Top Social

Showing posts with label Atria. Show all posts
Showing posts with label Atria. Show all posts

Kilas Buku: Hantu Dalam Bus (Suddenly Supernatural #4)

|

Kat dan Jac kembali berdamai setelah pertengkaran kecil mereka sewaktu mengunjungi konferensi musisi muda beberapa waktu lalu. Kegiatan mereka berjalan seperti biasa walau dengan adanya gangguan seorang cewek populer yang bikin mereka keki. Suatu saat Kat menyadari jika ia mulai jatuh cinta kepada salah seorang cowok di sekolahnya. Cowok itu bernama Ben, dan ia sebenarnya cowok rata-rata saja, sampai Kat menyadari ada hal yang berbeda yang membuatnya senang kepada Ben.

Tahun ini kelas Bahasa Prancis mengadakan studi tur ke Kanada. Mereka menyewa sebuah bis yang cukup bagus untuk sebuah perjalanan jauh. Entah harus bersyukur atau tidak, Ibu Kat dan Ibu Jac turut serta sebagai orang tua pengawas siswa. Mungkin Kat merasa biasa saja, namun tidak dengan Jac. Ia terlalu benci dengan ibunya sendiri sehingga selalu saja mengabaikannya.

Perjalanan menuju Kanada tidak selalu berlangsung mulus. Kat melihat beberapa arwah yang bahkan mencoba berbicara dengannya. Terkadang arwah itu malah memarahinya dan mengaturnya untuk melakukan ini-itu. Arwah itu kebanyakan merasa kalau mereka masih hidup dan terikat dengan dunia manusia. Payahnya, arwah-arwah selalu muncul ketika Kat dan Ben berdekatan. Kat yang takut dijauhi oleh Ben ragu-ragu jika ia harus bicara jujur kepadanya, kalau dirinya bukan cewek biasa. Karena Kat masih mampu melihat dan berbicara dengan hantu. Lantas kalau Ben tahu, apakah ia mau mengerti?

Buku terakhir dari serial Suddenly Supernatural ini sama seperti buku-buku sebelumnya, sama-sama ringan dan cukup bikin penasaran. Bagi orang yang sudah biasa membaca buku misteri, mungkin buku ini akan terlalu ringan dan malah cenderung membosankan. Tapi tidak bagi mereka para pembaca pemula. Jadi saya cukup mengapresiasi usaha dari sang penulis untuk menujukan buku ini kepada para remaja yang masih perlu motivasi dan semangat membaca.

Data buku
Judul: Hantu Dalam Bus (Suddenly Supernatural #4)
Judul asli: Crossing Over
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziati
Tebal: 198 halaman
Penerbit: Atria, 2012 (terbit pertama kali 2010)

Kilas Buku: Kat si Medium Penakut (Suddenly Supernatural #2)

|

Ketakutan Kat menjadi cenayang masih berlanjut. Ia tetap berangan untuk memiliki kehidupan normal (kalau memang bisa). Di sekolah ia sudah "dikenal" sebagai cenayang, baik oleh beberapa teman sekelasnya, ataupun oleh si entitas hitam yang berada di perpustakaan. Entitas ini sangat kuat dan sepertinya mampu menguras energi Kat.

Syukurlah liburan tiba dan Kat bisa kembali tenang tanpa harus bertemu dengan genk populer yang usil, dan entitas hitam. Sayangnya saat liburan Kat tetap bertemu dengan hantu-hantu. Hal ini memang tidak dapat terelakkan, karena kemampuan itu sudah mengalir dalam darah Kat.

Suatu hari Kat tertarik dengan rumah kosong yang berada di sebelah rumahnya. Awalnya Kat hanya ingin menjadikan rumah kosong itu sebagai bahan tugas komunikasi dalam pelajaran Bahasa Inggris. Namun Kat mendadak ingin membantu sesosok arwah di rumah kosong itu. Arwah itu sosok anak laki-laki yang tampak nelangsa. Sayangnya ada beberapa hal yang menghalangi Kat untuk membantunya. Salah satunya, arwah kakek tua yang jahat. Lantas, apakah Kat mampu menolong arwah bocah laki-laki itu?

Ini adalah buku kedua dari serial Suddenly Supernatural. Menurut saya ceritanya cukup menarik dan memang dibuat ringan, karena memang ditujukan untuk remaja tanggung. Sayangnya saya yang mengharapkan kelanjutan dari cerita tentang entitas hitam yang berada di perpustakaan, tidak kesampaian. Padahal entitas hitam itu digambarkan sangat mengancam kehidupan Kat saat di sekolah. Sayang sepertinya jika sosok yang sudah diperkenalkan sejak buku pertama itu tidak dibahas sama sekali.

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca muda dan anak-anak yang memang menyukai genre horror namun ringan dan tidak terlalu menegangkan.

Data buku:
Judul: Kat si Medium Penakut (Suddenly Supernatural #2)
Judul asli: Scaredy Kat
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Penerjemah: Barokah Ruziati
Tebal: 168 halaman
Pnerbit: Atria, 2011 (terbit pertama kali 2009)

Kilas Buku: Arwah di Sekolah (Suddenly Supernatural #1)

|

Kehidupan Kat Roberts tidak pernah seperti kehidupan remaja lainnya. Memiliki seorang Ibu yang berprofesi sebagai cenayang tentu bukan topik yang asyik dapat dibicarakan, apalagi dibanggakan. Sayangnya kemampuan cenayang Ibu Kat dapat menurun kepada Kat sendiri. Dan benar saja, pada usianya menginjak 13 tahun, Kat mampu melihat arwah-arwah orang mati, dan bahkan dapat mendengarnya. Hal ini membuat Kat semakin tertekan karena ia hanya ingin hidup normal.

Kehidupan Kat di sekolah juga tidak kalah menyedihkan. Sebagai murid yang baru pindah tentu saja akan sulit memiliki banyak teman dalam waktu singkat. Kecuali jika kau terlahir sebagai anak yang cantik dan mudah dicintai, tentu saja hal itu akan sangat mudah membuatmu populer. Tapi Kat tidak pernah akan jadi seperti itu. Kat sudah lebih dulu merasa insecure dengan identitas keluarganya, apalagi ia memiliki masalah suram yang membuatnya harus bertahan hidup.

