Top Social

Showing posts with label Fantasi. Show all posts
Showing posts with label Fantasi. Show all posts

Kilas Buku: The Girl Who Drank the Moon

|

Satu lagi cerita fantasi middle grade yang memenangkan Newbery Medal tahun 2017. Ceritanya tentang seorang bayi perempuan yang dipisahkan dari ibu kandungnya untuk ditinggalkan di hutan berbahaya sebagai persembahan bagi penyihir. Bayi itu bukan satu-satunya anak yang menjadi persembahan, karena setiap tahun selalu ada satu anak yang harus dikorbankan di daerah Protektorat. Petinggi dan pimpinan biarawati di sana, di sana mewajibkan satu bayi untuk dikorbankan.

Sebenarnya, menurut petinggi (tetua) Proktetorat, tidak ada penyihir di hutan. Hal itu hanya untuk menakuti warga supaya patuh pada peraturan. Padahal, agak jauh di seberang hutan berbahaya, tinggal seorang penyihir baik hati bernama Xan, bersama satu monster dan seekor naganya. Setiap tahun Xan mengambil bayi yang dibuah dari Proktetorat dan diserahkan ke daerah Merdeka supaya dapat diadopsi oleh keluarga yang mampu. Bayi-bayi itu kemudian disebut anak-anak Bintang.

Namun bayi yang satu ini berbeda. Bayi perempuan ini malah tak sengaja mereguk sinar bulan banyak-banyak yang sebenarnya juga tak sengaja disuapi oleh Xan. Menyadari hal itu, akhirnya Xan sendirilah yang mengadopsi bayi yang kemudian diberi nama Luna. Seperti Xan dulu, Luna kecil memiliki kekuatan sihir terlalu banyak akibat asupan sinar bulan yang berlebihan. Penyihir tua itu pun mencaritahu bagaimana Luna dapat mengendalikan kekuatannya hingga saat yang tepat tiba. Dan ternyata hal itu tidaklah mudah. Bahu membahu bersama si monster dan si naga, Xan berusaha mengajarkan sekaligus melindungi Luna dari sihirnya sendiri.

Sementara itu ibu kandung Luna sudah berhenti bersedih. Anehnya, hal ini membuat pimpinan biarawati tidak senang. Satu hal lagi, sang keponakan laki-laki tetua yang tadinya juga calon tetua Proktetorat akan segera memiliki seorang bayi. Bayinya itu akan segera dikorbankan tahun ini. Mencegah hal itu si keponakan tetua membuat rencana matang untuk membunuh penyihir yang akan mengambil bayinya. Istrinya tidak tahu menahu soal rencana itu, namun seperti ibu kandung Luna, ia merasa curiga dengan para tetua dan pimpinan biarawati yang tidak senang para penduduknya move on. Pertanyaannya sekarang: apakah ada pergerakan yang akan dimulai dari sana? Dan apa pengaruhnya terhadap Luna dan anak-anak Bintang di daerah Merdeka?

Awal membaca buku ini kesan yang terbentuk adalah cerita fantasi yang fun layaknya cerita anak-anak biasa. Sayangnya saya salah. Kelly Barnhill telah membentuk cerita fantasi anak yang sedikit dark dan absurd walau masih bisa dibaca oleh remaja usia SMP. Barnhill seolah ingin memberitahu kepada pembaca bahwa sihir ada dalam tubuh dan darah manusia. Cinta dan kasih sayang dapat menjelma menjadi sihir yang baik, sementara iri hati dan kedengkian hanya akan membuahkan sihir jahat yang haus akan penderitaan orang lain.

Saya suka buku ini. Bintang 4.

Data buku

Judul: The Girl Who Drank the Moon
Pengarang: Kelly Barnhill
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP), 11 September 2017 (terbit pertama kali 2016)
Tebal: 420 halaman

Kilas Buku: Winter (The Lunar Chronicles #4)

|

Akhirnya sampai juga saya ke buku terakhir dari serial The Lunar Chronicles. Pada buku 1-3 kita disuguhkan kisah perjuangan Cinder yang terkaget-kaget karena ia harus diburu oleh Ratu Levana dari Luna, karena Cinder yang seorang cyborg ini adalah pewaris sah tahta Kerajaan Bulan. Cinder lantas bertemu dengan tiga gadis lainnya yang sama-sama punya jiwa pemberontak, seperti Scarlet gadis pertanian yang pemberani, Cress si damsel in distress yang jago IT, dan Winter (bertemu di buku 4) anak tiri dari Ratu Levana.

Bersama dengan ketiga gadis yang menjadi teman barunya itu, juga termasuk cowok-cowok keren yang kemudian menjadi pacar mereka, Cinder dan Kai berjuang melawan Ratu Levana yang tiran. Tentu saja perjuangan ini tidaklah mudah. Mereka harus berkorban banyak hal. Lantas ada hal baru yang harus dipikirkan, yakni bagaimana rencana selanjutnya jikalau Cinder berhasil menumbangkan Levana dan menjadi Ratu Bulan. Bagi Cinder yang terbiasa menjadi budak dan tidak mengerti seluk beluk pemerintahan tentu akan menjadi hal yang sangat sulit. Maka, silakan saja baca detilnya dalam buku pamungkas ini.

Well, ceritanya sangatlah menarik. Eksekusinya juga bagus. Hanya saja, bagi saya yang tidak suka berlama-lama dalam proses cerita, rasa bosan akan mudah menerjang. Jujur saja, saya lebih sering menggunakan metode skimming dan lompat kepada kesimpulan atau bagian cerita yang menurut saya krusial. Tidak ada yang salah untuk itu buat saya, asal si pembaca tetap dapat mengerti jalan cerita dengan baik.

Tokoh favorit saya dalam buku 4 ini adalah Cress dan Thorne (tentu saja Cinder tetap menjadi tokoh paling favorit saya). Cress, meskipun memiliki karakter yang lemah, ia tetap berusaha untuk berubah, memberanikan dirinya sendiri untuk menyumbangkan tenaga dan pikirannya demi revolusi di planet bulan. Hal yang paling lucu dan menggemaskan tentu saja kisah cinta antara ia dan Thorne, si cowok paling bengal yang dianggapnya pahlawan. Cress sepertinya sangat terpengaruh dengan kisah-kisah percintaan yang ditontonnya, sementara Thorne mencoba menjadi cowok paling cool yang pernah ada. Hehe.

Ada hal penting yang dapat dijadikan pelajaran, yakni tentang bagaimana perlakuan buruk dari orang lain dapat membentuk kepribadian seseorang. Rasa benci dan dendam yang bertumpuk dan tidak tersalurkan akan membuatnya lebih kejam daripada monster yang paling buas sekalipun. Yah sebenarnya hanyalah cinta kasih dan keterbukaan yang mampun menghapus dendam. Mungkin itulah yang terjadi pada diri Levana, ia menjadi makhluk paling menyedihkan yang pernah ada. Maka kekejaman menjadi satu pelampiasan dari hatinya yang kelam.

