Top Social

Showing posts with label Gramedia Pustaka Utama. Show all posts
Showing posts with label Gramedia Pustaka Utama. Show all posts

Kilas Buku: A Hole in the Head

|

Ini adalah buku Annisa Ihsani kedua yang saya baca setelah "Teka-Teki Terakhir". Temanya masih sama-sama remaja yang fokus kepada misteri dan sains. Kalau "Teka-Teki Terakhir" menyoal teori Fermat dalam bidang Matematika, "A Hole in the Head" lebih bermain misteri dengan teori-teori Fisika. Jadi gimana sih cerita tentang "A Hole in the Head" ini?

Ada seorang anak perempuan bernama Ann. Umurnya 13 tahun dan senang melakukan banyak aktivitas. Ibunya, Indira, seorang ilmuwan, dan ayahnya, Gertjan, adalah pengurus penginapan Monchblick di Swiss. Oh itu bukan penginapan milik ayahnya sendiri, melainkan milik istrinya, Nina Vogel. Yup, Indira dan Gertjan telah cukup lama bercerai. Lalu Gertjan dan Nina menikah dan memiliki satu anak bernama Emil.

Pada liburan kali ini Ann dijadwalkan akan berlibur bersama neneknya. Sayang sekali sang nenek harus mengurus cucunya (sepupu Ann) yang baru saja lahir dan merawat anaknya yang baru menjalani persalinan. Sementara Indira harus bepergian ke Asia Tenggara yang sudah pasti tidak bisa mengajak Ann ikut serta. Akhirnya Ann berlibur bersama Gertjan di penginapan Monchblik. Rasa senang tak terkira menggelayuti gadis yang senang berpetualang itu.

Liburan di Swiss tentu saja menyenangkan. Bagi Ann tidak ada yang lebih menyenangkan daripada tempat baru seperti Monchblick. Apalagi kali ini ia bisa bersama dengan ayahnya selama dua minggu penuh. Sayangnya liburan kali itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Ada masalah di penginapan yang ditutupi oleh Gertjan dan Nina, yang pada akhirnya diketahui sendiri oleh Ann. Apa masalahnya?

Akhir-akhir ini penginapan Monchblick sepi pengunjung, dan lebih sering pindah ke penginapan saingan mereka, The Capra Cottage. Menurut gosip dan testimoni dari para tamu, mereka merasakan adanya hantu di kamar 303. Itu adalah hantu Mateo, yang semasa hidupnya merupakan seorang fisikawan namun frustasi hingga menggantung dirinya sendiri di pohon dekat penginapan itu. Demi membantu keluarga ayahnya, Ann dibantu oleh Jo, teman barunya, mencoba menyelidiki hal yang sebenarnya terjadi.
***

Saya senang dengan cerita yang dikarang Annisa. Gaya penulisan dan penceritaan yang disajikan selalu apik, mengingatkan pada cerita-cerita misteri anak yang sering saya baca di waktu kecil. Apalagi cerita misteri yang dikarang Annisa selalu ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan, khususnya Matematika (di novel "Teka-Teki Terakhir") dan Fisika (dalam novel "A Hole in the Head"). Jujur, saya sedikit terobsesi dengan hal-hal yang berbau sains walaupun saya sendiri sama sekali tidak menyukai pelajaran tersebut. Mungkin karena otak saya tidak sanggup untuk menyerap sains khususnya pelajaran hitung-hitungan yah.

Namun saya selalu mengagumi mereka yang mencintai Matematika, dan juga Fisika. Guru-guru saya di sekolah termasuk dalam kategori ini. Salah satunya pak Ridho, guru Fisika saya ketika masih bersekolah di SMA Al-Masthuriyah, Cisaat, Sukabumi. Sebenarnya saya pernah mengulas tentang Pak Ridho di blog personal saya yang jadul, namun karena sudah lama sekali tidak update blog itu, lambat laun saya jadi lupa sendiri dengan password dan linknya.

Lanjut soal Pak Ridho. Seperti yang saya bilang tadi, saya tidak pernah mengerti dengan teori Matematika dan Fisika, walaupun saya punya fisikawan favorite, yakni Heissenberg (karena wajahnya ganteng sih, dan termasuk yang paling muda dalam konferensi Fisika-Kimia jadul yang entah tahun berapa hehe). Pak Ridho mengajar dua mata pelajaran di SMA saya; Matematika dan Fisika, walaupun keahlian beliau adalah pada bidang Fisika. Sayangnya saya tidak pernah mengerti apa yang beliau ajarkan. Otak saya memang mampet soal ini.

Pak Ridho adalah guru yang pintar dan baik hati. Jika menerangkan sesuatu di depan kelas, ia selalu berbicara dengan cepat. Mungkin ia jenis pembelajar yang visual kali ya jadi kalo ngomong cepeeeet banget kayak kereta. Yang paling saya ingat darinya adalah rambutnya yang berwarna putih (ini bukan karena ia meniru Einstein ya, bukan juga karena ia jago Fisika) persis Alm. Adnan Buyung Nasution (BTW, blogger zaman now tahu ndak ya siapa beliau ini), dan kacamatanya yang lensanya selalu copot sebelah. Selain mengajar, Pak Ridho juga senang bercerita tentang pengalaman pribadinya. Cerita-cerita beliau receh banget deh, mulai dari cara pendekatan kepada istrinya (dulu calon istri), dikira om-om kalau jalan bareng istrinya, hingga yang lain-lain. Cerita lengkap beliau yang pribadi itu ndak perlu saya jelaskan ya. Yang jelas saya sangat senang ketika Pak Ridho bercerita, alih-alih menerangkan pelajaran. Seringkali kami (saya dan teman sekelas) memancing beliau untuk bercerita. Karena sekali dipancing beliau suka lupa waktu dan malah bercerita hingga jam pelajaran Fisika selesai! Kami murid yang nakal yah.

Untuk Pak Ridho, dimanapun beliau berada. Jujur saya ndak tahu apakah beliau masih mengajar di SMA saya dulu atau bagaimana. Untuk Pak Ridho, semoga sukses selalu. Jangan pernah letih menjadi pengajar yang baik. Saya percaya, walaupun murid-murid sering nakal dan tidak mau belajar, namun dengan keikhlasan Bapak sebagai seorang guru, sedikit banyak akan memberikan keberkahan bagi mereka. Tetap semangat, Pak!

Untuk teman-teman pembaca, tetap semangat juga!

Untuk Annisa Ihsani, thanks ya sudah menulis cerita ini. Resep pisan teh bacana. :)

Data buku

Judul: A Hole in the Head
Pengarang: Annisa Ihsani
Tebal: 232 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 30 Oktober 2017

Kilas Buku: Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa

|


Hickory Dickory dock, The mouse ran up the clock, The clock struck one. The mouse ran down, Hickory Dickory dock...
Anak saya lagi keranjingan nursery rhymes berbahasa Inggris, salah satunya lagu "Hickory Dickory Dock". Dan kebetulan saya punya beberapa buku karangan Agatha Christie, salah satunya (dengan detektif Poirot) berjudul "Hickory Dickory Dock". Lantas saya langsung tertarik, padahal biasanya saya biasa saja dengan cerita-cerita Mbah AC. Bukan tidak suka, lebih tepatnya bukan penggemar berat. Berkat anak saya dan nursery rhymes yg sering dinyanyikannyalah saya kembali tertarik dengan kisah-kisah AC. Dan yang paling penting adalah saya kembali semangat membaca! Yay!

Jadi kasus kali ini ada hubungannya (meski tidak langsung) dengan adik dari Miss Lemon (sekertaris Hercule Poirot), yakni Mrs. Hubbard. Mrs. Hubbard yang sudah kembali dari Singapura dan menjanda, menerima pekerjaan sebagai seorang Ibu Kos di Pondokan Mahasiswa di Hickory Road nomor 26. Sebagai Ibu Kos yang baik ia cukup bisa mengayomi anak-anak kosnya, dan juga si pemilik kos sendiri, Mrs. Nicoletis. Sayangnya ketenangan hidup mereka di Hickory Road harus terusik karena ada kasus aneh. Barang-barang hilang secara misterius. Anehnya barang-barang yang hilang adalah barang remeh temeh kecuali cincin berlian.

Selang kasus pencurian mereda, ada lagi kasus pembunuhan yang menimpa salah satu penghuni kos, dan pemiliknya. Hercule Poirot curiga jika pembunuhan ini ada kaitannya dengan kasus pencurian sebelumnya. Atau malah ada kasus kejahatan yang lebih besar lagi?
***

Saya sangat menyukai cerita AC yang satu ini. Ah, baru kali ini saya menikmati penceritaan misteri dari AC. Apa iya karena kurang lebih ada sugesti dari anak saya, hehe. Tapi yang jelas, saya sangat menyukai serial AC yang satu ini. Dalam cerita kali ini AC menyajikan si pelaku pencurian sekaligus korban pembunuhan dengan pendekatan psikologis. Dia adalah orang biasa saja yang tidak disangka mampu merancang pendekatan cinta dengan kasus pura-pura yang dibuatnya sendiri. Justru hal inilah yang menjadikan Poirot curiga dan mencaritahu siapa dan ada berapa jumlah dalang yang sebenarnya.

AC juga sedikit banyak menyisipkan soal paham komunis yang ketika novel ini dibuat Uni Soviet dan paham komunisnya masih menjadi saingan Amerika Serikat. Namun ternyata kasus ini tidak ada hubungannya dengan paham tersebut.

4 bintang untuk buku ini.

Hickory dickory dock... :)

Data buku

Judul: Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa
Judul asli: Hickory Dickory Dock
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Julanda Tantani
Tebal: 320 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 2013 (pertama kali terbit 1955)

Kilas Buku: Jalinan Cinta Terpendam (The Fitzroy Legacy #2)

|

Jelas saja Kit dan Sophie akhirnya bersama. Namun masing-masing dari mereka menyembunyikan rasa takut satu sama lain. Bukan rasa takut pada pasangannya, namun pada kondisi mereka dan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Kit yang baru pulang dari tugasnya membawa luka fisik akibat pecahan bom. Beruntung ia tidak terluka parah seperti anak buahnya yang sempat koma. Namun kondisi anak buahnya membuatnya terluka dalam secara psikologis. Ia merasa sangat bersalah. Belum lagi ketegangannya saat bertemu dengan ibu kandungnya, yang juga membawa berita-berita baru yang mengejutkan. Kit tidak berani menyampaikan hal ini kepada Sophie. Ia ingin memiliki Sophie sekaligus melepaskannya.