Suatu ketika ada seorang siswa baru lagi di sekolah Kat. Jac, nama siswa baru itu, punya segudang hal yang bisa saja membuatnya populer dan lekas memiliki banyak teman atau segera bergabung dengan geng cewek populer lainnya. Sayang, Jac lebih memilih menyembunyikan itu semua sampai ia bertemu Kat dan mereka berdua menjadi sahabat baik selamanya.

Sepertinya pengalaman menakjubkan Kat tidak akan berhenti pada satu hal saja. Setelah ia mendapatkan penglihatan dunia lain dan berteman dengan Jac, Kat mendapatkan pengalaman berkomunikasi dengan arwah pertamanya. Hal ini terjadi di perpustakaan sekolah ketika ia dan Jac akan mengerjakan proyek Biologi. Sosok gadis dari dunia lain muncul dan mencoba berbicara dengan Kat. Kat ketakutan, bukan pada arwah melainkan pada apa yang akan terjadi dengan persahabatannya dengan Jac. Ia sangat takut jika Jac tahu dirinya adalah cenayang, apakah Jac akan tetap mau berteman dengannya?

Sayangnya pertemuan dengan arwah gadis di perpustakaan itu berulang terus di hari-hari berikutnya. Malah ada entitas gaib yang lebih kuat daripada gadis hantu itu. Kira-kira bagaimana ya keputusan Kat? Akan tetap berpura-pura hidup sebagai remaja yang normal, atau melanjutkan yang sudah menjadi keharusannya, membantu sang arwah menyelesaikan masalahnya?

Aku suka banget buku ini. Meskipun topiknya lumayan menyeramkan, dan mungkin kadang ada yang merasa ini berat, si pengarang berhasil menuliskannya dengan ringan khas anak remaja. Mungkin karena tokohnya adalah ABG, sehingga dunia yang harus dituliskannya haruslah juga seputar dunia remaja. Alih-alih seram (yah kadang seram juga sih, sedikit), kalian akan menemukan cerita hantu yang asyik penuh misteri.

Sayangnya saya menemukan beberapa typo yang mengganggu, seperti nama Jac, yang terkadang tertulis menjadi Jack. Tapi secara keseluruhan terjemahannya menarik dan enak dibaca.

Data buku

Judul: Arwah di Sekolah (Suddenly Supernatural #1)
Judul asli: School Spirit (Suddenly Supernatural #1)
Pengarang: Elizabeth Cody Kimmel
Alih bahasa: Barokah Ruziati
Tebal: paperback, 217 halaman
Penerbit: Atria, 5 Februari 2011 (pertama kali terbit 2008)


Kilas Buku: Witch Catcher

|


Seorang anak perempuan bernama Jen merasa sangat bersemangat ketika ayahnya mendapatkan sebuah kastel di suatu daerah terpencil di West Virginia. Kastel itu merupakan warisan dari paman Thadeus, seorang paman dari keluarga jauh ayah. Karena ayah Jen adalah satu-satunya kerabat yang masih hidup, maka ia berhak dengan atas kastel itu sebagai warisannya.

Bagi Jen, memiliki kastel adalah impian yang jadi nyata. Sejak dulu ia ingin sekali merasakan tinggal di sebuah kastel seperti putri dan pangeran di negeri dongeng. Pada kenyataannya kastel paman Thadeus tidak hanya besar, tapi juga suram. Jen tidak mempermasalahkan hal itu karena ia masih dapat berkhayal seolah-olah ia adalah sang putri yang terkucilkan dan menunggu sang pangeran datang. Apalagi ada menara kastel yang letaknya terpisah dari bangunan utama. Ia akan main ke sana dan mendapatkan jiwa petualangan. Hanya saja, di menara itu ada bola-bola kaca yang berwarna-warni.

Jen pikir satu-satunya masalah besar yang ia miliki saat itu adalah Moura. Moura adalah kekasih ayahnya. Perempuan itu memiliki sifat yang tidak disukai Jen. Dan ia tidak ingin Moura menjadi ibu tirinya. Masalah besar lain yang muncul adalah Moura tidak hanya ingin memiliki ayahnya, tapi juga kastel dan bola-bola kaca di menara.

Jen bersama kucingnya merasa harus berjuang untuk itu. Ia juga dibantu oleh peri kecil dari bola kaca. Yah sebenarnya peri inilah yang mendorong Jen untuk memperjuangkan keinginannya. Atau sebenarnya Jen hanya dimanfaatkan oleh peri itu? Jen tidak tahu. Yang ia sadari adalah ia tengah terlibat dalam masalah yang tidak biasa: masalah dunia lain.

Well, awalnya aku sangat bersemangat membaca buku ini. Remaja putri, kastel, dan peri adalah kunci untuk cerita yang menyenangkan. Sayangnya hal tersebut bukan jaminan. Cerita peri tidak selalu berjalan menyenangkan. Banyak juga cerita tentang peri yang menyedihkan. Yah saya tidak bilang kalau buku ini menyedihkan, hanya saja kurang nuansa senang-senang nya.

Buku ini lumayan juga untuk dibaca anak-anak. Supaya mereka tahu kalau yang namanya kastel pada dasarnya tidak seperti yang ada pada cerita putri Sofia the First. :D

Informasi Buku
Judul Buku: Witch Catcher
Pengarang: Mary Downing Hahn
Tebal: 300 halaman, paperback
Penerbit: Atria, Juli 2012

Kilas Buku: Daddy Long Legs

|

Judul: Daddy Long Legs
Pengarang: Jean Webster
Penerjemah: Ferry Halim
Genres: Classic, YA

Jerusha Abbott (dia lebih suka dipanggil Judy) sudah mencapai usia kedaluarsa di Panti Asuhan John Grier. Artinya, dia seharusnya tidak boleh tinggal di sana lagi. Untunglah salah seorang dewan pengawas Panti Asuhan John Grier menawarkan kesempatan untuk mengirim Judy Abbott ke perguruan tinggi.

Satu-satunya syarat yang diminta adalah gadis itu harus menulis surat pada dewan pengawas tersebut setiap bulan. Si Tuan Budiman yang tidak mau diketahui jati dirinya itu cuma sempat dilihatnya dari jarak jauh, dan dia memiliki tungkai kaki yang luar biasa panjang—mirip laba-laba—sehingga Judy menyebutnya “Daddy-Long-Legs”.

Hidup Judy di perguruan tinggi diramaikan oleh teman-teman, pelajaran, pesta, dan persahabatan dengan si ganteng Jervis Pendleton yang kian bertumbuh. Dengan adanya begitu banyak hal yang terjadi dalam hidupnya, Judy hampir tidak bisa berhenti menulis! (goodreads)
***
Buku ini adalah buku awal dari kisah Panti Asuhan John Grier. Jadi memang ada dua buku dalam serial ini yakni, Daddy Long Legs, dan Dear Enemy. Sebelum membaca buku yang pertama saya malah duluan membaca buku lanjutannya, Dear Enemy. Kesan saya, hmm, biasa-biasa saja. :D

Kembali membahas Daddy Long Legs, kisah ini adalah kisah cinta klasik yang memiliki banyak penggemar. Bahkan bukunya berkali-kali dicetak ulang, diterjemahkan, dibuat komik, dan diadaptasi dalam bentuk film. Sangkin penasarannya saya ikut membaca kisah si Judy ini.

Kesan saya yang paling pertama adalah ide cerita yang menarik. Ya menarik, karena bercerita tentang seorang gadis yang mencintai seseorang yang belum pernah dilihatnya. Judy jatuh cinta berdasarkan imajinasinya sendiri kepada Daddy Long Legs. Ia membangun sosok Daddy dengan sedikit kesan yang ia dapat terhadap laki-laki itu (yang ternyata masih muda! aduh saya pikir Daddy Long Legs sudah tua). Dan akhirnya, sungguh mudah ditebak.

Kisah cinta Judy dan Daddy unik dan memiliki kesan yang dalam. Dan saya yakin kisah cinta ini sudah banyak diimpikan oleh para gadis di seluruh dunia yang pernah membaca buku ini. :)

Ulasan ini untuk:
TBBR Mbak Maria
Lucky No. 14 Mbak Astrid

Kilas Buku: Si Cerdas Athena (Goddes Girls #1)

|
Judul: Si Cerdas Athena
Judul Asli: Athena the Brain
Genre: Fantasy, Mythology, Children
Pengarang: Joan Hollub, Suzane Williams
Penerjemah: Jia Effendi
Penerbit: Atria, Januari 2013 (terbit pertama kali April 2010)
Tebal: 170 halaman

Athena selalu di atas rata-rata. Dia tidak pernah berbaur di SMP Triton.
Tetapi siapa yang mengira kalau dia adalah seorang dewi?
Tepatnya, putri Kepala Sekolah Zeus dan ketika dia dipanggil ke Akademi Gunung Olimpus, Athena berpikir kalau untuk pertama kalinya, barangkali dia akan berbaur dengan yang lain.

Namun ternyata, sekolah di Olimpus sungguh berbeda dengan di Bumi. Dia bertemu dengan dewa-dewi yang jauh lebih pintar darinya dan Athena juga harus berurusan dengan gadis paling jahat dalam sejarah—Medusa!

Lalu, bagaimana caranya membuat ayahnya bangga, jika Athena selalu membuat kesalahan?! (goodreads)
***
Buku ini menarik. Saya sempat membaca versi Inggrisnya yang menurut saya sudah menarik minat untuk tertawa ketika membaca kalimat-kalimatnya. Namun ketika saya membaca versi terjemahannya, saya heran tidak merasakan hal lucu yang sama? Tapi tetap lumayan kok.

Ide-ide didalamnya oke. Rasanya dewa-dewi itu serasa benar-benar punya selera humor yang tinggi. Saya agak tertawa ketika membaca adegan Athena yang tanpa sengaja membuat Medusa memiliki rambut ularnya. Itupun sebenarnya karena Medusa yang mencuri hasil penemuan Athena dan bukan karena dikutuk olehnya. Bukannya sedihi memiliki rambt ular, Medusa malah bangga dan berkeliling mencari mangsa agar orang-orang takut pada dirinya.

Tapi sayangnya saya tidak merasa cerita ini punya kesan yang mendalam, khususnya untuk saya pribadi. Cerita ini oke, lucu, bagus, dan.. fine. that's all. Tidak seperti serial heroes of olympus yang selalu membuat saya ketagihan membacanya. Well, after all, ini cerita ringan dan cocok dibaca oleh anak-anak usia ABG kok. ;)
Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 5 oleh Bzee 

Kilas Buku: Homeless Bird

|
Judul: Homeless Bird
Pengarang: Gloria Whelan
Penerjemah: Ida Wajdi
Genre: Realistic Fiction, Children, Cultural Fiction
Penerbit: Atria 2012 (Pertama kali terbit 2000)
Tebal: 182 halaman
Award: National Book Award for Young People's Literature (2000), Rebecca Caudill Young Reader's Book Award Nominee (2003), Michigan Library Association Thumbs Up! Award Nominee (2001), ALA's Top Ten Best Books for Young Adults (2001), The Judy Lopez Memorial Award for Children's Literature Honor (2001)

Seperti kebanyakan gadis lainnya di India yang berusia tiga belas tahun, Koly pun harap-harap cemas akan rencana pernikahannya. Walaupun dia ingin menikah, dia tidak mau meninggalkan keluarganya. 

Ternyata, pernikahan itu tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Sebuah peristiwa tragis mengubah segalanya dan dia menemukan dirinya terasing di keluarga barunya.