OK, bintang 3 untuk buku pamungkas ini. :)

Data buku

Judul: Winter (The Lunar Chronicles #4)
Pengarang: Marissa Meyer
Hardcover, 1st, 827 pages
Published November 10th 2015 by Feiwel & Friends

Kilas Buku: Cress (The Lunar Chronicles #3)

|

Setelah Cinderella dan Si Tudung Merah, kini kisah berlanjut ke Rapunzel. Yah, namanya tidak benar-benar Rapunzel. Kisahnya juga bukan kisah Rapunzel. Seperti biasa kisahnya merupakan hasil modifikasi dari kisah klasik si Rapunzel yang berambut panjang. Sayangnya Rapunzel dalam kisah fantasi-modern ini, si gadis tidak mendapatkan kesaktian apapun dari rambut panjangnya. Marissa Meyer menggambarkan kalau ia ini adalah "damsel in distress", terlihat dari bagaimana Cres (nama tokoh "Rapunzel" di buku ini) benar-benar menganggap dirinya adalah gadis yang mendambakan sosok pahlawan menyelamatkannya.
Because if there was one thing Cress knew about heroes, it was that they could not resist a damsel in distress. And she was nothing if not in distress.
"But you're a prisoner," said Thorne. "I prefer damsel in distress," she murmured.
Cress adalah seorang shell yang menjadi tawanan khusus dari Sybill Mira, penyihir kepercayaan Ratu Levana. Sejak kecil ia ditempatkan di sebuah satelit di antara Bulan dan Bumi. Tugasnya adalah untuk mengawasi segala hal tentang Bumi, termasuk celah untuk menyerang planet itu. Sayangnya Cress bukanlah sosok yang tangguh dalam menjalankan tugasnya. Ia cenderung melankolis dan lebih senang menonton drama daripada memata-matai Bumi. Ketika ia bertatap muka dengan buronan Thorne, ia langsung jatuh cinta dan merasa bahwa si penjahat itu adalah pahlawannya. Akankah mereka benar-benar menjadi pasangan yang serasi? Si Melankolis dan si Buronan.

Sementara itu, Cinder tetap berkutat dengan usahanya mencegah pernikahan Ratu Levana dan Kaisar Kaito. Sudah lama sekali ya sejak buku satu kita tidak melihat kisah antara Kai dan Cinder. Selama ini mereka sudah terpisah cukup lama. Nah, mungkin saja ya Cinder akan bertemu dengan Kai dalam buku tiga ini. Dan kita akan melihat sisi lemah Cinder. Hal ini cukup saya sukai, karena betapapun kuatnya Cinder, ia masih mau mengakui betapa ia takut menjadi seorang pemimpin harapan rakyat.
And even if I succeed, I have no idea how to be a queen. There are so many people relying on me, and now they're dying, all because of some ridiculous fantasy that I can help them, that I can save them, but what if I can't?
Well, pada akhirnya saya mengakui kisah fantasi hasil modifikasi ini cukup berhasil. Meyer tidak hanya mengandalkan romance semata dalam menarik para pembacanya. Ia juga berhasil membuat alur cerita yang cukup logis.

Tiga bintang.

Data

Judul: Cress (The Lunar Chronicles #3)
Pengarang: Marissa Meyer
Hardcover, 552 pages
Published February 4th 2014 by Feiwel & Friends

Kilas Buku: Scarlet (The Lunar Chronicles #2)

|

Setelah kisah cinta Linh Cinder yang terinspirasi dari Usagi Sailor Moon dan (pastinya) Cinderella sudah dibahas dalam buku pertama, kini Dongeng Bulan berlanjut ke buku kedua. Tidak jauh-jauh dari kisah dongeng klasik, buku kedua bercerita tentang Scarlet, seorang gadis yang baru saja kehilangan neneknya. Tidak, neneknya Michele Benoit, belum meninggal. Ia hanya hilang tanpa jejak, kecuali kartu identitasnya yang sudah dicongkel dari tangannya. Scarlet yang senang memakai hoodie dan bekerja di pertanian milik keluarganya, berusaha menemukan neneknya yang (menurut dugaan Scarlet) diculik sekelompok orang jahat.

Beruntung ada pemuda dengan tato mencurigakan yang membantu gadis bertudung itu. Pemuda ini adalah orang baru di tempat Scarlet tinggal. Ia petarung jalanan yang memiliki nama panggilan Wolf. Anehnya ia juga memiliki taring dan penciuman tajam seperti serigala pada umumnya. Scarlet agak curiga pada awalnya, namun ia bertekad untuk menemukan neneknya dengan selamat apapun jalan yang ditempuhnya.

Saya cukup terpukau dengan imajinasi Marissa Meyer ini. Ia mampu menceritakan ulang dongeng versi dirinya sendiri. Fantasi yang digunakan memang agak tidak masuk akal. Tapi, ya kan namanya juga fantasi. Namun jalan cerita dan alur yang saling berhubung terasa cukup nyambung satu sama lain. Itu yang sebenarnya membuat saya bisa bertepuk tangan dengan keberhasilan Meyer.

Tokoh Wolf dan Scarlet sepertinya bakal menjadi idola baru ya, sejajar dengan Cinder dan Kai. Kisah cinta mereka bahkan lebih 'panas' daripada si Upik Abu dan si Pangeran. Hehe. Yang paling saya kagumi sebenarnya adalak Iko, android milik Cinder. Karena ia robot, menjadikannya sebagai karakter paling easy going sepanjang cerita. Tanpa beban gitu! Hehe. Mungkin buat selingan ya diantara tokoh dan masalah yang rumit dan bercampur baur. :D

Well, bintang tiga! :)

Data buku

Judul: Scarlet (The Lunar Chronicles #2)
Pengarang: Marissa Meyer
Kindle Edition, 464 pages
Published February 5th 2013 by Feiwel & Friends

Kilas Buku: Cinder (The Lunar Chronicles #1)

|

Cinder adalah seorang cyborg, manusia yang beberapa bagian tubuhnya sudah disambungkan dengan mesin. Seperti kebanyakan cyborg, Cinder dipandang sebelah mata oleh orang-orang normal. Ditambah lagi ia tidak punya orang tua sehingga harus bergantung kepada perwalian ibu tirinya yang terus menerus meratap tentang nasibnya yang miskin harta. Ia menyesali mengapa suaminya harus lebih peduli kepada Cinder daripada kedua anak kandungnya sendiri.

Cinder harus bekerja sebagai mekanik untuk memenuhi kebutuhan seluruh keluarganya. Tidak satupun dari ibu tiri atau kedua saudara tirinya yang bekerja. Berkat usahanya yang keras, Cinder berhasil menjadi mekanik perempuan profesional yang paling terkenal di New Beijing. Suatu ketika pangeran Kaito, calon pewaris tahta kekaisaran Persemakmuran Timur, datang kepada gadis mekanik itu dengan androidnya yang rusak. Ia berharap androidnya dibetulkan segera.

Di sisi lain, kerajaan Luna menunggu waktu yang tepat untuk menjajah Bumi. Ratu Levana yang memerintah Bulan, sangat ingin menikahi Pangeran Kai supaya dapat menguasai Bumi dengan mudah. Ia melakukan segala cara mulai dari manipulasi, hingga iming-iming vaksin dari wabah letumosis yang sedang merebak di seluruh negeri Bumi.

Yang jelas, keberadaan Cinder dalam cerita ini punya andil dalam melawan Ratu Levana dan kroninya. Tapi entahlah seorang cyborg sebatang kara dapat melawan ratu yang sangat berkuasa.

