Sekembalinya Percy dan Annabeth dari House of Hades, keadaan tidak menjadi lebih baik. Gaia masih berusaha bangkit. Yang ia butuhkan kini hanya satu: setetes darah demigod.
Kru kapal Argo II bahu membahu mencegah Gaia untuk bangkit kembali dan memusnahkan Olympus. Mereka harus menempuh banyak misi dan menghadapi banyak musuh.
Sementara ketika raksasa pendukung Gaia mulai bertebaran di muka bumi, Octavian dari Camp Jupiter malah membawa pasukan untuk menyerang Camp Half-Blood. Keturunan dewa-dewi Olympus dan Roman terancam oleh perang saudara.
Waktu mereka, kru Argo II, hampir habis. Athena Parthenons belum sempat mereka bawa ke Camp Half-Blood. Gaia sudah membuat bumi bergemuruh. Kini mereka sadar, tidak hanya nasib olympus dan keturunannya yang terancam, tapi juga seluruh umat manusia.
Wah akhirnya setelah sekian lama nggak nulis review, aku kembali! Kali ini dengan sebuah buku hasil buntelan. Udah kelihatan kan gambar di atas? Iya? Sudah?
Ya, jadi itu buku karya gembolers ~ Kementrian Desain Republik Indonesia (KDRI) terbaru. Isinya adalah kumpulan komik strip karya para gembolers yang pastinya dikoordinir sama mas wadit. hehe. Buat yang ngefans, gimana nih? Udah mupeng buat beli?
Makarim Ghanim, seorang konsultan ahli di bidang sumber daya manusia diberi tawaran yang cukup menantang dari teman kuliahnya dulu. Agung, Wakil Direktur dari UBI (Universal Bank of Indonesia), meminta bantuan Makarim untuk menyelidiki kasus penggelapan uang sebesar 17 Miliar. Makarim diminta untuk menyelidiki tiga tersangka yang memiliki karakteristik yang berbeda: Amanda Suseno, pegawai teladan yang kariernya cepat menanjak, Reza Ramaditya, pegawai dengan posisi tinggi yang kehilangan motivasi bekerja, dan Rifad Akbar, pemimpin serikat pekerja yang idealis dan karismatik.
Untuk menangani kasus tersebut, Makarim meminta ijin cuti kepada rekan-rekan pemimpin perusahaannya untuk pergi ke Surabaya, tempat ketiga tersangka tersebut ditempatkan. Ternyata, ada sebuah rencana besar yang sedang disusun. Ada bahaya yang mengancam dan Makarim ada di tengah-tengahnya. Apakah yang sebenarnya terjadi?
...
Penokohan
Karakter tokoh-tokoh dalam novel Rencana Besar ini memiliki ciri khasnya tersendiri. Makarim digambarkan sebagai seorang yang penuh dengan pertimbangan dan teliti. Agung digambarkan sebagai orang yang suka memamerkan kesuksesannya. Amanda digambarkan sebagai wanita yang dapat meluluhkan hati klien tanpa harus terkesan erotis. Reza digambarkan sebagai pendiam yang penuh perhitungan. Rifad terkesan seorang penggalang massa yang cerdik. Semua tokoh utama memiliki peran sesuai dengan wataknya masing-masing.
Plot dan Twist
Alur penuturan cerita novel ini runtut dan enak untuk diikuti. Dimulai dari pengenalan tokoh yang tidak monoton dan digabungkan dengan kegiatan Makarim dalam melakukan penyelidikan. Pada satu titik kita ditunjukkan bahwa masalah sudah hampir selesai, tiba-tiba kita dibawa ke fakta baru yang merubah alur penyelidikan. Kemudian sebelum klimaks dimulai, kita dibawa ke masa lalu untuk mengetahui kejadian awal untuk memberikan latar belakang masalah yang terjadi. Namun demikian, kita tidak langsung ditunjukkan jawaban akhirnya. Ending ditutup dengan kejadian bak film-film aksi.
Kekurangan
Menurut pendapat saya, tidak banyak kekurangan dalam novel ini. Ada beberapa kejadian yang kurang bisa diterima. Misalnya peristiwa kecelakaan dalam kejar-kejaran digambarkan mobil tokoh utamanya tidak rusak meski sudah terbalik atau ketika ada orang yang jatuh dari lantai gedung yang tinggi namun hanya menderita lumpuh. Selain itu, everything is fine.
Kesimpulan
Novel ini istimewa. Pertama, karena ditulis oleh orang Indonesia namun memiliki rasa luar negeri. Kedua, karena genre misteri konspirasi novel ini masih sangat jarang di ranah fiksi Indonesia akhir-akhir ini. Akhirnya, novel ini saya beri 4 dari 5 bintang.
Judul: Little Witch Co. Vol. 3: Gaun Bintang Kejora
Pengarang: Ambiru Yasuko
Penerjemah: Yunita Dwi Susanti
Penerbit: Bentang Belia, November 2013
Musim dingin hampir tiba. Namun nuansa dingin mulai melingkupi daerah tempat Nana tinggal. Maka, dengan membawa mantelnya, ia mengunjungi rumah kecil tempat perusahaan sihir bagian daur ulang berada. Meskipun sudah terbiasa dengan Nana, Silk dan Cotton tetap kaget melihat kehadiran anak manusia itu. Seharusnya tidak seorang pun manusia mampu menemukan Little Witch Co. kecuali ia berkepentingan. Tetapi Nana selalu tidak berkepentingan setiap kali ia menemukan rumah mungil itu. Kenapa ya?
Sementara itu Silk dan Cotton menerima pengumuman dari seorang Ratu Salju bernama Christa. Pengumuman itu berisi tentang kapan salju pertama akan turun. Nana yang belum tahu mengenai dengan Ratu Salju Christa, akhirnya berkenalan dengan sosok ratu yang terkenal dingin itu.
Ketika itu kantor sihir menjadi sangat dingin. Perapian pun mati. Tidak ada kehangatan yang tertinggal. Dan tiba-tiba saja seorang gadis sebaya dengan Silk dan Nana muncul di depan pintu kantor sihir urusan daur ulang. Itulah Ratu Salju Christa yang dingin.
Ratu Christa mendatangi Silk karena memiliki keperluan yakni mendaur ulang gaunnya untuk kontes Pemilihan Ratunya Ratu Salju tahun ini. Ia selalu dikalahkan oleh Ratu Salju Snowla dalam kompetisi itu. Dan apa yang akan dilakukan Silk, Nana dan Cotton untuk membantu Ratu Christa memenangkan kompetisi ini?
Karakter Selain Silk, Nana, dan Cotton, pada edisi kali ini kalian akan bertemu dengan Ratu Salju Christa dan rubah berbulu putih penyendiri.
Pesan Moral Pesan yang dapat kita ambil dari serial Little Witch Co. ini sebenarnya berseragam dari buku pertama hingga ketiga ini: 1. Bertemanlah dengan siapapun. Walau dengan orang yang berkarakter sangat berbeda sekalipun, ia pasti tetap akan dapat menjadi teman yang baik. 2. Bantulah siapapun yang membutuhkan. 3. Seseroang yang berhati dingin dan kesepian dapat diluluhkan dengan persahabatan dan kasih sayang.
Tips Menjahit Setidaknya ada 1 tips menjahit sederhana dalam serial ini yang dapat dipraktekan adik adik kecil di rumah. Tentunya kalian bisa melakukannya dengan bantuan kakak atau ibu ya. :)
Bintang Sekali lagi saya memberi 3 dari 5 bintang untuk buku lucu ini. Melanglang buana di dunia fantasi anak-anak memang sangat menyenangkan. :)
Note: Review ini merupakan repost dari review Kilas Buku di Kompasiana. Silakan klik disini.