Dia terjebak dalam tradisi yang mengendalikan takdir. Dia terbuang, tersesat dalam dunia yang kejam dan tidak dikenalinya. Namun terkadang, keberanian dan harapan bisa lebih kuat daripada tradisi. Dan seseorang, dapat menentukan takdirnya sendiri.
***
Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini. Pertama, karena harganya yang murah. Murah? Yap saya mendapatkan buku ini seharga Rp. 7,500 saja!
Kedua, karena covernya yang menarik dan kayaknya banyak yang suka dengan buku ini. Saya ngintip ratingnya donk di Goodreads. Hihi.
Ketiga, karena jumlah halamannya yang tipis yang membuat saya yakin bisa membacanya dalam sehari saja. Dan terbukti saya memang membaca buku ini hanya dalam waktu dua jam saja!! :D

Kilas Buku: Topi Selebar Langit

|
Judul: Topi Selebar Langit
Judul Asli: A Hat Full of Sky
Pengarang: Terry Pratchett
Alihbahasa: Santi Paramitta
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Desember 2007
Tebal: 493 halaman
Award: Locus Award for Best Young Adult Novel (2005), Mythopoeic Fantasy Award for Children's Literature (2005), An ALA Notable Children's Book for Older Readers (2005), Pacific Northwest Library Association Young Reader's Choice Award for Senior (2007)

Tiffany Aching punya alasan kuat untuk pergi dari Negeri Kapur untuk sementara. Mempelajari sihir menjadi alasan utama dalam kepergian itu. Namun alasan untuk melayani orang lain, tepatnya seorang wanita yang tinggal sendirian di luar Negeri Kapur. Banyak alasan yang ia kemukakan ketika beradu pendapat dengan ayahnya. Beruntung ibunya memberi tambahan alasan yang menguatkan. Akhirnya, pergilah ia menuju negeri yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Selama perjalanan ia ditemani oleh Nona Tick, namun ia tetap merahasiakan sesuatu dari si guru kelana itu. Tiffany tidak tahu jika sesuatu yang disembunyikannya malah membuat dirinya dibuntuti oleh sesuatu yang tidak terlihat, tidak beraga, dan ... menyeramkan. Sesuatu itu merasakan kekuatan besar dalam diri Tiffany dan ingin mengambil alih tubuhnya sesegera mungkin ketika gadis kecil itu lengah.

Crivens!! Tapi Nac Mac Feegle tahu niat jahat si sesuatu itu dan berusaha membantu Nenek Sihir Cilik milik Negeri Kapur itu. Mampukah mereka membantu Tiffany untuk tidak mati melawan makhluk itu?

Kilas Buku: A Wrinkle in Time

|

Judul: A Wrinkle in Time (Time #1) - Kerutan dalam Waktu
Penulis: Madeleine L'Engle
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penerbit: Atria
Cetakan: I, 2007
Tebal: 265
Harga: IDR 7,500 (Obralan Gramedia Matraman)
Award: Newbery Medal (1963), Sequoyah Book Award (1965)

Kalau memang benar buku ini mendapat Newbery pada 1963, maka buku ini ada pada masa balita ibu saya. Sementara isinya tak dinyana, bikin saya sakit kepala luar biasa. Saya tidak perlu meminta maaf ya jika saya tidak (baca: kurang) mengerti dengan detil-detil yang ada dalam buku ini. Dan kemudian kalian berkata: toh ini hak kamu untuk mengerti atau tidak.

Novel ini bercerita tentang dua kakak beradik Meg dan Charles Wallace yang berpetualang hingga ke luar bumi demi mencari ayahnya. Oh ya, tak lupa mereka ditemani oleh Calvin O'Keefe, anak lelaki yang menjadi kakak kelas Meg di sekolah. Petualangan mereka adalah bercampur antara perasaan kengerian dan takjub. Sebelum, ketika dan sesudah petualangan, banyak pertanyaan yang mendayu-dayu dalam pikiran pembaca menurut saya, atau jangan-jangan cuma saya seorang yang ndak mudeng sama kecanggihan isi yang ditawarkan Madame Madeline disini?

Apa saja pertanyaan saya itu?
Well pertama adalah tentang Tesseract. Saya tahu konsepnya, ada kubus dengan titik yang saling berhubungan dalam bangunannya. Tapi kalau dibuat dalam konsep waktu itu bagaimana ya? Jadi kita bepergian ke tempat yang jauh dengan cara mengkerutkan waktu lewat tesseract? Itu bagaimana ya? Jujur saya mencoba membayangkan ini dalam kehidupan nyata, seperti saya membayangkan teleport.

Kedua lagi soal Tesseract.

Ketiga masih soal Tesseract!

Keempat, mari lanjut review. Petualangan kedua remaja (Meg dan Calvin) dan satu anak kecil yang sudah dewasa sebelum waktunya dan kelewat pintar (Charles Wallace) ini benar-benar rumit. Mereka dipandu oleh 3 makhluk yang mungkin termasuk jenis makhluk luar angkasa, sebangsa bintang dan matahari, yang menyamar sebagai manusia. Mereka bernama Mrs. Who, Mrs. Whatsitt dan Mrs. Which. Mereka semua tampak aneh dan memiliki ciri khas masing-masing. Dan merekalah yang memberi petunjuk (lebih tepatnya setengah teka-teki) kepada ketiga anak itu bagaimana menyelamatkan sang ayah dari cengkraman ITU di planet Camazot.

Ketika mereka, para anak-anak, tiba di Camazot, ada sergapan rasa ngeri dalam diri saya. Thriller? Bukan. Tapi lebih kepada keseragaman yang diterapkan di planet tersebut. Semua gerakan para penduduk yang ada disana sama. Tidak sekedar sama, namun ketepatan waktunya pun sama! Astaga. Seolah ada mesin yang mengatur para manusia itu. Penduduknya manusia lho, bukan robot! Disini, Madeleine mencoba menggambarkan betapa mengerikan dan tidak bebasnya jika keberanekaragaman yang ada dalam suatu negeri diberangus dan dijadikan seragam hanya agar mereka tidak memberontak.