Sebenarnya cerita ini adalah campuran inspirasi dari berbagai kisah dongeng dan fantasi. Mungkin semacam fiksi penggemar dari cerita Cinderella, Sailor Moon (mengingat penulisnya merupakan penggemar Sailor Moon), dan juga Star Wars. Yang saya sukai dari fantasi yang satu ini, meskipun tokohnya perempuan, ia tidaklah berkarakter lemah. Cinder bukanlah damsel in distress. Ia berkepribadian kuat dan sudah lama menjadi kuat dengan bertahan hidup dalam kesulitan. Dan satu lagi, ia tidak pernah bermimpi mendapatkan pertolongan orang lain (bahkan mengharapkan pangeran datang), kecuali dirinya sendiri.

Saya cukup suka dengan alur ceritanya. Maka dari itu sepertinya 3 bintang cukup. :)

Data

Judul: Cinder (The Lunar Chronicles #1)
Pengarang: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Paperback, 384 pages
Published January 1st 2016 by Penerbit Spring (first published January 3rd 2012)

Kilas Buku: Medium yang Tidak Bahagia (Suddenly Supernatural #3)

|



Temui Kat, gadis yang dapat melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Well, sebenarnya tidak hanya hantu, ia juga dapat merasakan entitas gelap yang negatif (jika kau tidak mau menyebutnya dengan iblis). Dan temui juga Jac, sahabat Kat yang jago bermain cello. Jac sangat antusias dengan segala hal yang berbau hantu. Ia dan Kat sangat kompak menghadapi masalah-masalah yang seperti ini.

Suatu saat Kat menemani Jac dan ibunya menginap di Whispering Pines Mountain House, sebuah hotel yang sudah berdiri sejak zaman Victoria. Jac harus mengikuti Konferensi Musisi Timur Laut Muda atas saran ibunya. Sementara bagi Kat, ini adalah kesempatan besar untuk berlibur di hotel mewah dengan pemandangan yang menakjubkan.

Sayangnya hotel yang telah dibangun dengan waktu yang cukup lama itu sudah pasti berhantu. Sebelum Kat masuk ke dalam hotel ia sudah bertemu dengan hantu medium. Hantu yang tidak sadar kalau ia sudah mati itu tinggal di kamar tempatnya menginap. Tidak masalah sih kalau cuma satu hantu, apalagi hantu medium yang bernama Madame Serena itu cukup menyenangkan. Ada hantu yang lebih dari sekedar hantu, entitas negatif yang berada di seberang kamar Kat.

Kalau awalnya Jac masih berniat menemani Kat menghadapi hantu dan entitas negatif, mungkin Kat tidak akan terlalu ketakutan. Sayangnya Jac lebih peduli dengan cowok ganteng yang kayaknya naksir dia. Apakah Kat akan berhasil melawan awan gelap itu? Apakah Jac akan berhasil jadian dengan si cowok ganteng? Dan yang paling penting adalah apakah Kat dan Jac masih tetap akan bersahabat?

Rasanya seneng banget ya baca cerita fantasy khas anak-anak  yang menyenangkan ini. Soalnya sudah lama saya tidak membaca genre yang sama. Ceritanya ringan, khas middle grade, meskipun tema yang diangkat horor dan sedikit menegangkan.

Saya merekomendasikan buku ini untuk para anak yang menyukai cerita fantasy seperti saya. :)

4 bintang.


Data buku

Judul: Medium yang Tidak Bahagia
Judul asli: Unhappy Medium
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziaty
Tebal: paperback, 217 halaman
Penerbit: Atria, Desember 2011 (pertama kali terbit 2009)

Kilas Buku: Arwah di Sekolah (Suddenly Supernatural #1)

|

Kehidupan Kat Roberts tidak pernah seperti kehidupan remaja lainnya. Memiliki seorang Ibu yang berprofesi sebagai cenayang tentu bukan topik yang asyik dapat dibicarakan, apalagi dibanggakan. Sayangnya kemampuan cenayang Ibu Kat dapat menurun kepada Kat sendiri. Dan benar saja, pada usianya menginjak 13 tahun, Kat mampu melihat arwah-arwah orang mati, dan bahkan dapat mendengarnya. Hal ini membuat Kat semakin tertekan karena ia hanya ingin hidup normal.

Kehidupan Kat di sekolah juga tidak kalah menyedihkan. Sebagai murid yang baru pindah tentu saja akan sulit memiliki banyak teman dalam waktu singkat. Kecuali jika kau terlahir sebagai anak yang cantik dan mudah dicintai, tentu saja hal itu akan sangat mudah membuatmu populer. Tapi Kat tidak pernah akan jadi seperti itu. Kat sudah lebih dulu merasa insecure dengan identitas keluarganya, apalagi ia memiliki masalah suram yang membuatnya harus bertahan hidup.

Suatu ketika ada seorang siswa baru lagi di sekolah Kat. Jac, nama siswa baru itu, punya segudang hal yang bisa saja membuatnya populer dan lekas memiliki banyak teman atau segera bergabung dengan geng cewek populer lainnya. Sayang, Jac lebih memilih menyembunyikan itu semua sampai ia bertemu Kat dan mereka berdua menjadi sahabat baik selamanya.

Sepertinya pengalaman menakjubkan Kat tidak akan berhenti pada satu hal saja. Setelah ia mendapatkan penglihatan dunia lain dan berteman dengan Jac, Kat mendapatkan pengalaman berkomunikasi dengan arwah pertamanya. Hal ini terjadi di perpustakaan sekolah ketika ia dan Jac akan mengerjakan proyek Biologi. Sosok gadis dari dunia lain muncul dan mencoba berbicara dengan Kat. Kat ketakutan, bukan pada arwah melainkan pada apa yang akan terjadi dengan persahabatannya dengan Jac. Ia sangat takut jika Jac tahu dirinya adalah cenayang, apakah Jac akan tetap mau berteman dengannya?

Sayangnya pertemuan dengan arwah gadis di perpustakaan itu berulang terus di hari-hari berikutnya. Malah ada entitas gaib yang lebih kuat daripada gadis hantu itu. Kira-kira bagaimana ya keputusan Kat? Akan tetap berpura-pura hidup sebagai remaja yang normal, atau melanjutkan yang sudah menjadi keharusannya, membantu sang arwah menyelesaikan masalahnya?

Aku suka banget buku ini. Meskipun topiknya lumayan menyeramkan, dan mungkin kadang ada yang merasa ini berat, si pengarang berhasil menuliskannya dengan ringan khas anak remaja. Mungkin karena tokohnya adalah ABG, sehingga dunia yang harus dituliskannya haruslah juga seputar dunia remaja. Alih-alih seram (yah kadang seram juga sih, sedikit), kalian akan menemukan cerita hantu yang asyik penuh misteri.

Sayangnya saya menemukan beberapa typo yang mengganggu, seperti nama Jac, yang terkadang tertulis menjadi Jack. Tapi secara keseluruhan terjemahannya menarik dan enak dibaca.

Data buku

Judul: Arwah di Sekolah (Suddenly Supernatural #1)
Judul asli: School Spirit (Suddenly Supernatural #1)
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Alih bahasa: Barokah Ruziati
Tebal: paperback, 217 halaman
Penerbit: Atria, 5 Februari 2011 (pertama kali terbit 2008)


Kilas Buku: Untunglah, Susunya (Fortunately, the Milk)

|

Siapa yang tidak kenal Neil Gaiman? Penggemar genre fantasi pasti sudah familiar dengan penulis yang satu ini. Neil Gaiman terkenal dengan karya-karyanya yang imajinatif bahkan cenderung "gelap" dan absurd, saya biasa menyebutnya dengan dark fantasy. Meski begitu Gaiman juga menulis beberapa karya fantasy yang lebih ringan daripada yang biasa ia tulis. Salah satunya adalah buku yang sedang saya ulas kali ini, "Untunglah, Susunya."

