Top Social

Kilas Buku: The Phantom Tollboth

|

 
Kisah Petualangan Milo di Pintu Tol Ajaib (The Phantom Tollbooth)
By. Norton Juster
248 halaman
Liliput, 2005 (Terbit pertama kali 1965)

Milo, seorang anak laki-laki yang murung, menemukan paket misterius di kamar tidurnya pada suatu siang seusai bersekolah. Penasaran, Milo membuka paketnya dan menemukan sebuah pintu tol ajaib dengan sebuah peta panduan. Maka, ia pun mengambil mobil-mobilannya yang tak pernah terpakai lalu menggunakannya untuk bertualang masuk ke pintu tol ajaib. Tak disangka, Milo menemukan banyak hal yang aneh dan ajaib tentunya. Semua makhluk ajaib di dalam sana, memberikan Milo banyak pelajaran berharga.

-------------------------

Jujur saya merasa malas dan terpaksa ketika membuka halaman pertama dari buku ini. Entah mengapa kesan pertama (melihat gambar sampul) kurang begitu mengena di hati saya. Namun karena ada hasrat keterpaksaan dalam diri saya yang mengharuskan saya membaca buku ini hingga tuntas, maka saya jalani saja. Halaman pertama dan kedua saya lalui dengan sabar, namun ajaibnya (baiklah saya sadar diri kalau dalam artikel ini banyak kata 'ajaib' yang saya lontarkan) saya mulai menyukai tema ceritanya dan meneruskan bacaan dengan hati riang.

Seperti synopsis singkat yang saya tulis di paragraph paling awal, cerita ini adalah tentang Milo, seorang anak yang bosan dengan rutinitasnya sehari-hari. Melihat karakter Milo, saya menjadi teringat pada masa kecil diri saya sendiri (atau itu masih terjadi dengan diri saya hari ini?) yang merasa menjalani hidup adalah suatu hal yang sangat membosankan. Tidak pernah ada petualangan. Jarang ada permainan yang sangat-sangat menyenangkan. Tidak ada buku-buku menarik yang menghiasi rak saya seperti hari ini. Semua hampa dan saya merasa kesepian (lho kok malah curhat?).

Dan seperti itulah Milo setiap hari. Ketika ia berjalan, ia tidak tahu kemana akan pergi. Bahkan jikapun ia tahu, ia malah berpikir mengenai tempat lain yang sama sekali bukan tujuannya saat itu. Beruntung sekali ada sekelompok (atau seseorang) orang yang baik hati menghadiahkannya pintu tol ajaib sehingga ia bisa melalui petualangan ke dalamnya dan bertemu dengan banyak teman dan peristiwa.

Alkisah dalam pintu tol, ada sebuah negeri bijaksana yang kemudian pada saat ini terbagi menjadi dua yakni Dictionopolis (Aksaranakarta) dan Digitopolis (Angkanakarta). Para penguasa dua negeri tersebut, Pakaraksara (Raja Aksaranakarta) dan Pakarangka (Raja Angkanakarta) saling bertentangan satu sama lain. Pakaraksara mengatakan bahwa kata-kata lebih baik daripada angka. Sementara Pakarangka berpendapat sebaliknya.

Kasus pertentangan antara negeri kata dan negeri angka, menunjukkan dua kubu yang tidak menyukai jika kata-kata (Bahasa) dan angka (Matematika) bersatu. Sepertinya Bahasa dan Matematika adalah dua jalur berbeda dan harus tetap dipisahkan. Namun sebenarnya tidak harus begitu juga kan? Kata dan Angka, meski berbeda, bisa disatukan. Dan untuk menyatukannya, butuh dua Putri yang sedang diasingkan, yakni Putri Rima dan Putri Nalar. Maka dari itu, menjadi tugas Milo si Bocah untuk menjemput mereka kembali pulang agar Negeri Kebijaksanaan kembali rukun dan damai.

Perjalanan menuju Istana Angkasa (tempat Putri Rima dan Putri Nalar) tidaklah mudah. Milo harus melalui negeri kebodohan yang didalamnya terdapat banyak setan-setan. Mulai dari setan hal-hal tidak penting, setan penipu, setan pemakan pikiran, dsb. Beruntung saja Milo ditemani dua teman baik yang masing-masing mengerti kata dan angka yakni, Kepik Pengomel yang senang mengumbar kata dan Tok, si anjing penjaga waktu. Milo juga membawa berbagai hadiah yang mampu menjaganya agar berpikir jernih, melihat jauh ke depan dan mendengarkan hal-hal yang seharusnya. Dengan perbekalan itulah Milo mampu menjemput Putri Rima dan Putri Nalar kembali pulang.

Huahhh... panjang bangett ceritanya. Dan saya rasa saya tak bisa melampirkan semua pesan yang disampaikan si penulis. Terlalu banyak pesan, terlalu banyak yang harus diambil.

Intinya adalah, Milo yang tadinya menganggap kesehariannya sangatlah biasa saja dan membosankan, kini (setelah melalui petualangan di pintu tol ajaib) ia menjadi anak yang mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. :)

Buku ini cocok dibaca anak usia 9 tahun, meski saya agak ragu mereka sudah mampu mengerti maksud tersirat ini atau belum. Tergantung kondisi pemikiran si anak sebenarnya. Maka, orang tua pun harus siap menjadi narasumber berbagai pertanyaan. :)

Ulasan ini diikutsertakan posting bareng BBI untuk Sastra Eropa, FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 3 oleh Bzee, What's in a Name dan New Authors RC oleh Ren.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature