Top Social

Showing posts with label Kisah Panjang. Show all posts
Showing posts with label Kisah Panjang. Show all posts

Kilas Buku: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta

|

Satu lagi cerita bagus yang harus dibaca! Seorang Pak Tua bernama Antonio José Bolívar Proaño sudah lama hidup dalam hutan wilayah Amazon, bersama orang-orang pedalaman (Shuar). Awalnya Antonio seperti para pemukim lainnya, tidak tahu menahu seluk beluk hutan pedalaman dan bagaimana hidup di dalamnya. Pemukim lain banyak yang mati, termasuk istri tercintanya Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo, beruntung Antonio dapat bertahan meski sempat sekarat karena racun ular boa. Berkat perawatan dari tabib orang Shuar, ia pun sehat seperti sedia kala. Sejak itulah ia tinggal bersama orang-orang Shuar dan belajar banyak dari mereka. Hingga suatu hari Antonio harus pergi dari sana dan kembali ke El Idiolio, daerah yang dihuni banyak pemukim.

Alam vs Manusia

Alam (dalam hal ini adalah hutan belantara dan penghuninya) sudah ada sejak bumi ini terbentuk. Manusia-manusia pertama yang lahir di muka bumi barangkali sudah terbiasa bagaimana menghadapi alam liar. Sayangnya lambat laun kemampuan manusia dalam mempelajari alam terkikis. Pengetahuan membuat mereka membangun peradaban yang maju dengan segala teknologi yang memudahkan. Manusia-manusia yang lahir belakangan akan terbiasa hidup dengan teknologi sehingga mereka akan kesulitan ketika harus masuk dan tinggal di dalam hutan. Kesulitan inilah yang mungkin saja membuat mereka kalap dan membabat apa saja yang mengancam nyawanya. Atau bahkan mereka ingin menjarah dengan rakus apa yang disimpan oleh hutan; hasil tambang, kayu, dan binatang.

Orang-orang Shuar mewakili manusia yang lahir dalam lingkup keliaran hutan. Mereka terbiasa menghadapi keganasan alam. Sementara Antonio lahir dari peradaban yang cukup mumpuni, namun memilih untuk bergabung bersama orang-orang Shuar. Karena lelaki tua itu sadar kalau ia hidup berdampingan dengan alam dan merasa harus belajar cara menghadapinya. Rubicundo Loachamín adalah perwakilan dari kaum pembenci pemerintah. Ia memang manusia peradaban modern yang terpelajar, namun lebih senang jika berpihak kepada kaum proletar.

Kalau si Walikota "Siput Lendir" merupakan manusia yang lahir dan terbiasa dengan segala kemudahan masa kini. Ia terpaksa tinggal bersisian dengan hutan dan sayangnya selalu berlaku seperti ia tinggal di kota saja. Dan yang terakhir adalah Harimau Betina, tokoh antagonis yang menjadi musuh bersama dalam cerita ini. Ia tidak bersalah, karena memang lahir dan hidup dalam hutan. Lantas salahkah ia jika ia hanya ingin membalas dendam akan kematian suami dan anak-anaknya? Salahkah ia jika ia bertarung untuk mempertahankan haknya tinggal dalam hutan?

Jadi ini adalah pertarungan antara manusia yang cenderung rakus mengambil hasil hutan dengan harimau betina yang hanya ingin keadilan.


Kisah Picisan 

Lalu mengapa harus ada kisah cinta? Antonio José Bolívar Proaño hanyalah manusia biasa yang merindukan cinta pertamanya yang sudah lama mati. Ketika ia berkenalan dengan novel-novel romansa, ia langsung meminta tolong Rubicundo si dokter gigi untuk membawakannya novel cinta sepulang ia dari kota.

Manusia selalu punya dua sisi; sisi baik dan sisi jahat, sisi garang dan sisi melankolis. Anggap saja kisah picisan ini sebagai pengejewantahan dari sisi melankolis si Pak Tua. Dan sisi garangnya? Tentu saja ketika ia harus berhadapan dengan si Harimau Betina. Jadi, siapakah yang akan menang, Pak Tua atau Harimau?

Bersahabatlah dengan alam

Maka, jadilah bijak. Jika kau termasuk manusia yang biasa dengan kemudahan, jadilah bijak dengan hidup yang baik. Lakukan hal-hal kecil yang membuat alam tetap terjaga pada tempatnya. Bukan apa-apa, hanya sekedar menyeimbangkan dunia ini saja. :)

Well, 4 bintang untuk cerita ini. Buku yang bagus dan sangat saya rekomendasikan untuk dibaca!