Bagaimana rasanya kalau diajak liburan oleh penyihir? Tentu saja akan merasa senang dan penasaran kan? Nah begitu juga perasaan Nana. Suatu ketika ia diajak melakukan perjalanan sihir oleh Silk dan Cotton. Masih ingat Silk dan Cotton kan? Itu lho teman kita si penyihir Jahit yang jago daur ulang pakaian dan juga kucing pelayannya.
Perjalanan sihir dalam rangka liburan musim panas ini menggunakan karpet sihir yang sangat mengejutkan Nana. Ia pikir penyihir akan selalu terbang menggunakan sapu lidi tetapi nyatanya Silk lebih memilih untuk bepergian dengan karpet terbang yang memiliki banyak simbol (tergantung tujuannya) di tengahnya.
Tiba-tiba saja di tengah perjalanan karpet mereka rusak dan terdampar di Perusahaan Sihir Bagian Perjalanan (fyuh untung saja). Awalnya mereka mengira liburan mereka gagal. Namun ternyata tidak. Di kantor tsb mereka bertemu dengan grup vokal kesukaan Silk, Chorus Stars. Tantangan baru untuk mereka kali ini adalah mendaur ulang busana untuk keempat anggota Chorus Stars yang seragam namun berbeda.
Bagaimana Silk, Nana, dan Cotton menghadapi hal ini?
Karakter
Selain bertemu dengan Silk, Nana, dan Cotton. Para pembaca juga akan bertemu dengan Rune, penyihir bagian perjalanan dan pelayannya yang juga seekor kucing, beserta anggota Chorus Stars yang terdiri atas rubah, babi, serigala, dan tikus pendengkur.
Pesan Moral
Satu hal yang dapat dipelajari dari buku fantasi anak-anak yang menyenangkan ini adalah:
1. Setiap orang memiliki karakter dan kesukaan yang berbeda
2. Namun hal yang berbeda itu justru menjadikan persahabatan lebih indah
3. Hal yang sama dari karakter yang berbeda ini adalah rasa kasih sayang
Buku ini cocok sekali dijadikan bacaan (dan bahkan koleksi) untuk adik-adik kecil berusia 5 - 12 tahun. Bahkan orang-orang dewasa pun sepertinya tak ada salahnya membaca buku ini. Yah sekedar mengenang masa kecil.
Bintang:
3 dari 5 bintang
Note: Review ini saya re-post dari akun kompasiana milik Kilas Buku. Untuk melihat link, silakan klik disini.
Judul: Little Witch Co.: Bagian Daur Ulang Pakaian
Penulis: Ambiru Yasuko
Penerjemah: Yunita Dwi Susanti
Penyunting: Aan Wulandari
Penerbit: Bentang Belia, 2013
Tebal: 106 halaman
Cerita:
Bayangkan jika kamu adalah seorang anak kecil seperti Nana yang kesepian. Pastinya kamu akan merasa bosan dan sedih. Namun beruntungnya Nana, di tengah kesepiannya, ia menemukan sebuah rumah di tengah hutan yang kemudian diketahuinya sebagai Little Witch co. (Perusahaan Sihir bagian Daur Ulang). Dengan lugunya, Nana masuk ke rumah tersebut. Ia terkagum-kagum dengan berbagai benda yang ada di dalamnya.
Ketika itulah, Silk, si penyihir jahit datang. Disusul dengan Cotton, kucing pelayan yang sangat ramah. Nana terkesan dengan bisnis mereka yang hanya bekerja khusus untuk membetulkan pakaian yang sudah rusak. Nana berpikir Silk bekerja dengan kekuatan sihir penuh, padahal bagi Silk dan dunia sihir sendiri, barang-barang yang dibuat dengan sihir justru adalah barang murahan.
Disini pembaca anak dapat mengambil pelajaran bahwa mendapatkan segala sesuatu dengan cara instan akan mendapatkan hasil yang kurang berharga nilainya. Sihir disini adalah perwakilan dari sesuatu yang instan.
Suatu ketika datanglah tiga ekor induk tikus yang memohon agar gaun kecil milik salah seorang dari mereka didaur ulang menjadi gaun ukuran besar untuk Nona Beruang. Jelas Silk tidak mampu melakukannya kareana bahan daur ulang yang tersedia tidak cukup. Pun Silk juga jelas-jelas menolak menggunakan sihir. Lalu apakah para induk tikus berhasil membuatkan sebuah gaun daur ulang cantik yang akan dikenakan Nona Beruang pada Festival Dandelion?
Pesan Moral:
Banyak pesan moral yang bisa para pembaca dapatkan dari buku mungil ini, khususnya untuk anak-anak:
Bertemanlah dengan siapa saja. Dalam hal ini terlihat pertemanan antara Nana Sang Manusia dan Silk si Penyihir Jahit dan juga Cotton yang merupakan binatang. Juga persahabatan antara tikus-tikus dan Nona beruang.
Membantu siapa saja merupakan hal yang terpuji walaupun hal tersebut dilakukan untuk seekor beruang sekalipun. Bisa dilihat pada bagian Nana dan Silk membuatkan baju daur ulang untuk Nona Beruang.
Hasil yang paling baik adalah hasil yang dilakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh dan tidak instan. Bisa dilihat pada bagian Silk yang bersikeras menggunakan kemampuannya menjahit ketimbang sihir dalam membuat busana.
Fantasious!Buku ini mengingatkan saya pada masa kecil. Bahkan hingga sekarang pun saya masih senang membaca dan mengagumi gambar-gambarnya yang ceria khas anak-anak. Sungguh fantasious!
Bintang
5 dari 5 bintang!
Note: Review ini merupakan re-post dari akun kompasiana Kilas Buku milik kami. Link bisa dilihat disini.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2014 (pertama kali terbit 1993)
Tebal: 232 halaman
Award: Newbery Medal (1994), Mythopoeic Fantasy Award Nominee for Children's Literature (1994), School Library Journal Best Book of the Year, Golden Duck Award for Hal Clement Award for Young Adult (1994), Booklist Editors' Choice (1994)
Garden State Book Award for Teen Fiction Grades 6-8 (1996), Rebecca Caudill Young Reader's Book Award (1996), Buckeye Children's Book Award for Grade 6-8 (1997), Grand Canyon Reader Award for Teen Book (1995), Golden Sower Award for Young Adult (1995), Sequoyah Book Award for YA (1996), Pacific Northwest Library Association Young Reader's Choice Award for Senior (1996), Horn Book Fanfare (1994), New Mexico Land of Enchantment Award (1997), Wyoming Soaring Eagle Nominee (1996), Regina Medal (1994), William Allen White Award (1996), Wyoming Indian Paintbrush Nominee (1996)
Sekarang:
Dunia begitu tenang, damai, dan teratur. Tidak ada peperangan dan penderitaan. Bahkan para penduduk pun lupa seperti apa rasanya hal yang tidak menyenangkan itu. Mereka sudah nyaman dengan kehidupan yang terkontrol. Ya, bukan hanya dunia, hidup mereka pun juga dikontrol. Tidak ada yang bisa kau pilih dengan hatimu sendiri. Yang ada hanyalah keputusan untukmu. Dan dirimu hanya diminta untuk siap menjalaninya. Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dunia ini selalu memiliki rutinitas yang sama dan agak membosankan.
Jonas:
Jonas adalah seorang anak laki-laki berusia hampir 12 tahun. Ia tinggal bersama ayah yang bekerja sebagai pengasuh anak, ibu yang bekerja sebagai penegak hukum, dan Lily, adik perempuan yang berusia 8 tahun. Ia tengah cemas menanti penugasan yang akan diberikan kepadanya pada bulan Desember nanti. Ah, dia cemas menunggu Desember. Bahkan kecemasannya berubah menjadi ketakutan yang tidak beralasan.
