga Tulliver ini.

Tokoh utama sebenarnya adalah Maggie Tulliver. Maggie adalah seorang anak perempuan yang berbeda dari anak perempuan lainnya. Ia tidak berlaku seperti seharusnya anak perempuan kebanyakan di dataran Inggris. Ia lebih senang membaca dan bermain di luar daripada merapikan rambut dan penampilan juga menjahit. Ia seperti tandem bagi kakak laki-lakinya, Tom. Semakin dewasa semakin rumit hal yang harus ia hadapi, terutama ketika keluarganya bangkrut dan ketika ia mencintai calon suami dari sepupunya, Stephen. Hal semakin pelik saat Stephen juga mencintainya dan mengajaknya kawin lari. Disinilah hati Maggie bertentangan, sibuk memilih kebahagiaan sendiri atau keluarga sejatinya.

Naratif yang panjang
Kisah ini cukup menarik sebenarnya. Hanya saja saya tidak tahan dengan narasi panjang yang menjelaskan berbagai macan hal detil. Jujur, saya agak tergesa-gesa membaca halaman demi halaman gara-gara tadi. Maka dari itu saya akui bahwa George Eliot adalah ratu dan pakar dari kisah narasi panjang! So outstanding! Awesome!

Logat dan gaya bahasa
Jika anda adalah pertama kali membaca novel ini dan belum pernah membaca novel sejenis dengan gaya dialog yang unik, maka selamat. Anda akan menemukan kejutan. Apa kejutannya? Yakni logat percapakan yang ditulis berdasarkan seperti apa yang terucap. Dan saya pikir hal ini untuk membedakan asal daerah dan kedudukan. Seperti contoh berikut:
"-what I want to give Tom a good eddication..."
"...it 'ud be a help to me wi' these lawsuit.."
Sepanjang cerita para pembaca akan selalu disuguhi gaya bicara seperti ini. :)

Buku ini menarik dan cocok bagi para penggemar karya klasik khususnya Eropa. Dan menarik pula jika dijadikan bahan analisa skripsi atau thesis.

P.S. Huaaahh akhirnya selesai juga PR dari mbak Desty. Makasih ya mbak Des atas buntelannya. :D
       Oh ya sebenarnya buntelan mbak Desty ini masuk ke BM September. Yang artinya jumlah BM saya
       seharusnya adalah 30 buku. hihi

*Artikel ini saya ikutsertakan pada RC English Bunda Peny, New Author RC oleh Ren dan Big Read oleh mbak Dessy.

Kilas Buku: The Enormous Crocodile

|
Judul: Si Buaya Raksasa
Judul Asli: The Enormous Crocodile
Pengarang: Roald Dahl
Alihbahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2006 (pertama kali terbit 1978)
Tebal: 64 halaman
Rating: 3 / 5
Rentang Usia: 6 tahun

Di sebuah sungai di dalam hutan terdapat dua ekor buaya, si buaya raksasa dan si buaya yang tidak terlalu besar. Mereka sedang mengobrol santai soal makanan. Si buaya raksasa sangat ingin memakan anak-anak kecil sebagai makan malamnya dan ia sangat yakin sekali bahwa menu terbaik dan paling enak adalah anak-anak kecil. Sementara si buaya yang tidak terlalu besar bersifat realistis, dia hanya ingin memakan ikan-ikan di sungai sebagai makan malamnya nanti. Lantas si buaya raksasa mengejek si buaya tak terlalu besar bahwa ia hanya sosok yang tidak mau berusaha untuk mencari makan malam yang paling enak (yakni manusia) dan hanya nongkrong malas-malasan di sungai tanpa mendapat apapun kecuali ikan-ikan kecil. Si buaya tak terlalu besar tidak peduli akan ejekan si buaya raksasa, ia bersikeras pada pendiriannya sementara si buaya raksasa pergi ke kota untuk berburu anak-anak kecil.

Si buaya raksasa memiliki beberapa rencana jitu dan busuk untuk menangkap anak-anak kecil. Namun apakah ia berhasil?

