Top Social

Showing posts with label Opini Bareng 2015. Show all posts
Showing posts with label Opini Bareng 2015. Show all posts

Maret 2015: Alur Cerita

|

Halo, Pagi menjelang siang nih ya...

Alur cerita atau yang biasa disebut sebagai plot,struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Dengan demikian, plot merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga menjadi kerangka utama cerita. (Sebuah Catatan Sastra)

Ada beberapa bagian yang dapat membentuk sebuah alur cerita; bagian awal, tengah, dan akhir cerita. Jadi setiap bagian harus saling terhubung untuk membentuk sebuah alur yang baik dan dipahami pembaca.

Ngomongin soal alur cerita, saya bukan jenis pembaca yang rewel. Maksud 'rewel' di sini ialah tidak menuntut kepingin alur cerita yang maju terus, atau mundur terus, atau bahkan maju-mundur. Eh ini bukan ngomongin maju-mundur cantik ala Syahrini ya. :p

Jadi intinya, kalau memang boleh saya tuliskan pendapat saya, alur maju atau mundur bukanlah soal yang besar. Yang penting adalah alur tersebut klop dengan seluruh bagian cerita yang saya tulis di atas tadi. Jika ada satu saja yang tidak klop dengan alur, sudah pasti akan ada cerita yang berantakan. :)

Februari 2015: Karakter Tokoh Utama

|

Ngomongin soal karakter tokoh utama... Hmm. Apa ya?
Well, yang jelas karakter tokoh utama favorit ku adalah karakter yang tidak sempurna. Meaning, aku kurang suka sama karakter yang serba bisa. Seperti layaknya manusia tanpa cela. Misalnya, si tokoh udah cakep, terus kaya, terus pinter banget, serba bisa: bisa masak, bisa bertukang, bisa jahit, dll. duh! Apa sih yang si doski ga bisa?? Nah karakter yang kayak gitu justru bikin langsung ilfil pas sekali aja dia bikin kesalahan. Rasanya semua rasa kagum kita ke dia runtuh gitu aja.

Itulah kenapa saya lebih suka tokoh utama yang biasa aja, yang mana dia punya kelebihan juga kekurangan. Contoh utama adalah Detektif Monk. Si Adrian Monk ini, kelebihannya memang cerdas. Ingatannya pun fotografis, sehingga ia mampu mengingat segala sesuatu bahkan yang sepele sekalipun. Kekurangannya adalah ia menderita obsessive compulsive, dimana ia selalu bergairah untuk merapikan segala sesuatu yang menurutnya berantakan dan tidak simetris. Ia juga menderita gemorphobia atau takut kuman. Duh pokonya ribet deh. Ngerepotin detektive yang satu ini. Namun justru gara-gara itulah si Adrian Monk jadi terkenal. Hehe.

Baru-baru ini saya baca novel berjudul Jaka Wulung. Sesuai judulnya, novel ini bercerita tentang seorang remaja berumur 15 tahun bernama Jaka Wulung. Ia memiliki keistimewaan dimana ia dengan mudah mempelajari segala jurus bela diri dengan hanya melihatnya saja. Ia tidak butuh guru yang benar-benar mengawasinya berlatih. Jaka hanya cukup melihat sekali saja jurus didemonstrasikan, kemudian ia akan berlatih sendiri.

Dalam waktu tiga bulan saja Jaka Wulung sudah mengalahkan pendekar dan para jawara yang berilmu lebih tinggi dan berlatih bela diri lebih lama dari dirinya. Hmm, sounds bizarre sih. Soalnya menurut saya, meskipun Jaka Wulung aslinya memang berbakat dan keturunan langsung dari raja yang sakti, apakah ia bisa langsung sakti dalam waktu yang singkat tanpa latihan yang lama? Meskipun sebenarnya bisa saja, tapi tetap saya merasa ada yang janggal. Raja sakti yang jadi nenek moyang Jaka Wulung kan tetap manusia biasa, meski memiliki kesaktian super. Dan Jaka Wulung bukan keturuan setenga dewa seperti Hercules kan. :D Nah, maka menurut saya Jaka Wulung terlalu sempurna untuk seorang remaja berumur lima belas tahun.

Nah, segitu aja sih pandangan saya soal karakter dari tokoh utama. Kalo pandangan kamu gimana? :)

Januari 2015: Ekspektasi

|

Saya meyakini sebuah teori yang saya buat sendiri, yakni: semakin kamu banyak membaca, semakin kamu menambah pengharapan pada setiap buku yang kamu baca. Menambah pengharapan di sini bisa berarti juga tingginya ekspektasi. Jadi wajarlah jikalau para kutubuku tidak perlu repot-repot untuk kuliah jurusan sastra untuk memilah mana cerita yang didukung oleh karakter, setting, dan alur yang baik. Mereka cukup banyak membaca buku, dan tentunya banyak menganalisa bacaan secara ototidak. Yah ini sih hanya teori saya saja, bisa jadi ada yang setuju dan ada juga yang tidak. Kalau kalian bagaimana? :)

The Clockwork Three by Mathew Kirby
Di atas adalah buku yang saya sebut sebagai another fantasy. Buku tersebut berjudul The Clockwork Three atau yang diterjemahkan menjadi Tiga Anak dan Satu Jam, karya Mathew Kirby. Seperti biasa, saya tidak terlalu tertarik pada awalnya, kalau tidak banyak rekomendasi untuk membaca buku ini. Yah, maklumlah, sebagai orang awam dalam dunia buku, saya tidak mau terlalu kecewa kalau sudah terlanjur membaca.

Usai dengan Peter Nimble, The Runaway King dan sekuelnya yang juga terbitan Gramedia, buku yang sangat saya nantikan adalah The Whispering Skull karya Jonathan Stroud. Memang, saya tidak terlalu berharap kepada The Clockwork Three. Namun entah kenapa, akhirnya saya pun meminjam buku ini dari tangan salah satu teman :D

Custom Post Signature