Desember:
Desember adalah bulan yang penting bagi masa Sekarang. Setiap kehidupan baru resmi dimulai tiap Desember. Anak-anak berumur setahun akan diserahkan kepada unit keluarga baru. Anak-anak usia 9 tahun akan mendapatkan sepeda baru. Anak-anak usia 12 tahun seperti Jonas akan diberi penugasan (pekerjaan baru). Tiap anak mendapatkan penugasan yang berbeda. Dan Jonas sangat cemas dengan penugasan yang akan ia dapatkan.
Sang Penerima:
Kini Jonas resmi ditugaskan sebagai the receiver (sang penerima). Berbeda dengan teman-teman lainnya, ia mendapat tugas yang istimewa. Sang penerima mendapat banyak pengecualian seperti boleh berbohong, dan bertanya banyak hal termasuk yang tidak sopan sekalipun. Ia bahkan tidak boleh bercerita apapun tentang penugasannya kepada orang lain. Seharusnya keistimewaan posisinya membuat ia senang, anehnya Jonas malah semakin merasa takut.
Jonas sendiri belum yakin dengan tugas apa yang akan diterimanya. Ia hanya diminta untuk siap menanggung segala hal yang akan ia terima; semua perasaan kebahagiaan dan kesakitan. Satu-satunya jawaban adalah bertanya banyak hal kepada the giver (sang pemberi).
Sang Pemberi:
Seseorang yang sangat dituakan di komunitas masa Sekarang. Dengan kearifannya, ia selalu memberi nasihat jika para warga membutuhkan. Sang pemberi tidak mengajari Jonas hal-hal teknis seperti yang instruktur lain lakukan. Seperti namanya, ia hanya memberi apapun yang tidak pernah Jonas ketahui; ingatan masa lalu!
Masa Lalu:
Masa lalu memiliki banyak hal yang indah namun juga terlarang, tidak sopan, mengerikan dan menyakitkan. Ia juga menjadi sumber pengetahuan bagi komunitas masa sekarang. Banyak hal dari masa lalu yang sudah dilupakan oleh para warga dari komunitas masa sekarang. Maka dibutuhkanlah seseorang seperti sang pemberi dan sang penerima (Jonas) yang menanggung segala ingatan dari masa lalu.
Jadi jelaslah gambaran tugas untuk Jonas. Ia akan menanggung segala ingatan yang mengerikan dan menyakitkan dan juga menikmati kenangan yang indah dan menyenangkan. Dengan begitu ia akan memperoleh pengetahuan dan kearifan untuk membangun dan menjaga komunitas masa sekarangnya.
Namun segala ingatan itu malah membuat Jonas berkeinginan mendobrak kemapanan.
Analisa Distopia:
The Giver memiliki gambaran futuristik tentang bagaimana sekelompok manusia yang berusaha mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Dengan kemajuan pengetahuan yang dimilikinya, mereka mengontrol kehidupan dengan hati-hati, mulai dari kelahiran, pekerjaan, pernikahan, hingga kematian. Sayangnya konsep hidup yang sempurna itu tetap saja ada kekurangan. Yakni tidak ada kehangatan yang melingkupi jiwa mereka. Para warga di komunitas hanya melakukan aktivitas sesuai dengan prosedur seperti... robot.
Mengontrol segala sesuatu akan membuat kita berlaku seperti Tuhan. Sementara manusia adalah ciptaan Tuhan yang dengan kecerdasannya menjalani hidup ini dengan keputusan dari pemikirannya sendiri. Dan Lowry menunjukkan bahwa segala sesuatu yang over-controlled bukanlah hal yang baik.
The Giver lahir dari pengalaman masa kecil Lowry yang pernah tinggal di Jepang beberapa waktu. Ia dan keluarganya tinggal di dalam komunitas Amerika disana. Hal ini membuatnya tidak merasa seperti hidup di Jepang dengan orang-orangnya yang jelas berbeda dengannya. Rasa keingintahuan Lowry yang besar membuat ia berimajinasi tentang suatu komunitas modern tempat the Giver berada.
Bintang:
Buku ini menjadi salah satu favorit saya. Dan saya pun memberikan 3 / 5 bintang.
Film:
Adaptasi film the Giver dirilis tahun ini (2014) dengan dibintangi oleh Meryl Streep dan Jeff Bridges.
“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.
…
Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.
Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.
Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”
Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka. (goodreads)
Sekilas, cerita ini mengingatkan saya pada film India 'Kuch Kuch Hota Hai' yang mengisahkan seorang anak perempuan bernama Anjali yang selalu mendapat surat dari ibunya yang telah meninggal pada hari ulang tahunnya. Dalam surat itu, Anjali mendapat banyak cerita tentang diri ibunya sendiri ketika masih hidup, juga kisah ayahnya dan sahabat ayahnya yang juga bernama Anjali. Bukan hanya cerita, Anjali kecil pun banyak mendapat wejangan sekaligus amanat dari ibunya untuk menyatukan kembali cinta sang ayah dan Anjali senior.
Tentu saja artikel ini tidak akan membahas film India yang beredar tahun 1997 tsb. Karena ada satu buku berjudul 'Sabtu Bersama Bapak' yang harus saya ulas. Lantas mengapa saya malah membahas 'Kuch Kuch Hota Hai' di awal? Karena seperti yang sudah saya katakan pada kalimat pertama, sekilas gaya penyampaian cerita dalam buku ini mirip dengan film India tadi. Bedanya, pada 'Kuch Kuch Hota Hai' ibu Anjali menggunakan surat sebagai media, sementara bapak Satya dan Cakra menggunakan alat yang lebih canggih; handycam! :D
Selebihnya sama? Ya jelas tidaklah. Konsep cerita berbeda. Jika pada film India yang dibintangi Shah Rukh Khan itu lebih menekankan kepada penyatuan kembali dua sejoli yang telah lama berpisah, 'Sabtu Bersama Bapak' lebih kepada bagaimana konsep seorang ayah yang ingin bersama anak-anaknya dan mendidik mereka setelah ia tiada. Berat gak tuh?
Yap, berat di konsep namun ringan di diksi. Sejujurnya ini adalah buku Adhitya Mulya pertama yang saya baca. Namun saya menemukan banyak kesamaan dengan novel 'Test Pack' karya Ninit Yunita yang sudah lebih dulu terbit. Mungkin hubungan mereka yang suami istri mempengaruhi gaya penulisan mereka ya, sehingga cenderung mirip. Saya tulis seperti ini bukan ingin memberi kesan negatif. Justru saya menyukai gaya mereka yang ringan dan renyah meski konsep yang ditawarkan dalam karya-karyanya bukanlah hal yang sepele.
Buku ini (dan buku serial cerita rakyat terbitan Grasindo) adalah buku favorit saya sewaktu kecil. Setiap kali pergi ke TB Gramedia, saya selalu mencari buku terbaru dari serial ini. Dan bisa dibilang saya mengoleksinya. Namun sayangnya buku-buku tsb tercecer dimana-mana karena saya tidak bisa menyimpannya dengan baik (meski sebagian kecil ada yang saya sumbangkan untuk beberapa taman bacaan).
Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat I ini berisi 7 cerita + kesimpulan pada akhir masing-masing cerita. Kesimpulan pada akhir cerita berisi penjelasan jenis cerita, dan pesan moral yang dapat diambil. Cerita-cerita tersebut adalah:
Asal-Usul Nama Pontianak
Pulau Belumbak
Sungai Kawat
Bujang Beji dan Tumenggung Murubai
Liang Mengurang
Membeli Akal
Asal Mulanya Burung Roak
1. Asal-Usul Nama Pontianak
Ternyata eh ternyata, Pontianak itu berasal dari kata 'Ponti' yang berarti 'Sarang' dan 'Anak' yang bermaksud 'Sematianak' atau biasa disebut 'Kuntilanak'. Jadi, dulunya itu di daerah Kalimantan, banyak wanita yang mati saat melahirkan. Sehingga terjadilah pertumbuhan bangsa kuntilanak yang cukup pesat hingga mencapai daerah Kalimantan Barat. Syukurlah ada salah satu keturunan habib dari Hedralmaut bernama Syarif Abdurrahman yang mendirikan kota di salah satu sarang kuntilanak ini. Beliau mendirikan masjid Jami' Sultan Pontianak yang masih dapat dilihat hingga kini. Dan sejak itulah kota tersebut berkembang pesat hingga menjadi ibukota Kalimantan Barat.
Awalnya saya berharap akan mendapatkan cerita seram dari kisah pertama ini. Ternyata (dan syukurlah) tidak ada sama sekali bumbu-bumbu horror sedikitpun. Yah, mungkin karena segmennya untuk anak-anak, jadi hal-hal yang berbau cerita seram memang sengaja ditiadakan.
2. Pulau Belumbak
Ceritanya sendiri sih hampir mirip dengan cerita Malinkundang. Pulau Belumbak ini berisi kisah tentang dua saudara yang merantau hingga menjadi kaya. Namun ketika kembali, mereka durhaka kepada ibunya sehingga sang ibu pun berdoa agar perahu-perahu yang ditumpangi mereka mendapat kecelakaan. Akhirnya terkabullah doa sang ibu dan kedua perahu tersebut berubah menjadi pulau yang dinamakan pulau Belumbak.
3. Sungai Kawat
Hikmah ceritanya mirip-mirip dengan cerita rakyat biasanya sih. Yaa supaya jangan tamak, loba, dll. Nah, kalau yang ini mengenai seorang nelayan yang menemukan kawat emas di sungai Kapuas. Karena ia tamak dan ingin mengambil semua emas yang ada di sungat tersebut, maka ia pun tenggelam ke dalam sungai dan tidak pernah kembali lagi.
Menurut saya, hikmah lainnya adalah tentang kelestarian alam sekitar. Sebagai manusia, kita memang boleh mengambil apa yang ada di sekitar kita, namun barengi juga dengan menjaganya dengan baik.
Cerita keempat, kelima, keenam, dan ketujuh silakan baca sendiri deh hehe. Yang jelas, buku ini memang sangat layak dibaca. Saya pun sangat berharap supaya buku ini dicetak ulang lagi dan lagi supaya para adik kecil kita tahu tentang cerita rakyatnya sendiri. Jangan sampai nanti cerita rakyat malah dipelintir seperti contoh Roro Jonggrang yang membangun Tangkuban Perahu dalam waktu semalam. :p
Posbar ini saya ikut sertakan dalam posbar BBI bulan Agustus.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Juni 2014 (Maret 2013)
Tebal: 376 halaman
Judul Spoiler:
Kerajaan yang nyaris hancur. Raja yang hilang. Siapa yang akan bertahan?
Beberapa minggu setelah Jaron naik takhta, ada yang berusaha membunuhnya. Desas-desus bahwa sebentar lagi pecah perang pun merebak di balik dinding-dinding istana, dan Jaron merasa suasana di Carthya makin lama makin tegang. Dalam waktu singkat, ia sadar bahwa kepergiannya dari Carthya mungkin merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerajaan itu.
Namun, Jaron kemudian bertanya-tanya apakah tindakannya tidak terlalu jauh. Akankah ia bisa pulang lagi? Atau apakah ia harus mengorbankan nyawa demi menyelamatkan kerajaannya? (goodreads)
Masih ingat dengan Sage, Tobias, dan Roden?
Sage si anak yatim yang senang memberontak, Tobias si anak pintar dan senang belajar, juga Roden si bocah bertubuh kuat yang senang main pedang. Diantara mereka adalah Jaron, sang raja muda dari Carthya.
Hidup tak lantas mudah bagi Jaron setelah ia dinobatkan sebagai raja. Carthya sedang diambang perebutan kekuasaan, sementara itu negara tetangga akan melakukan invasi. Jaron harus segera mengambil keputusan yang terbaik jika negaranya tidak ingin hancur. Dengan rencana di dalam pikirannya Jaron memutuskan untuk kabur dan menemui bajak laut yang dulu pernah ingin membunuhnya.
Jaron pun kembali berperan sebagai anak gelandangan. Diam-diam ia pergi menemui bajak laut dan berusaha membuatnya untuk berada di pihaknya. Disini Jaron berpikir layaknya pakar intelejen. Ia menyusun berbagai rencana dengan segala kemungkinan yang ada. Dan bukan tidak mungkin jika rencananya gagal ia akan menelan pil kekalahan yang pahit. Tidak hanya dirinya, negara dan orang-orang yang dicintainya pun akan hancur.
Yang saya senangi dari sekuel ini adalah plot cerita yang logis. Tidak ada yang namanya hal instan. Nielsen tahu persis bagaimana para pembaca kritis dengan hal ini. Maka ia menceritakan proses bagaimana Jaron mengurus dan menjalankan rencananya, dimana banyak hal yang akan ia ketahui nanti termasuk terbukanya kedok si musuh utama.
Yang saya kurang suka adalah karakter Jaron yang keras kepala dalam mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Yang menjadi kesulitannya adalah mempercayai saran orang lain. Ia memandang dirinya sendiri powerful sehingga mudah saja bagi orang lain untuk membencinya. Tapi inilah kekurangan dari sosok Jaron yang membuat dirinya terlihat lebih nyata dan manusiawi dari sekedar tokoh cerita.
Sekuel dari The False Prince ini cukup memuaskan pembaca termasuk saya, walau belum sampai level mengesankan. So, trilogi novel yang satu ini termasuk layak baca. :)
Astaga, rambut gue pitak! Senior gue memangkas jambul kebanggaan gue dengan asal. Demi Tuhan, di sini ada ratusan mahasiswi bening yang salah satunya mungkin bisa gue 'prospek' ke depannya. Dengan rambut pitak begini, paling cuma perawan tua penjaga kantin yang bisa gue pacarin.
“Lo kaya Klingon.”
Coba lo bayangin, itu tadi komentar salah satu mahasiswi cantik di kampus gue, Prue. Harga diri gue langsung terjun bebas ke jurang. Klingon, karakter absurd di film Startrek yang berjidat lebar dan jelek banget.
Tapi sejak saat itu gue jatuh cinta sama cewek yang ngatain gue dengan kejam itu. Setiap hari, selama hampir dua tahun gue terus mengejarnya. Teman-teman bilang gue bodoh karena rela nunggu terlalu lama. Nyokap gue malah bilang; bahwa arus hidup kadang membawa kita ke tikungan lain, dan menyarankan agar coba melihat cewek lain. Tapi gue kekeuh, gue nggak mau ikut tikungan lain itu. Dalam hal cita-cita pun begitu. Gue pengin jadi Motion Graphic Designer besar, pokoknya menghasilkan suatu karya besar yang bikin nama gue diingat orang banyak, nggak ada cita-cita lain.
Tapi gue nggak pernah tahu, gue ataukah nyokap gue yang benar…
Novel ini saya kebetulan saya dapatkan dari penulisnya. Ketika pertama kali melihat covernya, jadi teringat dengan album Abbey Road-nya The Beatles. Saya memang familiar dengan beberapa lagu The Beatles, tapi saya baru tahu dari novel ini bahwa "Dear Prudence" juga merupakan salah satu judul lagu milik grup band Inggris ini. Oke, selanjutnya bagian dalam. Novel ini dipenuhi dengan berbagai gambar ilustrasi yang bagus. Ada beberapa komik ringan nan lucu untuk memberikan sedikit jeda rehat saat membaca. Setelah dicek, ternyata ilustrasi di dalam dikerjakan oleh penulisnya sendiri. Setelah sedikit melakukan investigasi, ternyata penulis memiliki background desain komunikasi visual, pantaslah. Novel ini juga tidak terlalu tebal, sehingga hanya dibutuhkan beberapa jam untuk menyelesaikannya.
