Top Social

Showing posts with label random thoughts. Show all posts
Showing posts with label random thoughts. Show all posts

Gramedia Kids - Gramedia World Harapan Indah

|

Rabu, 4 Juli, kemarin saya mengajak anak-anak menuju Gramedia Harapan Indah. Tertarik ke sana karena banyak yang bilang ada satu areal yang disebut dengan Gramedia Kids. Bayangan saya tentangnya sudah melambung tinggi, yakni akan banyak spots bermain di sudut-sudutnya.

Saya mencaritahu tentang Gramedia Kids Harapan Indah di berbagai ulasan di mesin pencari. Setiap ulasan positif karena membuat anak menjadi betah diajak ke toko buku. Yup, saya membayangkan Gramedia Kids akan seperti sudut baca anak yang selain menyediakan buku, juga menyediakan permainan yang asyik. Oh ya, sebelumnya saya juga sudah tahu kalau di Gramedia Kids banyak menjual permainan anak seperti boneka dan mobil-mobilan.


Saya berangkat dari rumah pukul 10.30. Sesampainya di tujuan sekitar pukul 10.50, namun area toko masih sepi. Mungkin karena baru buka satu jam sebelumnya.
Tidak menunggu lama, saya langsung masuk ke dalam dan menjelajah dengan tujuan utama mencari Gramedia Kids. Tidak sesuai dugaan, tidak ada tulisan "Gramedia Kids" yang menempel di salah satu area yang saya pikir adalah tujuan awal kami. Tapi sepertinya benar area tersebut adalah Gramedia Kids dengan berbagai mainan terpajang di rak-rak display. Bahkan seperti yang saya lihat di salah satu review, ada peta "ular tangga" tercetak di lantai pintu masuk.


Dengan gembira saya dan anak-anak melanjutkan jelajah. Kembali saya temukan permainan "ciplek gunung" (kalau saya sih menyebutnya dengan nama "bete") tercetak di lantai. Anak saya langsung menghampiri "ciplek gunung" dan merasa takjub dengan angka-angka yang besar.
Setelah puas dengan "ciplek gunung", kami kembali menjelajah ke dalam toko, sambil melihat-lihat berbagai mainan yang dijual. Kami pun kembali menemukan areal bermain yang cukup asyik, yakni meja dan kursi untuk beraktivitas serta perosotan yang terbilang tinggi bagi balita. So, perosotan di sini lebih cocok untuk anak yang tingginya cukup, mungkin usia TK dan SD.

Tidak terlalu lama berada di Gramedia Kids, saya menuju lantai atas. Sepanjang koridor banyak lapak dari pihak lain seperti makanan, minuman, bahkan areal permainan yang boleh dimainkan dengan membayar tiket (asumsi saya seperti itu, karena saya belum sempat masuk dan mencaritahu).

Di lantai atas ada Gramedia toko buku, dan lapak-lapak dari pihak Gramedia sendiri, seperti ATK dan berbagai jenis tas. Saya pikir sepertinya lapak buku yang dijual di Gramedia Harapan Indah sangat kecil dan sedikit, padahal gedung Gramedia sendiri cukup besar. Jika saya bandingkan dengan Gramedia Matraman yang juga punya satu gedung sendiri, sepertinya porsi buku yang dipamerkan di sana juga lebih banyak. Atau mungkin memang banyak hal yang menjadi pertimbangan ya. Kalau Gramedia Matraman kan memang sudah lama berdiri dan sudah banyak yang menjadi pelanggan tetap sejak dulu.


Satu lagi yang saya sayangkan, dan kalau boleh saya usulkan sekalian hehe. Pada area Gramedia Kids, Selain hanya memamerkan mainan, lebih baik pamerkan juga buku-buku anak. Sehingga anak-anak yang berada di sana dapat mencari mainan dan buku kegemarannya sekaligus. Dan setidaknya anak-anak yang tadinya tidak menyukai buku, barangkali akan tertarik membeli sebuah, begitu juga dengan anak-anak yang kurang suka mainan. Strategi pemasaran yang lumayan kan.