Dua orang kakak beradik yang kini diurus ayahnya (karena ibunya harus pergi selama beberapa hari ke sebuah konferensi) sedang bingung soal sarapan pagi mereka. Di dalam kulkas tersedia beberapa macam sereal. Sayangnya mereka kehabisan sebotol susu. Tetesan susu terakhir sudah mereka tandaskan semalam. Dan mereka tidak bisa memakan sereal dengan kuah jus jeruk. Tidak bisa karena memang tidak biasa.

Sang ayah yang sedang membaca koran pagi menerima protes kedua anaknya dengan sedikit gundah. Ia ingin anak-anaknya memakan sosis saja sehingga tidak perlu ada tambahan susu. Namun ia berpikir tentang susu untuk campuran tehnya. Maka ia pun setuju untuk pergi membeli susu saat itu juga.

Anak-anak menunggu ayah di rumah. Namun susu mereka tidak segera datang. Rasanya seperti berabad-abad. Tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar rumah dan pintu pun terbuka dengan ayah yang tergopoh-gopoh masuk membawa susu. Si kakak beradik baru saja mau protes tapi si ayah sudah siap dengan alasan fantasinya kenapa ia terlambat. Seperti apa ya alasan si ayah sampai melibatkan alien dan dinosaurus dalam ceritanya?

Buku ini tipis, hanya 128 halaman, penuh dengan cerita dari Gaiman dan ilustrasi oleh Skottie Young. Menakjubkan bahwa cerita yang pendek itu mampu membuatmu menarik napas panjang setelah membacanya. Sepertinya kamu sudah berpetualang mengelilingi luar angkasa dan melintasi ruang dan waktu tanpa henti. Saya tersenyum-senyum sendiri ketika mengetahui si ayah berusaha menyelipkan pesan bahwa makan sereal dengan jus jeruk juga enak dan asyik. Well, ini hanyalah usaha dari seorang ayah yang sempat malas membeli sebotol susu jika tidak terpikir soal secangkir teh tanpa susu yang akan diminumnya.

Tentang judul bahasa Indonesia, "Untunglah, Susunya", pada awalnya saya sempat tidak mengerti kenapa ia diterjemahkan plek seperti itu. Untuk sebagian orang kata "susunya" bermakna kurang baik yakni tertuju kepada buah dada perempuan. Tetapi setelah membaca ulang buku ini, saya tidak mempermasalahkannya lagi. Karena memang judul terjemahan sudah pas betul jika dilihat dari konteks cerita. Lagipula alih bahasa untuk buku ini spesial, pak Djokolelono! Ah, untunglah,...

Bintang maksimal untuk buku ini. Neil Gaiman memang mampu memberi kejutan yang berbeda-beda pada tiap bukunya. Kadang pembaca dibuat bingung, takut, gembira, sedih, atau bahkan tidak sanggup menyelesaikan bacaan.

Data buku

Judul: Untunglah, susunya
Judul asli: Fortunately, the Milk
Pengarang: Neil Gaiman
Alih bahasa: Djokolelono
Ilustrasi: Skottie Young
Tebal: 128 halaman, 20 cm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2015
ISBN: 9786020312255

Kilas Buku: Heroes of the Valley

|


Pada masa lalu, terdapat 12 klan pahlawan yang terdiri atas klan Svein, Gisli, Geist, Rurik, Eirik, Hord, Egil, Ketil, Arne, Erlend, Hakon, dan Orm. Mereka dikenal tidak pernah akur satu sama lain. Satu-satunya yang membuat mereka akur adalah keberadaan makhluk Trow.

Trow dikenal sebagai makhluk yang haus darah. Mereka memakan siapa saja, terutama manusia. Mereka hanya datang pada malam hari dan bisa muncul dari dalam tanah. Maka para klan bekerja sama untuk melindungi diri mereka dari Trow. Namun justru itulah yang menjadi masalah: Trow tidak pernah muncul lagi.

Halli, anak bungsu dari klan Svein, tidak punya kelebihan apa-apa dibandingkan kedua kakaknya. Kakak pertamanya sok jagoan, mentang-mentang ia akan menjadi pemimpin masa depan Klan Svein. Kakak keduanya adalah perempuan yang sangat suka berdandan dan mencari perhatian. Sementara Halli sendiri sangat senang mendengarkan kisah-kisah pertempuran lama dan berharap bertemu dengan Trow dan memusnahkannya. Gara-gara ini, ia menjadi pembuat onar nomor satu di desanya. Ia dikenal sangat suka membantah.

Suatu ketika, ia harus dihukum ketika pertemuan klan sedang berlangsung di desanya. Hal itu membuat Halli sebal karena ia tidak bisa terlibat langsung dalam pertemuan penting itu. Untungnya ia bertemu dengan Aud, anak dari klan Arne yang kemudian menjadi temannya.

Sejak pertemuan klan, Halli semakin terlibat masalah. Ia kemudian kabur dari rumah untuk merasakan petualangannya sendiri. Walau tujuan utamanya adalah pembalasan dendam demi kehormatan klannya. Petualangan itu berlanjut ke pencarian kebenaran tentang keberadaan Trow. Meskipun Halli dan Aud sendiri tidak tahu betapa kuatnya sesuatu bernama Trow itu.

Well, ini buku pertama dari Jonathan Stroud non-serial alias stand-alone yang saya baca. Dan saya baru menyadari bahwa genre fantasy yang dibawa Jonathan Stroud sama absurdnya dengan Neil Gaiman dan Terry Pratchet. Walau jujur saya masih lebih suka gaya Stroud yang membawakan cerita dengan ringan dan santai seperti dalam serial populernya Bartimeus dan Lockwood.

Buku ini cocok untuk para pembaca yang menyukai genre dark fantasy seperti saya. :D

Informasi buku

Judul: Sang Pahlawan
Judul asli: Heroes of the Valley
Pengarang: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Tebal: paperback, 488 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011 (pertama kali terbit 2009)

Kilas Buku: Witch Catcher

|


Seorang anak perempuan bernama Jen merasa sangat bersemangat ketika ayahnya mendapatkan sebuah kastel di suatu daerah terpencil di West Virginia. Kastel itu merupakan warisan dari paman Thadeus, seorang paman dari keluarga jauh ayah. Karena ayah Jen adalah satu-satunya kerabat yang masih hidup, maka ia berhak dengan atas kastel itu sebagai warisannya.

Bagi Jen, memiliki kastel adalah impian yang jadi nyata. Sejak dulu ia ingin sekali merasakan tinggal di sebuah kastel seperti putri dan pangeran di negeri dongeng. Pada kenyataannya kastel paman Thadeus tidak hanya besar, tapi juga suram. Jen tidak mempermasalahkan hal itu karena ia masih dapat berkhayal seolah-olah ia adalah sang putri yang terkucilkan dan menunggu sang pangeran datang. Apalagi ada menara kastel yang letaknya terpisah dari bangunan utama. Ia akan main ke sana dan mendapatkan jiwa petualangan. Hanya saja, di menara itu ada bola-bola kaca yang berwarna-warni.