Dan anak-anak kecil itu mencoba menghancurkan konsep itu. Mereka mengatakan bahwa keberanekaragaman adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan.
"Aku berbeda dan aku bahagia," Calvin berkata. (h. 178)

Ada reviewer yang bilang, bahwa buku ini merupakan hasil dari keyakinan dari agama sang penulis. Ya, mungkin memang ada kaitannya dengan nuansa reliji yang ditawarkan penulis. Seperti yang terungkap dalam kalimat Mrs. Who yang senang berbahasa Perancis:
"Que la terre est petite a qui la voit de cieux! Delile. Betapa kecilnya bumi bagi dia yang melihat dari surga." (h. 110)
Ya, apapun itu, apapun pendapat orang tentang buku ini, saya rasa mayoritas setuju dengan konsep yang ditawarkan Madeleine disini. Meskipun ia membuatnya menjadi lebih rumit dan 'menyenangkan'. Tapi sayangnya akhir cerita ini terlalu simpel buat saya. Tiba-tiba saja mereka bisa langsung pulang ke rumah setelah Meg menyelamatkan Charles. Lalu? Dan? Ahh, setelah sekian panjang saya membaca proses dan petualangan yang bikin saya mikir, jadi cuma ini saja akhirnya?

Dan itulah (mungkin) mengapa harga buku ini yang jatuh di obralan (awalnya terbit seharga > 30k, dan ketika saya beli harganya menjadi 7,500!). Karena isinya agak sukar bagi sebagian pembaca (atau mungkin cuma saya) sehingga mereka tidak tertarik untuk membaca buku sejenis ini lama-lama.

***
Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 5 oleh Bzee dan New Authors RC 2013  oleh Ren.

Kilas Buku: Wonder

|
Judul: Wonder
Pengarang: R.J. Palacio
Penerjemah: Harisa Permatasari
Paperback, 430 halaman
Atria, Cetakan I, 2012

Bagaimana jika kalian terlahir dengan mata yang melorot dan sedikit besar ke arah dahi, telinga yang kecil dan malah mungkin tanpa telinga, hidung besar yang lembek, tanpa dagu dan bibir sumbing? Tentu kalian tidak akan masygul jika semua orang normal terlahir seperti yang digambarkan diatas. Namun sayangnya, mereka yang disebut manusia berfisik normal tidak seperti itu. Mereka yang disebut normal memiliki wajah dengan mata, hidung, mulut dan telinga yang terlihat sangat pas dan seimbang.

August (Auggie) Pullman terlahir dengan seperti itu, wajah yang bisa disebut tidak biasa. Tidak Normal, kata orang awam. Ada kelainan Mandibulofacial Dysostosis, kata paramedik. Pada awalnya Auggie tidak pernah menyadari kondisinya, karena keluarga dan tetangganya selalu melindunginya dan menjaga perasaannya. Hingga suatu ketika ia harus tumbuh besar dan membiasakan diri menghadapi orang lain di luar lingkungannya. Maka Mr. dan Mrs. Pullman mulai mendaftarkan Auggie ke sekolah sebagai langkah awal dirinya beradaptasi dengan dunia luar.

Tentu saja ini bukan hal yang mudah. Menjadi anak baru dengan penampilan fisik biasa saja sulit, apalagi dengan penampilan fisik yang tidak biasa seperti Auggie. Sehingga merupakan ujian bagi Auggie dan keluarganya untuk menghadapi ini semua.

Ini kali kedua saya membaca novel terbitan atria dengan tema anak-anak 'luar biasa'. Sebelumnya saya membaca Sejuta Warna Dunia Mia (A Mango Shape Space) Karya Wendy Mass yang bercerita tentang seorang anak yang terlahir sebagai sinestesia. Dan lagi-lagi saya terhanyut dengan informasi dan cerita dramatis yang ditawarkan. Jujur, meski sebenarnya ber-alur mainstream, novel ini justru memberi saya asupan informasi yang pada awalnya tidak saya ketahui.

Novel ini terdiri dari atas beberapa bab dengan kisah yang diceritakan dari banyak sudut pandang (POV). Pembaca dapat mengetahui rahasia hati tiap karakter melalui POV yang ditulis dengan ciamik. Yang saya kagumi dari cerita ini adalah bagaimana kedua orang tua Auggie saling mendukung satu sama lain dalam membentuk keluarga yang saling menyayangi dan pengertian. Dan keluarga Pullman adalah keluarga impian saya di masa depan.

Soal kekurangan buku terjemahan ini? Well, sebenarnya saya menemukan beberapa kalimat yang agak janggal dibaca, entah akibat keteledoran penerjemahnya atau penyuntingnya saya kurang paham. Lantas dimana letak kalimat yang janggal? Saya sudah lupa dan memang sengaja tidak mau menandainya hehe.

Namun saya menandai kesalahan kecil berikut ini:
Tertulis dalam novel:
"Lucu juga kalau mengingat kadang-kadang kau mengkhawatirkan sesuatu dan ternyata tak ada yang perlu kaukhawatirkan." ~Palacio, Wonder, hal. 293.

'kaukhawatirkan', seharusnya 'kau khawatirkan.'

Dan Berikut adalah quote yang bisa dipertimbangkan sebagai pesan moral:

"Hei, sejujurnya, kalau ada Wookiee yang tiba-tiba bersekolah, aku pasti penasaran, dan mungkin akan menatapnya! Dan jika aku sedang berjalan bersama Jack atau Summer, mungkin aku akan berbisik pada mereka: Hei, itu si Wookie. Dan kalau Wookie itu memergokiku mengatakannya, dia pasti tahu aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya menegaskan kenyataannya bahwa dia adalah Wookie," ~Palacio, Wonder, hal. 87.
"Perbuatan kita lebih penting dari ucapan atau penampilan kita. Perbuatan kita bertahan lebih lama dari umur kita. Perbuatan kita bagaikan monumen yang dibangun orang-orang untuk menghormati para pahlawan setelah mereka meninggal. Perbuatan kita bagaikan piramid yang dibangun bangsa Mesir untuk menghormati para firaun. Namun bukannya terbuat dari batu, monumen itu terbuat dari semua kenangan yang dimiliki orang-orang terhadap kita. Karena itulah tindakanmu bagaikan monumenmu. Bangunlah dengan kenangan alih-alih dengan batu." ~Palacio, Wonder, hal. 92-93.

"...buah apel memang jatuh tidak jauh dari pohonnya." ~Palacio, Wonder, hal. 95.

"Kuharap setiap hari seperti Halloween. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu, kita bisa berjalan-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita di balik topeng." ~Palacio, Wonder, hal. 104.