Jadi pendapat saya soal Gramedia Harapan Indah, yah lumayan untuk sebuah toko buku. Cuma kurang ramai saja, semoga bisa lebih ramai dan makin ramai ke depannya.
P. S. Sayang sekali saya kurang banyak mengambil gambar. Kapan-kapan kalau ke sana lagi, akan saya tambahkan gambar dan infirmasi terbaru. 

Random Buku dan Film: Ayat-Ayat Cinta

|
Image result for ayat-ayat cinta 1
sumber: kabarmaya.co.id
Menjelang akhir tahun ini ramai diperbincangkan film Ayat-Ayat Cinta 2 yang belum lama rilis di bioskop. Saya sempat bertanya-tanya: Memangnya ada ya novel AAC2?

Saya lupa, ternyata memang ada sekuel AAC1, yakni AAC2. Saya tidak akan membahas bagaimana pendapat saya soal novel dan film AAC2 sebagaimana review lainnya. Saya hanya akan mengenang bagaimana saya dulu menyukai novel AAC1 dan mengapa saya tidak mau menonton film adaptasinya.

Ketika itu tahun 2004, dimana saya masih berusia remaja yang idealis dan sedang mencari jati diri. Sejak SMP saya sudah mengenal majalan An-Nida, lalu berlanjut ke buku-bukuu fiksi terbitan FLP (Forum Lingkar Pena). Kemudian saya mengenal fiksi terbitan Republika; Hafalan Sholat Delisa (Tere Liye) dan Ayat-Ayat Cinta 1 (Kang Abik). Bagi yang sudah terbiasa menikmati buku-buku FLP tentu saja akan mudah sekali menikmati cerita dari Tere Liye dan Kang Abik.

Berkat FLP (kenapa jadi ngomongin FLP terus yak), saya jadi punya laki-laki impian sendiri, yah yg relijius, cerdas, rendah hati, dan plusnya (kalau bisa kaya dan ganteng) hehhe. Maka, ketika aku mengenal Fahri untuk pertama kalinya, aku langsung jatuh hati. Ealah! :D
Fahri adalah ikhwan sekaligus santri yang pernah kutahu. Soalnya sebelum ini aku mengenal karakter ikhwan itu adalah siswa-siswa SMA (anak-anak ROHIS) dan mahasiswa yang ikut UKM LDK. Fahri tidak pernah digambarkan ganteng secara fisik, namun ia sempurna pada hal lainnya seperti kecerdasan (dapat beasiswa di Universitas AL-Azhar, Mesir), sifat dan sikap yang tawadhu, dll.
Maka tak heran banyak perempuan cantik yang kepincut pada Fahri. Termasuk para pembaca yang juga perempuan, hehe. Ada cerita lucu (gak lucu sih sebenarnya). Saya mengenalkan AAC1 pada teman-teman sekamar saya di Asrama Mahasiswa. Lalu kesenangan kepada Fahri dan AAC1 menular pada teman-teman beda kamar, sehingga kami sempat berdiskusi soal AAC1 dan Fahri khususnya dalam rapar lorong. :D

Yah, itulah masa-masa saya menyukai Fahri. Sampai sekarang pun ya masih suka, hanya saja Fahri yang dulu, yang mana ia masih menjadi mahasiswa santri yang apa adanya. Kemudian masuklah tingkat 3 perkuliahan dan AAC1 difilmkan. Entah, saya punya feeling untuk tidak menontonnya supaya tidak merusak imajinasi saya soal Fahri. Saya pun tidak tertarik membaca novel karya Kang Abik lainnya seperti Ketika Cinta Bertasbih. Ya, sejak AAC1 booming, banyak novel sejenis yang diterbitkan entah dari Kang Abik atau dari penulis lain. Tentang pesantren, tentang cintah.

Dan baru-baru ini rilislah film AAC2 yang ternyata memang ada novelnya juga. Saya lupa sangkin lamanya tidak membaca novel-novel beraliran sama. Karena biasanya tokoh dan alurnya tipikal. Sebagai pembaca aku kan bosan. Bagiku cukuplah AAC1 dan Fahri apa adanya.