Sementara Sophie sendiri merasakan perbedaan yang terjadi pada Kit. Kit dan dirinya tidak pernah berbicara secara intim tentang hubungan mereka, kecuali hubungan seksual yang sering mereka lakukan. Padahal Sophie ingin berbagi mengenai kondisi terbarunya dan rencana masa depan yang ingin dirancangnya bersama Kit. Namun Kit selalu menghindar darinya, dari ketakutan yang seperti nyata di hadapannya.

Akhirnya satu-satunya pelarian Sophie adalah ibu tunggalnya yang selalu ia panggil dengan nama "Rainbow". Dulu ia sempat membenci Rainbow yang tidak seperti ibu normal lainnya. Namun kini ia kembali kepadanya dan bercerita banyak hal. Sepertinya apapun yang terjadi ibu akan selalu menjadi tempat kita bernaung ya.

Lantas bagaimana kelanjutan hubungan Kit dan Sophie? Well, kalau mereka memang niat serius membina rumah tangga sejak awal tentu saja akan terjadi pernikahan kan?

Data buku
Judul: Jalinan Cinta Terpendam
Judul asli: In Bed wit an Stranger (The Fitzroy Legacy #2)
Pengarang: India Grey
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 28 Agustus 2017 (terbit pertama kali 2011)
Tebal: 248 halaman

Kilas Buku: Jalinan Hasrat Terlarang (The Fitzroy Legacy #1)

|

Sophie Greenham adalah seorang artis yang tidak terkenal. Ia senang mendapat peran kecil di setiap filmnya. Baginya itu tidak masalah, karena ia memang tidak ingin menjadi seorang artis besar dan terkenal. Suatu ketika ia harus bepergian menuju sebuah kota kecil tempat kastil keluarga Fitzroy berada. Sahabatnya, Jasper Fitzroy, meminta Sophie untuk berakting sebagai kekasihnya pada ulang tahun ayahnya, Lord Fitzroy.

Tak diduga dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang laki-laki tampan yang cukup mengesankan. Siapa sangka jika ia adalah Kit Fitzroy, kakak tiri Jasper. Awal pertemuan ini menimbulkan percikan asmara di antara keduanya, yang pada akhirnya menjadi sebuah masalah rumit tentang cinta dan prasangka.

Masalah menjadi semakin besar ketika Lord Fitzroy meninggal setelah tak sadarkan diri dalam perayaan ulang tahunnya. Istrinya (Ibu Jasper) hanya bisa diam tanpa melakukan apapun, begitu juga Jasper. Ia merasa sangat bersalah dengan rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat dari keluarganya. Sementara Kit yang saling tidak menyukai ayah dan ibu tirinya menyimpan rasa kecewa yang sangat besar, terutama tentang warisan keluarganya. Sebenarnya rasa kecewa itu berasal dari masa lalu Kit terkait dengan ibu kandungnya.

Lalu bagaimana dengan Sophie? Gadis itu merasa terjebak dalam situasi yang aneh. Kedatangannya untuk membantu Jasper malah membuatnya terlibat cinta lokasi dengan Kit dan harus mengurus Jasper yang menderita shock berhari-hari. Akhirnya ia pun memilih untuk pergi dan sibuk dengan urusannya sendiri.

Sophie pun juga punya masalah sendiri. Ia merupakan anak yang dibesarkan oleh seorang Ibu hippy dalam camp hippies. Meski ia sempat sekolah di institusi pendidikan elite, hal ini tidak cukup membantunya. Akhirnya Sophie tumbuh menjadi seorang wanita yang tahan banting. Ia mudah dekat dengan orang-orang seperti Jasper, namun tidak dengan Kit yang selalu sinis.

Novel ini tentu saja menceritakan hubungan asmara antara Sophie dan Kit. Ketika prasangka antara mereka terbuka satu persatu, maka cinta mereka akan berkelanjutan. Nah bagaimana kelanjutannya? Seru juga mantengin kisah cinta Sophie yang terkesan riang dan sedikit urakan dengan Kit yang sangat kaku dan sinis. Saya cukup senang dengan cerita ini. Cukup menghibur.

Data buku

Judul: Jalinan Hasrat Terlarang
Judul asli: Craving the Forbiddeng (The Fitzroy Legacy #1)
Pengarang: India Grey
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 21 Agustus 2017 (terbit pertama kali 2011)
Tebal: 256 halaman

Kilas Buku: Sang Juragan Teh

|

Sebelum saya ulas roman satu ini, saya akan mengingatkan kembali bahwa saya pernah mengulas buku Kisah Para Preanger Planters yang tentu saja sangat berkaitan dengan cerita Hella S. Haasse. Sesungguhnya Sang Juragan Teh adalah sebuah roman, namun bukan fiksi. Segala karakter dan cerita didasarkan pada kumpulan surat dan dokumen mengenai sejarah perkebunan teh di Hindia Belanda (Indonesia). Hal ini disebutkan oleh Hella (penulis) sendiri pada segmen Ucapan Terima Kasih.

Saya cukup bingung bagaimana akan mengulas buku bagus yang satu ini. Karena jujur saja menulis ulasan dari sebuah buku yang punya rating bagus itu sangatlah sulit. Tapi saya bersyukur sudah pernah membaca sejarah Preanger Planters untuk memahami roman yang satu ini.

Roman Sang Juragan Teh mengambil Rudolf E. Kerkhoven sebagai tokoh utama. Sebagai anak lelaki tertua (ia adalah anak kedua setelah Bertha, anak pertama, yang juga kakak perempuannya), ia memiliki sifat ambisius dan serius, namun juga sangat mengayomi adik-adiknya. Selama berkuliah di Delft, Rudolf betul-betul mempersiapkan dirinya untuk membantu (dan menjadi pengelola perkebunan Arjasari) Ayahnya di Bandung. Sayangnya harapan ia pupus. Ayah maupun keluarganya tidak terlalu antusias dengan kedatangan Rudolf ke Hindia Timur (Indonesia). Ia pun malah diminta membuka lahan perkebunan baru di Gambung, Bogor. Justru adiknya August yang malah menjadi pengelola perkebunan Arjasari, yang lagi-lagi menambah kekecewaan Rudolf terhadap keluarganya. Ia merasa sudah menjadi anak sekaligus pemuda yang baik. Ia pekerja keras, suka berhemat, dan berpikiran maju untuk usahanya. Sayang, tidak ada seorang pun yang (terutama ayahnya) mengapresiasi usahanya ini.

Kisah berlanjut mengenai kehidupan Rudolf beserta istri dan anak-anaknya. Yang menjadi pusat cerita tentu saja soal perkebunan teh (khususnya Gambung), dan juga berbagai masalah dan kebijakan yang berputar di sekitarnya. Yang menarik perhatian saya adalah roman ini berisi banyak pandangan dari bangsa kolonial (Belanda), khususnya pihak non pemerintah, tentang orang-orang Indonesia dan budayanya. Seperti yang kita ketahui, sejak tahun 1870, pemerintah Kolonial membuka kesempatan bagi swasta (warga Eropa, khususnya Belanda) untuk mengelola lahan di beberapa daerah di Indonesia. Sejak itulah keluarga besar Van der Hutch (yang terdiri dari keluarga Kerkhoven, Holle, dan Boscha) menjadi salah satu pengusaha lahan.

Jika selama ini pandangan bangsa Indonesia kepada Belanda penuh dengan kebencian (akibat penjajahan 350 tahun), namun ternyata tidak semua orang Belanda begitu jahat terhadap bangsa Indonesia. Secara garis besar bangsa Belanda di Indonesia terdiri atas dua kelompok yakni pemerintah kolonial (kompeni) dan pihak swasta. Orang-orang dari pihak swasta inilah yang kebanyakan menjadi pihak baik bagi masyarakat pribumi. Contohnya adalah Karel Holle, pengelola perkebunan Waspada di Garut. Ia menjadi teman bagi petani, bahkan bisa dijuluki sebagai bapak petani modern di Indonesia. Ia yang awalnya mengajarkan petani lokal mengolah lahan pertanian sebagaimana harusnya. Karel Holle bahkan bersahabat dengan Haji Mohammad Musa, penghulu sekaligus tokoh Islam di Garut. Ia juga yang memberi kesempatan kepada Haji Musa untuk menerbitkan karya-karyanya (dalam bahasa Sunda / Sastra Klasik Sunda) yang saat itu tentu saja sulit bagi pribumi yang kebanyakan masih bodoh dan percetakan masih didominasi oleh kolonial. Ia dan Haji Musa tentu saja layak mendapat gelar Bapak Sastra Sunda.

Jika merasa tidak familiar dengan Karel Holle, kalian tentu kenal dengan K.A.R. Boscha. Ia merupakan Raja Teh di Priangan, dan juga Bapak Astronomi Indonesia dan merupakan pendiri Obsrvatorium Boscha.  Maka, Boscha dan Holle adalah orang-orang Belanda yang punya kepedulian tinggi terhadap masyarakat pribumi. Mereka sudah melakukan aksi nyata dalam membantu warga lokal, meskipun tidak mampu berbuat banyak mengintervensi kebijakan pemerintah kolonial. Dalam pernyataannya Holle mengungkapkan betapa ia prihatin terhadap masyarakat Sunda:
Dengar Rudolf.... sejak aku tiba di sini selagi masih anak-anak, melihat betapa bertolakbelakangnya kesuburan negeri yang indah ini dan kemiskinan rakyatnya, sungguh sangat menyakitkan bagiku. Tanah Sunda adalah tanah yang terabaikan, didominasi oleh para raja dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka kehilangan kebudayaan mereka sendiri. Sungguh suatu keajaiban mereka masih memiliki bahasanya sendiri. (hlm. 107)
Namun tentu saja sebaik-baiknya sebagian orang Belanda terhadap masyarakat kita, tetap kita tidak setuju dengan monopoli dan dikuasainya negeri ini oleh bangsa asing.

Roman ini memang penuh dengan kejutan. Salah satunya adalah mengenai betapa polos dan lugunya orang-orang pribumi. Dan juga betapa "tidak sopannya" pakaian mereka. Kata Rudolf Kerkhoven ketika pertama kali mengunjungi Batavia:
Kini mereka melaju di sepanjang tepi kanal yang penuh dengan orang-orang yang sedang mandi dan mencuci pakaian. Para wanita yang berdiri dalam air sepinggang, tanpa malu-malu memperlihatkan bahu mereka yang telanjang, dan lebih banyak lagi bagian tubuh yang lain jika sedang mencuci rambut. Rudolf sudah mendengar perkataan orang-orang di kapal yang menggambarkan pemandangan harian kehidupan kaum pribumi di Jawa semacam ini sebagai sesuatu yang memalukan di mata orang-orang Eropa... (hlm. 78)
Saya tertawa membacanya. Dewasa ini banyak orang Indonesia menganggap pakaian ala barat tidak sopan, ternyata pada masa lalu justru orang Indonesia yang "berpakaian terbuka ala barat". Menurut saya itu karena mereka menyesuaikan pakaian dengan iklim tropis yang memang ada di Indonesia. Sementara di Eropa, orang-orang cenderung mengenakan gaun atau jas karena iklim di sana yang cenderung lebih dingin. Jika sekarang ini orang Eropa senang berpakaian terbuka, mungkin karena mereka sudah menganut paham yang lebih bebas. Sementara orang-orang Indonesia kini sudah jauh lebih terpelajar sehingga tidak lagi mandi dan berpakaian terbuka sembarangan di depan orang banyak.

Saya juga sedikit surprised kalau orang Indonesia pada zaman dahulu justru peminum teh hijau, seperti yang biasa diminum orang-orang Jepang. Jadi bangsa kita juga punya budaya menyeruput ocha dengan nikmat di masa lalu. Seperti kata Karel Holle;
Penduduk di sini lebih menyukai teh hijau untuk mereka sendiri, sama seperti di Tiongkok dan Jepang. (hlm. 105)
Sayangnya, seperti kata Eduard Kerkhoven, pasar Eropa tidak tertarik pada Teh Hijau. Sehingga sepertinya karena itulah budaya minum teh hijau tidak berlanjut di kalangan masyarakat pribumi.

Well, saya pikir itulah beberapa kejutan diantara banyak kejutan dalam roman ini. Bagi yang memang menyukai sejarah, pasti akan bersemangat membacanya, seperti saya. Buku ini sangatlah berharga untuk dibaca dan dikoleksi. Karena ini bukan fiksi, dan bukan sekedar roman. Ini sejarah! Yang sangat berkaitan erat dengan masa lalu bangsa kita.

Bintang lima!


Data buku

Judul: Sang Juragan Teh
Judul asli: Heren van de Thee
Pengarang: Hella S. Haasse
Penerjemah: Indira Ismail
Paperback, 440 pages
Published December 3rd 2015 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1992)

Murder on the Orient Express 2017 (Buku dan Film)

|
MotOE sampul film (GPU)

Baru-baru ini karya fiksi berjudul Murder on the Orient Express karangan Agatha Christie (AC) difilmkan. Sebenarnya sudah lama dan sudah banyak karya-karya AC yang dibuatkan filmnya. Hanya saja setiap kali bentuk filmnya muncul, mesti selalu dinanti oleh para penggemar AC yang tidak terhitung banyaknya. Karena karya-karya misteri/triler AC memang tidak pernah lekang oleh waktu.

Sementara saya sendiri bukan salah satu penggemar AC, meskipun menyukai karya-karyanya. Untuk Murder on the Orient Express (MotOE) sendiri saya malah menonton filmnya terlebih dahulu. Film yang mana? Tentu saja film keluaran terbaru (2017) hasil besutan Kenneth Branagh yang menjadi sutradara sekaligus pemeran utama. Lantas setelah nonton jadi malas baca, gitu? Yang terjadi pada saya justru sebaliknya. Saya malah bersemangat membaca ceritanya dan sedikit membandingkan cerita dalam buku dan film yang sekarang ini.
***
Alkisah seorang Hercule Poirot baru saja memulai perjalanannya kembali dari Aleppo, Syiria menuju Turki dengan Taurus Express. Di Turki, Poirot malah mendapat telegram yang memintanya untuk kembali pulang ke London dan memecahkan sebuah kasus. Akhirnya Poirot pun menumpang Simplon-Orient Express malam itu juga yang sayangnya sudah penuh sehingga detektif Belgia itu tidak bisa mendapatkan kamar kelas satu. Beruntung Monsieur Bouc, teman Poirot yang juga direktur the Wagon Lit Train Service, berhasil mendapatkan kamar untuknya.

Malam itu Orient Express memang penuh dengan penumpang dari beragam bangsa dan latar belakang. Hal ini menarik perhatian M. Bouc dan juga Poirot sendiri. Yang paling menarik perhatian adalah seorang Amerika bernama Rachett. Ia digambarkan sebagai lelaki kelas atas yang ramah dan punya pesona namun bengis hatinya.

Suatu malam menjelang pagi, Rachett tewas dengan luka tusukan belasan kali. Ketika itu kereta tengah berhenti karena badai salju. Dapat dipastikan si pembunuh tidak dapat kabur dari kereta karena badai. Lantas Poirot dibantu M. Bouc dan Dr. Constantine, seorang dokter Yunani harus memecahkan kasus itu dan menemukan pembunuhnya.
***

Setidaknya itulah ringkasan yang saya tangkap dari cerita aslinya (novel). Kemudian saya sedikit membandingkannya dengan filmnya (2017). Beberapa karakter tampak berbeda dari yang saya bayangkan. Hercule Poirot misalnya yang dalam film kali ini diperankan oleh Kenneth Branagh, tidak berambut hitam, melainkan abu-abu dengan kumis yang sangat besar dan lucu. Kemudian M. Bouc yang berkarakter sebagai laki-laki yang cenderung lebih muda dari imajinasi saya dan tampan. Begitu juga dengan sosok Rachett yang diperankan oleh Johnny Depp. Bayangan saya tentang Rachett adalah sosok lelaki tua (tidak terlalu tua sih) yang memiliki air muka sarat pengalaman dan licik. Rachett yang diperankan Depp memang berhasil memperlihatkan kelicikan bagai musang, namun ia belum terlalu tua untuk seorang Rachett.

Ada juga karakter yang sepertinya tidak ada dalam film, cmiiw. Sepertinya Dr. Constantine tidak dimunculkan sama sekali. Jadi memang Poirot di film lebih banyak bekerja sendiri baik ketika mewawancara para saksi dan menganalisa kasus. Saya tidak memiliki kecenderungan pro dan kontra yang mana, yang jelas peran Poirot dalam cerita aslinya ataupun film sama-sama dominan layaknya sosok detektif yang seharusnya.

Ada lagi tokoh yang berganti karakter dan nama. Seperti tokoh Pilar Estravados yang diperankan oleh Penelope Cruz. Awalnya saya bertanya-tanya siapa Pilar Estravados ini. Setelah mengulik kembali novelnya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Greta Ohlsson, perempuan Swedia dalam novel telah digantikan oleh Pilar Extravados (barangkali diambil dari karakter lain dari novel AC lainnya). Begitu juga tokoh Antonio Foscarelli yang berganti nama menjadi Biniamio Marquez dalam film.

Saya pribadi tidak masalah dengan sedikit perubahan pada film. Toh itu tidak mengurangi alur cerita secara keseluruhan. Malah jadi tambah seru dibandingkan cerita aslinya (novel). Bagi yang belum membaca ataupun menonton film MotOE sama sekali, jangan bingung memilih. Membaca novelnya dulu ataupun menonton filmnya dulu sama saja. Keduanya sama-sama asyik. Saran saya cuma satu, jadilah pembaca dan penonton yang open-minded, tidak saklek dengan asumsi pribadi. Yah mungkin banyak juga pengalaman mengecewakan karena menonton film berbasis novel. Tapi tetap tidak ada salahnya menonton film yang satu ini. :)

Data buku

Judul: Murder on the Orient Express
Pengarang: Agatha Christie
Jumlah Halaman: 252
Tanggal Terbit: Oct 2, 2017
ISBN: 9789792229806
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kilas Buku: The Creeping Shadow - Bayangan Mengendap (Lockwood & Co. #4)

|

Setelah apa yang terjadi pada buku tiga kemarin, akhirnya Lucy Carlyle memutuskan memulai petualangannya sendiri. Ia mulai menawarkan jasanya sebagai agen lepas dan bekerja untuk banyak agen, termasuk agen besar seperti Fittes dan Rowell. Sebenarnya Lucy tidak sendirian, ada rekan (yang sekaligus bukan rekan) tak kasat mata yang selalu menemani gadis itu dalam setiap aksinya. Siapa lagi kalau bukan Si Tengkorak. Seperti biasa komentar jahil tengkorak dapat menyegarkan suasana tegang.

Suatu ketika, Lucy sadar jika Si Tengkorak hilang. Toples tempat Tengkorak bersemayam (tentu saja) beserta dirinya dicuri dari apartemen kecil Lucy. Ia pun mulai menyelidiki kasus pencurian ini sendirian. Sayangnya hal ini malah membuat salah satu penjaga peleburan barang berhantu mati dan menghantuinya. Tidak cukup sampai di situ, Lucy sendiri pun dikejar-kejar beberapa lelaki bayaran yang sangat mengancam nyawanya. Pelarian gadis itu pun berakhir di depan rumah Anthony Lockwood, mantan rekannya. Sekarang bukan saatnya untuk gengsi, siapapun akan kau mintakan pertolongan jika itu menyangkut keselamatanmu.

Ternyata Lockwood cukup baik untuk membantu Lucy menyelidiki pencurian si Tengkorak. Lucy pun membantu Lockwood menangani kasus "Bayangan Mengendap" yang terjadi di sebuah desa pelosok yang tidak menarik sama sekali. Satu hal yang menjadi petunjuk, sepertinya hilangnya si Tengkorak secara tidak langsung ada hubungannya dengan kasus "Bayangan Mengendap". Lantas apa yang terjadi sesungguhnya?

Seperti biasa serial Lockwood tidak pernah membosankan. Ketegangan demi ketegangan gara-gara berburu hantu rasanya membuat takut pergi ke kamar mandi di malam hari. Belum lagi hal ngegemesin kayak hubungan antara Lucy dan Lockwood yang gak maju-maju. Hehe.

Ini, err, rasanya saya bingung mau nambah komentar apa. Yang jelas saya ga sabar untuk membaca lanjutannya (buku 5), tapi kayaknya mau nunggu terjemahannya saja. Hehe.

OK, 4 bintang dari saya. Recommended banget pokoknya!

Data buku

Judul: Bayangan Mengendap
Judul asli: The Creeping Shadow (Lockwood & Co. #4)
Pengarang: Jonathan Stroud
Paperback, 496 pages
Published September 4th 2017 by Gramedia Pustaka Utama

Kilas Buku: Big Little Lies

|


Pirriwee Public School mungkin sebenarnya adalah sekolah biasa saja. Anak-anak yang bersekolah di sana pun dari kalangan yang beragam. Namun seperti biasa, para ibu punya kubu sendiri untuk bersosialisasi. Seorang ibu muda bernama Jane Chapman, yang juga berperan sebagai orang tua tunggal, merupakan orang baru di kota kecil itu. Ia menyekolahkan anak sematawayangnya, Ziggy, di Pirriwee. Pada hari orientasi, ia sudah berteman dengan Madeline Mackenzie, seorang ibu yang selalu bersemangat, dan Celeste White, seorang ibu yang cantik dan kaya namun selalu gelisah.

Jane, Madeline, dan Celeste kemudian membentuk kelompok sendiri (sebenarnya Madeline yang memutuskan jika mereka harus membentuk kelompok baru), terutama sejak konflik antara Jane dan Renata, seorang wanita karir yang juga ibu-ibu penunggu TK. Konflik itu disebabkan oleh tertuduhnya Ziggy sebagai pelaku bullying terhadap Amabell (puteri Renata). Hal ini tidak terungkap dengan jelas, Ziggy tetap tidak mengaku kalau dirinya salah, dan Amabell tetap saja menuduh Ziggy sebagai pelakunya. Sehingga mudah ditebak jika konflik ini berkepanjangan dan berpengaruh kepada hal lain yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Ditambah (yah kau tahu sendiri bagaimana sikap ibu-ibu penunggu TK) gosip yang mudah menyebar dengan cepat dan belum tentu benar adanya.

Sementara itu Jane dan Celeste punya rahasia mereka sendiri. Tidak ada yang tahu bagaimana mereka mampu menyimpan rahasia dengan rapi, sementara sebenarnya mereka sendiri sudah sangat gatal untuk mengatakan yang sebenarnya. Suatu ketika ada pesta kecil untuk seluruh orang tua murid Pirriwee Public School. Hampir semua orang tua memenuhi undangan termasuk Jane, Celeste, dan Madeline. Namun ketika ada sisi bahagia yang muncul, ada juga hal yang mengejutkan sampai-sampai menyebabkan pertengkaran dan kematian seseorang. Anehnya tidak ada seorangpun yang mengaku tahu perihal kematian itu.

BOSAN atau ....

Awalnya saya bersemangat membaca cerita ini (karena kau tahulah, sinopsis dan reviewnya menarik). Sayangnya hal itu tidak diamini oleh bab pertama novel ini. Saya sempat ketiduran karena merasa bosan. Untunglah saya paksakan sampai ke bab berikutnya dan menemukan cerita semakin menunjukkan kekuatannya.

Misteri, Thriller, atau, ....

Liane Moriarty, si pengarang, sangat pintar meramu cerita sehingga membuat novelnya ini terasa seperti cerita thriller-misteri ala detektif. Padahal sesungguhnya cerita ini hanyalah seputar masalah keluarga (KDRT, broken home, etc) dan persahabatan. Saya pikir rahasianya ada pada alurnya yang maju mundur dan cerdiknya pengarang mengemukakan gosip dan komentar saksi mata di awal dan di sela-sela cerita. Hingga bab akhir, para pembaca tidak akan mengetahui siapa yang menjadi korban, siapa yang menjadi pelaku, atau apa sebenarnya yang terjadi di TKP. Yang pembaca ketahui adalah awal dan asal muasal cerita, juga gosip dari ibu-ibu penunggu TK, dan tentunya kapasitas mereka (yang lemah) sebagai saksi mata.

 4 bintang!

Entah kenapa dari mulai bosan pada awalnya, kemudian berakhir puas. Mungkin ini karena gaya bercerita dari Liane Moriarty yang cukup unik bagi saya dan tentu saja penuh kejutan. Tidak heran jika review di Goodreads mencapai 4.2 dari maksimal 5 bintang, dengan pembaca hampir 385 ribu orang.

So, saya rasa saya bisa dengan yakin untuk merekomendasikan novel ini kepada mereka yang menyukai kisah drama keluarga dan misteri/thriller sekaligus.

Data buku

Judul: Dusta-Dusta Kecil
Judul asli: Big Little Lies
Pengarang: Liane Moriarty
Tebal: 512 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 28 November 2016 (Terbit pertama kali 25 Desember 2014)

Kilas Buku: Kaya Tujuh Turunan (Crazy Rich Asians #1)

|

Keluarga jet-set se-Asia terekspos! Memang sih ini cuma lewat karangan. Tapi tetap saja bikin saya nganga bacanya. Ceritanya tentang Nicholas Young yang mengajak pacarnya, Rachel Chu, berlibur ke kampung halamannya di Singapura. Tipikal orang Amerika (keturunan ras apapun, pokoknya yang sudah lama di Amerika, seringkali menganggap seluruh Asia masih tradisional dan alami), Rachel menganggap ia akan pergi ke suatu pulau yang eksotis dan menghabiskan waktu dengan santai khas orang-orang kampung Asia. Yah, Singapura memang pulau di kawasan Asia Tenggara yang tropis. Namun Singapura sudah menjelma menjadi kota sekaligus negara yang modern.

Sayangnya, Rachel akan mendapat banyak kejutan. Karena Nick tidak sesederhana yang ia bayangkan. Keluarga besar Nick adalah salah satu keluarga terkaya di Asia. Kekayaannya bukan suatu hal yang baru, melainkan sudah turun temurun.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, karena Nick berasal dari keluarga besar, maka konfliknya tidak hanya seputar Nick dan Rachel, namun juga seputar beberapa kerabat, bahkan dari lintas keluarga. Awalnya saya agak jiper baca cerita seputar orang kaya, betapa mudahnya mereka mengeluarkan uang untuk hal-hal tertier. Lama-lama, syukurlah saya terbiasa dengan silaunya harta dan cerita mereka.

Konflik yang dipamerkan lebih rumit, dan sebenarnya biasa ditemukan dalam kehidupan hari-hari. Mulai dari antar ibu mertua dan menantu, kelompok orang kaya baru dan orang kaya lama, juga kelompok Cina Daratan dan Cina Perantauan. Yang jelas bagi saya, semua itu berawal dari perasaan superior yang berlebihan, menganggap diri sendiri lebih unggul dari yang lain. Atau karena perbedaan kebudayaan, dan kebiasaan, dapat membuat orang berselisih. Pikiran terbuka dan mudah menghargai orang lain akan menjadi solusi yang efektif.

Buku ini cukup menarik bagi berbagai kalangan. Bagi orang yang tidak terbiasa dengan kekayaan seperti saya, melihat pameran harta dan kebiasaan orang-orang jet set sangatlah menakjubkan. Bagi orang non-Asia Tenggara, akan mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang budaya dan bahasa Singlish. Sesekali pengarang juga menuliskan istilah dalam bahasa Mandarin, Hokian, dan Kanton.

Jujur saja, di tengah cerita, saya mendapatkan diri saya bosan. Pasalnya, saya sudah mendapat inti konflik, namun ceritanya masih saja berputar soal lain, yang sepertinya tidak terlalu penting. Yang saya butuhkan saat itu adalah sampai pada penyelesaian konflik dengan cepat.

Syukurlah ada beberapa karakter yang menjadi favorit saya: Astrid Leong dan Oliver T'sien. Astrid terkenal sebagai karakter yang anggun (seperti orang kaya seharusnya) namun tidak pernah menyombongkan kekayaannya dengan sengaja. Sementara Oliver, adalah cowok luwes yang mudah bergaul dengan banyak orang. Ia cukup dekat dengan Astrid.

Sayangnya, meski diterjemahkan dengan sangat baik dalam bahasa Indonesia, eksekusi penulisan sepertinya kurang diperhatikan. Banyak sekali tulisan yang disajikan tanpa spasi, atau malah saltik.

Pada akhirnya bintang 3 untuk Kaya Tujuh Turunan. Cannot wait to read the next book.

Data buku

Judul: Kaya Tujuh Turunan (Crazy Rich Asian #1)
Judul asli: Crazy Rich Asian
Pengarang: Kevin Kwan
Alihbahasa: Cindy Kristanto
Tebal: 480 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2016 (edisi bahasa Indonesia)

Kilas Buku: The Lady in Red

|


Jika kalian membaca resensi lain tentang buku ini, tentu saja rata-rata mengatakan hal yang sama, yakni tentang kisah cinta Betty Liu dan Robert Wotton, dan juga cicitnya Rhonda Roth dan Gregory Drew. Tentu saya juga akan mengulas hal yang sama, seperti yang baru saja saya tulis dalam satu-dua kalimat pembuka ini.

Ternyata kisah cinta dua pasang buyut dan cicit itu bukanlah masalah utama yang menjadi kerangka cerita ini. Ada rasa benci dan dendam yang kemudian menyokong masalah besar yang muncul belakangan.

Jika diperhatikan, pada setiap bagian cerita, yakni awal-tengah-akhir, ada interlude yang merupakan dongeng si tudung merah dan serigala yang sudah digubah. Sepertinya penulis ingin membuat cerita cinta modern berdasarkan dongeng karangan Grimm bersaudara itu. Saya cukup puas dengan konsepnya, karena menghasilkan cerita yang rapi dan cukup kuat. Sayangnya ada beberapa hal yang membuat saya tidak memberi bintang lebih dari tiga.

1. Tokoh-tokoh yang kurang mendapat peran
Beberapa pembaca menyayangkan tentang rentang waktu yang cukup lama antara Betty Liu dan Rhonda Roth. Saya pribadi sebenarnya tidak masalah, karena beberapa kasus dalam dunia nyata bisa jadi ada hal yang seperti itu. Saya hanya kecewa ada beberapa tokoh yang seharusnya mendapat peran lebih seperti yang sudah seharusnya.

Betty Liu merupakan nenek buyut dari Rhonda. Penulis sudah menjelaskan mengapa Rhonda harus lebih dekat kepada nenek buyutnya daripada ayah, dan juga kakek dan neneknya sendiri. Saya menyayangkan kurang peran yang diamanahkan penulis kepada Kakek Thomas dan Nenek Lily. Salah satunya jelas terdapat pada halaman 283. Ketika itu Greg menemukan ada sesuatu yang salah dengan Henry. Di antara semua orang yang berkumpul, kenapa yang menelepon 911 harus Kakek Thomas? Kenapa yang memeriksa denyut jantung dengan sungguh-sungguh harus sang ayah? Mengapa Kakek Thomas dan Nenek Lily tidak mendapat peran untuk mengusahakan Henry sadar kembali sebelum mobil ambulans tiba? Bukankah Kakek Thomas dan Nenek Lily adalah dokter yang sudah berpengalaman? Biarkan orang lain yang menelepon 911 (kan ada Anita) dan biarkan Thomas dan juga Lily menolong cucunya sendiri.

2. Ada beberapa typo yang sepele, namun cukup mengganggu saya. Contohnya ada pada halaman 336. Di sana tertulis: "Ms. Drew, Ms. Roth, kalian, dan ....".  Well, sepengetahuan saya Gregory Drew adalah laki-laki yang seharusnya bergelar Mr. dan bukan Ms. :)

Yah, sudah sih sebegitu saja hal-hal yang ingin saya sampaikan dalam resensi kali ini. Saya menulis ini bukan karena ingin menjatuhkan cerita. Sejujurnya saya sangat menyukai novel ini. Mbak Arleen seperti biasa mampu membuat cerita romantis versi modern berdasarkan kisah klasik anak-anak. Yang saya sampaikan adalah pendapat supaya ada kemajuan yang berarti pada cerita-cerita Mbak Arleen selanjutnya. :)

Data buku

Judul: The Lady in Red
Pengarang: Arleen A.
Penyunting: Dini Novita Sari
Tebal: Paperback, 357 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 11 April 2016

Kilas Buku: Ally - All These Lives

|


Seorang gadis bernama Allison Lancaster tidak bisa dibilang sebagai gadis biasa saja. Padahal ia tampak sama seperti manusia lainnya, lahir dengan normal, tumbuh dewasa dengan baik, dan bahagia dengan pekerjaan, keluarga, dan pasangannya. Namun siapa sangka jika Ally (begitu biasa ia dipanggil) memiliki kemampuan untuk berpindah alam semesta? Mungkin saja menyenangkan, tapi bagi Ally kemampuan ini adalah bencana! Di satu hari kamu terlahir dengan satu teman baik yang menyenangkan, ternyata semenit kemudian kamu mendapatkan teman baikmu itu tidak pernah tinggal di dunia ini. Membingungkan bukan?

Ini adalah novel Mbak Arleen A. kedua yang saya baca, meski ternyata ia sudah menulis sepuluh novel. Wow! Padahal saya berpikir ia baru menulis tiga novel saja. Maaf ya Mbak Arleen. Hehe.

Jika pada novel "Then & Now" yang saya baca kemarin, isu yang ingin disampaikan adalah tentang (sedikit) keberadaan pulau Rapa Nui dan suku-suku yang tinggal di sana, dan dua kisah cinta masa lalu dan sekarang yang barangkali berkaitan (mungkin karena reinkarnasi). Pada novel "Ally" ada isu yang juga ingin diangkat oleh Arleen, yakni tentang Teori Dunia Banyak yang dikemukakan oleh fisikawan Amerika Hugh Everett III. Ia berpendapat bahwa terdapat alam semesta paralel yang persis sama dengan alam semesta tempat kita tinggal. Jadi ya mungkin saja alam semesta terdiri atas 3 hingga 5 bagian.

Ally, si tokoh utama ini memiliki kemampuan untuk melintasi dunia paralel. Sayangnya dunia banyak ini tidak memiliki yang sama. Permukaannya memang serupa, namun isi ceritanya tidak sama persis. Selalu saja ada yang berbeda. Hal ini tentu saja membuat Ally frustasi. Ia tidak bisa tenang hidup seperti ini.

Lalu apakah Teori Dunia Banyak ini benar terjadi? Dapat terjadi? Terbukti bisa terjadi? Hmm, saya pribadi masih menganggap hal tsb hanya dapat terjadi dalam novel fiksi ilmiah. Saya tidak yakin dengan hal itu. Tapi mungkin saja bisa terjadi, karena jika Tuhan menghendaki segala sesuatu yang mustahil pun ia tetap akan terjadi.
Dan, sekarang apa yang harus kulakukan? Rasanya aku lagi-lagi menjadi seekor semut yang tidak berdaya di atas sehela daun. Dan jika kali lain Yang Berkuasa mengangkatku dan meletakkanku di atas daun yang lain lagi, aku tidak akan punya pilihan selain menurut dan menerimanya.
Tadinya dengan adanya tabija-ku, aku kira aku punya pilihan. Kukira aku dapat memberikan instruksi kepada Yang Kuasa untuk meletakkan diriku di atas daun tertentu. Rupanya aku naif telah berpikir demikian. Memangnya siapa aku? (hlm. 150)
Mungkin kalimat-kalimat di atas mengandung pesan yang cukup jelas. Penulis tidak hanya sekedar menulis cerita yang berkasit dengan Teori Dunia Banyak, namun ia punya pesan untuk pembaca. Bahwa Tuhan tidak pernah alpa mengurus makhluknya. Ia menempatkan masing-masing jiwa dengan porsinya sendiri, dan pada tempatnya sendiri pula. Yang dapat dilakukan manusia adalah berusaha dan berdoa tanpa menginterupsi kemauan Tuhan.

Pasrah, ikhlas, bersabar, dan menerima apa adanya adalah hal yang terbaik yang dapat dilakukan manusia. Lantas jika itu semua dijalankan dengan ikhlas, maka kedamaian akan menyelimuti. Tidak ada hal yang lebih indah selain kedamaian dan keihlasan dalam hati.

Saya senang dengan buku ini. Memang sih konfliknya rumit sekali, dan tidak bisa dibaca dengan santai. Namun saya sangat mengapresiasi usaha Mbak Arleen untuk mengenalkan Teori Dunia Banyak kepada pembaca dan juga pesan yang indah tadi. OK, 3 bintang untuk buku ini.


Data buku

Judul: Ally: All These Lives
Pengarang: Arleen A.
Editor: Dini Novita Sari
Tebal: 264 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Cet. 1, 22 Januari 2015
ISBN: 9786020308845

Kilas Buku: Then & Now: Dulu & Sekarang

|

Arleen A. nulis novel yang non-anak-anak? Wah ini saya baru tahu, ditambah lagi ternyata sudah ada dua novel yang terbit sebelum judul baru yang akan saya bahas ini. Arleen A. salah satu penulis cerita anak masa kini yang saya kagumi. Cerita-ceritanya menarik, didukung dengan gambar-gambar yang bagus hasil karya animator lokal yang mumpuni. Alasan itulah yang membuat saya ingin membaca Then & Now: Dulu & Sekarang.

Ruita adalah gadis dari suku Momoki, yang juga disebut suku telinga pendek. Sementara itu Atamu adalah pemuda dari suku Eepe, biasa dikenal sebagai suku telinga panjang. Meski dari suku yang berbeda, Ruita dan Atamu memiliki takdir yang bersilangan. Mereka jatuh cinta satu sama lain. Sayangnya, bagai Romeo dan Juliet, mereka tidak pernah boleh bersatu. Apakah usaha Atamu untuk membuat Ruita tetap bersamanya akan berhasil?

Rosetta dan Andrew hanyalah manusia biasa saja yang saling jatuh cinta. Yang tidak biasa adalah cara mereka bertemu dan jatuh cinta. Andrew hanyalah concierge di sebuah hotel milik keluarga Rosetta. Dan mereka bertemu di lift hotel ketika Andrew bertugas sebagai pemandunya. Memang tidak ada yang pernah memahami bagaimana cara cinta bekerja. Hanya dengan lift dan tatapan mata sepertinya sudah mampu mengundang dewa cupid melesatkan anak panahnya.

Dua kisah cinta ini ada dalam buku yang sama. Yang pertama terjadi jauh sebelum zaman milenium dan di tempat yang jauh sekali. Yang terakhir terjadi pada masa kini di salah satu kota di Amerika. Yang saya tangkap adalah Rosetta dan Andrew merupakan reinkarnasi dari Ruita dan Atamu, maka wajar jika mereka dengan mudahnya jatuh cinta dengan cara yang hampir sama.

Saya senang dengan cerita Mbak Arleen ini, mengingat ini juga pertama kalinya saya membaca novel (bukan cerita anak) karyanya. Malah pada awalnya saya mengira ini adalah novel fantasi karena cerita diawali dengan kisah Ruita dan Atamu dan latar belakang yang unik. Sayangnya saya salah. Latar belakang Ruita dan Atamu sesungguhnya disandarkan pada pulau dan suku yang ada di sisi jauh benua Amerika.

So, cerita Then & Now sebagian besar fokus kepada Rosetta dan Andrew. Kisah romansa kontemporer yang lumayan bikin gemes. Kadang saya ndak sadar kalau kisah mereka dibikin oleh pengarang Indonesia, soalnya rasanya terjemahan banget. Dan lagi, gak ada typo seperti yang sering saya temukan di novel-novel penerbit yang sama. Ah, thanks to the editor, Mbak Dinoy!! :)

Tetapi...

Tetapi, sebagai pembaca, saya ndak bisa move on dari kisah Ruita dan Atamu. Saya malah lebih suka jika Mbak Arleen menulis tentang kisah mereka saja, ndak usah di-twist dengan kisah cinta lain. Memang sih latar belakang didasari kepada Pulau Rapa Nui dan suku Eepe dan suku Momoko di belahan benua Amerika Latin sana. Tapi menurutku (imho ya) tak ada salahnya kisah dikembangkan lebih luas lagi.

Karena aku udah terlanjur penasaran dengan kisah masa lalu Tame Maneki dan suaminya yang berasal dari suku telinga pendek. Rasanya kok lebih menarik ya. Mungkin karena Ruita dan Atamu tinggal di daerah yang unik, dengan kebudayaan yang juga unik. Sementara Andrew dan Rosetta tinggal di kota besar yang sering kita jumpai di banyak cerita.

Tetapi, saya tetap memberi apresiasi yang bagus untuk Then & Now. 3,5 bintang. :)

Nb. Buku ini cocok lho dibaca sebagai selingan di waktu luang.


Data buku

Judul: Then & Now: Dulu & Sekarang
Pengarang: Arleen A.
Editor: Dini Novita Sari
Tebal: paperback, 334 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2017
ISBN: 9786020351285

Kilas Buku: Three Sisters

|

Ini buku metropop terbitan gress kedua yang saya baca tahun ini setelah Boy Toynya AliaZalea. Jujur saya tertarik karena banyak komentar positif dari pembaca tentang buku ini, dan saya merasa wajib untuk membuktikannya sendiri.

Seperti judulnya, Three Sisters bercerita tentang tiga perempuan yang bersaudara kandung. Mereka bertiga punya kehidupan sendiri beserta masalahnya masing-masing. Rera si Sulung sudah berkepala tiga namun masih betah melajang. Banyak yang bilang ia terlalu pemilih, padahal yang ia cari adalah cinta sejati. Sementara Gina punya segalanya, suami yang baik, anak-anak yang lucu, juga pekerjaan yang mapan. Hanya saja ia terlalu sibuk untuk bersenang-senang sedikit saja dengan keluarganya. Lain lagi dengan Yumi si bungsu. Perempuan yang lembut ini sudah menikah tiga tahun namun belum juga mendapat anak. Sama seperti Rera, ia benci dengan segala bentuk pertanyaan yang terus meneror dirinya, apalagi mertuanya yang semakin lama semakin "menggemaskan".

Pahami orang lain

Berdasarkan apa yang terjadi dengan Rera dan Yumi, saya menyimpukan bahwa menunjukkan simpati tidak harus melulu dimulai dengan bertanya dan memberi nasihat. Kebanyakan orang tidak suka dengan hal begitu, termasuk saya. Pengalaman saya pribadi, berkali-kali saya membuat orang keki dengan tidak mau menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan. Meski selepasnya saya merasa bersalah dan mulai mengubah kebiasaan (demi sopan santun), saya lebih senang menjadi pribadi tertutup.

Mengutip perkataan sastrawan (alm) Kuntowijoyo yang selalu ia sisipkan dalam karyanya, "Tidak semua garam sama asinnya." Maksudnya kepribadian setiap orang itu berbeda, maka janganlah memukul rata. Nasib dan perasaan orang lain belum tentu sama dengan diri kita, maka jangan membuat analisa tidak penting dengan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Saya pernah berada pada posisi "korban" yang suka dibanding-bandingkan, dan juga posisi "hakim" yang suka membanding-bandingkan. Kemudian saya berpikir, orang tentu akan sakit hati diperlakukan begitu baik dengan sengaja ataupun tidak. Cara yang terbaik ialah pandai membaca situasi sebelum memperlakukan orang lain dengan tepat.

Rehat dan berbagi

Kasus Gina dan suaminya membuat saya merenung sejenak. Tentu saja pekerjaan Gina sebagai pegawai dan juga Ibu rumah tangga tidaklah mudah. Jika semua hal hanya dianggap sebagai beban, maka yang ada hanyalah bahaya. Cara yang efektif adalah luangkan waktu dan berbagi perasaan dengan orang yang terpercaya. Dengan begitu sebagian beban akan berkurang dan bisa saja solusi akan menghampiri kita dengan lebih cepat.


Diksi bagus dan tertata rapi

Komentar-komentar positif tentang novel ini memang tidak salah, karena saya memberi empat bintang untuknya.

Ngomongin karakter, penulis berhasil menciptakan karakter dengan baik. Curcol sedikit 😜, Saya pernah berada pada posisi Three Sisters. Meskipun tidak berlangsung lama pada posisi Rera dan Yumi, namun tetap berbekas di hati. Terutama Yumi, saya paham bagaimana hubungan antara menantu dan mertua perempuan itu. Namun kemudian saya takut, apakah saya akan menjadi mertua yang "jahat" kepada menantunya nanti? Oh, oh semoga tidak. Terkadang kita juga harus memahami sisi si antagonis kan. Sepertinya itu juga cara untuk menghindari kita senasib dengan orang itu. fyuh.

Selain karakter yang mumpuni, novel ini juga ditulis dengan kata-kata yang baik. Cerita yang bagus tentu saja buah dari alur dan diksi yang bagus juga, kan? Yang paling saya senangi dari novel ini adalah, minimnya penggunaan kata-kata berbahasa asing (Inggris misalnya) seperti kebanyakan novel metropop. Jujur saja, maaf, kalau saya membaca novel Indonesia dengan segudang frasa berbahasa asing, saya merasa seperti sedang bertemu dengan karakter yang songong, dan sok pamer.😑Dan syukurlah Three Sisters tidak begitu.

Adapun soal typo, saya sudah menyampaikannya kepada penulis lewat media sosial. Semoga dengan begitu membuatnya menghasilkan karya yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Sekian.

Data buku

Judul: Three Sisters
Pengarang: Seplia
Tebal: 226 hlm, 20 cm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Cet. I 2017
ISBN: 978-602-03-4010-4

Kilas Buku: Coppelia

|

Nefertiti adalah seorang gadis cantik yang pendiam dan pemalu. Ia sering dianggap aneh oleh teman-teman sekolahnya. Apalagi ia juga lebih senang bersahabat dengan anak perempuan yang menderita keterbelakangan mental yang tinggal di seberang rumahnya. Nefertiti semakin tertekan karena ia diharuskan pandai menari ballet seperti ibunya. Ketika ia mulai mencintai ballet, rasanya seperti ada yang hilang. Cintakah? Atau apa?

Oliver, seorang cowok yang sebaya dengan Nefertiti. Ia mencintai Nefertiti karena sering melihat gadis itu dari dalam rumahnya. Ya, Nefertiti memang adalah tetangga dekat Oliver, hanya saja mereka berdua pura-pura tidak saling tahu atau kalaupun tahu, mereka tidak mau repot-repot menyapa. Ketika mereka dewasa, Oliver merasa harus mengungkapkan perasaannya kepada Nefertiti. Sayangnya gadis itu masih berkutat dengan satu hal yang tidak bisa ia lupakan begitu saja: Cinta ibunya.

Coppelia, yang dijadikan judul untuk cerita ini, adalah nama dari boneka ciptaan Dr. Coppelius yang pandai menari. Sebenarnya ini adalah salah satu judul untuk tarian ballet, yang pertama kali dipertunjukkan tahun 1870. Jadi, cerita ini memang masih ada sangkut pautnya dengan ballet.

Metropop yang satu ini bukan metropop biasa. Kisah yang disajikan bukanlah melulu soal cinta antara laki-laki dan perempuan, namun juga cinta antara anak perempuan dan ibunya. Digambarkan, yang menjadi konflik, hubungan antara Nefertiti dan ibunya tidak pernah berjalan mulus hingga akhir cerita. Nefertiti masih terganjal dengan pertanyaan apakah ibunya benar-benar mencintai dirinya, atau justru menyesal telah melahirkannya. Usut punya usut hal ini masih ada hubungannya dengan masa lalu sang ibu. Mungkin jikalau Nefertiti mengetahuinya, ia akan mengerti.

Saya suka dengan cerita Coppelia, meski tidak terlalu tebal, kisahnya merupakan kisah cinta yang bermutu, apalagi temanya tentang cinta ibu dan anak.

Tiga bintang untuk novel ini.

Data buku
Judul: Coppelia
Pengarang Novellina A.
Tebal: 192 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Cetakan I, 9 Juli 2015

Kilas Buku: Boy Toy

|

Baru-baru ini saya mendengar tentang kisah cinta seorang Emanuel Macron, salah satu kandidat presiden Perancis. Ia menikahi cinta sejatinya, gurunya sewaktu sekolah, yakni seorang wanita yang umurnya jauh berbeda. Pas sekali ketika isu itu masih hangat di pikiran, saya membaca novel "Boy Toy" yang tema utamanya adalah cinta beda usia.

Lea Oetari, seorang dosen di bidang Biologi berumur 32 tahun, sangat tidak suka hal-hal yang berbau ABG. Mengingat kini ia seorang yang sudah dewasa, ditambah pekerjaannya yang membutuhkan pencitraan baik, membuatnya alergi dengan sesuatu yang bernama boyband. Ia lebih suka dengan musik rock atau apapun yang bukan boyband. Sayangnya, takdir Lea berkata lain. Di suatu waktu di dalam hidupnya, ia harus berhubungan dengan cowok anggota boyband.

Taran Aditya adalah seorang anggota Pentagon, boyband terkenal di Indonesia. Ia tidak sedang berpacaran dengan perempuan manapun sampai ia bertemu Lea, perempuan yang berpenampilan dewasa. Taran tidak keberatan dengan usia Lea yang sepertinya lebih tua darinya. Yang ia tahu adalah ia sudah jatuh cinta dengan Lea tepat pada pertemuan perdana.

Tema utama novel ini sebenarnya sudah biasa ya. Namun sejak awal membaca "Boy Toy" saya tidak bisa berhenti hingga setengah buku. Rasanya tidak sabar ingin mengetahui kelanjutan hubungan antara Lea dan Taran. Mungkin yang jadi bikin penasaran adalah tokoh Lea yang memegang gelar Ph.D. Apalagi yang namanya bekerja sebagai dosen (akademisi) adalah sesuatu yang dipandang terhormat. Nah, sisi lain Lea inilah yang dikulik oleh pengarang.

Sayangnya ketertarikan saya mulai berkurang pada bagian akhir cerita. Bukan tidak bagus sih. Lebih tepatnya tidak semenarik bagian awal di mana Lea harap-harap cemas ketika mulai berkenalan dengan Taran. Dan saya bersyukur mendapati bagian menarik itu ada di awal, untuk menarik perhatian pembaca.

Saya senang tema lain juga disinggung dalam buku ini seperti sikap ibu Taran yang selalu dingin terhadap pasangan anaknya. Entah setiap ibu selalu begitu terhadap anak laki-lakinya, saya tidak tahu. Mengenai tidak terlalu detailnya soal aktivitas  Lea di bidang akademisi, mungkin memang lebih tepat begitu. Karena fokus masalahnya adalah boyband dan percintaan beda usia tadi.

Tiga bintang untuk buku ini. Dan saya rekomendasikan untuk pembaca yang memang menyukai novel berkategori romance dan metropop.

Data buku

Judul: Boy Toy
Pengarang: AliaZalea
Tebal: paperback, 384 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 25 April 2017

Kilas Buku: Mata Hari (The Spy)

|


Seorang perempuan Belanda bernama Margaretha Zelle  menjadi penari eksotis di benua asalnya. Bukan hanya karena ia memang senang menari, melainkan juga untuk mencari kehidupan yang layak untuknya. Namanya diubah menjadi Mata Hari. Itu nama panggungnya. Nama yang berasal dari timur dan memang sesuai dengan tarian yang ia bawakan di panggung-panggung teater di Paris.

Mata Hari berjaya dengan cepat. Ia berhasil membius semua penontonnya, laki-laki ataupun perempuan. Hanya satu kesamaan di antara para penonton: mereka sama-sama berasal dari kalangan atas. Inilah yang menjadi sumber pundi-pundi perempuan itu. Ia pun semakin betah tinggal di Paris. Kota itu merupakan impiannya selama ini; nyaman, jauh dari perang, dan cocok dengan kehidupannya yang glamour.

Sayangnya kejayaan Mata Hari juga jatuh dengan cepat, seiring bertambahnya usia dan pudarnya kecantikannya. Tahun 1914 - 1917 adalah puncak masalah dari semua kesulitan yang pernah ia hadapi. Negara-negara di Eropa kala itu dilanda perang dunia. Semua pihak berada dalam kondisi saling curiga. Tiada yang tahu siapa lawan, siapa kawan. Mata Hari yang sangat membutuhkan uang untuk mengembalikan kehidupannya yang nyaman dulu bersedia menyetujui segala yang ditawarkan kepadanya dengan bayaran yang maksimal. Akhirnya ia mendadak ditugaskan menjadi agen rahasia oleh dua negara sekaligus. Cerdiknya, ia tak pernah menjalankan tugas itu sama sekali. Yang ia inginkan hanya uangnya. Status mata-mata yang disematkan kepadanya tinggallah nama.

Namun musuh membutuhkan seseorang yang dijadikan musuh bersama. Harus ada yang dikorbankan untuk menyudahi perang. Maka pada tahun 1917 Mata Hari ditangkap di hotel tempatnya menginap. Meski tidak ada bukti yang jelas, Mata Hari tetap tidak bisa lepas dari sangkaan sebagai mata-mata.

Siapa Mata Hari?

Saya rasa sudah banyak pembaca yang mengetahui tentang profil Mata Hari. Ia hanyalah perempuan biasa yang hidup sulit di masa mudanya. Ia sempat tinggal di Indonesia selama beberapa tahun karena menjadi isteri untuk seorang komandan Belanda, Rudolph MacLeod. Sayangnya pernikahannya pun juga tidak bahagia.

Paulo Coelho memang tidak menceritakan secara detil kehidupan Mata Hari sebelum ia menjadi penari eksotis. Walaupun sebenarnya Mata Hari mendapat inspirasi dan bekal ilmu tarian eksotisnya itu dari tarian tradisional Jawa yang ia pelajari sewaktu tinggal di Malang. Memang dia tidak menarikan tarian Jawa sewaktu di Eropa. Ia merekontruksi ulang tarian tersebut dengan imajinasinya sendiri dan menyebutnya tarian eksotis dari timur.

Paulo menulis kisah Mata Hari langsung ke inti masalah. Yang ia tekankan memang seluk beluk perempuan itu ketika terlibat ke dalam kehidupan pelik kalangan atas dan pemerintah. Berbekal fakta dan riset terkait kasus Mata Hari, Paulo berhasil menceritakan ulang dengan baik.

Kini Mata Hari menjadi kisah misterius yang terus dikenang zaman. Banyak tulisan baik itu sepotong artikel hingga buku yang menulis ulang sejarah Mata Hari. Seolah-olah dunia berduka dan menyesali diri sendiri yang tidak mampu melepaskan perempuan itu dari takdir buruknya.

Pada akhirnya buku ini layak dibaca mereka yang mencari fiksi alternatif yang berpadu dengan sejarah. Ah, sebut saja dengan fiksi sejarah. :D

Tiga bintang.

Data buku

Judul: Mata Hari (The Spy)
Judul asli: A Espia
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Lulu Wijaya
Tebal: 192 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2016

Kilas Buku: Trisula Mentari

|

Trisula adalah gadis yang istimewa. Ia mampu mendengar roh-roh yang berbicara kepadanya. Ia juga mampu merasakan keberadaan hawa dingin tempat roh berada. Bagi sebagian besar orang, Trisula sangatlah aneh. Mereka menganggap Trisula kurang waras. Sehingga teman-teman di sekolah lebih senang menjauhinya, mengucilkannya, bahkan menyakitinya.

Beruntung Trisula memiliki seorang sahabat baik bernama Mikaela. Mikaela ini adalah tipe sahabat sempurna. Ia baik, ramah, pintar, kaya, dan senang membantu temannya tanpa pamrih. Trisula pun senang dengan keberadaan Mikaela. Tak dinyana, ia sering bergantung kepada Mikaela untuk menghiburnya ketika hatinya susah.

Selain Mikaela, Trisula juga memiliki tante yang keibuan, Tante Lira namanya. Tante Lira adalah satu-satunya kerabat yang Trisula miliki. Ia belum menikah dan bekerja sebagai "cenayang putih". Ia adalah orang yang paling mengerti keistimewaan Trisula. Maka, ia jadi orang yang paling bisa diandalkan oleh Trisula yang butuh nasihat dan sarannya.

Trisula dan Tante Lira hidup sederhana. Tante Lira menjalani hal itu bukan karena tidak punya harta (yah memang tidak), namun karena ia memang menganut prinsip untuk hidup sederhana.
"Arloji seharga tiga puluh ribu dan tiga ratus juta fungsi dasarnya sama," kata Tante Lira kepada Trisula pada suatu malam, ketika mereka mengobrol sebelum tidur, seperti kebiasaan mereka, "sebagai penunjuk waktu. Pakaian seharga lima puluh ribu dan lima ratus ribu fungsi dasarnya juga sama, sebagai pelindung tubuh. Kebahagiaan dan perasaan cukup tidak datan dari benda dan hal-hal duniawi, melainkan dari seberapa mampu kita bersyukur ketika kebutuhan dasar kita tercukupi," (hal. 49)

Suatu pagi, Trisula mendapat kenalan baru, bernama Alfa. Ia siswa baru. Ia adalah orang pertama yang mau berbagi meja dengan Trisula di kelas. Awalnya Alfa adalah satu-satunya teman selain Mikaela yang mau bermain dengan Trisula di sekolah. Namun seperti orang lain, Alfa menjauhi Trisula karena keanehan gadis itu. Baru kali ini Trisula menjadi sedih karena dijauhi teman baru.

Trisula mulai berusaha mendekati Alfa lagi. Bukan semata-mata karena gadis itu menyukai Alfa, namun karena ia ingin mencegah roh jahat yang berada di rumah alfa untuk menyakiti diri dan keluarga cowok itu. Apakah hal ini akan berhasil?

Fantasy - Horror

Trisula Mentari termasuk genre fantasy - horror (meskipun gak serem, cuma kadang agak menegangkan) untuk remaja. Alur ceritanya ringan dan mudah diikuti. Cocok sebagai buku yang dibaca dalam sekali duduk.

Mengenai konsep cerita, saya menemukan ada beberapa kesamaan antara Trisula Mentari dengan serial fantasy - horror yang pernah saya baca. Seperti Lockwood & Co., Trisula memiliki kesamaan dengan tokoh Lucy. Mereka berdua sama-sama dapat mendengar arwah gentayangan. Konsep roh yang terkait dengan benda kesayangannya juga sama dengan serial Lockwood & Co.

Sesekali saya juga menemukan kemiripan konsep antara novel ini dengan serial Hex Hall karya Rachel Hawkins. Hal ini terletak pada bagian akhir. Ah tentunya saya tidak akan menceritakan bagaimana detilnya. Sayang banget kan kalau review ini saya bikin sop iler. Silakan dibaca sendiri saja ya. :)

OK, 3 bintang untuk buku ini.

Tentang penulis

Shandy Tan adalah penulis dan penerjemah asal Indonesia. Salah satu buku yang ia terjemahkan adalah Hopeless karangan Coleen Hover. Ia menulis beberapa buku berkategori fiksi remaja seperti FBA  vs CIA, Kelas Super, dan Samantha's Promise.

Data Buku

Judul: Trisula Mentari
Pengarang: Shandy Tan
Tebal: 256 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 13 Maret 2017

Kilas Buku: I Think I Love You

|

Petra Williams adalah perempuan yang cerdas dan manis. Ketika remaja ia mengidolakan David Cassidy, penyanyi cowok asal Amerika Serikat yang kala itu tengah mendunia. Sayangnya, sang ibu, Greta, tidak menyukai musik pop dan berusaha menjauhkan anaknya dari itu. Yang ia lakukan adalah mendidik anaknya sebagai seniman dengan memintanya berlatih cello terus menerus.

Petra saat remaja juga terjebak dalam dunia cewek yang kejam. Ia senang sekali menjadi bagian dari anggota genk cewek populer. Celakanya ia tidak akan tahu jika genk itu akan sering menyebabkan krisis identitas yang semakin parah kepada dirinya.

Beberapa dekade kemudian, ketika Petra berusia 38 tahun dan sudah menjadi seorang pemain cello yang ramah, ia kembali pulang kampung. Ia  merapikan rumah almarhum kedua orang tuanya setelah sang ibu meninggal. Tanpa disangka ia seperti memasuki lorong waktu dan kembali ke usia 13 tahun. Apalagi ketika Petra menemukan sepucuk surat dari sebuah majalah terkenal saat itu yang menyebutkan ia berhasil memenangi sayembara dan berhak bertemu David Cassidy di acara "The Patridge Family". Apakah ia, Petra yang kini sudah menjadi janda, masih berhak mengambil hadiahnya? Apakah masih ada kesempatan untuknya bertemu sang idola?

Panjang - lama

Kisah Petra ditulis dengan banyak cerita dan detil. Seolah-olah penulis ingin menyampaikan apapun yang terjadi kepada Petra, teman-temannya, dan juga keluarganya. Memang sebagian informasi itu berguna sih, tapi banyak juga yang membuat pembaca bosan. Saya sebagai pembaca seringkali mengeluh dalam hati,"ini sebenernya tujuan ceritanya apa sih?", "konfliknya di mana sih?", dsb.

Kesabaranlah yang dibutuhkan ketika membaca detil-detil Petra sampai kalian yakin bagaimana konflik utamanya berkembang.

Krisis cewek remaja

Seperti yang kita ketahui, masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Seringkali ia mengekor dan melakukan suatu hal yang konyol. Seperti Petra kala itu yang mengaku mencintai David Cassidy betul-betul. Ia juga tidak mau dikucilkan karena namanya yang mirip nama anjing di TV, sehingga dengan semangat bergabung dalam genk cewek populer agar identitasnya diakui. Sayangnya, ia tidak tahu seperti apa sifat teman-teman satu genk-nya, khususnya si ketua genk yang paling cantik dan egois.
Hierarki para cewek jauh lebih brutal dibanding para cowok. Cowok-cowok berperang mendapatkan posisi di atas di lapangan dan, setelahnya, mereka membilas luka-luka mereka. Cewek-cewek bermain lebih kotor. Bagi para cewek, ini tidak pernah sekedar permainan. (h.204)

Krisis hubungan ibu-anak perempuan

Hubungan Petra dan ibunya tidaklah terlalu baik. Meskipun ia anak yang patuh, namun ia menyesal karena sang ibu tidak pernah mau mendengarkannya. Tidak ada sesi bicara dari hati ke hati antara ibu dan putrinya. Petra juga membenci perlakuan sang ibu terhadap ayahnya. Sang ibu selalu berada di pihak yang menang, sementara ayahnya selalu kalah.

Begitu Petra besar, ia mencoba tidak berlaku seperti ibunya ketika menghadapi Molly, anak perempuannya. Namun yang ia dapatkan adalah pertentangan dan sikap yang kurang sopan. Hal inilah yang membuat Petra dirundung kesedihan dan membuatnya sangat bahagia ketika ia mengenang masa lalunya pernah mengidolakan David Cassidy.