"Tapi ini bukan kontes siapa yang paling menderita, Auggie. Intinya kita semua harus bisa menghadapi hari buruk yang kita alami." ~Palacio, Wonder, hal. 160.

"Kita harus berterima kasih atas berkah Tuhan setiap hari." ~Palacio, Wonder, hal. 189.

"Lucu juga kalau mengingat kadang-kadang kau mengkhawatirkan sesuatu dan ternyata tak ada yang perlu kau khawatirkan." ~Palacio, Wonder, hal. 293.

Novel ini sangat menarik dan cocok dibaca anak-anak mulai usia 8-10 tahun. :)

Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 4 oleh Bzee, dan New Author RC oleh Ren.

P.S. Terima kasih kepada Mbak Maria dan Serambi (Atria) atas buntelan ini. Sudah aku review yaa :)

Kilas Buku: Dear Enemy

|

Dear Enemy
Oleh Jean Webster
Paperback, 382 halaman
Atria, Juli 2010
 
Sebenarnya pada awalnya saya agak malas membaca buku ini. Jika tidak dipaksakan, atau jika tidak ada event keterpaksaan (dalam hal ini adalah event baca bareng-nya mbak Maria), mungkin saja saya tidak akan membaca buku terbitan atria yang satu ini.
 
Alasannya? Tidak ada alasan jelas kecuali buku ini rasanya kurang mengesankan saya agar langsung dibaca tuntas, tidak seperti Charlotte's Web dan Petualangan si Kembar Tiga yang baru-baru ini saya baca dalam waktu singkat.
 
Buku ini tentang apa? Well, Dear Enemy adalah sekuel dari Daddy-Long Legs, yang sebenarnya saya sendiri belum pernah membacanya karena memang belum punya bukunya. Sampai saat ini pun sepertinya DDL sudah agak sukar ditemukan. Ada teman yang juga sedang mencari buku ini dan sama-sama kesulitan menemukannya. Lanjut mengenai Dear Enemy, ceritanya mengenai Sally McBride, seorang sosialita yang diminta oleh Judy Abbott (tokoh utama dari DDL) untuk mengurus Panti Asuhan John Grier.
 
Awalnya Sally agak kurang terbiasa dengan kehidupan panti, apalagi ia harus berkoalisi dengan dokter berdarah Skotlandia yang mana memiliki karakter kurang bersahabat. Namun kedua insan yang saling bertolak belakang ini pada akhirnya mampu saling bahu membahu untuk mengurus anak-anak yatim dan membesarkan nama panti John Grier.
 
Di awal hingga pertengahan cerita saya masih belum terlalu nyambung dengan situasi Sally. Ya, saya tahu siapa Sally dan apa yang dia urusi. Namun saya belum ngeh dengan surat Sally untuk Gordon, yang saya pikir adalah hanya teman baik Sally. Namun ternyata saya salah. Gordon lebih dari itu. Gordon adalah tunangan Sally!
 
Situasi menjelang hingga akhir cerita justru lebih seru. Cerita mengalir sesuai dengan apa yang saya bayangkan: Gordon dan Sally berseteru, dan kemudian benih-benih cinta antara si dokter dan Sally pun bersemai.
 
Yah, begitulah akhirnya. Yang membuat saya salut disini adalah kegigihan Sally yang merupakan sosialita dan uptown girl mengurusi anak-anak yatim. Ia bukan sekedar menjalankan tugas, namun ia juga peduli. Dan dari tugas-tugas barunya ini Sally mendapat penempaan yang luar biasa. Ia belajar dari anak-anak asuhnya, ia juga membaca serba-serbi kehidupan yang rumit dari orang-orang sekitarnya, dan yang lebih penting ia jadi tahu bagaimana harus menghadapi kehidupan dan mengambil keputusan dari setiap kerumitan.
 
Buku ini cocok dibaca oleh anak yang mulai beranjak remaja. Jean Webster adalah salah satu penulis yang karya-karyanya pantas dibaca.
Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 3 oleh Bzee dan read along with children literature sekuel Little Women, Good Wives dan Little Men karya Louisa May Alcott yang diadakan oleh Hobby Buku dan juga RC New Author by Ren.

Kilas Buku: Little Men

|
Judul: Little Men
Penulis: Louisa May Alcott
Penerjemah: Mutia Dharma
Tebal: 453 halaman
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Januari 2011
Rating: 5/5

Ini hasil baca ulang yang tidak membosankan. Meskipun sebenarnya, entah, saya agak kecewa kemarin dengan Good Wives. Bukan salah cerita dan pengarangnya. Salah saya saja yang mungkin gampang bosan dengan cerita yang bertele-tele.

Little Men mungkin menjadi salah satu dari bagian kisah yang bertele-tele, namun saya senang dengan banyaknya tokoh anak-anak disini. Alcott mampu menggambarkan betapa polos dan lucunya karakter anak-anak itu.

Little Men adalah sekuel terakhir dari serial Little Women. Sedikit berbeda dari dua novel sebelumnya, buku ini menceritakan anak-anak yang tinggal di Plumfield yang diasuh oleh Jo March dan suaminya Prof. Bhaer. Banyak anak laki-laki artinya banyak kenakalan. Dan memang begitu adanya di Plumfield, namun Jo tidak lantas putus asa dengan kenakalan anak-anak. Ia dan suaminya selalu tahu bagaimana mengatasi seberapapun liarnya anak-anak termasuk si anak jalanan yang paling liar, Dani.

Proses mendidik anak, apalagi dalam jumlah banyak ditambah berjenis kelamin laki-laki, bukanlah proses yang singkat. Butuh waktu panjang untuk mendidik mereka menjadi pemuda yang berguna bagi masyarakat. Dan pada akhirnya, dengan tetes mata haru, para bocah laki-laki didikan Plumfield pun menjadi anak-anak yang sopan dan tahu bagaimana harus memantaskan diri ketika mereka berkecimpung di lingkungan masyarakat.

Buku ini cocok dibaca anak-anak usia 10 tahun. :)

Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 3 oleh Bzee dan read along with children literature sekuel Little Women, Good Wives dan Little Men karya Louisa May Alcott yang diadakan oleh Hobby Buku.