Beruntung kebosananku menyelamatkanku. Ternyata eh ternyata, menurut spoiler yang bertebaran, kisah Fahri di AAC2 absurd. Fahri telah berubah dari seseorang yang prihatin menjadi cendekiawan sekaligus pengusaha yang berhasil di Skotlandia. Ia menjadi dosen Filologi di the University of Edinburgh sekaligus pengusaha minimarket. Salah satu yang saya kurang paham, mengapa seorang seperti Fahri yang tawadhu harus sholat di depan kelas? Bukankah ia seorang dosen yang seharusnya punya ruangan sendiri (atau setidaknya berbagi dengan kolega satu profesi)? Dan menurut pengamatan saya melalui Google, dekat kampus Edinburgh, ada sebuah masjid Edinburgh. Tidakkah dapat ia sholat di sana? Itu masjid ada di dekat kampus lho. Lagipula ada komunitas muslim juga di kampus. Ah, ya mungkin saja Fahri lagi kepepet harus mengajar dalam rentang waktu yang padat (positive thinking).
Terlepas banyak kisah yang sepertinya jauh dari kenyataan, kisah Fahri merupakan pengharapan dari banyak kaum muda muslim. Fahri adalah impian banyak wanita lintas generasi, budaya, dan agama. Fahri merupakan idola impian yang mewakili generasi muslim, dari sekian banyak idola yang mungkin berasal dari non muslim. Fahri juga merupakan impian dari banyak laki-laki yang ingin sekali seperti dirinya; baik, cerdas, kaya.
Tapi ya yang namanya fiksi kalau terlalu jauh dari kenyataan, bisa bikin pembaca atau penontonnya ilfil kan? Sekarang ini aku sih lebih senang membaca kisah fiksi yang dekat dengan realita pembaca, kayaknya lebih mengena gitu.

Oke, sekian dulu ah nostalgianya. Salam. :)

Curcol Buku: Ketika Bu RT Meminjam Novel

|
Foto di atas bukan foto Bu RT. Saya mengambilnya dari pexels.com
sebuah situs khusus gambar yang dapat diunduh secara gratis.

Beberapa minggu yang lalu saya dikejutkan dengan kedatangan Bu RT ke rumah. Awalnya saya pikir ia akan memperbarui data soal sensus penduduk atau kesehatan balita dan ibu hamil. Ternyata saya salah. Bu RT datang untuk meminjam sebuah novel yang tipis untuk dibaca. Saya sempat heran. Dalam hati saya berkata:
Yang bener nih, Bu?? Kok feelingku bilang kalo Bu RT ndak pengen beneran baca ya? Hehe.
Pikiran saya di atas mungkin berlebihan ya, namun yah begitulah yang saya rasakan apa adanya. Tidak pernah ada tetangga yang datang ke rumah saya untuk membaca buku kecuali beberapa anak kecil. Itu pun hanya beberapa hari karena koleksi buku anak saya terbatas dan rumah saya belum terbuka sebagai taman bacaan untuk umum.

anak kami sedang sibuk membolak balik halaman buku di pojok baca rumah kami.
Dugaan saya tidak meleset. Bu RT menyampaikan bahwa tujuannya meminjam buku adalah untuk anaknya yang mendapat tugas membuat resensi novel. Dengan semangat saya langsung menulusuri dan memilah koleksi buku saya yang sebagian besar sudah terkena debu (maklum jarang kubersihkan karena kesibukan dan kemalasan). Ketika saya mendapatkan satu novel yang kira-kira cocok, saya langsung menyuguhkannya kepada Bu RT. Waktu itu saya ambilkan novel terjemahan dengan tema sepak bola, karena anak Bu RT laki-laki yang kemungkinan besar senang bola. Namun Bu RT malah meminta saya supaya novel yang tipis dan ditulis oleh pengarang Indonesia saja yang dipinjamkan kepadanya. Saya pun mulai memikirkan novel-novel klasik Indonesia seperti "Robohnya Surau Kami" karya A.A. Navis.