Jen pikir satu-satunya masalah besar yang ia miliki saat itu adalah Moura. Moura adalah kekasih ayahnya. Perempuan itu memiliki sifat yang tidak disukai Jen. Dan ia tidak ingin Moura menjadi ibu tirinya. Masalah besar lain yang muncul adalah Moura tidak hanya ingin memiliki ayahnya, tapi juga kastel dan bola-bola kaca di menara.

Jen bersama kucingnya merasa harus berjuang untuk itu. Ia juga dibantu oleh peri kecil dari bola kaca. Yah sebenarnya peri inilah yang mendorong Jen untuk memperjuangkan keinginannya. Atau sebenarnya Jen hanya dimanfaatkan oleh peri itu? Jen tidak tahu. Yang ia sadari adalah ia tengah terlibat dalam masalah yang tidak biasa: masalah dunia lain.

Well, awalnya aku sangat bersemangat membaca buku ini. Remaja putri, kastel, dan peri adalah kunci untuk cerita yang menyenangkan. Sayangnya hal tersebut bukan jaminan. Cerita peri tidak selalu berjalan menyenangkan. Banyak juga cerita tentang peri yang menyedihkan. Yah saya tidak bilang kalau buku ini menyedihkan, hanya saja kurang nuansa senang-senang nya.

Buku ini lumayan juga untuk dibaca anak-anak. Supaya mereka tahu kalau yang namanya kastel pada dasarnya tidak seperti yang ada pada cerita putri Sofia the First. :D

Informasi Buku
Judul Buku: Witch Catcher
Pengarang: Mary Downing Hahn
Tebal: 300 halaman, paperback
Penerbit: Atria, Juli 2012

Kilas Buku: Touché: Alchemist (Touché #2)

|

Judul: Touché: Alchemist (Touché #2)
Pengarang: Windhy Puspitadewi
Genre: Remaja, Fantasi, Misteri
Tebal: 224 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2014

Sinopsis:
Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.

Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi. (goodreads)

-----

Ternyata ada buku lanjutan Touché #1! Wow, menarik juga. Buku kedua ini mendapatkan rating yang tidak kalah bagus dengan buku yang pertama. Hmm, mungkin karena Windhy, sang penulis, memiliki topik yang tidak biasa dari buku lainnya. Selain itu kandungan romansa di dalamnya tidak menyek-menyek yang dapat mengaburkan tujuan utama dari alur cerita.

Baik, langsung mulai saja. Awalnya saya pikir buku ini merupakan lanjutan dari petualangan Indra, Dani, dan Riska yang di mana pada buku pertama mereka menemukan teman-teman yang juga memiliki kemampuan istimewa sama seperti mereka. Namun ternyata saya salah, dalam buku kedua ini justru orang lain dan di tempat lain pula yang menjadi fokus utama alur cerita. Bagus juga sih, berarti penulis memang tidak mau terbatas pada tokoh dan cerita yang sudah ada yang bisa jadi membuatnya menjadi monoton. Artinya, pengembangan cerita yang bervariatif akan menjadi lebih seru. Satu-satunya yang menjadi penghubung antara buku pertama dan kedua adalah: Yunus King.

Tokoh remaja yang memiliki kemampuan istimewa dalam buku kedua ini hanya ada satu, yakni Hiro Morrison. Sedikit berbeda dengan buku yang pertama, kasus dalam buku kedua ini ada lebih dari satu, well yah cukup variatif. Karena menurut sinopsis, si tokoh utama menjadi konsultan untuk kepolisian New York, maka saya merasa seperti membaca cerita-cerita detektif ala SMA (baca: ala Conan) atau seperti yang ada di serial TV Amerika. Bahkan saya melihat hubungan antara Hiro dan Karen (temannya) seperti antara detektif Monk dan asistennya.

Sekali lagi, tersangka kasus dalam buku ini cukup mudah ditebak, jika memang para pembaca sedikit mencermati. Well, terlepas dari itu, buku kedua ini juga termasuk fast-paced, dapat dibaca dengan sekali duduk saja. Buku ini juga ringan dan memang cocok untuk bacaan remaja.

4 bintang.


Kilas Buku: Touché (Touché #1)

|

Judul: Touché (Touché #1)
Pengarang: Windhy Puspitadewi
Genre: Fantasi, Remaja, Misteri
Tebal: 208 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Sinopsis:
Selain kemampuan aneh yang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain lewat sentuhan, Riska memiliki kehidupan normal layaknya siswi SMA biasa. Tapi semua berubah sejak kedatangan Pak Yunus, guru pengganti, dan perkenalannya dengan Indra yang dingin dan Dani si juara kelas.

Riska kemudian diberitahu bahwa dirinya adalah touché alias orang yang memiliki kemampuan melalui sentuhan, seperti halnya Indra, Dani, dan Pak Yunus sendiri. Seakan itu belum cukup mengejutkan, Pak Yunus diculik! Sebuah puisi kuno diduga merupakan kunci untuk menemukan keberadaan Pak Yunus.

Dengan segala kemampuan mereka, Riska, Dani, dan Indra pun berusaha memecahkan kode dalam puisi kuno tersebut dan menyelamatkan guru mereka. (goodreads)

-----

Setahun belakangan saya jarang membaca teenlit, khususnya karya penulis Indonesia. Namun entah, saya penasaran dengan buku ini karena banyak teman yang memberi komen dan rating bagus. Baiklah, akhirnya saya baca dan hasilnya, not bad. :)

Buku ini bertema fantasi dengan karakter anak-anak SMA yakni Riska, Indra, dan Dani. Dengan alur maju, penulis menggambarkan bagaimana tiga anak yang memiliki kemampuan tidak biasa ini bertemu dan akhirnya berkumpul dengan seorang guru baru bernama Yunus King. Riska digambarkan sebagai orang yang perasa, mungkin memang cocok untuk Riska karena ia adalah perempuan. Sementara Indra digambarkan sebagai orang yang kelewat dingin, dan Dani yang murah senyum digambarkan sebagai si jenius. Sementara mengenai karakter Yunus King sendiri, tidak terlalu jelas seperti apa bagi saya. Yah mungkin memang itu yang menjadi clue untuk masalah utama cerita ini.

Kasus pada buku Touché #1 ini tidak terlalu rumit, hanya ada satu pokok masalah dengan lintingan twist yang tidak terlalu rumit. Para pembaca sebenarnya juga dapat menebak dengan mudah karena penulis sendiri, menurut saya, membeberkan hidden clue di sepanjang cerita. Contoh kecil, ketika Riska berpapasan dengan seorang tetangga yang buru-buru ingin berangkat ke Solo karena istrinya melahirkan. Dan pada cerita selanjutnya ternyata ada twist yang berhubungan dengan Solo. Entah penulis sengaja atau tidak memberi sedikit clue itu, atau yah mungkin ini dilakukannya tanpa ia sadari.

Buku ini termasuk fast-paced reading, semua orang bisa membacanya dalam sekali duduk. Karena itu tadi, kasusnya yang sederhana dan tidak bertele-tele. Mungkin karena itulah buku ini masuk ke dalam kategori teenlit. Saya acungkan jempol untuk penjabaran dan penyelesaian kasus dalam cerita ini. Cukup jelas dan memuaskan.