Alur cerita
Jalan cerita novel ini sebenarnya cukup menarik. Alkisah Irvine yang memendam cinta kepada Prue semenjak kejadian tidak sengaja yang dialami keduanya. Cerita pun berlanjut ke kehidupan perkuliahan dan magang Irvine "diselingi" dengan beberapa kejadian dengan Prue. Kenapa saya bilang diselingi? Karena cerita dengan Prue seolah hanya tempelan yang tidak masuk ke beberapa peristiwa penting Irvine. Misalnya ketika NewsTV terancam dituntut karena kesalahan Irvine, tidak ada peran Prue di dalamnya. Namun demikian, beberapa kejadian yang menimpa Irvine memiliki nilai yang bagus untuk pembaca.
Tebak-tebakan
Hal lain yang menarik, di awal diceritakan bahwa si Irvine sudah memiliki pacar, namun penulis hanya memberikan petunjuk tentang sifat si pacar tanpa menyebutkan identitasnya. Penulis seolah ingin mengajak pembaca untuk menebak siapa sebenarnya si pacar berdasarkan cerita flashback selanjutnya. Namun, mungkin karena pilihan tebakannya hanya sedikit, beberapa bab menjelang akhir saya sudah berani menebak siapa si pacar tersebut. Dan tebakan saya ternyata benar.
Gaya penulisan & Kelucuan
Dear Prudence memiliki gaya penulisan yang khas buku harian. Para pembaca akan merasa mendengar cerita langsung dari Irvine. Baik tentang kehebohannya ataupu yang lain-lainnya. Ataukah sebenarnya ini adalah kisah asli Dannie si penulis dan sebenarnya Irvine adalah Dannie? Kelucuan pastinya didapat langsung dari gaya Irvine bercerita. Salah satu contohnya ketika Irvine tengah beberes ruangan sementara teman-temannya makan. Ia menolak diajak makan sate kambing bersama-sama.
"Kenapa nggak mau?" "Gue nggak bisa makan kambing." "Kenapa emang? Darah tinggi?" "Engga... Soalnya kambing nggak makan kambing." @#$%!
Satu hal yang saya kurang sreg, yakni penggunaan kata 'gue'. Ya mungkin karena saya pribadi bukan orang Jakarta dan tidak terbiasa dengan gaya berbicara orang-orang kota hehe.
Ilustrasi isi yang jempolan
Yang paling saya suka adalah ilustrasi isi yang ciamik yang ternyata dibuat sendiri oleh penulisnya, Mas Dannie. Ya pantas aja sih soalnya mas Dannie lulusan DKV sama kayak Irvine. :D
Kesimpulan
Secara keseluruhan, novel ini ringan dan asyik untuk dibaca di waktu senggang. Tidak butuh waktu lama untuk membacanya karena memang tulisanya lumayan enak dibaca. Enak? Makanan kali dikunyah hehe.
Published in 2002 by Harper Collins (first published in 2000)
Summary:
I was faster than all the kids twice my age. And somehow I could always make a football do whatever I wanted it to. It just came easy to me, I don't know why, but it did.
The only thing Billy ever wanted to do was to play for Chelsea. His dream come true when he was picked for the team - but that was 1939, and the Second World War began, and then Billy's life, like everyone else's was changed for ever.
Billy's no kid now - he's eighty today. But he's got memories, such memories...
Truly, I don't think this story is really about a kid. It's all about an old man named Billy and his memories. He has uneasy story to share here. His dream to be Chelsea footballer met an end when Hitler attacked some countries in Europe and its ally, Japan, hit the USA with massive bomb in Pearl Harbor. His destination as footballer was threatened. Then he compromised the future by joining the Royal Army Medical Corps. Billy the Kid, is not only telling you, the readers, about kid's dream, but also about history (of world war), and life lesson you can take.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2013 (terbit pertama kali April 2012)
Tebal: 392 halaman
Ringkasan cerita:
Empat anak laki-laki diculik. Empat anak yang penampilannya amat sangat mirip.
Sage, salah satu di antara mereka, membongkar fakta di balik penculikan itu––bahwa ada yang akan dipilih untuk berperan menjadi pangeran yang hilang––ia tahu bahaya sekarang menghadang.
Sage sadar hanya ada satu cara supaya ia bisa bertahan dalam permainan penuh kebohongan dan kelicikan ini.
Ia harus menjadi sang pangeran… Atau ia akan dibunuh. (goodreads)
Jadi sebenarnya yang terpilih menjadi pangeran adalah ..... !! :D
Lho, kok malah langsung ada spoiler ya? Eh ini bukan bermaksud spoiler kok, swear deh. :D
Saya bermaksud ingin mengulas novel fantasy yang kini menjadi favorit saya kok. Langsung simak aja yuk ;)
Desain sampul
Kalau boleh jujur, saya kurang tertarik dengan sampulnya. Entah, yang jelas terlihat cukup abstrak bagi saya.
Ringkasan cerita di belakang sampul
Nah! Meski cukup sederhana, namun ringkasan ceritanya cukup jelas dan yang paling penting adalah bikin penasaran. Seperti yang kalian bisa baca diatas, novel ini mengenai suatu kerajaan yang sedang melalui masa krisis. Seluruh anggota keluarga kerajaan dibunuh dan masa depan kerajaan tergantung kepada empat anak laki-laki yang sedang dipersiapkan menjadi sang pangeran yang telah lama hilang. Siapapun yang menjadi pangeran itu akan menjadi pangeran palsu dari seorang yang licik yang telah merencanakan permainan berbahaya ini.
Tidak mudah bagi keempat anak itu untuk terpilih sebagai pangeran. Mereka harus berusaha berlaku seperti pangeran sebaik mungkin. Sebaliknya, tidak mudah juga bagi mereka jika tidak berhasil terpilih sebagai pangeran. Karena jika itu terjadi, mereka akan dibunuh. Maka, mau tidak mau, mereka harus berperan sebagai pangeran. Masalahnya, cuma ada satu pangeran yang berarti cuma ada satu orang yang akan bertahan hidup.
Lalu, siapa yang akan terpilih: Latamer, Roden, Tobias, atau Sage?
Ulasan
Pada awalnya saya kurang tertarik dengan kisah yang satu ini. Saya anggap ceritanya agak mirip dengan Peter Nimble. Ternyata saya salah. Meski sama-sama mengenai pangeran yang hilang, The False Prince tetap memiliki sedikit kelebihan daripada Nimble. Twist ceritanya cukup membuat para pembaca penasaran. Dan hal itulah yang memberikan impresi kepada saya.
Nielsen sebagai pengarang tidak mau memanjakan pembaca begitu saja dengan asal memberi bocoran. Nielsen cukup hati-hati menyembunyikan clue pada bagian cerita tertentu dalam buku ini. Sehingga tidak akan mudah bagi pembaca untuk menebak akhir ceritanya.
Terjemahan
Hmmmm... *sigh* Sebenarnya not bad. Namun saya merasa kurang nyaman membaca versi terjemahan yang diterbitkan oleh GPU kali ini. Banyak kalimat yang menurut saya diterjemahkan dengan tidak pas. Plus, ada beberapa kata yang typo seperti kata 'perbedaan' menjadi 'berbedaan'; 'keluarga' menjadi 'kelurarga', 'mengiyakan' jadi 'mengiakan', 'melakukan' jadi 'melalukan', dll.
Ya mungkin sepele, namun saya cuma mau mengingatkan bahwa pembaca juga berhak merasakan kenyamanan menikmati bacaannya. Pembaca adalah raja. Ketika seseorang menjadi pembaca, ia tidak akan peduli dengan kesalahan-kesalahan kecil sekalipun pada buku yang sedang dibacanya. Ia berhak mendapat penukaran yang setimpal dari uang yang telah dikeluarkan.
Baik, akan saya tunjukkan satu halaman mana yang terdapat terjemahan yang kurang pas.
-hal. 88-
"Aku mengira Conner mau ingin kami melihat dia membunuh Latamer...."
Komen: Ada dua kata yang bermakna sama. Saya rasa seharusnya dipilih salah satu saja; mau atau ingin?
Untuk yang lainnya saya lupa mencatat pada halaman mana lagi yang terdapat hal-hal yang kurang pas itu.
Kutipan
Ada kutipan yang paling saya suka dari TFP;
“A person can be educated and still be stupid, and a wise man can have no education at all.”
Ya, seseorang yang terdidik belum tentu menjadi orang yang bijaksana. Namun orang yang bijaksana bisa saja bukan orang yang makan sekolahan. Terbukti banyak orang yang bersekolah tinggi namun tetap korupsi atau melakukan sesuatu yang tidak dewasa.
Namun bukan berarti hal diatas tidak mendukung kegiatan yang terkait dengan pendidikan. Bagaimanapun juga, pendidikan tetaplah penting dalam kehidupan. :)
Judul: Higher Institute of Villainous Education (H.I.V.E. #1)
Pengarang: Mark Walden
Penerjemah: Layna Ariesianti
Genre: Fantasy, Adventure, Middle Grade
Terbit: Maret 2014, Mizan Fantasi (terbit pertama kali 2006)
Tebal: 394 halaman
Ringkasan cerita:
Sekolah untuk penjahat? Seriusan? Emang ada? Yup! H.I.V.E bisa menjawab semuanya. Higher Institute of Villainous Education mengajarkan cara-cara merampok bank, menebar teror, merancang skandal kriminal, hingga kejahatan lain yang nggak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Status lokasinya: rahasia. Ada di bawah gunung berapi di suatu tempat entah di mana.
Keren? Tentu.
Tapi Otto Malpense punya pendapat lain. Ketika pertama kali dibawa ke sekolah kejahatan rahasia ini, dia tahu, dia nggak mau menghabiskan enam tahun ke depan belajar trik-trik kriminal yang dia sendiri sudah kuasai sejak kecil. Satu-satunya pilihan yang dia punya adalah: kabur. (goodreads)
Buku ini jelas menarik perhatian saya hanya dari judulnya saja: Sekolah Tinggi Ilmu Kejahatan (H.I.V.E #1). Apa yang terjadi jika ada sekolah khusus calon para penjahat? Itulah yang membuat saya penasaran. Ide cerita untuk membuat novel mengenai sekolah untuk calon para pelaku kejahatan merupakan konsep awal yang menarik.
Sejak halaman pertama, para pembaca akan dipertemukan oleh Otto yang entah kenapa diculik oleh sebuah pasukan yang mengaku berasal dari H.I.V.E. Dan tentu saja ia dan seorang anak lainnya yang juga diculik bersama Otto dibawa menuju sekolah kejahatan H.I.V.E yang dimaksud tadi. Setiap anak yang dibawa menuju H.I.V.E tentunya memiliki bakat spesial yang membuat mereka berguna dalam dunia kejahatan. Lalu apa alasan Otto dibawa menuju H.I.V.E.?
Authors: Neil Gaiman, Diana Gabaldon, Jim Butcher, and many more.
Genres: Fantasy, Paranormal Romance
Editor: Georde R.R. Martin and Gardner Dozois
Published: Simon and Schuster, November 2011
Edition: Pocket Book paperback, 644 pages
Summary:
IN this star-studded cross-genre anthology, seventeen of the greatest modern authors of fantasy, science fiction, and romance explore the borderlands of their genres with brand-new tales of ill-fated love. From zombie-infested woods in a postapocalyptic America to faery-haunted rural fields in eighteenth- century England, from the kingdoms of high fantasy to the alien world of a galaxy-spanning empire, these are stories of lovers who must struggle against the forces of magic and fate.
Award-winning, bestselling author Neil Gaiman demonstrates why he’s one of the hottest stars in literature today with “The Thing About Cassandra,” a subtle but chilling story of a man who meets an old girlfriend he had never expected to see.
International blockbuster bestselling author Diana Gabaldon sends a World War II RAF pilot through a stone circle to the time of her Outlander series in “A Leaf on the Winds of All Hallows.” Torn from all he knows, Jerry MacKenzie determinedly survives hardship and danger, intent on his goal of returning home to his wife and baby—no matter the cost.
New York Times bestselling author Jim Butcher presents “Love Hurts,” in which Harry Dresden takes on one of his deadliest adversaries and in the process is forced to confront the secret desires of his own heart.
Just the smallest sampling promises unearthly delights, but look also for stories by New York Times bestselling romance authors Jo Beverley and Mary Jo Putney, and by such legends of the fantasy genre as Peter S. Beagle and Tanith Lee, as well as many other popular and beloved writers, including Marjorie M. Liu, Jacqueline Carey, Carrie Vaughn, and Robin Hobb. This exquisite anthology, crafted by the peerless editing team of George R. R. Martin and Gardner Dozois, is sure to leave you under its spell. (Goodreads)
What do you expect when you hook up with a beautiful vampire like Edward Cullen and tough vampire like Angel? Will you get crushed on them or you just pass them by? Then what if you find strange case related dark magic? Will you testify it to those who obviously don't believe such a thing? It's your call.
Love and death are dark romance. I, myself, cannot imagine whether I would fall in love and get along with a lover from different world. But I guess some people, especially fiction character, do that.
'Song of Love and Death' consists of 17 short stories from New York Times bestselling authors. One of them is Neil Gaiman which because of him I picked up this book. Then, you don't have to read all of the stories. You can pick some of them that make you're interested in. Believe me, if you are fond of paranormal romance and you think that you're a Gothic person, you're match with this book. Absolutely you'll like it. But if you're not, I bet you can't stand with the stories.
'All Thing About Cassandra' by Neil Gaiman won 2011 Locus Award for Best Short Story. It's about a young painter named Stuart. He imagined having a girlfriend, Cassandra. He dated her 4 times before breaking up. The thing was Stuart made his story up about Cassandra. She was a fake girlfriend and would never been exist. Then that day came; this Cassandra showed her face. So, who is this Cassandra? Then I think you can guess how the story would end. :)
Penerbit: Ufuk Press, 2012 (terbit pertama kali 1983)
Tebal: 312 halaman
Meski seorang anak perempuan, Alanna selalu memimpikan petualangan dan bercita-cita mengalahkan tantangan yang biasanya hanya dihadapi oleh anak lelaki. Saudara kembarnya, Thom, ingin mempelajari seni sihir. Maka, suatu hari, mereka memutuskan untuk bertukar tempat. Thom, yang menyamar sebagai anak perempuan, pergi untuk mempelajari ilmu sihir. Sedangkan, Alanna, yang berpura-pura sebagai anak lelaki, menuju kastel Raja Roald untuk memulai latihan sebagai calon kesatria. Namun, jalan untuk menjadi kesatria tidaklah mudah. Sanggupkah Alanna melalui latihan yang berat dan menjadi kesatria? Mampukah dia mengalahkan Ylon dan Ylanda, monster yang selalu merongrong Kota Hitam? Dan, bagaimana Alanna belajar mengendalikan hatinya dan membedakan mana yang musuh dan mana yang sekutu? Kepada siapakah akhirnya pilihan hatinya bermuara, Pangeran Jonathan ataukah George yang selalu setia membantunya? Novel ini penuh dengan kekuatan sihir, aksi, dan intrik. Petualangan pertama Alanna pun bermula. Petualangan yang akan mengantarkannya kepada cita-citanya dan menjadikannya legenda di seantero kerajaan. (goodreads)
Cerita fantasi yang satu ini merupakan bacaan yang ringan, meski ide ceritanya tidak seringan kisah yang sudah diterbitkan. Seperti summary yang kita baca diatas, konsep cerita sudah kokoh dengan adanya seorang anak perempuan yang ingin menjadi ksatria namun bertentangan dengan keinginan ayahnya. Satu-satunya cara adalah, Alanna, yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini harus berpura-pura menjadi anak laki-laki.