Data

Judul: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Judul asli: Un viejo que leía novelas de amor
Pengarang: Luis Sepúlveda
Penerjemah: Ronny Agustinus
Paperback, 133 pages
Published December 2005 by Marjin Kiri (first published 1989)

Kilas Buku: Rashomon (Kumpulan Cerita)

|

Rashomon

Seorang pria nongkrong di pintu gerbang sebuah kota yang sudah hancur. Gerbang itu disebut Rashomon. Gerbang dan kota hancur itu bukan ide yang baik bagi manusia untuk menetap. Karena di sana tempat bagi mayat-mayat bergelimpangan yang membusuk. Mayat-mayat itu kebanyakan tidak dikenal, mati karena wabah, atau karena tidak ada orang hidup yang mau mengurusnya. Kota itu juga tempat bagi gagak-gagak yang berpestapora memakan bangkai manusia.

Si pria berjalan dalam gelap dan bersembunyi di suatu bangunan. Lapar. Juga takut dibunuh. Hingga ia bertemu seorang nenek yang sedang mencabuti rambut seorang mayat perempuan. Ia marah dan benci kepada nenek itu, namun apa yang harus ia perbuat di dunia yang sedang kacau ini?

Lainnya (terutama Kappa dan Shiro atau Kuro)

Rashomon hanyalah salah satu dari kumpulan cerpen dan kispan (novelet) yang ada di buku ini. Rata-rata, isi ceritanya memiliki kesimpulan yang sama, yakni tentang dunia dan kelakuan manusia yang terbalik, tidak seharusnya, dan mungkin amoral. Ketika keadilan berarti harus menjatuhkan yang orang lain, atau ketika penyelamatan berarti harus membunuh sebagian besar yang hidup.

Yang paling mendapat perhatian dari saya adalah kispan (kisah panjang) yang berjudul Kappa. Saya rasa, kappa adalah hewan khayalan daripada Akutagawa.
Orang masih setengah percaya mengenai keberadaan hewan ini. Hal ini tak perlu diragukan lagi sekarang, karena aku sendiri hidup di tengah-tengah mereka. Mereka berambut pendek, tangan dan kakinya memiliki selaput di antara jari-jari kaki .... (hal. 39)
Dan melalui kappa, Akutagawa menyalurkan uneg-unegnya tentang manusia. Maka ia membuat banyak kappa. Kappa si hakim, kappa si penyair, kappa si pemilik pabrik kaca yang kapitalis, dsb. Dari kappa ia juga menghayalkan tentang belajar agama, adanya Tuhan.
"Pokoknya kami harus percaya pada kekuatan lain, selain kappa."
Kata-kata Mag inilah yang mengingatkanku pada agama. Karena aku materialis, tentu saja sebelumnya aku memang tak pernah sungguh-sungguh berpikir tentang agama. (hal. 79)
Dikatakan, para kappa juga memeluk berbagai macam agama seperti manusia.
Para kappa ada yang memeluk agama Kristen, Buddha, Islam, Zoroaster, juga agama lain. Tapi yang paling berpengaruh adalah Modernisme atau disebut jua sebagai Seikatsukyo, yakni pemujaan terhadap kehidupan. (hal. 79)
Hmm, sepertinya Akutagawa senang menyentil.

Selain kappa, ada satu cerpen yang menjadi favorit saya: Shiro. Dalam bahasa Jepang, Shiro berarti putih. Dikisahkan tentang seekor anjing berwarna putih susu yang bernama Shiro. Suatu ketika, Shiro melihat anjing lain berwarna hitam bernama Kuro. Kuro tertangkap oleh seorang pemburu anjing dan ia pun diperlakukan tidak baik, Seharusnya Shiro bisa menolong atau mencari bantuan untuk Kuro. Sayang, ia tidak melakukan itu. Ketika kembali ke rumah majikannya, Shiro menjelma menjadi Kuro. Warna kulitnya hitam legam, selegam arang. Tubuh Kuro, namun dalam dirinya tetap Shiro. Anjing putih susu itu tercekat antara perasaan bersalah dan menyesal. Ia harus mencari cara untuk kembali sebagai dirinya sendiri.