Kilas Buku: Charlie and the Chocolate Factory

|
Judul: Charlie dan Pabrik Coklat Ajaib
Judul Asli: Charlie and the Chocolate Factory
Pengarang: Roald Dahl
Alihbahasa: Ade Dina Sigarlaki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: IV / Juni 2006 (Terbit pertama kali 1964)
Rating: 4/5
Rentang Usia: 8 tahun

Sebuah Pabrik Coklat paling besar dan paling tersohor di seluruh dunia terletak tak jauh dari rumah Charlie, bocah laki-laki miskin yang hanya makan sup kubis setiap malam. Pabrik coklat itu ajaib dan misterius. Tidak pernah ada pekerja yang terlihat keluar masuk ke dalam pabrik namun mesin-mesin di dalam pabrik selalu bekerja, mengeluarkan asap dan wangi coklat yang menggiurkan tercium dari jarak terjauh. Semua orang sangat penasaran dengan pabrik coklat itu hingga akhirnya Mr. Willy Wonka mengundang 5 orang anak untuk masuk ke dalam pabriknya dan melakukan tur yang cukup menyenangkan.

Kilas Buku: The Twits

|
Judul: Keluarga Twit
Judul Asli: The Twits
Pengarang: Roald Dahl
Alihbahasa: Yoke Octarina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Kedua, 2004
Tebal: 104 halaman
Rating: 3/5
Usia layak baca: 8 tahun

Sepasang suami istri Tuan dan Nyonya Twit merupakan orang tua yang jelek dan jahat. Mereka senang saling menjahili satu sama lain dan mereka pun jahat terhadap orang lain. Mereka jahat terhadap binatang. Dahan-dahan pohon diberinya lem oleh mereka agar burung-burung kecil dapat terjerat kakinya sehingga dengan mudah dapat mereka masak sebagai santapan. Bahkan anak-anak kecil pun ingin mereka santap pula. Tak hanya itu mereka senang melihat makhluk hidup lain menderita. Mereka mengurung monyet-monyet agar tak bisa berkeliaran. Sungguh jahatlah Tuan dan Nyonya Twit yang sudah tua itu.

Kilas Buku: The Magic Finger

|
Judul: Jari Ajaib
Judul Asli: The Magic Finger
Pengarang: Roald Dahl
Alihbahasa: Listiana Srisanti
Penerbit: Gramedia
Cetakan: II / 2003
Tebal: 80 halaman
Rating: 4 / 5
Rentang Usia: 7 tahun

Seorang gadis kecil yang menjadi tokoh dalam buku Roald Dahl kali ini punya kelebihan yang menarik, yakni telunjuk ajaib yang bisa mengubah siapapun menjadi apapun.Kelebihan ini hanya terjadi ketika ia marah. Gadis kecil yang baik ini memiliki tetangga, keluarga Gregg yang senang berburu binatang. Mereka senang menembaki binatang dan memakannya. Si gadis kecil tidak senang akan hal ini dan mencoba berbicara kalau hal tsb tidaklah baik. Namun nasihatnya tidak digubris hanya karena ia anak kecil. Si gadis kecil pun merasa marah hingga badannya bergetar dan telunjuknya mengeluarkan kilat cahaya di rumah keluarga Gregg. Pada keesokan harinya sesuatu terjadi pada keluarga Gregg. Yang jelas kejadian tersebut membuat mereka tidak lagi berani berburu binatang dan segera mengganti nama keluarga mereka menjadi keluarga Egg.

Kilas Buku: Danny the Champion of the World

|
Judul: Danny si Juara Dunia
Judul Asli: Danny the Champion of the World
Pengarang: Roald Dahl
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I / 2006
Tebal: 248 halaman
Rating: 3/5
Rentang Usia: 8 tahun

Danny si kecil yang rajin dan pintar hanya tinggal berdua saja dengan ayahnya. Ia sangat mencintai ayahnya. Ayah Danny adalah sosok yang rajin, kreatif, dan yang paling penting adalah penyayang. Ia sangat menyayangi Danny sepenuh hati.