3.5 bintang.

Kilas Buku: The Darkest Minds (The Darkest Minds #1)

|

Judul: Pikiran Terkelam
Judul asli: The Darkest Minds
Pengarang: Alexandra Braken
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Genre: Fantasi, Distopia, Young Adult
Tebal: 584 halaman
Penerbit: Fantasious, September 2014 (pertama kali terbit 2012)

Sinopsis:
Ketika Ruby terbangun pada ulang tahunnya yang kesepuluh, sesuatu tentang dirinya telah berubah. Sesuatu yang cukup mengkhawatirkan untuk membuat orangtuanya mengunci dirinya di garasi dan menelepon polisi. Sesuatu yang membuat dirinya dikirim ke Thurmond, 'kamp rehabilitasi' milik pemerintah yang kejam. 

Dia mungkin telah selamat dari penyakit misterius yang membunuh sebagian besar anak-anak Amerika, tapi dia dan anak-anak lainnya harus berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih buruk: kemampuan menakutkan yang tidak dapat mereka kendalikan. Sekarang, saat berumur enam belas tahun, Ruby termasuk salah satu anak yang memiliki kemampuan paling berbahaya.Dan ketika kebenaran terungkap, Ruby pun berusaha mati-matian untuk meloloskan diri dari Thurmond.

Tapi, ada pihak lain yang bekerja, orang-orang yang tidak akan berhenti untuk menggunakan Ruby dalam perjuangan mereka melawan pemerintah. Ruby akan menghadapi pilihan demi pilihan yang buruk, yang mungkin akan berarti menyerahkan satu-satunya kesempatannya untuk hidup.

----

Tokoh:
Kita akan bertemu dengan Ruby, si cewek yang jadi tokoh utama di cerita ini. Kemudian Liam, cowok ganteng yang tampak dewasa dan bertanggung jawab. Chubs, yang sangat jago dengan urusan akademik, dan Zu, gadis kecil yang imut.

Yah, tokoh-tokohnya tipikal fantasi banget hehe. Yang tokoh utama cowok selalu digambarkan dengan ganteng, dan jago, Sementara yang cewek, meski mereka kadang digambarkan sebagai itik buruk rupa, tapi nyata-nyatanya banyak cowok ganteng yang suka sama si cewek. Kadang saya pingin banget menemukan satu saja novel luar yang menggambarkan si tokoh utama cowok tanpa mengandalkan fisik semata.

Alur:
Alur yang disajikan maju mundur. Pertama-tama para pembaca akan bertemu dengan Ruby ketika ia masih kanak-kanak. Kemudian cerita akan melompat pada bagian Ruby berada di kamp bersama anak-anak lainnya. Memang di awal agak sedikit membingungkan, mengapa anak-anak harus ditahan di dalam kamp. Kategori anak berdasarkan kemampuannya pun tidak diutarakan secara jelas; apa itu biru, hijau, kuning, merah, dan oranye. Rupanya Braken menjelaskan kemampuan anak-anak ini sambil jalan alias tidak secara khusus menerangkannya dalam satu bab atau paragraf. Namun tetap saja buat saya, kurang jelas. Hehe..

Kesan:
Saya semestinya sadar, bahwa saya kurang suka dengan genre dystopia, baik itu  adult atau young adult. Alasannya sederhana, saya tidak suka berandai-andai tentang dunia yang hancur atau keadaan umat manusia pasca kehancuran dunia, baik akibat perang ataupun wabah. Bagi saya hal itu menyeramkan. Melihat berita peperangan di televisi saja saya sudah muak, apalagi "dipaksa" membayangkan. Dan entahnya, saya selalu membaca genre sejenis ini ketika saya bosan dengan buku bergenre lain. Ya, mungkin saya juga butuh bacaan seperti ini untuk mengingatkan bahwa kehidupan tidaklah selalu berakhir bahagia. *sigh*

3 bintang.

Kilas Buku: Titipan Kilat Penyihir

|

Judul: Titipan Kilat Penyihir
Judul asli: Kiki's Delivery Service (魔女の宅急便)
Pengarang: Eiko Kadono
Genre: Child Literature, Fantasy
Tebal: 232 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2006 (pertama kali terbit 1985)

Sinopsis:
Karena dia penyihir, pada usia tiga belas tahun Kiki harus pindah ke kota lain. Dia harus meninggalkan Ibu, Ayah, serta kota kelahirannya. Kiki hanya akan ditemani Jiji si kucing hitam. 

Ibu sudah melarangnya tinggal di kota besar, tapi Kiki kepalang suka pada kota Koriko, karena menara jamnya sangat tinggi dan letaknya dekat laut. Tapi astaga... warga kota Koriko tidak menyambut Kiki dengan hangat. Apakah Kiki bakal bisa bertahan di kota ini, padahal dia cuma bisa satu sihir: terbang dengan sapu? (goodreads)

-----

Satu lagi kisah anak-anak yang menarik: Kiki dan Jiji! Seperti sinopsis yang saya lampirkan di atas, novel ini menceritakan tentang penyihir cilik yang bernama Kiki. Ia mengikuti kata hatinya untuk menetap di kota Koriko yang ramai. Sementara Jiji, si kucing hitam, mengingatkan Kiki akan pesan ibunya untuk mencari desa sebagai tempat tinggal.

Pada awalnya, Kiki memang tidak bisa diterima oleh warga Koriko. Bukan karena kemampuan Kiki yang sangat terbatas, namun karena warga Koriko sudah tidak percaya lagi pada keberadaan penyihir. Setelah menimbang potensi yang ada di kota Koriko, akhirnya Kiki memutuskan untuk membuka jasa pengiriman kilat dengan menggunakan ruangan yang disewakan oleh ibu pemilik toko roti.

Apakah usaha Kiki akan berjalan lancar?

Cerita Kiki dan Jiji yang berjuang di kota asing tanpa ayah dan ibunya sangatlah menarik. Pilihan kata yang disajikan sungguh sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Apalagi Kiki digambarkan sebagai penyihir yang sangat manis dan baik hati, tidak seperti stereotip penyihir dengan hidung bengkok dan gigi ompong. Melalui Kiki, anak-anak dapat mengambil pelajaran bahwa setiap usaha butuh perjuangan, dan anak-anak yang suka membantu orang lain akan disenangi banyak orang dan mendapat banyak kebaikan.

3,5 bintang! :)

Kilas Buku: Lisey's Story

|

Judul: Kisah Lisey
Judul asli: Lisey's Story
Pengarang: Stephen King
Genre: Misteri, Horror, Fantasi
Tebal: 704 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011 (pertama kali terbit 2006)

Sinopsis:
Lisey Debusher Landon kehilangan suaminya, Scott, dua tahun yang lalu, setelah dua puluh lima tahun menikah. Scott adalah pengarang terkenal yang berkepribadian sangat rumit. Setelah beberapa lama mengenal Scott, Lisey baru mengerti bahwa Scott mempunyai kemampuan untuk masuk ke dunia lain––sebuah tempat yang menakutkan, namun sekaligus menyembuhkan dan memberinya ide-ide yang dia butuhkan untuk bisa bertahan dari kegilaan yang menggerogotinya. Sekarang, setelah Scott tiada, giliran Lisey yang harus menghadapi hantu-hantu masa lalu suaminya

----

*menghela napas dulu*
Entah saya mau mulai dari mana. Ini adalah pertama kalinya saya membaca buku karangan Stephen King, meski saya sudah 'menimbun' beberapa bukunya. Yah, entah takdir atau bukan, pada akhirnya takdir memutuskan saya membaca buku ini.