Kilas Buku: The Girl who Could Fly

|
Judul: The Girl who Could Fly
Pengarang: Victoria Forester
Penerjemah: Ferry Halim
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Mei 2011
Tebal: 376 halaman
Award: Iowa Children's Choice Award Nominee (2012)
Usia layak baca: 11+

Keluarga McCloud adalah keluarga yang biasa saja dan sederhana. Mereka hidup dengan penuh rasa patuh, takut dan syukur kepada Tuhan. Mereka tidak pernah neko-neko dan tidak mau mengambil resiko dengan mencoba hal-hal yang baru. Yang jelas mereka sangat percaya jika garis hidup sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa dan mereka harus dengan sangat rigid mengikuti aturan yang ada.

Namun hal yang tidak biasa mulai terjadi. Betty McCloud mulai mengandung bayi setelah 25 tahun hidup tanpa anak. Tidak ada rasa percaya dalam diri Betty dan ia bahkan menganggap ini adalah keanehan. Lambat laun, wanita itu menerima dengan lapang bayi yang dikandungnya hingga melahirkan.

Tidak disangka ada kejadian lagi yang membuat Betty dan Joe McCloud harus memegangi dada untuk mengurangi rasa kaget yang sepertinya muncul bertubi-tubi. Anak semata wayangnya Piper McCloud bisa dengan mudah terbang ke angkasa! Pasangan McCloud pun mulai menganggap ini sudah sangat tidak wajar dan bisa jadi keluarga mereka dikutuk Tuhan karena perbuatan yang tidak baik. Betty dan Joe bertindak sangat ekslusif terhadap Piper. Mereka tidak memperbolehkan Piper pergi kemanapun hingga menyebabkan gadis cilik itu kesepian dan tetangga sekitarnya kasak kusuk tak karuan.

Suatu hari pada piknik bersama keluarga se-Lowland County, Piper yang tak tahan dengan cibiran teman sebaya dan tetangga sekitarnya pun berusaha menunjukkan kemampuan terbangnya dengan mengambil bola baseball yang terbang jauh ke angkasa. Warga Lowland County yang sedang berkumpul tentunya ternganga-nganga dengan bakat Piper yang istimewa, namun sayang tidak ada dari mereka yang melontarkan pujian, termasuk Betty dan Joe (yang biasa dipanggil sebagai Ma dan Pa oleh Piper).

Hingga pada hari berikutnya, Piper yang nakal baru menyadari mengapa ia dilarang terbang oleh orang tuanya. Mengapa Pa dan Ma begitu protektif terhadap dirinya. Ya, karena ia harus pergi bersekolah di sebuah institusi bernama I.N.S.A.N.E. Ternyata sekolah yang didambakan Piper adalah sekolah yang paling berbahaya baginya. Tidak seperti Sky High (lihat film Sky High keluaran 2005) yang memang merupakan sekolah khusus mengasah bakat-bakat luar biasa, I.N.S.A.N.E adalah tempat yang jauh berbeda. Ia akan mengerdilkanmu, menyerap bakat istimewamu untuk menjadi 'normal' kembali seperti manusia kebanyakan.

Dan pada akhirnya, bagaimana dengan Piper?

Well, menurut saya novel ini cukup bagus. Sayangnya ada beberapa ide yang dapat saya tebak dengan mudahnya, walau ada beberapa juga yang meleset dari perkiraan. Ada yang mengganggu pikiran saya ketika membaca peran J., si manusia tak kasat mata yang berusaha membantu Piper. Saya rasa J. ini adalah saudara laki-laki dari Dr. Hellion yang kebetulan mendapat porsi sedikit untuk masuk dalam cerita ini. Mungkin saja (mungkin lho), buku ini ada sekuelnya dimana terdapat kisah J. dan misinya menyelamatkan Piper. Ya, barangkali sebenarnya buku ini belum selesai (?). Atau malah sudah ada sekuelnya (?).

Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 3 oleh Bzee dan New Authors RC 2013. Bagi yang ingin ikut serta silakan lihat syarat dan ketentuan disini dan disini.

Kilas Buku: Little Men

|
Judul: Little Men
Penulis: Louisa May Alcott
Penerjemah: Mutia Dharma
Tebal: 453 halaman
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Januari 2011
Rating: 5/5

Little Men adalah novel ketiga dari serial Little Women karya Louisa May Alcott. Bercerita tentang Sekolah Plumfield, sekolah khusus laki-laki, yang diasuh oleh Fritz dan Josephine Bhaer. Ada 12 anak laki-laki dan 1 perempuan sebelum akhirnya tiba seorang anak yatim piatu bernama Nat. Nat Blake, seorang musisi jalanan cilik yang ditinggal mati ayahnya merasakan kehangatan yang tak biasa selama ia tinggal di sekolah itu. Ibu dan Bapak Bhaer yang ramah dan hangat, juga teman-teman yang baik hati dan mau bekerja sama membuat dirinya betah dan senang belajar.

Sekolah Plumfield bukan sekolah asrama dengan peraturan yang ketat dan membuat anak-anak merasa ngeri ketakutan. Disana anak-anak diberi kebebasan untuk belajar dan bermain. Mereka diberi petak lahan dan bercocok tanam, juga memelihara binatang. Bahkan mereka boleh berbisnis dengan menjual hasil panen dari tanaman dan peliharaan mereka kepada Bu Bhaer, sesama murid Plumfield dan para tetangga. Pastinya yang namanya anak-anak memiliki kenakalan yang khas, namun Bapak dan Ibu Bhaer mendidik dan menyayangi mereka dengan kesabaran tanpa batas. Setiap kebebasan yang mereka berikan selalu diiring dengan pesan-pesan hikmah yang begitu lembut disampaikan lewat cara-cara yang menarik. Sehingga anak-anak pun tidak merasa digurui. Pada akhirnya ketika dewasa para murid Plumfield pun akan tumbuh sebagai manusia yang jujur, santun, berani dan memiliki kesabaran.