Tiba-tiba Bu RT menyampaikan keinginan lain. Sungguh random sekali ya ibu yang satu ini. Well, mungkin waktu minjam buku, dia juga sambil berkomunikasi dengan anaknya kali ya. Jadi keinginan lain ini berasal dari anaknya. OK, saya dengarkan saja keinginannya baik-baik.
Bu RT: Mbak, ada buku "Laskar Pelangi".
Saya: Ada. Tapi ndak tahu saya simpan di mana, Bu. (Sangkin numpuknya buku. Kalo yang sudah biasa nimbun ngertilah ya gimana rasanya hehe.)
BRT: Ehm, kalau buku "5 cm" ada, Mbak?
Saya: Ada bu. Sebentar saya cari dulu. (katanya maunya novel yang tipis saja, "Laskar Pelangi" dan "5 cm" kan lumayan tebel.)
Saya lagi: Eh, "Laskar Pelangi" ada nih, Bu. (pas lagi nyari "5 cm" malah nemu "Laskar Pelangi".)
BRT: Mana, Mbak?
Saya: Eh tapi ini edisi Bahasa Melayu. Hehe. Eh tunggu, ini kayaknya "5 cm". (akhirnya saya pun nemu novel "5 cm" yang sudah lusuh, karena udah lama dibelinya dan sering dipinjamkan kesana kemari)
BRT: Saya pinjam "5 cm" aja deh, Mbak.
Saya: Buat anak Ibu saja juga ndak apa-apa, Bu. (saya senang kalau ngasih buku ke orang lain biar ybs semangat baca. Lagipula "5 cm" termasuk buku yang ingin saya hibahkan.)
BRT: Eh jangan, Mbak. Lagian anak saya cuma pinjam sebentar kok. Hanya untuk menunjukkan ke gurunya kalau dia tahu novel yang dia resensi seperti apa. Soal resensi anak saya sudah dapat dari Google.
Saya: 😦
What??!! Begitu mendengar jawaban Bu RT, saya langsung kaget. Meaning, anaknya bakal copas resensi yang entah dari blog siapa atau situs yang mana untuk tugasnya! Ya banyak sih anak sekolahan yang curang begini, tapi tetap saja saya merasa shock mendengarnya secara langsung. Ingin rasanya saya marah-marah ke Bu RT dan bilang kalau cara seperti itu bentuk plagiat dan kecurangan. Namun saya menahan komentar itu di ujung lidah. Satu-satunya cara adalah berharap anaknya itu berubah menjadi orang yang senang membaca, atau setidaknya tidak lagi melakukan cara curang untuk mengerjakan tugas sekolah.

Ngomong-ngomong soal novel "5 cm" yang katanya hanya akan dipinjam sebentar, ternyata sampai sekarang belum dikembalikan oleh Bu RT. Barangkali Bu RT benar-benar menerima tawaran saya agar menyimpan saja buku tsb untuk anaknya. Kalau begitu saya senang sekali dan semoga saja si anak suatu saat tertarik membacanya. Amin.

Sekian sedikit kisah saya dengan Bu RT. Buat yang pernah nulis resensi novel "5 cm" di blog, yah bisa jadi resensi kalian yang 'beruntung' dicopas sama anak Bu RT #sarkas ehehe. Eh atau jangan-jangan si anak ngambil resensinya dari blog saya. 😅

#Random: My Konmari Way (Books for Students)

|
Buku "the life-changing of tidying up" versi manga
Barangkali banyak yang mengira kalau dalam tulisan kali ini saya akan mengulas tentang buku "The Life Changing of Tidying Up" karangan Marie Kondo. Sayangnya tidak. Karena saya (dan suami) memang belum memiliki bukunya, dan belum membacanya.

Sekilas tentang Marie Kondo, ia adalah pengarang buku dan pencetus konsep "konmari", yaitu konsep decluttering ketika membereskan ruangan, rumah, dll.
clutter [n]: a lot of things in an untidy state, especially things are not useful or necessary.
clutter [v]: to fill something in an untidy or badly organize way. [Cambridge Advance's Learner Dictionary]
Declutter [v]: to remove unnecessary items (from an untidy or overcrowded place). [oxford dictionary com]
Berawal dari percakapan di GWA BBI Joglosemar, buku Marie Kondo menarik perhatian saya (thanks to Bzee who buzzed it in the first place. I thought it's Bzee. Couldn't think anybody else soalnya 😝). Kemudian percakapan berlanjut ke persoalan clutter dan decluttering. Beberapa teman sudah mengaplikasikan decluttering kepada buku mereka. Karena saya adalah pembaca buku, maka saya senang membeli buku. Namun saya suka kalap beli banyak buku yang ujung-ujungnya malah nimbun, bukannya baca. Dan ini saatnya saya ikut beberes buku-buku saya, lalu menjualnya sebagian, dan menghibahkannya sebagian.