Sampai suatu ketika ayahnya menceritakan rahasianya yang menurut Danny sangat kelam. Ayahnya senang berburu di hutan milik seorang kaya yang pelit secara diam-diam. Danny sempat berontak karena menurutnya ini adalah suatu kejahatan. Namun lama-lama Danny tahu kalau hampir seluruh penduduk desa pun melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Dan suatu ketika Danny pun ikut membantu ayahnya menjalankan rencana jitu untuk membuat si orang kaya pelit pemilik hutan itu kapok.

Kilas Buku: The Adventures of Tom Sawyer

|

The Adventures of Tom Sawyer
Oleh Mark Twain
Paperback, 356 halaman
Bentang, 25 April 2011

Siapa yang tak kenal Tom Sawyer? Si anak bengal yang dibenci sekaligus dicintai para penduduk Desa St. Petersburg. Berbagai petualangan dicoba oleh Tom seolah ia tahu bahwa masa kecil adalah masa emas yang tidak boleh dilewatkan hanya dengan mengurung diri saja di rumah.

Ini adalah pertama kalinya saya membaca kisah petualangan Tom Sawyer yang fenomenal itu. Kenakalan dan keceriaan khas anak-anak mewarnai kisah ini. Saya rasa hal ini akan membuat para pembaca dewasa iri hati kepada Tom Sawyer dan berharap akan mengulang kembali masa kecil mereka yang tentu saja tidak akan mungkin terjadi.

Apa yang bisa didapat dari buku ini? Selain petualangan, kisah Tom Sawyer menggabungkan kritikan sosial dan pesan moral. Apa saja?

Kilas Buku: James and the Giant Peach

|
Judul: James dan Persik Raksasa
Judul Asli: James and the Giant Peach
Pengarang: Roald Dahl
Alihbahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I / September 2006
Rating: 3/5
Rentang Usia: 8 tahun

James awalnya hidup bahagia dengan ayah ibunya yang sangat menyayanginya. Ia tinggal di rumah cantik di pinggir pantai. Tiba-tiba segalanya berubah ketika seekor badak besar lepas dari kandang dan menelan kedua orang tua James.

James yang malang kemudian harus tinggal dengan kedua bibinya yang jahat, Bibi Sponge yang gendut dan Bibi Spike yang kurus kering. James dipukuli dan disuruh ini itu hingga ia tak tahan dan menangis seharian. Kemudian datanglah laki-laki aneh yang memberinya sekantung bibit hijau aneh dan menyuruhnya merebus bibit-bibit itu agar keajaiban muncul untuknya. Namun belum sempat ia merebus, ia malah menjatuhkan semua isi kantungnya kemana-mana dan menghilang dibawah tanah dan juga jari-jemari tangannya. James menangis lagi menyesali tingkah bodohnya. Namun ternyata bibit hiaju itu mempengaruhi pohon buah persiknya yang tumbuh menjadi besar dan besar, begitu juga dengan buahnya, ditambah para serangga di sekitarnya.

Kilas Buku: The Giraffe and the Pelly and Me

|
Judul: Si Jerapah dan Si Pelly dan Aku
Judul Asli: The Giraffe and the Pelly and Me
Pengarang: Roald Dahl
Alihbahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I / Juni 2006
Rating: 5/5
Rentang Usia: 6 tahun

Dari sekian banyak buku Roald Dahl, mungkin buku tipis inilah yang paling saya gemari. Buku berjudul Si Jerapah dan Si Pelly dan Aku (alias Si Monyet, karena dialog ini dibaca oleh si Monyet) bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Billy yang memiliki jiwa pemberani dan selalu ingin tahu. Tak jauh dari rumahnya ada sebuah gedung tua yang mungkin saja dulu adalah sebuah toko permen. Gedung itu bernama The Grubber. Kondisinya sangat tua dan kusam. Ada tulisan 'DIJUAL' pada muka gedung tsb. Namun pada suatu hari tulisannya diganti menjadi 'KEJUAL' dan banyak barang-barang rongsokan yang dibuang dari dalam gedung itu. Billy ingin tahu ada apa dan berteriak kedalam, bertanya apa ada orang di dalam. Disinilah sifat Billy yang sangat ingin tahu tergambar jelas.

Tiba-tiba muncullah ketiga binatang ramah dari dalamnya ada si Jerapah, si Pelly alias burung Pelikan dan si Monyet (yang tadinya menyebut dirinya sendiri sebagai Aku). Billy tidak takut, ia malah berkenalan dan berusaha membaur dengan ketiga binatang itu yang ternyata adalah tukang bersih-bersih gedung. Benar kan analisa saya kalau Billy adalah anak yang pemberani? :)

Kilas Buku: The Phantom Tollboth

|

 
Kisah Petualangan Milo di Pintu Tol Ajaib (The Phantom Tollbooth)
By. Norton Juster
248 halaman
Liliput, 2005 (Terbit pertama kali 1965)

Milo, seorang anak laki-laki yang murung, menemukan paket misterius di kamar tidurnya pada suatu siang seusai bersekolah. Penasaran, Milo membuka paketnya dan menemukan sebuah pintu tol ajaib dengan sebuah peta panduan. Maka, ia pun mengambil mobil-mobilannya yang tak pernah terpakai lalu menggunakannya untuk bertualang masuk ke pintu tol ajaib. Tak disangka, Milo menemukan banyak hal yang aneh dan ajaib tentunya. Semua makhluk ajaib di dalam sana, memberikan Milo banyak pelajaran berharga.

-------------------------

Jujur saya merasa malas dan terpaksa ketika membuka halaman pertama dari buku ini. Entah mengapa kesan pertama (melihat gambar sampul) kurang begitu mengena di hati saya. Namun karena ada hasrat keterpaksaan dalam diri saya yang mengharuskan saya membaca buku ini hingga tuntas, maka saya jalani saja. Halaman pertama dan kedua saya lalui dengan sabar, namun ajaibnya (baiklah saya sadar diri kalau dalam artikel ini banyak kata 'ajaib' yang saya lontarkan) saya mulai menyukai tema ceritanya dan meneruskan bacaan dengan hati riang.

Seperti synopsis singkat yang saya tulis di paragraph paling awal, cerita ini adalah tentang Milo, seorang anak yang bosan dengan rutinitasnya sehari-hari. Melihat karakter Milo, saya menjadi teringat pada masa kecil diri saya sendiri (atau itu masih terjadi dengan diri saya hari ini?) yang merasa menjalani hidup adalah suatu hal yang sangat membosankan. Tidak pernah ada petualangan. Jarang ada permainan yang sangat-sangat menyenangkan. Tidak ada buku-buku menarik yang menghiasi rak saya seperti hari ini. Semua hampa dan saya merasa kesepian (lho kok malah curhat?).

Dan seperti itulah Milo setiap hari. Ketika ia berjalan, ia tidak tahu kemana akan pergi. Bahkan jikapun ia tahu, ia malah berpikir mengenai tempat lain yang sama sekali bukan tujuannya saat itu. Beruntung sekali ada sekelompok (atau seseorang) orang yang baik hati menghadiahkannya pintu tol ajaib sehingga ia bisa melalui petualangan ke dalamnya dan bertemu dengan banyak teman dan peristiwa.

Kilas Buku: Dear Enemy

|

Dear Enemy
Oleh Jean Webster
Paperback, 382 halaman
Atria, Juli 2010
 
Sebenarnya pada awalnya saya agak malas membaca buku ini. Jika tidak dipaksakan, atau jika tidak ada event keterpaksaan (dalam hal ini adalah event baca bareng-nya mbak Maria), mungkin saja saya tidak akan membaca buku terbitan atria yang satu ini.
 
Alasannya? Tidak ada alasan jelas kecuali buku ini rasanya kurang mengesankan saya agar langsung dibaca tuntas, tidak seperti Charlotte's Web dan Petualangan si Kembar Tiga yang baru-baru ini saya baca dalam waktu singkat.
 
Buku ini tentang apa? Well, Dear Enemy adalah sekuel dari Daddy-Long Legs, yang sebenarnya saya sendiri belum pernah membacanya karena memang belum punya bukunya. Sampai saat ini pun sepertinya DDL sudah agak sukar ditemukan. Ada teman yang juga sedang mencari buku ini dan sama-sama kesulitan menemukannya. Lanjut mengenai Dear Enemy, ceritanya mengenai Sally McBride, seorang sosialita yang diminta oleh Judy Abbott (tokoh utama dari DDL) untuk mengurus Panti Asuhan John Grier.
 
Awalnya Sally agak kurang terbiasa dengan kehidupan panti, apalagi ia harus berkoalisi dengan dokter berdarah Skotlandia yang mana memiliki karakter kurang bersahabat. Namun kedua insan yang saling bertolak belakang ini pada akhirnya mampu saling bahu membahu untuk mengurus anak-anak yatim dan membesarkan nama panti John Grier.
 
Di awal hingga pertengahan cerita saya masih belum terlalu nyambung dengan situasi Sally. Ya, saya tahu siapa Sally dan apa yang dia urusi. Namun saya belum ngeh dengan surat Sally untuk Gordon, yang saya pikir adalah hanya teman baik Sally. Namun ternyata saya salah. Gordon lebih dari itu. Gordon adalah tunangan Sally!
 
Situasi menjelang hingga akhir cerita justru lebih seru. Cerita mengalir sesuai dengan apa yang saya bayangkan: Gordon dan Sally berseteru, dan kemudian benih-benih cinta antara si dokter dan Sally pun bersemai.
 
Yah, begitulah akhirnya. Yang membuat saya salut disini adalah kegigihan Sally yang merupakan sosialita dan uptown girl mengurusi anak-anak yatim. Ia bukan sekedar menjalankan tugas, namun ia juga peduli. Dan dari tugas-tugas barunya ini Sally mendapat penempaan yang luar biasa. Ia belajar dari anak-anak asuhnya, ia juga membaca serba-serbi kehidupan yang rumit dari orang-orang sekitarnya, dan yang lebih penting ia jadi tahu bagaimana harus menghadapi kehidupan dan mengambil keputusan dari setiap kerumitan.
 
Buku ini cocok dibaca oleh anak yang mulai beranjak remaja. Jean Webster adalah salah satu penulis yang karya-karyanya pantas dibaca.
Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 3 oleh Bzee dan read along with children literature sekuel Little Women, Good Wives dan Little Men karya Louisa May Alcott yang diadakan oleh Hobby Buku dan juga RC New Author by Ren.

Kilas Buku: Oliver Twist

|

Judul: Oliver Twist
Pengarang: Charles Dickens
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Bentang
Cetakan: II, Agustus 2011
Tebal: 578 halaman

Oliver Twist lahir dari seorang ibu yang saat itu dalam kondisi payah. Tidak banyak yang menolong kecuali wanita tua dan ahli bedah yang tidak terlalu tulus. Penderitaan tidak berhenti sampai disini. Oliver tumbuh besar dalam rumah sosial yang tidak ada kasih sayang didalamnya. Para pejabat desa yang bertanggungjawab pun hanyalah orang-orang yang memikirkan perut masing-masing. Akibatnya tidak ada orang yang benar-benar tulus, bahkan rakyat miskin sekalipun. Bagi mereka harta adalah kunci untuk hidup senang dan juga popularitas.

Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Dickens, khususnya Oliver Twist yang populer ini. Satu kata: Bertele-tele. Seperti kebanyakan para sastrawan klasik, jika saya perhatikan, cerita brilian tentang Oliver yang dibuat oleh Dickens ini banyak sekali memaparkan hal-hal detail, sangkin banyaknya sebagian besar pembaca akan menganggap hal ini adalah hal yang bertele-tele. Atau mungkin saja pembaca bisa menjadi bosan karena tidak sabar menunggu bagian cerita berikutnya.

Namun yang saya sukai dari Dickens adalah gaya menulisnya yang indah. Saya berterimakasih juga kepada penerjemah Oliver Twist untuk edisi penerbit Bentang ini, hasil terjemahannya cukup baik dan enak dibaca. :) Dickens dengan indahnya menyindir para pembuat kebijakan yang culas dan memberi contoh kebaikan manusia lewat Oliver dan para penolongnya yang tulus hati. Tidak ada rasa dendam dan benci dalam diri Oliver kecuali ketika seseorang mencemooh ibunya yang bahkan belum pernah dilihat oleh anak kecil tampan tersebut.

Buku ini karya terpuji dan penuh hikmah yang patut dikenang sepanjang masa. Bisa dibaca oleh para pembaca dari berbagai usia.

***
Picture and text about the author are taken from Goodreads.com
Charles Dickens is a prolific 19th Century author of short stories, plays, novellas, novels, fiction and non-fiction; during his lifetime Dickens became known the world over for his remarkable characters, his mastery of prose in the telling of their lives, and his depictions of the social classes, morals and values of his times. Some considered him the spokesman for the poor, for he definitely brought much awareness to their plight, the downtrodden and the have-nots. He had his share of critics, like Virginia Woolf and Henry James, but also many admirers, even into the 21st Century.

Ulasan ini diikutsertakan posting bareng BBI untuk Sastra Eropa, FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 3 oleh Bzee, Read Big Mbak Dessy di Ngidam Buku , What's in a Name dan New Authors RC oleh Ren.

Kilas Buku: Little Women (Little Women #1)

|
Judul: Little Women
Pengarang: Louisa May Alcott
Penerbit: Serambi
Tebal: 489 halaman
Cetakan: II / November 2009
Rating: 3/5

Keluarga March memiliki empat orang puteri yang cantik, pintar dan baik; Meg, Jo, Beth dan Amy. Masing-masing dari mereka memiliki sifat yang khas namun pada dasarnya masih memiliki sifat ketulusan yang sama.

Tokoh yang lebih tersorot dalam buku ini adalah Josephine March, yang merupakan representatif dari pengarangnya sendiri, Louisa May Alcott. Jo yang senang membaca dan menulis namun agak susah bersosialisasi membawa dirinya tenggelam dalam perpustakaan Bibi March setiap kali mengunjungi dan menjaga bibi tua itu di rumahnya yang besar. Jo yang lebih senang bermain dengan anak laki-laki menjadikannya dekat dengan Laurie yang sempat menaruh harapan cinta pada Jo.

Terlepas dari karakter Jo yang cukup mendominasi, keluarga March pada akhirnya mampu mengatasi segala suka dan duka yang mereka hadapi. Ketiga puteri keluarga March -setelah Beth meninggal tinggallah Meg, Jo dan Amy- menempuh takdir cinta mereka masing-masing. Ketulusan dan kebaikan hati yang selalu diajarkan Marmee melekat kepada karakter mereka bahkan setelah mereka berumah tangga.

Kilas Buku: Anne's House of Dreams

|
Judul: Anne's House of Dreams
Pengarang: LM Montgomery
Alihbahasa: Maria M. Lubis
Penerbit: Qanita
Cetakan: ke-2, Mei 2010
Tebal: 420 halaman
Harga: Pinjam dari Perpustakaan LIA
Usia layak baca:  segala usia

Ini adalah buku kelima dari serial Anne of Green Gables.Cerita dibuka dengan persiapan pernikahan antara Anne dan Gilbert. Terasa suasana hiruk pikuk dan semua bergembira menyambut pernikahan si rambut merah itu. Sayangnya momen bahagia itu hanya berlangsung dalam satu hari dan sepasang pengantin baru itu harus segera pindah ke desa kecil dekat pantai dimana Gilbert ditugaskan menjadi dokter prakter disana.

Lagi-lagi buku ini berputar pada kisah-kisah semua teman baru yang ada di lingkungan Anne. Agak jarang Anne menceritakan dirinya sendiri. Seperti tiba-tiba saja Anne sudah harus melahirkan, tanpa pernah disebut-sebut kapan ia mulai hamil dan ngidam. Mungkin yang ditekankan oleh LM Montgomery disini adalah bukan soal kehidupan pribadi Anne Shirley, namun tentang hikmah dari kehidupan manusia yang tinggal di sekitarnya.

Custom Post Signature