Tragis

Kebanyakan cerita bikinan Akutagawa berakhir tragis. Saya tidak tahu apakah ia memiliki misi tersendiri ketika menuliskannya. Misal, untuk menyentil manusia kalau perilaku mereka banyak yang tidak sesuai dengan kemanusiaan. Ataukah Akutagawa hanya ingin menulisnya, seperti apa adanya di dunia yang ia tinggali ini. Tapi menurut saya, Akutagawa hanya terlalu cemas. Dan kecemasannya inilah yang membawanya ke cerita-cerita menarik.

Ah, sayangnya, kecemasan lainnya, akan takut menjadi gila seperti ibunya, membawanya kepada takdir yang tragis. Nyawa Akutagawa berakhir di tangan obat tidur yang berlebihan. :(

Cerita-cerita Akutagawa layak diberi predikat klasik dan sastrawi. Silakan baca dan selami dunia kappa. :)

Informasi buku

Judul: Rashomon (kumpulan cerita)
Pengarang: Akutagawa Ryunosuke
Alih bahasa: Bambang Wibawarta
Tebal: Paperback, 175 halaman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2008 (pertama kali terbit 1915)

Kilas Buku: Manifesto Khalifatullah

|
Manifesto Khalifatullah
Penulis: Achdiat K. Mihardja
Tebal: 219 halaman
Terbit: 2005
Penerbit: Mizan Pustaka
Rating: 3/5

Sebelumnya, kilasan ini pernah saya sajikan dalam blog dhila13.wordpress.com



“Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak jadikan khalifah di muka bumi.’ Mereka bertanya, ‘Apakah Kau tepatkan orang yang merusak di sana dan menumpahkan darah, sedangkan kami bertasbih menurut Dikau dan menguduskan nama-Mu?’ (Tuhan menjawab dan) berfirman, ‘Sungguh, Aku tahu apa yang tiada kamu tahu.” (QS. Al-Baqarah: 30) 

Dengan membaca terjemahan Al-Qur’an yang diterjemahkan dengan puitis oleh H.B Jassin (mengingatkan: judul Al-Qur’an yang diterjemahkan oleh H.B Jassin ialah ‘Al-Qur’an Berwajah Puisi’. Terjemahan ini sempat mendapat berbagai respon yang menolak keberadaan terjemahan tersebut di Indonesia) kita akan mengingat kembali apa sebenarnya tujuan Allah menurunkan kita ke atas bumi. Bukan karena kesalah nabi Adam yang memakan buah khuldi, namun Allah memang memiliki tujuan dibalik peristiwa tersebut yakni menjadikan kita sebagai wakilNya di muka bumi. Yakni mengutus kita untuk membumikan perintah dan ajaranNya di dunia ini.

Seorang Achdiat K. Miharja (mengingatkan: beliau adalah penulis novel ATHEIS yang menjadi rujukan bacaan sastra yang bagus. Jika mau mengingat kembali ke belakang, penggalan-penggalan dalam novel ini selalu menjadi soal dalam tes Bahasa Indonesia baik di SD, SMP atau SMA bahkan sebagai soal di Tes Masuk Perguruan Tinggi) dalam usianya yang sudah dibilang kelewat uzur (90 tahun dan sekarang sudah tenang di sisi Tuhan) dengan mata nyaris buta menulis buku Manifesto Khalifatullah yang diterbitkan Arasy yang didistribusikan oleh Mizan Media Utama pada 2005. Saya membeli dan membacanya ketika umur saya masih 18 tahun pada 6 bulan pertama 2006 lalu. Sungguh hikmah dan pesan dan pengalaman yang luar biasa yang saya temui dalam buku ini.

Sederhananya jika dikisahkan dalam bentuk singkat, buku ini menggambarkan sosok manusia yang pada awalnya menafikan keberadaan Tuhan. Ia melalaikan dan hanya percaya dengan kekuatan alam dan kekuatan dirinya sendiri; tidak ada yang dari Tuhan. Namun pada akhirnya seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman hidup yang makin memperkaya pikiran, ia pun berpikir tentang adanya Tuhan; Tuhan benar-benar ada! Seperti yang dialami Jean Paul Sartre (tokoh dalam buku Understanding Secular Religions dari Josh McDowell & Don Stewart), tokoh besar paling terkemuka dari kaum eksistensialis yang ateis itu, pada saat-saat terakhir hari tuanya dalam keadaan renta dan buta pula, telah berterus terang kepada seorang temannya, Pierre Victor yang mantan penganut Mao Tze Tung, bahwa segala-galanya yang ada di dunia ini mesti ada penciptanya. Dan penciptanya itu adalah Tuhan.

Custom Post Signature