Beberapa minggu lalu Bapak saya datang dari Bekasi dan membawakan kardus-kardus penuh buku (meskipun masih ada sebagian timbunan yang ketinggalan sih). Akhirnya saya mulai beberes, dan hasilnya:

Ini!
Lihat gambar di atas. Ada sekitar lima puluh buku yang ingin saya pindahtangankan. Alhamdulillah sebagian besar terjual ke teman-teman kantor, dan teman-teman BBI Joglosemar. Beberapa buku juga saya swap. Terjualnya sebagian besar buku tentu saja menyisakan sedikit buku. Masalahnya saya tidak ingin menyimpan buku-buku itu, nah tercetuslah untuk menghibahkan mereka kepada murid-murid saya di kelas. Padahal biasanya saya mengadakan giveaway di blog dengan hadiah secondhand books. :D

Sayapun mengirim list buku kepada GWA kelas dan alhamdulillah mendapat respon yang cukup baik.

Hida dengan tiga buku. Sebelumnya ia sudah dapat satu buku.
Buku-buku yang saya lepas kebanyakan memang bergenre romance. Apakah saya tidak suka buku misteri, thriller, fantasi? Wah justru itu adalah genre kesukaan saya dan (terutama) suami, jadi saya tidak berani menjualnya atau menghibahkannya begitu saja tanpa diskusi dulu. Yah nanti kalau cuma gara-gara buku hubungan saya jadi berabe gimana donk. :p

Eben dengan buku "Shit Happens". Buku ini ada tanda tangan Crismor.
 Sayang saya belum sempat baca, dan mungkin memang bukan my cup of tea.

Biasanya saya memberikan buku kepada sesama pecinta buku, karena yakin kalau mereka akan membaca dan mencintai dan juga menjaga buku dengan baik. Nah, Kenapa saya memilih menghibahkan sebagian buku ke murid-murid saya? Karena saya ingin mengajak orang-orang diluar klub penggemar baca atau bookworms, untuk lebih semangat lagi membaca.

Dicky dengan "Kitten Heels".
Salah satu teman BBI, mas Dion cerita kalau ia pernah memberikan setumpuk buku untuk pemuda karang taruna di rumahnya. Sayangnya buku-buku itu ditinggal begitu saja dan dibiarkan kepanasan dan kehujanan tanpa dimanfaatkan sedikitpun. Alih-alih bukunya menjadi rusak parah toh! Padahal kalau mau dimanfaatkan dapat disumbangkan ke rumah baca atau anak-anak yang senang membaca. Sedih!

Pamula dengan "Lost in Love". Buku ini hasil book haul dari IRF 2013. 
Semoga saja murid-murid saya ini senang dengan buku-buku mereka. Jikalau mereka tidak suka, mereka akan menghibahkannya kembali, bukan mengabaikannya.

Tya dengan "Coppelia".
Ini adalah salah satu hadiah ulang tahun saya tahun 2015 kemarin.
Saya sempat membuat ulasannya di sini. 
Sebenarnya masih ada beberapa murid lagi yang sudah duluan mendapat buku, sayang saya lupa mengambil gambar mereka.

Lalu apakah saya selesai dengan timbunan buku-buku saya? Belum! Masih ada buku saya yang lain (juga di Bekasi), dan buku-buku suami saya.

ini! Eits, kebanyakan buku yang ada di rak adalah koleksi kami! :D

Ini! Ada beberapa buku yang pingin saya pindahtangankan tapi mau saya baca dulu.
Pertanyaannya: Kapan bacanya?? :p

Ini bukan cuma tempat tidur biasa. Di bawah kasur ada bejibun buku! :))
Semoga saya dapat kembali memilah buku lain waktu, lagipula sudah ada teman kantor yang ingin membeli buku seken saya. Hehe..

Then what about you? Kapan saatnya rapi-rapi barang? :)

Salam,
@fadhilatulip

Custom Post Signature