Kilas Buku: Keluarga Flood #6, Liburan Seru

|
Keluarga Flood #6, Liburan Seru
Judul Asli: The Floods #6, The Great Outdoors
Penulis: Colin Thompson
Penerjemah: Ferry Halim
Cetakan: I / 2009
Rating: 3/5

Setelah peristiwa kelima anak Flood menjadi tersangka pembunuhan terhadap profesor gadungan pada seri lalu, kini keluarga Flood memutuskan untuk berlibur di pantai Port Folio bersama tetangganya, keluarga Hulbert. Selama berlibur disana, keluarga Flood dengan tetangganya itu menyewa lantai atas hotel yang teramat sangat mahal dan mewah dan menginap disana.

Selama liburan banyak momen yang mereka lalui; Betty dan sahabat karibnya, Ffiona, yang ikut lomba membangun istana pasir (istana pasir mereka menjadi istana pasir paling tinggi dan paling tahan air berkat bantuan Winchflat), Mordonna membantu pesulap dan asistennya yang tidak populer agar menjadi tersohor dan juga membantu para binatang di arena sirkus yang menderita, serta Valla yang menemukan cinta sejatinya di area pemakaman. Sayangnya acara liburan itu berakhir menyedihkan. Di suatu malam, saat Mordonna dan Nerlin sedang duduk berdua di pinggir pantai, mereka merasakan goncangan yang dasyat. Diduga goncangan tersebut berasal dari palung Mariana, dimana sebuah gunung meletus disana dan menghasilkan sebuah pulau. Mordonna ingat jika palung tsb adalah tempat pembuangan bagi Hearse Whisperer yang dikunci didalam botol ajaib. Si Pembisik maut yang tidak tahan api akan bebas dan kembali mengancam kehidupan keluarga Flood.

Kilas Buku: The Floods #5, Tersangka Utama

|
Keluarga Flood #5: Tersangka Utama
Judul asli: The Floods #5: Prime Suspect
Penulis: Colin Thompson
Alih Bahasa: Ferry Halim
Tebal: 194 halaman
Cetakan: I / 2009
Rating: 2/5

Mayat yang tidak cukup mengerikan ditemukan di Quicklime College dalam keadaan berdiri dan tampak sedang bengong. Tim Forensik dengan penyidiknya yang paling tersohor di dunia, Grusom, melakukan penyelidikan dengan serius. Ia juga dibantu asisten barunya, Avid, seorang wanita cantik yang supercerdas. Setelah melakukan rekam sidik jari pada mayat yang diperkirakan telah dibunuh berkali-kali, kesimpulan pun mengarah pada kelima anak Flood; Winchflat, Morbid, Silent, Merlinmary, dan Satanella Flood.

Sementara itu, anak-anak Flood berusaha menyembunyikan diri. Bukan dari kejaran Polisi dan tim forensik, namun dari musuh bebuyutan keluarga mereka (sebenernya sih cuma mengejar ibunya saja agar balik ke kerajaan sang kakek), Hearse Whisperer. Mereka berlima berusaha mencari cara agar dapat melumpuhkan dan menangkap Hearse Whisperer (kalau bisa dimasukkan ke dalam botol dan dibuang jauh-jauh).

***

Wellll,,,, Novel ini menurut saya err, cukup menarik dan yah memang lucu. Namun sayangnya, saya merasa humornya agak berlebihan dan dipaksakan. Yah mungkin karena memang genrenya begitu ya. Atau mungkin saya saja yang belum cocok dengan selera humor si penulis. Tetapi mungkin kalian punya pendapat lain, karena di goodreads, novel ini tergolong novel yang memiliki rating tinggi lho. Happy reading. :)

Kilas Buku: Tiffany Aching #1, Pria Cilik Merdeka

|
Pria Cilik Merdeka
Judul Asli: The Wee Free Men

Serial: Tiffany Aching #1
Penulis: Terry Pratchett
Penerjemah: Astrid Susanti
Terbit: September 2007
Penerbit: Atria, Serambi
Tebal: 456 halaman


Di suatu daerah yang dijuluki negeri kapur tinggallah seorang gadis cilik bernama Tiffany Aching. Ia hanya seorang gadis biasa yang tinggal di lahan pertanian yang disewa dari seorang Baron. Kesehariannya membantu keluarganya mengolah susu dan keju, terkadang juga membantu persalinan seekor domba betina. Setelah itu apalagi? Bermain! Ya, pekerjaan sesungguhnya bagi anak kecil adalah bermain. :D

Suatu ketika, saat ia dan adik laki-lakinya, Wentworth bermain di tepi danau, ia melihat seorang monster hijau yang kemudian langsung menyelam lagi ke dalam air danau. Ia juga tak sengaja melihat para manusia kecil berkulit biru berambut merah yang sedang mendayung di permukaan danau. Gadis cilik itu bukannya takut namun malah penasaran sehingga keesokan harinya ia datang kembali ke danau dan dengan cerdik menggunakan adiknya sebagai umpan untuk memancing kedatangan si monster hijau yang ia juluki dengan nama Jenny. Ketika si monster muncul kembali dari dalam air danau, ia pun langsung memberinya pukulan telak di wajah dengan wajan yang ia bawa dari rumah. Si monster langsung tenggelam lagi dengan paras ketakutan.

Kilas Buku: Sejuta Warna Dunia Mia

|
Sejuta Warna Dunia Mia
Judul Asli: A Mango Shape Space
Penulis: Wendy Mass
Penerjemah: Ferry Halim
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Desember 2008
Tebal: 354 hlm 

Well, akhirnya saya si orang yang awam akan buku ini kembali mengulas sebuah buku cantik. Kemarin di hari Sabtu, yang merupakan hari pertama saya leyeh-leyeh di rumah kami yang kecil kusam setelah hampir semingguan nyangsang di Makassar, saya disodori beberapa rekomendasi bacaan oleh adik saya yang punya blog insan-muda.blogspot.com. Si adik saya itu, memang bekerja sebagai seorang guru bagi anak-anak berkemampuan dan berkepribadian spesial semacam autis, ADHD, dan istilah lainnya yang saya kurang mengerti, sehingga maklum saja buku-buku atau film-film yang ia rekomendasikan adalah yang ada kaitannya dengan bidang yang ia tekuni. Salah satunya adalah film Taare Zameen Par, yang pernah saya ulas.

Custom Post Signature