Dari awal, dari sinopsis pada sampul belakang tepatnya, Kisah Lisey sudah membuat saya masuk ke dalam kegelapan yang aneh. Buku ini bergenre horror, tapi saya rasa tidak horror-horror amat. Malah cenderung aneh. Sama seperti Neil Gaiman dan Terry Pratchett dengan dark fantasy mereka yang aneh, terkadang tidak dapat dimengerti, namun begitu indah dibaca.

Setelah suaminya meninggal Lisey menghadapi banyak masalah, baik dari masa sekarang maupun masa lalu suaminya. Banyak para penggemar Scott Landon yang menuntut kepada Lisey agar mencari naskah Scott yang belum sempat terbit agar diterbitkan. Yah, begitulah resiko penulis terkenal yang memiliki fanbase yang besar. Lisey sebenarnya tidak terlalu peduli dengan permintaan penggemar Scott yang ia sebut Inchunk. Ia malah sibuk dengan kakak pertamanya yang menderita penyakit kejiwaan dan harus menjalani terapi.

Ketika seorang inchunk meneror dan menyerangnya, Lisey malah terlempar ke masa lalu suaminya secara sadar dan tidak. Ia mendapati dirinya berkomunikasi dengan Scott yang sudah mati, dan bahkan mampu menghilang menuju dimensi lain! Namun melalui dimensi lain itulah ia mampu menenangkan suaminya, menyelamatkan kakaknya, dan mengalahkan si inchunk menyebalkan.

Saya cuma bisa memberi 2,5 bintang, bukan karena tidak merasa takjub dengan ceritanya. Namun, yah, cerita ini memang kurang cocok dengan saya. Entah dengan cerita King yang lain.

Kilas Buku: Spell Bound (Hex Hall #3)

|

Title: Spellbound (Hex Hall #3)
Author: Rachel Hawkins
Genre: Young Adult, Fantasy
ebook, 205 pages
Published March 13th 2012 by Hyperion (first published January 1st 2012)

Synopsis:
Hailed as “impossible to put down,” the Hex Hall series has both critics and teens cheering. With a winning combination of romance, action, magic and humor, this third volume will leave readers enchanted.

Just as Sophie Mercer has come to accept her extraordinary magical powers as a demon, the Prodigium Council strips them away. Now Sophie is defenseless, alone, and at the mercy of her sworn enemies—the Brannicks, a family of warrior women who hunt down the Prodigium. Or at least that’s what Sophie thinks, until she makes a surprising discovery. The Brannicks know an epic war is coming, and they believe Sophie is the only one powerful enough to stop the world from ending. But without her magic, Sophie isn’t as confident.

Sophie’s bound for one hell of a ride—can she get her powers back before it’s too late? (goodreads)

----

The finale book of Hex Hall series will let you find out (again) something we don't know. In the first and second book we find out about who Sophie and her father really are, the real Council, the Cassnoff family, and so on. In the last book we will know about who Sophie's mother really is and the real Archer Cross.

According to the second book, we have reference who the real villain is. So this villain tries to do dark ritual to some Hecate students. Some friends will be turned out demon like Sophie. But the newborn demons are never same with the exist demon. They will be uncontrollable and wild. As her magic is blocked, Sophie cannot help her friends. She has to find a way how to get back her power this time.

Spell Bound, of course, is different from Demonglass. It has less action than the second. So that's why some readers 'complain' with it. If you are kind of reader who loves action, you may be like them. Actually so am I, but this time I like the twist. Only one thing want to know is why Rachel Hawkins as the author doesn't write much about Cal and the Eye. I find less information about Cal, except the very basic information that you can get from Demonglass. And so is the Eye. The only way I get information about the Eye is from Archer Cross. Hawkins never let me "see" the Eye directly. Yeah, probably it is because of the POV. The novel uses Sophie's POV to tell what's happening to reader. As Sophie never meets the Eye directly except Archer, so readers will never have a chance to "see" the Eye directly.

Well, so let me give 3,5 stars again for this book. If you are really like fantasy and romance or sort of pararom, you will like this book. I bet it.

Kilas Buku: Demonglass (Hex Hall #2)

|

Title: Demonglass (Hex Hal #2)
Author: Racher Hawkins
Genre: Fantasy, Young Adult
Hyperion, 359 pages

Warning: Spoiler alert for those who haven't reading the first book yet.

Synopsis:
Sophie Mercer thought she was a witch. That was the whole reason she was sent to Hex Hall, a reform school for delinquent Prodigium (a.k.a. witches, shape-shifters, and faeries). But then she discovered the family secret, and the fact that her hot crush, Archer Cross, is an agent for The Eye, a group bent on wiping Prodigium off the face of the earth.

Turns out, Sophie's a demon, one of only two in the world-the other being her father. What's worse, she has powers that threaten the lives of everyone she loves. Which is precisely why Sophie decides she must go to London for the Removal, a dangerous procedure that will either destroy her powers for good-or kill her. 

But once Sophie arrives, she makes a shocking discovery. Her new housemates? They're demons too. Meaning, someone is raising demons in secret, with creepy plans to use their powers, and probably not for good. Meanwhile, The Eye is set on hunting Sophie down, and they're using Archer to do it. But it's not like she has feelings for him anymore. Does she? (goodreads)

----

After causing too many problems in her first semester in Hex Hall, Sophie Mercer was visited by both of parents. This was the first time she met her father and her parents saw each other again since almost 16 years. James Atherthon, Sophie's father decided to bring her daughter to London and let her spend her summer holiday there. But the most of all it was because Archer Cross was a n Eye and Sophie had turned out that she was a demon.

Like in the first book, as a reader we follow the story from Sophie's point of view. And that's good to be made such a way, in order to make readers as innocent as Sophie. She will take us to some new information and knowledge about Hex Hall, the Council, and something really secret.

Kind of shock about some new information, Sophie's willing to destroy her power was stronger than before. She felt remorse for demolition that her (as a demon) power made. But something happened fast: two kids who inhabited with the council attacked its building. Thus Sophie rethought about the removal and tried to help recover the situation. Again, when she started helping, her father was caught by the council itself and finally Sophie turned out who was the real villain behind the scene.

The second book contains more actions the the first one. It is amusing and meets my expectation. A fantasy novel with magic specialist like this should have action in it, right?

OK, 3.5 stars for this book. :)

Kilas Buku: Hex Hall (Hex Hall #1)

|

Judul: Sekolah Sihir Hecate
Judul Asli: Hex Hall
Penerjemah: Dina Begum
Genre: Young Adult. Fantasy
Paperback, 400 halaman
Fantasious, September 2014 (pertama kali terbit 2010)

Sinopsis:
Saat ulang tahunnya yang kedua belas, Sophie Mercer mendapati kalau dirinya ternyata seorang penyihir. Tiga tahun kemudian, akibat mantranya mengacaukan pesta dansa di sekolah, dia diasingkan ke Hex Hall, sekolah bagi anak-anak bandel Prodigium—penyihir, peri, vampir, warlock, dan shapeshifter.

Pada akhir hari pertama berada di antara sesama remaja aneh di Hex Hall, Sophie mendapati hal yang mengesankan: naksir kepada cowok warlock ganteng, bermusuhan dengan tiga cewek yang berwajah bagaikan supermodel, terus dibuntuti hantu menyeramkan, dan tinggal sekamar dengan orang yang paling dibenci dan satu-satunya vampir di sekolah. Lebih buruk lagi, Sophie segera mendapati bahwa ada makhluk misterius yang menyerang murid-murid, dan satu-satunya teman yang dimilikinya merupakan tersangka nomor satu.

Sementara serangkaian misteri yang mengerikan mulai terungkap, Sophie bersiap-siap menghadapi ancaman yang paling besar: kelompok rahasia kuno yang bertekad untuk menghancurkan semua Prodigium, khususnya dia.

----

Meski saya menyukai genre fantasi, namun jujur saya agak skeptis dengan banyak cerita fantasi yang bermunculan akhir-akhir ini. Karena tidak sedikit cerita yang ternyata cuma ala kadarnya, tidak menarik perhatian pembaca begitu dalam, yang maknanya cuma bisa dibilang "well, ini cerita fantasi, dan okelah," selesai.

Saya 'terpaksa' membaca serial Hex Hall karena memang sedang kepingin baca dan kebetulan ada penerbit yang membagikan ebook gratis di playbooks. Dan syukurlah perasaa skeptis saya di atas tadi sedikit terkikis. Saya akui. meski ada yang bilang "cemen", Hex Hall #1 menyajikan cerita yang cukup menarik. Meski konsep dasarnya sama dengan hampir banyak cerita fantasi lainnya; sihir, penyihir, warlock, peri, shapeshifter, vampire, asrama, ibu asrama, penjaga asrama, cowok ganteng, cewek cakep, pesta dansa, dan tetek bengek lainnya.

Mungkin yang membuatnya jadi menarik adalah karakter Sophie Mercer sebagai tokoh utama yang "biasa saja", meski sebenarnya punya kekuatan super. Ia bahkan terlihat culun dan bodoh karena tidak mengetahui siapa sebenarnya dirinya, mengapa dirinya menjadi ancaman yang berbahaya namun juga harus diselamatkan. Intinya Sophie tumbuh menjadi gadis super kuat yang benar-benar polos.

Tapi yah, hal-hal klise terjadi. Sophie harus jatuh cinta dengan cowok paling keren di Hex Hall, Archer Cross. Mereka berdua terlibat sedikit skandal percintaan di belakang pacar Archer, Ellodie Parris, yang juga cewek paling keren di Hex Hall. Namun ternyata skandal percintaan ini bukan hanya sekedar kisah romansa ala remaja lagi begitu Sophie mengetahui siapa Archer sebenarnya.

Well, buku ini punya banyak hal klise yang ternyata menjadi kejutan menyenangkan bagi pembaca. Para pembaca akan digiring melalui sudut pandang Sophie, si penyihir cewek super yang polos. Kemudian bersamanya para pembaca akan menemukan banyak kejutan tentang banyak hal yang harus Sophie ketahui, termasuk tentang siapa dirinya sendiri.

3,5 bintang.

Kilas Buku: Midnight for Charlie Bone (The Children of the Red King #1)

|

Judul: Tengah Malam Bagi Charlie Bone
Judul Asli: Midnight for Charlie Bone
Pengarang: Jenny Nimmo
Paperback, 412 halaman
Penerbit: Fantasious - Ufuk Press, 2010 (pertama kali terbit 2002)

Sinopsis:
Akibat bakat ajaibnya, Charlie dikirim ke sekolah asrama Bloor’s Academy ketika berusia sepuluh tahun. Sekolah itu berisi ratusan murid yang sepuluh di antaranya adalah anak-anak berbakat ajaib, seperti Billy yang bisa berbicara kepada binatang dan Gabriel yang bisa mendeteksi perasaan pemilik benda yang disentuhnya.

Di Bloor’s Academy yang penuh misteri, Charlie menyelidiki hilangnya Emma, seorang anak perempuan yang diduga telah dihipnotis oleh Manfred Bloor, anak kepala sekolah. Bersama sahabat-sahabatnya, Benjamin dan Fidelio, Charlie berusaha mengungkapnya. Mampukah mereka memecahkan misteri tersebut? Selain itu, bisakah Charlie bertemu kembali dengan ayahnya, yang baru ia ketahui hilang, bukannya meninggal?

----

Charlie Bone yang tinggal dengan ibunya, Maisie (nenek dari ibunya), Nenek Bone (nenek dari ayahnya), dan Paman Patton (saudara ayahnya) terpaksa harus bersekolah di Bloor's Academy, sekolah yang menerima anak-anak dengan berbakat alami sebagai muridnya. Charlie adalah salah satunya. Ia didapat mampu mendengarkan suara dari gambar-gambar.

Sejak ia menjadi murid di Bloor's Academy, sedikit demi sedikit Charlie mengetahui bagaimana asal muasal bakat alam yang mereka sebut sihir terjadi. Semuanya berasal dari seorang raja yang bernama Raja Merah. Raja Merah memiliki kekuatan sihir yang sangat sakti yang ternyata ia turunkan kepada anak-anak dan keturunannya. Sayangnya tidak semua anak Raja Merah baik hati, ada sekelompok anak Raja Merah yang memiliki niat jahat untuk menguasai banyak hal.

Tapi bukan saatnya Charlie harus mengurusi hal besar semacam Raja Merah. Ia "dipaksa" menyelesaikan kasus hilangnya seorang gadis yang bernama Emma yang dulu telah ditukar oleh ayahnya sendiri dengan sebuah kotak berisi benda misterius. Belum lagi selesai kasus Emma, Charlie mendapat informasi bahwa sesungguhnya ayahnya belumlah mati, melainkan hilang.

Cerita Charlie ini sebenarnya sederhana, dan tidak terlalu rumit, meski sebenarnya hampir mudah tertebak ya. Tapi syukurlah, ceritanya masih enak dibaca. :D

3 bintang cukuplah untuk novel ini.

Kilas Buku: Blood of Olympus

|

Judul: The Blood of Olympus
Pengarang: Rick Riordan
Genre: Fantasy, Middle-Grade
Tebal: 544 halaman
Penerbit: Noura Books, 2014

Sekembalinya Percy dan Annabeth dari House of Hades, keadaan tidak menjadi lebih baik. Gaia masih berusaha bangkit. Yang ia butuhkan kini hanya satu: setetes darah demigod.

Kru kapal Argo II bahu membahu mencegah Gaia untuk bangkit kembali dan memusnahkan Olympus. Mereka harus menempuh banyak misi dan menghadapi banyak musuh.

Sementara ketika raksasa pendukung Gaia mulai bertebaran di muka bumi, Octavian dari Camp Jupiter malah membawa pasukan untuk menyerang Camp Half-Blood. Keturunan dewa-dewi Olympus dan Roman terancam oleh perang saudara.

Waktu mereka, kru Argo II, hampir habis. Athena Parthenons belum sempat mereka bawa ke Camp Half-Blood. Gaia sudah membuat bumi bergemuruh. Kini mereka sadar, tidak hanya nasib olympus dan keturunannya yang terancam, tapi juga seluruh umat manusia.

Custom Post Signature