Kesibukan diri Alanna berperan sebagai anak lelaki saja sudah menjadi satu masalah yang rumit. Belum lagi ditambah dengan masalah utama lainnya seperti menduga siapa musuh dalam selimut yang mengirim Alanna dan pangeran Jonathan untuk melawan monster Kota Hitam. Menurut saya, usaha Alanna untuk menjadi anak lelaki kurang digali lebih mendalam. Tampaknya Alanna tidak terlalu kesulitan berusaha menjadi lelaki, kecuali saat mandi dan berenang bersama teman calon ksatria lainnya. Dan saat ia mendapatkan menstruasi pertamanya, masalah pun lantas lenyap dengan ajaib ketika ia diberikan jimat penghenti datang bulan sementara oleh ibu George, Raja Pencuri. Padahal cerita akan lebih menarik lagi jika ada masa-masa tegang ketika harusnya ia mengalami kesulitan mengatasi masalah keperempuanannya dan membuat penyamarannya hampir terbongkar.
Alanna juga tampak sangat powerful dalam beberapa kesempatan yang 'sulit'. Seperti ketika ia menyembuhkan pangeran Jonathan dengan kekuatan sihirnya yang ia sebut sebagai bakat alami. Disini, meskipun Pierce, sang penulis, sebelumnya sudah memberi latar belakang bahwa Alanna telah banyak belajar tentang sihir dari Maude, namun tampaknya tetap kurang greget saja melihat sosok anak kecil yang tidak terlalu sering mengasah bakat sihirnya mampu menyembuhkan penyakit yang disebabkan karena sihir hitam. Ya, memang sih Pierce juga menyebutkan di awal bahwa Alanna adalah sosok yang terpilih. Namun tetap saja saya menganggap hal ini masih kurang digali.
Lagi, cara Alanna berkomunikasi dengan kembarannya, Tomb, masih terasa kurang mendalam. Tiba-tiba saja ada surat dari Tomb yang mengabarkan tentang siapa sebenarnya guru sihir Alanna. Tomb dan Alanna saling berkirim surat melalui George. Sayangnya lagi-lagi hal ini hanya diceritakan secara singkat tidak kurang dalam dua dan tiga kalimat.
Bagian demi bagian cerita menjadi ringan dan enak dikunyah memang (mungkin) disebabkan sang pengarang yang kurang bercerita lebih dalam mengenai sisi-sisi hidup Alanna. Padahal rasanya akan lebih lezat lagi jika Pierce sedikit bersabar membangun alur kisah yang memang sudah menarik ini. Tidak heran ada beberapa pembaca yang berkomentar bahwa buku ini termasuk buku yang akan terlupakan lepas dibaca.
Namun, yang saya senangi dari kisah Alanna adalah ketika ia menyerah setelah seminggu belajar di istana. Alanna yang merasa dirinya serba bisa, mengalami kesulitan ketika ia harus tunduk pada peraturan terus menerus. Ia yang biasa tinggal di kastilnya sendiri dengan banyak pelayan yang melayaninya, kurang tahan mendapat perlakuan yang terus menerus menguras energi dan daya pikirnya. Pada saat inilah Alanna menunjukkan sisi lemahnya. Dan ia terasa mejadi lebih manusiawi. Karena Alanna tidak melulu menjadi sentra yang serba bisa dan mampu mengatasi kesulitan, namun ia juga punya masalah sendiri sebagai seorang bangsawan yang ingin menjadi ksatria. Alanna harus tahan dengan mendisiplinkan dirinya sendiri jika ia memang benar ingin menjadi ksatria sejati,
Memiliki nenek eksentrik dan pemberani membuat hidup Alexander Cold penuh kejutan. Namun, saat urusan keluarga membuatnya terpaksa tinggal dengan neneknya, semua berubah total.
Bersama sang nenek dan tim peneliti, Alex ikut ekspedisi International Geographic menuju kawasan liar Amazon untuk mendokumentasikan keberadaan yeti.
Ternyata banyak rahasia tersembunyi di hutan itu. Dengan dibantu kekuatan roh binatang, Alex dan kawan barunya Nadia digiring ke dalam petualangan menegangkan dan mistis, menuju penemuan yang luar biasa… (goodreads)
Kisah fantasi yang satu ini adalah tentang seorang anak laki-laki yang duduk di bangku SMA bernama Alex. Karena ada masalah dalam keluarganya, Alex dan kedua adiknya harus tinggal sementara bersama nenek mereka. Jika kedua adiknya tinggal bersama nenek dari pihak ibu yang lembut, Alex harus tinggal dengan nenek dari pihak ayah yang cuek dan terkesan tidak peduli dengannya. Namun, justru dengan Kate, neneknya yang nyentrik inilah Alex mendapatkan pengalaman baru yang luar biasa dan tidak pernah ia sangka sebelumnya.
Bersama Alex dan neneknya, para pembaca akan diajak memasuki dunia fantasi baru yang penuh dengan mitologi suku Indian. Alam hutan Amazon yang luar biasa cantik dengan segala misterinya mengiringi pembaca dengan nuansa hutan benua Amerika yang masih alami. Dengan POV orang ketiga, sang pengarang, Allende, terlalu banyak bercerita daripada memberi kesempatan kepada para tokoh untuk menggandeng pembaca mengikuti petualangan mereka. Tak heran, ada beberapa pembaca yang sudah bosan pada seperempat bagian buku dan urung melanjutkan.
Beruntung saya bukan termasuk pembaca yang kebosanan di awal (meski saya akui memang ada beberapa bagian cerita yang bikin bosan). Karena saya pikir memang itulah gaya Allende, selalu kuat pada penceritaan. Saya sendiri sih senang, karena kadang terasa seperti didongengi hingga ketiduran hehe. Sebetulnya yang lebih membuat saya menyukai buku ini adalah segala sesuatu tentang Indian yang menjadi latar belakang dari cerita ini. Saya akui, buku fantasi dengan latar belakang suku Indian adalah termasuk yang jarang ada. Rata-rata kisah fantasi dewasa ini kebanyakan mengenai dunia baru yang penuh sihir atau terkait dengan mitologi Yunani dan Romawi. Dari City of the Beast, ada beberapa hal yang membuat saya tertarik mengenai mitologi Indian seperti kota El Dorado yang hilang dan juga gaya hidup suku Indian yang nomaden dan sangat menghormati alam.