Hmm, hal-hal seperti ini sepertinya lumrah ya dihadapi para ibu dan anak. Termasuk juga saya. Maka ketika memiliki anak, hal yang saya pastikan adalah hubungan kami selalu baik dan mesra. Semoga. Amin.

Lumayan dibaca

Yah, terlepas dari detil cerita yang membosankan, cerita Petra berhasil membuat saya bersimpati kepadanya. Juga kepada orang lain yang bernasib sama seperti Petra.

Tiga bintang untuk buku ini.

Penulis

goodreads.com
Allison Pearson adalah seorang penulis yang berasal dari Inggris. Ia adalah seorang penulis sekaligus jurnalis. Ia berhasil memenangkan penghargaan The Book British Award untuk novel pertamanya yang berjudul "I Don't Know How She Does It".

Data buku

Judul: I Think I Love You
Pengarang: Allison Pearson
Penerjemah: Nurkinanti Larakusuma
Tebal: paperback, 504 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2017

Kilas Buku: The Rosie Project

|


Don Tillman adalah seorang associate professor untuk program Genetika di salah satu kampus ternama di Australia. Ia adalah sosok yang sangat terobsesi dengan keteraturan. Ia selalu berlatih aikido, terutama sebelum tidur. Ia selalu makan lobster setiap hari selasa. Dan setiap bajunya punya jadwal tersendiri untuk dipakai.

Saat ini, Don memiliki proyek pribadi untuk masa depannya. Proyek ini disebut 'The Wife Project'. Don yang memang sulit bergaul, ingin memiliki istri untuk keberlanjutan hidupnya di masa depan. Ia melakukan beberapa cara untuk mencari calon istri seperti mendaftar kencan online, ataupun pesta dansa. Namun ada satu hal yang berbeda, Don membuat kuisioner dan meminta calon-calon istrinya untuk mengisi daftar tersebut.

Suatu ketika, setelah hampir putus asa dengan kuisionernya, seorang perempuan cantik menemui Don di kantornya. Namanya Rosie. Don mengira, Rosie adalah pemegang nilai tertinggi untuk skor kuisionernya. Ternyata Rosie tidak mengerti apapun tentang 'The Wife Project'. Ia hanya datang atas suruhan Gene, sahabat Don. Maka, ia tahu, Rosie tidak akan pernah cocok untuk urusan istrinya, bahkan sejak pertama kali bertemu.

Hari-hari berlalu, Rosie dan Don mulai berteman. Rosie yang tertarik dengan genetika meminta Don untuk membantunya mencari ayah kandungnya. Karena Don adalah profesor di bidang Genetika, tentu saja ia sangat tertarik dengan hal tersebut. Berkat informasi dari Rosie, mereka mulai pencarian terhadap sang ayah.

DNA - Kecocokan

Saya membaca ulang buku ini. Maka, ini jelas kali yang kedua. Dan saya menemukan bahwa cerita dengan tema DNA, Menelusuri DNA seseorang memang bukan perkara mudah. Tampaknya sih gampang, cari sumber DNA, lalu cocokkan, dan lihat hasil. Tapi di sini Don dan Rosie harus melalui hari-hari konyol untuk mengambil sampel DNA, apalagi jika ini untuk sebuah proyek pribadi yang rahasia,

Selain soal DNA, hal yang menarik adalah sifat Don yang absurd dan selalu mengukur setiap hal (termasuk manusia) dengan hampir akurat. Sudah semestinya Don juga percaya bahwa metode pencarian istri ini akan menentukan masa depan yang cemerlang. Sayangnya, belum tentu orang dengan sifat yang persis sama akan menjadi jodoh yang tepat.

Don adalah, seperti yang sudah saya kemukakan di atas, orang yang semi-autis. Secara fisik ia tidak memiliki kekurangan apapun: sehat, bugar, dan tampan. Secara emosi, ia hampir tidak memiliki empati dan perasaan untuk jatuh cinta (baca halaman 334). Sementara Rosie adalah orang yang memiliki sifat berlawanan dengan Don. Ia sangat tidak sehat, dan spontan. Lalu apakah Don dan Rosie berjodoh di kemudian hari?

Lain-lain

Para pembaca akan bertemu banyak karakter unik di novel ini (saya menyebutnya lain-lain). Ada Gene dan Claudia, sepasang suami istri yang memiliki status hubungan 'open-relationship', yang mana Gene sangat memanfaatkan statusnya tersebut dengan berselingkuh dengan banyak wanita.

Ada juga Daphne, perempuan lansia tetangga Don yang baik hati. Don sangat perhatian terhadap Daphne. Bahkan ia merayakan ulang tahun Daphne hampir setiap hari ketika perempuan tua itu mulai terserang pikun. Di sini saya berpikir, Don yang katanya gak bisa empati sebenarnya punya ruang lembut di hatinya lho. Kalau enggak, kenapa ia begitu perhatian dengan Daphne? Sampai-sampai Daphne menyebut kalau Don akan menjadi suami yang sangat baik suatu hari nanti.

Beberapa lelaki paro baya yang disebut sebagai suspect ayah kandung Rosie juga menarik perhatian. Malah beberapa adegan konyol Don dan Rosie ikut melibatkan mereka.

Bintang

4 bintang untuk buku ini. Kalian yang butuh cerita romantis yang berisi, bisa ambil Don dan Rosie sebagai pilihan. :)

Penulis

source: goodreads
Graeme Simsion adalah seorang penulis kelahiran Auckland, New Zealand. Kini ia tinggal di Australia bersama istri dan anaknya. Simsion adalah konsultan IT dan pernah menulis beberapa buku non-fiksi terkait dengan IT. Kemudian ia mencoba menulis novel fiksi romance, The Rosie Project, yang menjadi perbincangan.

Data buku

Judul: The Rosie Project
Penulis: Graeme Simsion
Tebal: paperback, 368 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Oktober 2015 (petama kali 2013)

Kilas Buku: Toko Buku Kecil di Paris

|


Seorang lelaki jangkung berusia setengah abad asal Paris itu bernama Jean Albert Victor Perdu. Ia disebut-sebut sebagai pemilik Apotek Kesusastraan, la pharmacie litteraire, Literary Aphotecary. Apotek itu merupakan kapal bernama Lulu yang berfungsi sebagai toko buku yang tertambat di dermaga.
Perdu menggambarkan Literary Apothecary.
"Kapal sungai dengan perut rendah, dapur, dua tempat tidur, satu kamar mandi, delapan ribu buku..." (h. 86)
Sehari-hari Perdu menjual berbagai buku kepada pengunjungnya. Sayangnya, Perdu bukanlah jenis penjual buku yang senang dengan laba tinggi. Ia bagaikan dokter jiwa yang menyamar sebagai penjual buku.

Perdu mampu membaca jiwa para pelanggannya dan merekomendasikan satu atau beberapa buku untuk dibeli. Bahkan Perdu juga pernah melarang seorang pembeli untuk mendapatkan buku tertentu hanya karena buku tsb tidak cocok dengan jiwanya (lihat halaman 20). Kemampuan Perdu ini disebut sebagai transpersepsi.
Setiap orang mempunyai bakat, dan kebetulan bakat Perdu adalah transpersepsi. (h. 39)
Meski Perdu mampu "menyembuhkan" jiwa orang lain melalui buku, ia tidak mampu menganalisa dirinya sendiri. Ia pernah gagal dalam percintaan pertamanya. Dan hingga kini ia bahkan tidak sanggup menyebut nama kekasihnya itu.

Suatu ketika ia bertemu dengan Catherine, perempuan yang dicampakkan mantan suaminya. Melalui Catherine, ia menerima kembali sebuah surat yang sejak dahulu ia hindari. Setelah kelakuan depresinya, ia pun membaca surat itu. Sadar dengan kesalahannya, ia pun mengendarai Lulu menuju selatan untuk menemui cinta sejatinya. Ditemani oleh dua ekor kucing dan seorang pengarang muda, ia mengarungi lautan dan menempuh banyak petualangan.

Kategori pengunjung toko buku

Membaca buku ini, para pembaca akan diajak menelusui appendix pengarang, judul buku, dan sekilas gambaran tentang buku karangan mereka. Sekilas memang kesan serius yang akan didapat. Namun hal-hal kocak juga disampaikan dengan tulus. Salah satunya adalah tipe-tipe pengunjung buku. Ada tiga kategori menurut Perdu:

  1. Kategori pertama terdiri atas orang-orang yang menganggap buku satu-satunya embusan udara segar dalam kehidupan sehari-hari yang menyesakkan. Pelanggan-pelanggan favoritnya. Tipe ini yakin dia akan memberitahu apa yang mereka butuhkan. (h. 24)
  2. Kategori kedua, adalah mereka yang tertarik datang karena nama toko buku itu. Mereka juga datang untuk membeli kartu pos - kartu pos konyol yang menghibur. (h. 25)
  3. Kategori ketiga adalah mereka yang memegang buku dengan jari-jari berminyaknya dan bertanya dan membeli tentang barang selain buku.

Saya setuju dengan Perdu (atau dalam hal ini Nina George, si pengarang), tentang semua kategori, khususnya yang nomor tiga. Nomor tiga membuat saya tertawa miris, karena mengingatkan saya bahwa toko buku justru menjual lebih banyak barang non-buku daripada buku itu sendiri. Di pameran-pameran buku yang diadakan di beberapa kota di Indonesia, seringkali terdapat gerai-gerai busana yang anehnya dengan lebih banyak pelanggan daripada gerai buku.

Unik khas Perancis

Awalnya saya bersemangat pada bab-bab awal. Lambat laun, kebosanan mulai menerjang. Buku ini adalah jenis yang lambat dan banyak ungkapan khas Perancis yang sulit saya mengerti. Kalau anda bertanya seperti apa ungkapan khas Perancis itu? Ah, saya sulit menjelaskan. Saya hanya mengetahui hal ini setelah menonton beberapa film Perancis, dan membaca beberapa buku karya pengarang Perancis. Yang saya ketahui, mereka punya ciri khas yang sama. Sama-sama terbuka, absurd, romantis, dan lucu dalam satu kesatuan.

Jika anda adalah jenis orang yang sanggup bertahan dengan komedi yang cerdas sekaligus absurd, kisah Jean Perdu rasanya cocok untuk anda.

Tiga bintang untuk buku ini.

Data buku

Judul: Toko Buku Kecil di Paris
Judul asli: The Little Paris Bookshop
Pengarang: Nina George
Penerjemah: Shandy Tan
Tebal: Paperback, 440 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 17 Februari 2017

Custom Post Signature