Terlepas dari pro dan kontra dari para pembaca baik yang suka ataupun tidak suka dengan buku fantasi ini, ada baiknya kita tetap memberi apresiasi kepada Isabel Allende yang dalam setiap karyanya selalu menyisipi hal-hal terkait sejarah atau mitos yang membuat para pembaca tertarik. Sekian review dari saya.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, February 2014 (terbit pertama kali 2011)
Tebal: 432 halaman
Peter adalah anak lelaki buta berumur sepuluh tahun. Sejak kecil dia menjadi pencuri. Pada suatu siang, Peter mencuri kotak milik seorang pedagang keliling yang misterius. Isi kotak itu ternyata tiga pasang mata ajaib. Ketika mencoba mata pertama, seketika Peter dibawa ke sebuah pulau tersembunyi. Di sana dia mendapat perintah khusus untuk pergi ke sebuah kerajaan berbahaya dan menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan. Bersama pengikut setianya––kesatria yang dikutuk menjadi campuran kuda dan kucing––Peter Nimble mengalami petualangan seru yang tak terlupakan demi menemukan takdirnya yang sejati. (goodreads)
Satu hal yang harus kita pahami ketika membaca buku ini, yakni Peter Nimble bukanlah anak bermata buta biasa. Ada alasan kenapa ia menjadi buta, tanpa orang tua, miskin, papa, dan menjadi pencuri handal. Alasan demi alasan itu ia ketahui setelah mencuri kotak berisi mata ajaib dan bertemu dengan profesor tua yang tengah mencari negeri yang hilang. Masa lalu Peter yang susah merupakan bentuk persiapan dirinya untuk kembali ke rumah dan keluarganya. Lantas siapa sebenarnya Peter?
Tak dipungkiri jika saya agak skeptis ketika mulai membaca cerita fantasi yang satu ini, setelah sebelumnya merasa kecewa dengan cerita fantasi lain yang konsep dan alur ceritanya agak terburu-buru dan kurang menarik :(. Lalu bagaimana dengan kisah Peter Nimble?
Beruntunglah saya bahwa Peter Nimble bukan sekedar kisah fantasi yang gampang ditebak. Alur dan kisah yang dibangun tidak seperti kisah fantasi biasa. Ada rasa yang berbeda sehingga melampaui ekspektasi saya sebagai pembaca yang bisa dibilang selalu menuntut lebih. Meski ini kisah fantasi yang pastinya mengandung daya khayal tinggi, Auxier mampu membuatnya lebih 'masuk akal'. Peter Nimble tidak tiba-tiba begitu saja menjadi lihai. Bocah buta itu juga tidak lantas menjadi powerful karena memiliki berbagai macam keahlian mencuri. Sebagai karakter utama, adalah satu hal yang baik jika si tokoh memiliki kelemahan yang menjadikannya lebih manusiawi. Dan Nimble pun memiliki sisi kelemahan yang membuat dirinya semakin menarik.
Kisah petualangan Peter Nimble merupakan kisah fantasi dengan rentang waktu middle-grade / young adult, yakni usia ABG. Walau sebenarnya kisah ini cocok juga dibaca orang-orang dewasa yang menyenangi genre fantasi.
“The start of any journey-whether pilgrimage or promenade-is one of life's true joys.” ~ Jonathan Auxier, Peter Nimble & His Fantastic Eyes.
Published January 3rd, 2013 by Penguin Books (first publish 2012)
Literary Awards: Buxtehuder Bulle (2012), Odyssey Award for Excellence in Audiobook Production Honor (2013), West Australian Young Readers' Book Award (WAYRBA) for Older Readers (2013), YALSA Teens' Top Ten Nominee (2012), Indies Choice Book Award for Young Adult (2013)
Despite the tumor-shrinking medical miracle that has bought her a few years, Hazel has never been anything but terminal, her final chapter inscribed upon diagnosis. But when a gorgeous plot twist named Augustus Waters suddenly appears at Cancer Kid Support Group, Hazel's story is about to be completely rewritten.
Insightful, bold, irreverent, and raw, The Fault in Our Stars is award-winning author John Green's most ambitious and heartbreaking work yet, brilliantly exploring the funny, thrilling, and tragic business of being alive and in love. (goodreads)
This is the first time I read Green's work. I found the story line is so simple. It's focus on two young couple, Hazel and Gus who suffered from cancer. Then as a reader we can predict how the story is going. Of course it talks about how Hazel and Gus fight against the aliens. They, especially Hazel, often attends to cancer support group that according to her mother can help her to make friend.
But don't underestimate it so soon. Yeah the sick teenagers are centered here. Yeah the story is just around their lives. Let me tell you what makes so special of this book. It is the way Green wrote it. He has magic hands to create words becomes pretty story to read. He creates couple characters that don't like act pitiful to get sympathy from readers.
Most readers shed tears after finished the book (whereas I don't :D). Most readers fell in love after read this book (then my feeling was so-so). But again I admit that TFIOS is written beautifully. :)
Judul: Perjalanan Dua Purnama
Judul Asli: Walk Two Moons
Pengarang: Sharon Creech
Penerjemah: Esti A. Budihapsari
Genre: Young Adult, Realistic Fiction
Penerbit: Kaifa for teens / Mizan Pustaka, 2003 (pertama kali terbit 1994)
Tebal: 315 halaman
Literary Awards: Newbery Medal (1995), Rebecca Caudill Young Reader's Book Award Nominee (1997), Sequoyah Book Award (1997), W.H. Smith's Mind-Boggling Books Award (1996)
Kami berjalan menuju beranda dan di sana, di tangga paling atas, tergeletak sebuah amplop putih, tanpa tulisan apa pun. Phoebe memungut dan membukanya. Di dalamnya ada sehelai kertas biru yang bertuliskan:
Jangan menilai seseorang sebelum kamu berjalan selama dua purnama mengenakan moccasins-nya.
"Aneh sekali," kata Phoebe.
Surat rahasia ini barulah salah satu kejadian aneh yang dialami Salamanca Tree Hiddle dan Phoebe Winterbottom setelah ibu Phoebe menghilang. Belum lagi munculnya orang gila yang berkeliaran di sekitar rumah Phoebe dan para tetangga pembunuh yang mengubur korbannya di halaman belakang.
Benarkah ibu Phoebe menghilang karena dibunuh para tetangganya? Siapa sebenarnya orang gila itu? Apakah Salamanca akan berhasil mengajak ibunya kembali ke Ohio. (goodreads)
Cerita ini murni melalui sudut pandang remaja. Salamanca, seorang gadis yang baru saja pindah rumah, belum bisa move on dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Melalui dirinya, para pembaca melihat keseluruhan masalah secara detil. Sehingga kita pun memiliki dugaan dan kesimpulan yang sama dengan apa yang dimiliki Salamanca.
Melalui Salamanca, kita juga diajak untuk mengenal Phoebe. Disini, meski kita juga diajak untuk memandang Phoebe dari sisi Salamanca, namun sebagai pembaca kita bisa bersikap kritis dengan apa yang terjadi pada sahabat Salamanca itu.
Cerita ini, khususnya lewat Salamanca dan Phoebe, menyajikan problematika remaja dan keluarga. Dari Salamanca kita diperlihatkan bagaimana suasana seorang anak yang ditinggal ibunya dan hanya hidup dengan ayahnya. Salamanca yang terus-terusan teringat sang ibu, menyesali tindakannya yang selalu berteriak kasar kepada ibunya. Kini ia sangat menginginkan ibunya kembali.
Dari Phoebe, sebagai pembaca kita diperlihatkan tentang seorang anak yang hidup dalam keluarga yang kaku sehingga mudah sekali berada dalam kondisi tertekan. Suatu ketika Phoebe mengalami hal yang sama dengan apa yang terjadi pada Salamanca. Tiba-tiba ibunya pergi tanpa sebab. Sayangnya Phoebe berbeda dengan Salamanca, ia kesulitan mempelajari keadaan. Sehingga yang terjadi adalah Phoebe yang terus-terusan menyalahkan ibunya. Apakah Phoebe akan berubah?
Yang paling saya senangi dari cerita ini adalah bagaimana penulis meramunya dengan baik. Dan denga diksi yang baik, Creech mampu menyimpan rahasia sesungguhnya untuk ditempatkan pada bagian akhir.
Kilas ini diikutsertakan pada posbar BBI bertema masalah remaja.